
Setibanya di rumah, kondisi Melinda tiba-tiba memburuk. Baru saja masuk ke dalam kamar, Melinda langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Raka pun panik dan berteriak keras memanggil para pelayan untuk segera datang padanya. Akan tetapi, tidak ada satupun pelayan yang mendengar teriakan Raka.
Raka mencoba menggerakkan kursi rodanya dan menekan sebuah remote control berukuran kecil agar para pelayan segera datang.
Tak butuh waktu lama, para pelayan datang dan bergegas masuk ke dalam kamar. Saat itu juga, Raka meminta para pelayan untuk mengangkat tubuh istrinya ke tempat tidur.
“Bawa makanan dan juga teh hangat kemari!” perintah Raka.
Para pelayan dengan kompak mengiyakan perintah Raka. Kemudian, melenggang keluar dari kamar secepat mungkin.
“Kamu cepat datang kemari,” tutur Raka berbicara melalui sambungan telepon, kemungkinan orang itu adalah seorang dokter yang akan memeriksa kondisi kesehatan istrinya.
Melinda perlahan membuka matanya dan melihat Sang suami yang tengah duduk di kursi sembari menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“Mas Raka,” ucap Melinda lirih sembari mencoba bangkit dari tempat tidur.
“Jangan bergerak, tetaplah diposisi berbaring seperti ini. Kamu harus banyak istirahat dan sebentar lagi akan ada dokter yang datang kemari,” pungkas Raka.
“Mas Raka, yang sakit bukanlah fisik saya. Akan tetapi, hati saya yang sakit,” ujar Melinda dan kembali menangis manakala mengingat Sang Ayah yang telah meninggal dunia.
“Iya, aku tahu. Akan tetapi, kalau kamu terus seperti ini. Apakah akan membuatmu Ayahmu kembali hidup? Bukankah lebih baik kamu berdo'a agar Ayahmu bisa masuk surga?” tanya Raka.
Melinda menunduk sedih dan tiba-tiba para pelayan masuk ke dalam kamar dengan membawa cukup banyak makanan.
Setelah semuanya diletakkan di atas meja, Raka pun meminta untuk segera keluar dari kamar.
“Sekarang kamu harus makan agar kamu tidak pingsan seperti tadi,” tutur Raka.
“Saya sama sekali tidak lapar, Mas Raka,” balas Melinda yang sama sekali tidak lapar.
“Apakah sangat sulit bagimu untuk menuruti perkataan ku?” tanya Raka yang mulai kesal karena Melinda tak ingin makan.
“Baiklah, saya akan makan,” pungkas Melinda.
Melinda dengan sedih turun dari tempat tidur dan melangkah lambat menuju meja yang sudah dipenuhi oleh makanan.
Raka menggerakkan kursi rodanya agar mendekat kepada istrinya yang sudah duduk di kursi.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Melinda mengisi perutnya dengan makanan. Melinda makan tidak lebih dari 3 sendok makan.
“Mas Raka, saya sudah kenyang,” ujar Melinda yang sebenarnya sama sekali tidak nafsu makan.
“Benarkah? Kalau begitu kamu minumlah teh hangat ini sampai habis. Setelah itu, kamu harus kembali tidur,” pungkas Raka pada istrinya.
Raka saat itu sangat perhatian dengan istrinya. Akan tetapi, Melinda sama sekali tidak menyadari perhatian dari suaminya. Hal itu dikarenakan Melinda sedang dalam suasana berduka.
Saat Melinda baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tiba-tiba dokter yang dimaksud oleh suaminya datang untuk memeriksa kondisi kesehatan Melinda.
“Mas Raka, saya baik-baik saja,” ujar Melinda menganggap apa yang suaminya lakukan cukup berlebihan karena memanggil dokter.
“Kamu diam saja. Aku ingin tahu kondisi kesehatan mu dari dokter ini,” tegas Raka.
Raka menghela napasnya dan bergegas keluar dari kamar tersebut.
Beberapa saat kemudian.
