Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 101


__ADS_3

Keesokan harinya.


Cuaca panas kota Jakarta membuat tenggorokan Melinda terasa kering. Karena sudah tidak ada kelas lagi, Melinda memutuskan untuk mencari minuman di dekat area kampus.


Saat Melinda hendak menyeberang jalan, tiba-tiba pengendara sepeda motor lewat dengan kecepatan tinggi. Melinda yang terkejut pun jatuh dan membuat kedua telapak tangannya lecet-lecet.


Pengendara sepeda motor itu menghentikan laju motornya dan berlari menghampiri Melinda yang belum juga bangkit dari jatuhnya.


“Kamu baik-baik saja?” tanya pria itu sembari membantu Melinda bangkit.


“Saya baik-baik saja,” jawab Melinda sembari menutupi telapak tangannya yang lecet dan ternyata mengeluarkan sedikit darah.


“Mari ikut saya, saya akan bertanggung jawab membawa kamu ke rumah sakit,” ucap pria itu karena tak ingin bila Melinda kenapa-kenapa karena ulahnya yang ngebut di jalan.


“Tidak usah, Mas. Saya baik-baik saja, saya permisi,” balas Melinda dan berlari kecil melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Melinda berlari kecil ke sebuah toko yang cukup besar dan membeli obat merah untuk lukanya.


“Terima kasih,” ucap Melinda setelah melakukan pembayaran.


Keinginan Melinda untuk mencari minuman segar akhirnya pupus sudah.


Melihat kondisiku yang seperti ini, sebaiknya aku pulang saja. (Batin Melinda)


Melinda menghubungi orang rumah untuk menjemputnya dan setelah itu, Melinda menghubungi suaminya untuk memberitahukan bahwa dirinya pulang lebih awal.


“Assalamu'alaikum, Melinda, kamu baik-baik saja, 'kan?” tanya Raka melalui sambungan telepon.


“Wa’alaikumsalam, Saya baik-baik saja, Mas Raka. Mas Raka tidak perlu menjemput saya, saya sudah menghubungi orang rumah untuk menjemput saya,” jawab Melinda.


“Baiklah, istriku sayang. Kalau sudah sampai, langsung beritahukan aku ya,” pinta Raka.


Melinda tersenyum lebar dengan penuh kebahagiaan ketika mendengar Sang suami menyebut dirinya “Istriku sayang”


“Melinda, apakah kamu masih disitu?” tanya Raka karena tak ada respon dari Melinda.


“Iya, Mas Raka. Saya disini,” jawab Melinda.


“Aku mau lanjut bekerja lagi, I love you!”


“I love you too Mas Raka,” balas Melinda.


“Wassalamu’alaikum, sampai bertemu di rumah!”


“Wa’alaikumsalam, Mas Raka,” balas Melinda dan akhirnya panggilan pun berakhir.


Melinda memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memutuskan untuk duduk disebuah kursi kayu yang menghadap langsung ke arah kampus.


“Ternyata agak perih,” ucap Melinda ketika melihat telapak tangannya yang sudah diberi obat merah dan juga sudah tertutup rapi dengan penutup luka.


Saat Melinda tengah memperhatikan telapak tangannya, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya.


Melinda menoleh dengan tatapan kebingungan.


“Kamu Melinda, 'kan?” tanya seorang wanita berambut panjang berkulit cokelat.


“Iya, saya Melinda. Kamu siapa ya?” tanya Melinda penasaran.


“What, kita satu jurusan dan satu kelas. Kamu benar-benar tidak tahu?” tanyanya yang terkejut karena Melinda tidak tahu dirinya.


“Benarkah? Maaf, saya tidak terlalu memperhatikan,” jawab Melinda.

__ADS_1


“Karena kamu belum mengenal aku, sekarang kita kenalan dulu. Aku Siska Pratiwi,” ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya.


Melinda tersenyum dan menyambut tangan Siska dengan ramah.


“By the way, kamu sedang apa disini? Ayo masuk ke dalam, kita minum es!” ajak Siska.


