Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 55


__ADS_3

Malam hari.


Melinda menatap layar ponselnya dengan tatapan bingung. Wanita itu ingin sekali menanyakan kabar suaminya dan kapan suaminya pulang. Akan tetapi, hubungannya dengan Sang suami tidak akrab seperti pasangan suami istri lainnya. Melinda takut jika nantinya Raka malah mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai dirinya.


“Rasanya sangat aneh jika aku menghubungi Mas Raka terlebih dulu. Akan tetapi, aku sangat penasaran mengenai kabar Mas Raka di kantor dan juga kapan Mas Raka kembali ke rumah,” tutur Melinda dengan terus menatap ponsel pintar pemberian sang suami.


Setelah berpikir cukup lama, Melinda akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi suaminya. Melinda berharap, Sang suami segera pulang ke rumah dan tidak menginap di apartemen.


“Baru jam 8 malam, lebih baik aku minum secangkir coklat hangat untuk menenangkan pikiranku,” ucap Melinda bermonolog.


Melinda turun dari sofa yang menjadi tempat ia tidur. Ia turun dan tak lupa mengenakan sandal bulu berwarna hitam pemberian Almer, Kakek dari suaminya.


“Selamat malam, Nona Muda. Nona Muda kenapa belum tidur?” tanya pelayan wanita yang sedang berdiri tepat di depan kamar.


“Saya belum mengantuk, Mbak,” jawab Melinda dan bergegas masuk ke dalam lift.


Setibanya di dapur, Melinda meminta pelayan wanita untuk membuatkannya coklat hangat untuk menenangkan pikirannya. Pelayan itu dengan semangat mengiyakan dan segera membuatkan secangkir coklat hangat untuk Nona Mudanya.


“Terima kasih, Mbak.” Sebelum meninggalkan dapur, Melinda terlebih dulu mengucapkan terima kasih atas secangkir coklat hangat tersebut.


Melinda tersenyum ramah dan memutuskan untuk bersantai-santai di tempat favoritnya, yaitu di kolam renang.


Melinda duduk di kursi sembari memandangi air kolam renang yang sangat jernih dan bersih.


Disaat yang bersamaan, Raka telah kembali dan ingin cepat-cepat beristirahat di kamarnya.


Para pelayan serta bodyguard dengan kompak menyambut kedatangan Tuan Muda mereka.


“Tuan Muda ingin kami siapkan makan malam?” tanya salah satu pelayan mendekat ke arah Raka.


Raka menggelengkan kepalanya dan memberi isyarat kepada asisten pribadinya untuk membawa pergi ke lantai atas yaitu, kamar.


“Dimana istriku?” tanya Raka saat akan masuk ke dalam lift bersama dengan asisten pribadinya.


“Nona Muda sedang duduk seorang diri di dekat kolam renang,” jawab pelayan tersebut.


Raka tak jadi masuk ke dalam lift dan memutuskan untuk menyusul Melinda.


“Ayo, bawa aku menghampiri wanita itu!” perintah Raka pada asisten pribadi.


Reza mengiyakan dan mendorong kursi roda Raka menuju kolam renang.


“Suami pulang kenapa tidak disambut?” tanya Raka dingin.


Melinda terkejut dan hampir saja cangkir ditangannya terlepas.

__ADS_1


“Aku hanya bertanya, kamu tidak perlu terkejut seperti itu,” ucap Raka pada Melinda.


Melinda bangkit dari duduknya dan melangkah dengan tergesa-gesa menghampiri suaminya.


“Syukurlah, Mas Raka sudah pulang.” Melinda tersenyum manis dan mencium punggung tangan Suaminya yang baru saja tiba.


Raka dengan cepat menarik tangannya karena belum terbiasa dengan hubungan antara dirinya dan Melinda.


Melihat suasana yang cukup canggung, Reza dengan sigap melangkah mundur dan memastikan bahwa ia tidak mendengar perkataan apapun dari keduanya.


“Mas Raka sudah makan?” tanya Melinda mencoba memberi perhatian pada suaminya.


“Untuk apa kamu tanya-tanya?” tanya Raka dingin.


“Wajar bila istri bertanya kepada suaminya,” jawab Melinda.


“Kakek kemana?” tanya Raka menanyakan keberadaan Almer.


“Kakek bilang ada pertemuan ya semacam reuni. Kakek juga bilang tidak pulang malam ini,” jawab Melinda.


Raka mengernyitkan keningnya dan memeriksa ponsel miliknya barangkali Sang Kakek mengirim pesan untuknya.


“Kenapa, Mas Raka?” tanya Melinda penasaran ketika melihat raut wajah suaminya.


