
Malam hari.
Melinda dan Ratna sedang berbincang-bincang di kamar yang dulu menjadi kamar Melinda sebelum menikah dengan suaminya. Keduanya berbincang-bincang dengan penuh semangat, seakan-akan tidak ada beban yang mereka tanggung.
“Melinda, boleh aku bertanya hal yang sangat sensitif? Kalau tidak boleh juga tidak apa-apa,” tutur Ratna.
“Tanyakan saja, selagi aku bisa menjawab kenapa tidak,” balas Melinda dengan santai.
“Kau dan Tuan Raka apakah sudah pernah berciuman?” tanya Ratna yang perlahan wajahnya berubah menjadi merah merona.
Melinda tersipu malu, tiba-tiba ia ingat kejadian dimana suaminya mencium bibirnya.
“Kalau soal itu....” Melinda tak melanjutkan ucapannya dan malah menyembunyikan wajahnya dengan selimut.
Ratna tertawa geli, sepertinya Melinda sudah pernah berciuman dengan Raka.
“Bagaimana rasanya? Apakah ciuman pertama menurutku begitu spesial?” tanya Ratna penasaran.
Ratna tahu bahwa sahabatnya itu belum pernah berciuman, jika sampai Melinda berciuman dengan Raka itu artinya ciuman pertama bagi Melinda.
“Aku tidak akan memberitahu bagaimana rasanya. Kamu akan tahu setelah kamu menikah,” pungkas Melinda.
“Menikah? Kamu kira menikah itu mudah, Melinda? Kalau boleh memilih, aku tidak ingin menikah. Karena aku tahu, pernikahan itu sangatlah rumit dan untuk gadis miskin seperti ku, rasanya akan sulit,” terang Ratna.
“Ayolah, Ratna. Kamu tidak perlu memikirkan hidupmu, Allah pasti punya rencana untukmu. Aku berharap, kamu mendapatkan suami yang mencintaimu apa adanya,” tutur Melinda.
Mata Ratna berkaca-kaca, ia sangat terharu dengan harapan Melinda untuknya.
Suara ketukan tiba-tiba mengganggu keduanya, saat itu juga Melinda bergegas membuka pintu kamar.
“Nona Muda dan Mbak Ratna telah ditunggu oleh Tuan Besar di ruang makan,” ucap pelayan wanita itu.
“Iya, Mbak. Sebentar lagi saya dan Ratna akan kebawah,” balas Melinda.
Melinda kembali masuk ke dalam kamar dan mengajak Ratna untuk makan malam bersama Sang Kakek di ruang makan.
“Maaf, Kakek. Kami terlambat,” ucap Melinda pada Sang Kakek.
“Tidak sama sekali, mari duduk,” balas Almer pada Cucu menantunya itu.
Ratna duduk bersebelahan dengan Melinda. Merekapun menikmati makan malam dengan penuh kebersamaan.
Ratna menangis terharu dalam hatinya, ia begitu senang berada diantara keluarga baru Melinda. Ratna berharap kedepannya ia bisa memiliki keluarga baru yang baik hati seperti keluarga Arafat.
Usai menikmati makan malam bersama, Almer mengajak Melinda dan Ratna untuk menikmati pemandangan ibukota Jakarta.
“Ratna, apakah kamu mau?” tanya Melinda yang ingin tahu pendapat dari Ratna.
Ratna dengan senang hati mengiyakan ajakan Almer.
“Baiklah, karena kalian sudah setuju, ayo kita bergegas keliling!”
Meskipun Almer usianya sudah dikatakan sepuh, tapi jiwa mudanya masih ada padanya. Buktinya saja, ia lebih bersemangat dari pada anak muda lainnya.
Ratna dan Melinda tak perlu mengganti pakaian mereka. Lagipula, mereka hanya berkeliling dan tidak perlu turun dari mobil.
Beberapa jam kemudian.
Setelah cukup mengelilingi ibukota Jakarta, merekapun tiba di rumah dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sudah seharusnya bagi mereka untuk berisitirahat menyambut hari esok yang lebih cerah.
__ADS_1
“Sekarang, kalian masuklah ke dalam kamar. Ingat, langsung tidur dan jangan lagi mengobrol,” ucap Sang Kakek mengingatkan keduanya untuk langsung tidur.
“Baik, Kek. Kami akan langsung tidur,” balas Melinda.