Dokter wanita itu keluar dari menjelaskan kondisi kesehatan Melinda kepada Raka. Raka sebagai suami dengan serius mendengarkan penjelasan dokter wanita dihadapannya dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena telah memeriksa kondisi kesehatan Sang istri.
“Aku sudah mentransfer uang ke rekening kamu. Terima kasih,” ucap Raka.
“Tuan Raka, ini terlalu berlebihan,” ucap dokter wanita itu.
“Berlebihan yang bagaimana? Sebaiknya kamu segera pergi dari sini,” ujar Raka bukan bermaksud untuk mengusir dokter wanita itu.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan Raka. Kalau begitu saya permisi.”
“Ya,” jawab Raka singkat dan kembali masuk ke dalam kamar untuk melihat wajah istrinya.
Raka masuk ke dalam kamar dan ternyata Melinda sudah terlelap.
Karena tidak ingin mengganggu istirahat Sang istri, Raka memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
Disaat yang bersamaan, Dina dan Katty akhirnya tahu bahwa jenazah Bambang sedang di autopsi. Keduanya nampak panik dan berharap perbuatan mereka tidak ketahuan.
“Mama, bagaimana ini?” tanya Katty dengan tubuh gemetar.
“Tenang, Katty sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Sebaiknya kita segera pulang,” ujar Dina dan menarik tangan putrinya agar segera meninggalkan rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Keduanya dengan panik meninggalkan rumah sakit dan berharap agar pihak rumah sakit tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Bambang sehingga Bambang meninggal dunia.
“Mama, kita harus kemana? Tidak mungkin kita jalan kaki,” ucap Katty yang tidak bisa membayangkan jika pulang harus berjalan kaki.
“Kamu ini, tidak bisakah memakai otakmu? Tentu saja kita naik angkutan umum,” sahut Dina pada Katty.
“Mama kenapa bicara kasar kepada Katty?” tanya Katty pada Dina yang tiba-tiba berbicara kasar padanya.
“Maafkan Mama ya sayang, bukan maksud Mama berbicara kasar sama kamu,” balas Dina dan memeluk sekilas tubuh putri kesayangannya.
Malam hari.
Raka baru saja mendapatkan pesan dari Sang Kakek bahwa besok siang kakeknya itu akan kembali ke Indonesia. Tentu saja kabar itu membuat Raka senang dan berharap dengan kembalinya Sang Kakek, bisa membuat istrinya kembali ceria seperti sebelumnya.
“Siapa, Mas Raka?” tanya Melinda ketika melihat senyum suaminya yang baru saja mendapatkan pesan singkat entah dari siapa.
“Kakek mengirim pesan dan kemungkinan besok siang Kakek sudah tiba di Jakarta,” pungkas Raka pada istrinya.
“Mas Raka memberitahukan kepada Kakek tentang meninggalnya Ayah Bambang?” tanya Melinda memastikan.
“Iya, Melinda. Kakek juga harus tahu,” jawab Raka apa adanya.
“Iya, Mas Raka,” sahut Melinda.
Raka kembali meletakkan ponselnya di tempat semula dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
“Sudah malam, sebaiknya kita tidur. Apakah kamu sudah minum obat?” tanya Raka memastikan.
“Mas Raka bukankah tadi melihat saya minum obat?” tanya Melinda dengan ekspresi terheran-heran.
“Benarkah? Sepertinya aku memang melihatmu meminumnya. Ah, aku seperti ini karena terlalu khawatir padamu,” ujar Raka yang memang sangat mengkhawatirkan kondisi Sang istri.
“Maksud Mas Raka?” tanya Melinda yang cukup tersentuh ketika mendengar apa yang suaminya katakan.
“Apakah aku tidak boleh mengkhawatirkan kamu?” tanya Raka sembari memiringkan tubuhnya agar bisa lebih jelas menatap wajah istrinya.
Melinda menggigit bibirnya ketika mendengar pertanyaan suaminya yang tiba-tiba membuat detak jantungnya kembali berdebar-debar tak karuan.
“Apakah aku terlihat aneh bagimu?” tanya Raka yang ingin terus menatap Melinda dengan penuh cinta.
__ADS_1