“Maaf, aku tidak bisa. Aku sedang menunggu jemputan,” balas Melinda menolak secara halus.


“It's okay, next time mampir ya ke toko orang tuaku,” ucap Siska menunjuk ke arah toko roti dan juga minuman milik orang tuanya.


“Jadi, toko yang disana milik orang tuamu,” ucap Melinda.


“Tentu saja. Rumah kami juga jadi satu dengan toko,” pungkas Siska.


Melinda senang karena ada Siska yang mengajaknya mengobrol.


Mereka berdua terus saja berbincang-bincang, hingga akhirnya sopir yang bertugas menjemput Melinda telah tiba.


Melinda pun pamit dan sebelum mereka berpisah, Siska meminta Melinda untuk menjadi temannya. Dengan senang hati Melinda menerima permintaan Siska.


Keduanya saling melambaikan tangan ketika akan berpisah satu sama lain.


Melinda akhirnya masuk ke dalam mobil dan saat itu juga Sang sopir mengemudikan mobil menuju rumah.


“Pak, apakah Kakek ada di rumah?” tanya Melinda.


“Tuan Besar ada di rumah, Nona Muda,” jawabnya.


Melinda mengangguk kecil dan tiba-tiba teringat kembali bagaimana Sang suami menyatakan perasaan untuk Melinda.


Semalam benar-benar seperti mimpi indah untukku. (Batin Melinda)


Melinda menyentuh dadanya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.


🌷


“Assalamu’alaikum, Kakek!” Melinda tersenyum melihat Almer yang ternyata tengah berdiri menanti kedatangannya.


“Wa’alaikumsalam, akhirnya cucu menantu Kakek sudah datang. Bagaimana hari ini?” tanya Almer yang sangat penasaran dengan kegiatan Melinda selama berada di kelas.


“Alhamdulillah, Kek,” jawab Melinda.


“Cucu menantu pasti lapar, sekarang pergilah ke kamar. 1 jam lagi kita akan makan bersama,” tutur Almer meminta Melinda untuk beristirahat terlebih dahulu.


Sebagai cucu menantu yang baik, Melinda menuruti apa yang dikatakan oleh Almer padanya. Wanita muda itu pun mengiyakan dan pamit pergi ke kamar untuk beristirahat sejenak.


Almer tersenyum lega mengetahui bahwa tidak ada kendala bagi cucu menantunya dalam menempuh pendidikan kuliah.


Melinda menghela napasnya dan meletakkan tas ransel miliknya di atas meja. Kemudian, Melinda memutuskan untuk membersihkan diri sebelum merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Saat Melinda ingin menanggalkan pakaiannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


“Mas Raka,” ucap Melinda dengan perasaan yang begitu bahagia.


Melinda dengan penuh semangat menerima sambungan telepon Sang suami.


“Hallo, Assalamu’alaikum, iya Mas Raka,” ucap Melinda ketika menerima sambungan telepon Sang suami tercinta.


“Wa’alaikumsalam, sayang,” balas Raka melalui telepon.


Melinda terkaget-kaget dan tak sengaja menjatuhkan ponselnya. Untuk pertama kalinya ada seorang pria yang memanggilnya sayang, terlebih lagi yang memanggilnya adalah Sang suami tercinta.

__ADS_1


Melinda sangat gugup hingga tangannya gemetar ketika akan mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai.


“Melinda sayang, hallo,” ucap Raka berulang kali karena tak ada respon sedikitpun dari Melinda.


“Iya, Mas Ra-ka,” jawab Melinda dengan terbata-bata.


“Kamu kenapa? Kamu sakit?” tanya Raka yang terdengar sangat khawatir.


“Saya tidak apa-apa, Mas Raka. Mas Raka kapan pulang?” tanya Melinda menanyakan kepulangan Sang suami.


“Sebentar lagi aku akan pulang, kenapa? Apakah kamu merindukan aku?” tanya Raka yang mencoba menggoda Melinda lewat via telepon.