Melinda menggenggam erat tangan sahabatnya dan membawa sahabatnya itu untuk segera masuk ke dalam lift.
Setibanya di dalam kamar, Melinda cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Berwudhu sudah menjadi kebiasaan Melinda maupun Sang suami sebelum tidur.
“Melinda, kamu mau sholat? Bukankah kita tadi sudah sholat isya?”
“Ratna, aku biasanya berwudhu sebelum tidur. Kamu juga harus berwudhu agar selalu dijaga malaikat,” pungkas Melinda.
Melinda memutuskan untuk terlelap duluan karena memang Melinda sudah sangat mengantuk dan ikut bergegas terlelap.
Sekitar setengah jam Melinda terlelap, wanita itu terbangun dari tidurnya dan menangis histeris. Sepertinya Melinda baru saja mengalami mimpi buruk.
“Hiks... Hiks... Hiks... Mas Raka!” Melinda menangis dengan terus menyebut nama suaminya.
Ratna terbangun dari tidurnya dan terkejut ketika melihat Melinda yang tengah menangis.
“Melinda, kamu kenapa? Kamu yang tenang ya.” Ratna sebisa mungkin menenangkan sahabatnya dengan cara memeluk erat tubuh Melinda yang gemetar.
“Ratna, aku bermimpi buruk. Aku bermimpi Mas Raka...” Melinda tak sanggup meneruskan ucapannya, ia sangat takut bila mimpi buruknya itu menjadi kenyataan.
“Melinda, kamu pasti sangat kelelahan sehingga bermimpi yang tidak-tidak. Kamu tenang ya, ada aku disini. Tuan Raka pasti baik-baik saja, tubuhmu bahkan sampai gemetar karena kamu sangat kelelahan,” pungkas Ratna.
Melinda masih saja menangis, rasanya mimpi buruk yang impikan terlihat sangat nyata. Dan itu membuat Melinda begitu ketakutan.
Melinda turun dari tempat tidurnya dan buru-buru mencari ponsel pintarnya yang entah kemana.
“Kamu sedang mencari apa, Melinda?” tanya Ratna yang juga turun dari tempat tidurnya.
“Melinda, sepertinya kamu meletakkan ponselmu di mobil. Bukankah kamu membawa ponsel ketika kita sedang berkeliling?” tanya Ratna.
Tanpa pikir panjang lagi, Melinda berlari untuk segera mengambil ponselnya. Karena tidak hati-hati, Melinda terjatuh dan membuat kakinya terkilir. Melinda pun menangis histeris, bukan karena sakit pada kakinya yang terkilir. Akan tetapi, ia sedih karena merindukan suaminya dan ingin segera mendengar suara suaminya.
Tak butuh waktu lama, para pelayan dan bodyguard berlari menghampiri Nona Muda mereka.
Melinda sama sekali tidak bisa bangun, dengan hati-hati Ratna serta beberapa pelayan membantu Melinda untuk bangkit dan kembali masuk ke dalam kamar.
“Mbak, tolong ambilkan ponsel saya di mobil!” pinta Melinda.
“Baik, Nona Muda. Saya akan mengambil ponsel Nona Muda,” jawabnya dan berlari kecil keluar dari kamar tersebut.
Salah satu bodyguard memilih untuk memberitahu mengenai Nona Muda mereka kepada Tuan Besar. Tentu saja Tuan Besar mereka harus tahu mengenai kondisi Melinda.
Melinda segera mengambil ponsel miliknya dan berusaha menghubungi suaminya. Akan tetapi, ia tidak bisa karena suaminya pasti telah memiliki nomor telepon yang baru.
Ya, aku bisa menghubungi Mas Raka menggunakan WhatsApp. (Batin Melinda)
Almer datang dengan langkah tergesa-gesa, Kakek tua itu nampak khawatir dengan kondisi Cucu menantunya.
“Kenapa kalian diam saja? Cepat hubungi dokter saat ini juga!” perintah Almer yang nampak panik.
Keesokan paginya.
Untuk beberapa hari ke depan Melinda tidak boleh menggerakkan kaki kanannya terlalu sering. Karena berisiko cukup fatal jika Melinda terus memaksa untuk berjalan seperti biasa.
Almer pun meminta Ratna untuk tetap berada disisi Melinda sementara waktu. Sampai Melinda benar-benar sembuh dan bisa berjalan seperti sediakala.