“Kakek tidak biasanya seperti ini. Bagaimana mungkin Kakek hanya memberitahumu dan tidak memberitahuku,” tutur Raka.


“Sudahlah, aku sangat lelah dan capek. Cepat bawa aku ke kamar!” perintah Raka.


Melinda dengan sigap mengiyakan dan membawa suaminya pergi meninggalkan area kolam renang.


“Dan kau, Reza. Kau boleh pergi!” perintah Raka pada asisten pribadinya.


“Baik, Tuan Muda. Saya permisi dan saya akan datang besok pagi sebelum jam 6,” tutur Sang asisten pribadi.


🌷


Di dalam kamar.


Raka meminta Melinda untuk membantunya melepaskan pakaian dan menyiapkan air hangat untuknya mandi. Melinda dengan patuh melakukan apa yang suaminya perintah dan berusaha untuk tidak menolak perintah tersebut.


Melinda cukup gugup ketika membantu suaminya melepaskan pakaian. Lagi-lagi roti sobek milik suaminya membuat Melinda menjadi salah tingkah.


“Wajahmu kenapa merah merona seperti itu?” tanya Raka yang telah bertelanjang dada.


Melinda menggelengkan kepalanya sembari menahan diri untuk tidak menatap roti sobek suaminya.

__ADS_1


“Buka matamu!” pinta Raka ketika menyadari bahwa Melinda memejamkan matanya.


Melinda perlahan membuka matanya dan hal tak terduga pun terjadi, keduanya saling tukar pandang satu sama lain dengan cukup lama.


Wajah Melinda semakin memerah begitu juga dengan Raka. Keduanya kompak menjadi salah tingkah dan saat itu juga Raka memberi perintah kepada Melinda untuk segera menyiapkan air hangat.


Melinda dengan suara terbata-bata mengiyakan dan berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Melinda menyentuh dadanya, perasaannya untuk Raka semakin bertambah.


Ternyata benar, aku memang telah jatuh cinta kepada Mas Raka. Akan tetapi, aku akan menyimpannya rapat-rapat dan berharap suatu hari Mas Raka juga memilik perasaan untukku. (Batin Melinda)


Raka yang masih duduk di kursi roda dengan bertelanjang dada dan celana pendek, terlihat sedang melamun memikirkan hal yang tentu saja hanya Raka serta Tuhan yang tahu.


Raka berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan yang menurutnya sangat aneh.


Berulang kali, Raka menggelengkan kepalanya berusaha untuk menghilangkan perasaan aneh tersebut.


“Mas Raka, air hangatnya sudah siap,” tutur Melinda yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


“Hmm...” Raka menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam kamar mandi dan sebelum dirinya masuk, Raka terlebih dulu memberitahukan kepada Melinda untuk menyiapkan pakaian ganti.


Melinda dengan semangat mengiyakan dan bergegas membuka almari pakaian suaminya.


Tanpa ragu, Melinda mengambil piyama berwarna cokelat muda untuk dikenakan oleh suaminya.


“Semoga Mas Raka suka dengan piyama yang aku pilihkan. Sekarang, lebih baik aku berbaring di sofa,” tutur Melinda sembari meletakkan piyama tersebut ke atas tempat tidur.


Melinda menggerai rambut panjangnya dan menyisirnya dengan jemari tangannya. Biasanya Melinda akan menyisirnya dengan alat sisir. Akan tetapi, kali ini Melinda menggunakan jemari tangannya untuk menyisir rambutnya yang panjang.


20 menit kemudian.


Raka keluar dari kamar mandi dengan kursi rodanya. Ia keluar dengan handuk yang melilit sempurna di pinggangnya.


Raka sekilas melirik ke arah Melinda yang berbaring di sofa dengan posisi membelakanginya.


Sepertinya wanita itu sudah tidur. Sebaiknya, aku cepat-cepat memakai pakaian. (Batin Raka)


Melinda bangun dari tidurnya dan cepat-cepat beranjak dari sofa untuk melihat suaminya. Ternyata, Sang suami sudah mengenakan piyama yang ia pilihkan dan juga telah tertidur pulas.


Mas Raka mengenakan piyama dan juga sudah tidur. Akan tetapi, kenapa Mas Raka tidak membangunkan ku? Mungkin saja Mas Raka sengaja melakukannya. (Batin Melinda)


Melinda memutuskan untuk melanjutkan tidurnya karena ia sudah sangat mengantuk.


Raka membuka matanya secara perlahan. Ternyata, pria itu belum tertidur dan hanya berpura-pura saja.

__ADS_1


Dengan hati-hati, Raka meraih ponsel miliknya yang berada di dekatnya.


__ADS_2