Melinda bingung harus menjawab apa, sebenarnya ia sangat merindukan suaminya. Akan tetapi, Melinda malu untuk mengatakan yang sejujurnya.


“Kamu tidak perlu menjawab, lagipula aku sudah tahu jawabannya. Ya sudah, aku selesaikan dulu pekerjaanku disini. Tunggulah aku pulang, istriku sayang,” pungkas Raka.


“Baik, Mas Raka. Saya akan selalu menunggu kedatangan Mas Raka,” balas Melinda dengan wajah merah merona.


Perbincangan keduanya pun berakhir dan Melinda memutuskan untuk segera membersihkan dirinya sebelum beristirahat sejenak.


🌷


Malam hari.


Almer menatap Raka dan Melinda dengan tatapan serius. Entah kenapa, Almer sedikit tak tenang duduk bertiga di ruang keluarga.


“Raka, kenapa kamu diam saja? Apakah ada hal yang sangat penting yang ingin kalian berdua sampaikan? Ingat baik-baik, kalau pembicaraan kalian mengenai perceraian, jangan harap Kakek akan menyetujuinya,” tegas Almer.


“Kakek ini bicara apa? Siapa juga yang mau bercerai?” tanya Raka kesal ketika mendapat pertanyaan tak enak dari Sang Kakek.


“Kalau begitu, apa?” tanya Almer yang sangat penasaran.


“Begini, Kek. Sebenarnya Raka telah jatuh cinta dengan Melinda,” ungkap Raka yang terlihat sangat gentleman.


“Benarkah?” tanya Almer yang kini menatap cucu menantunya dengan tatapan penuh harap.


Melinda mengangguk dengan malu-malu dan saat itu juga Almer bertepuk tangan serta bersiul bahagia.


“Alhamdulillah.” Almer mengucapkan syukur dengan mata berkaca-kaca.


“Kakek tidak perlu lagi memarahi Raka, lagipula Raka akan berusaha melindungi Melinda dan juga menjaga Melinda seumur hidup Raka,” pungkas Raka.


Melinda tak bisa berkata-kata lagi, perkataan Raka membuatnya terharu sekaligus bahagia. Kini, Melinda tidak perlu takut sendirian lagi, karena sudah ada Sang suami dan juga Sang Kakek yang berada disisinya.


“Terima kasih, Mas Raka. Terima kasih, Kakek. Sekarang, Melinda tidak perlu takut lagi,” terang Melinda yang terus berlinang air mata.


Raka tersenyum tulus dan menggerakkan kursi rodanya mendekati Melinda. Dengan tatapan penuh cinta, Raka menggenggam erat kedua tangan Melinda.


“Ssuuttss, kamu tidak perlu menangis seperti ini. Percayalah dengan Allah dan juga kami. Maaf, jika sebelumnya aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Akan tetapi, mulai detik ini dan seterusnya aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu,” tutur Raka.


Melinda menangis di pelukan suaminya, Melinda berharap akhir dari kisah hidupnya adalah akhir yang bahagia seperti yang Melinda harapkan.


“Mas Raka, saya berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Raka dan saya akan selalu berusaha untuk tidak mengecewakan Mas Raka dikemudian hari,” balas Melinda.


Almer ikut menangis, akhirnya Cucu dan Cucu menantunya bisa saling mencintai satu sama lain.


“Sebenarnya, Kakek merahasiakan sesuatu dari kalian berdua,” ucap Almer yang memutuskan untuk memberitahukan mengapa keduanya bisa menikah.


“Maksud Kakek?” tanya Raka sembari melepaskan pelukannya bersama Sang istri.


“Apakah kalian siap mendengarkan apa yang akan Kakek katakan?” tanya Almer.

__ADS_1


“Kakek, ada apa? Ayo ceritakan apa yang sebenarnya yang ingin Kakek katakan. Jangan membuat Raka dan juga istri Raka mati penasaran,” ujar Raka yang nampak sedikit kesal dengan Kakeknya itu.


__ADS_2