__ADS_1
“Ratna, kenapa Mas Raka belum juga menghubungiku? Apa Mas Raka belum juga sampai?” Melinda bertanya-tanya dengan tatapan kosong.
“Melinda, kamu yang sabar ya. Tuan Raka pasti akan segera menghubungi kamu,” tutur Ratna mencoba menenangkan Melinda agar tidak berpikiran macam-macam mengenai Raka Arafat.
“Sebagai seorang istri, tentu saja aku sangat takut, Ratna. Aku takut bila terjadi sesuatu yang tidak-tidak kepada suamiku disana,” ucap Melinda tak berdaya.
Baru saja Melinda mengatakan kalimat tersebut, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dengan penuh harapan Melinda membuka notifikasi WhatsApp.
“Assalamu’alaikum, istriku sayang. Aku sudah tiba dan aku baik-baik saja,” ucap Melinda membaca pesan dari Sang suami.
Melinda menangis terharu, seketika itu juga ia bisa bernapas lega karena akhirnya Sang suami mengirim kabar.
“Benar apa kataku, Melinda. Tuan Raka baik-baik saja. Tunggu apalagi, cepat kamu balas pesan dari Tuan Raka,” ujar Ratna dengan penuh semangat.
Melinda membalas pesan tersebut dengan penuh cinta. Ia benar-benar lega dan memutus untuk menyembunyikan musibah yang ia alami. Melinda tidak ingin membuat suaminya kepikiran tentang dirinya di Indonesia.
“Kakek!” Melinda melambaikan tangannya ketika melihat Sang Kakek yang telah melintasi ruang keluarga.
Almer tersenyum lebar dan berjalan menghampiri Cucu menantunya.
“Kakek diam saja disitu, biar Melinda yang kesana,” tutur Melinda.
Melinda berjalan dengan hati-hati sembari dibantu oleh sahabatnya. Tentu saja Melinda berjalan dengan menggunakan alat bantu jalan.
“Ada apa, Cucu menantu? Kenapa terlihat begitu bahagia?” tanya Almer penasaran.
“Kakek, lihatlah! Mas Raka mengirimkan pesan kepada Melinda!” Melinda sangat senang dan memperlihatkan pesan tersebut.
“Alhamdulillah, sekarang bagaimana perasaan Cucu menantu? Apakah sangat senang?” tanya Almer penasaran.
“Sangat, Kek. Sangat senang,” jawab Melinda.
“Cucu menantu tenang saja, tidak ada hal buruk yang akan terjadi kepada Cucu kandung Kakek.”
“Iya, Kek. Melinda percaya itu,” sahut Melinda.
“Kalau begitu, Kakek harus pergi ke perusahaan. Nak Ratna, tolong jaga Melinda untuk Kakek,” ujar Almer.
“Baik, Kakek,” balas Ratna.
Almer mengangguk dan pada akhirnya iapun pergi ke perusahaan.
“Ratna, boleh minta tolong?” tanya Melinda yang ingin meminta tolong kepada sahabatnya, Ratna.
“Silakan saja, Melinda. Selama aku masih bisa kenapa tidak?”
“Begini, tiba-tiba aku ingin makan bolu kukus yang kamu buat tempo hari. Boleh tidak kamu buatkan aku sekali lagi,” pungkas Melinda dengan menampilkan ekspresi seimut mungkin.
“Kalau begini, mana bisa aku tidak menolaknya? Baiklah, sekarang kamu harus aku antarkan ke kamar. Pokoknya kamu tidak boleh kemana-mana selama aku membuat bolu,” tegas Ratna.
“Wow, sepertinya sahabatku cukup galak. Kamu tenang saja, aku tidak akan kemana-mana dan hanya akan tetap berada di dalam kamar untuk menunggu bolu kukus buatan mu,” jelas Melinda.
“Aku tidak galak, Melinda. Kamu jangan bilang begitu, bagaimana kalau ada yang mendengar dan memberitahukannya kepada Tuan Besar? Yang ada, aku malah yang kena semprot,” ucap Ratna setengah berbisik.
“Kamu ini ada-ada saja, siapa juga yang mau melaporkan seperti itu. Sekarang, pergilah ke dapur. Aku ingin makan bolu kukus buatan mu, Ratna,” ujar Melinda.
“Siap, sahabatku yang cantik. Aku ke dapur dulu ya,” sahut Ratna dan melenggang pergi menuju dapur.
Senang sekali karena ada Ratna bersamaku. (Batin Melinda)
__ADS_1