
Akhirnya, waktu untuk Raka pergi telah tiba. Rasanya sangat berat bagi keduanya untuk berpisah. Meskipun begitu, Raka tetaplah harus pergi karena ada hal penting yang harus Raka kerjakan disana.
Almer yang tak lain adalah Kakek dari Raka hanya bisa memberikan restu untuk cucu kandungnya yang akan pergi jauh ke benua Eropa.
“Mas Raka, hati-hati ya. Seringlah menghubungi saya disini,” ucap Melinda berderai air mata.
“Hei, istriku tidak boleh menangis. Kalau istriku menangis begini, lebih baik aku tidak jadi pergi,” tutur Raka yang tidak tega jika meninggalkan istrinya dalam keadaan menangis seperti itu.
Melinda menghapus air matanya, ia berusaha menyimpan air matanya agar Sang suami bisa pergi dengan tenang.
“Istriku sayang, istriku cantik. Jangan menangis ya, setiap hari kita akan bertukar kabar. Akan akan selalu menghubungimu dan selama aku tidak ada, tetap jaga hatimu untukku!” pinta Raka.
“Mas Raka tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga semuanya untuk Mas Raka, termasuk mata saya,” balas Melinda.
Reza yang menyaksikan keduanya ikut menangis, Reza bahkan tak bisa menahan air matanya ketika menyaksikan momen perpisahan tersebut.
“Ternyata, kamu juga bisa menangis,” ucap Almer ketika tak sengaja melihat Asisten pribadi Raka yang ternyata telah menangis.
“Tuan Besar, saya juga manusia yang memiliki air mata,” jawab Reza yang nampak bengek dihadapan Kakek tua itu.
Raka dan Melinda akhirnya berpisah untuk waktu yang tidak ditentukan. Meskipun begitu, Melinda akan berusaha tetap tegar dan akan terus menunggu kedatangan suaminya.
Melinda tersenyum lebar dan terus melambaikan tangannya ke arah Sang suami. Ketika Sang suami benar-benar pergi, barulah Melinda menangis. Tangisan Melinda cukup membuat para pelayan ikut sedih melihatnya.
Mereka ingin sekali menghibur Nona Muda mereka yang nampak sangat sedih karena harus berpisah dengan Tuan Muda mereka sementara waktu.
“Cucu menantu, silakan menangis. Luapkan semuanya dengan tangisan dan setelah itu, tolong kembalilah seperti sediakala,” pinta Sang Kakek kepada Cucu menantu.
Melinda mengangguk kecil dan terus meneteskan air matanya. Ia menyentuh dadanya berharap agar ia bisa tenang, tabah sekaligus sabar.
Almer memutuskan untuk meninggalkan Melinda yang berada di ruang tamu dengan kondisi yang masih menangis. Almer merasa Melinda butuh ketenangan sejenak atas perpisahannya bersama dengan cucu kandungnya itu.
Aku pasti merindukan sosok Mas Raka untuk beberapa waktu ke depan. (Batin Melinda)
Cukup lama Melinda menangis, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena para pelayan terus memperhatikannya dan juga ikut sedih. Melinda tidak ingin, membuat para pelayan ikut sedih karena dirinya.
Setelah tiba di kamar, Melinda memutuskan untuk sholat Dhuha. Ia ingin meminta kepada Allah agar diberikan rezeki berupa kesehatan untuk keluarga barunya. Melinda ingin suaminya sehat-sehat saja selama berada jauh darinya dan Melinda juga ingin bila Sang Kakek selalu sehat.
Tidak ada yang lebih penting daripada memiliki tubuh yang sehat. Itulah keinginan Melinda untuk keluarganya itu.
Melinda telah selesai mengambil air wudhu dan mulai melaksanakan sholat Dhuha seorang diri di kamar tersebut.
Usai melaksanakan sholat Dhuha dan memohon do'a untuk diberi kesehatan, Melinda pun merasa sangat lega. Ia kemudian menghubungi Ratna untuk datang menemuinya dan tanpa pikir panjang, Ratna akhirnya setuju dan akan segera datang menemui Melinda.
“Ayo Melinda, kamu harus bisa dan kamu pasti bisa,” ucap Melinda menyemangati dirinya untuk tetap terlihat baik-baik saja. Meskipun, ia sangat sedih dengan perpisahannya bersama Sang suami tercinta.
Wanita muda itu duduk di kursi meja rias dan berusaha menutupi wajahnya yang agak pucat dengan makeup. Melinda memoleskan dengan sangat hati-hati dan setipis mungkin agar nampak natural jika dipandang.
“Sudah selesai, sekarang aku harus banyak tersenyum. Aku tidak ingin Mas Raka sampai tahu bahwa disini aku menangis,” tutur Melinda bermonolog.
Beberapa saat kemudian.
Ratna yang tak lain adalah sahabat Melinda akhirnya tiba juga. Saat itu juga, Melinda menyambut kedatangan sahabatnya dengan begitu hangat.
“Assalamu’alaikum,” ucap Ratna ketika memasuki rumah mewah tersebut.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Melinda dan menyambut kedatangan sahabatnya dengan sebuah pelukan hangat.
__ADS_1
Meskipun Melinda sudah tersenyum lebar dan berusaha menutupi wajahnya dengan make up, sebagai sahabat Ratna tahu bahwa sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
“Melinda, apa ada sesuatu yang terjadi? Kamu terlihat seperti habis menangis dan wajahmu terlihat sedikit pucat,” ucap Ratna mengkhawatirkan sahabatnya itu.
“Apa terlihat sangat jelas ya? Ayo kita duduk dulu,” tutur Melinda mempersilakan Ratna untuk duduk.
Ratna mengiyakan sembari mendaratkan bokongnya di sofa empuk.
“Melinda, apa terjadi sesuatu?” tanya Ratna dengan hati-hati.
“Tentu saja, terjadi sesuatu yang membuatku harus tetap terlihat baik-baik saja,” jawab Melinda.
“Maaf, apakah kamu dan Tuan Raka bertengkar?” tanya Ratna setengah berbisik karena tidak ingin bila didengar oleh telinga yang lain (Pelayan).
Melinda menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
“Tidak sama sekali, bukan karena bertengkar. Hanya saja.....” Melinda kembali menitikkan air matanya dan membuat Ratna nampak sangat terkejut.
Ratna mengambil tisu di dalam tasnya dan memberikannya kepada Melinda untuk menghapus air matanya.
“Tidak biasanya kamu menangis,” ujar Ratna yang ikut sedih menyaksikan Melinda menangis dihadapannya.
“Maaf, membuatmu menjadi tak nyaman seperti ini. Mas Raka pagi tadi pergi ke benua Eropa karena suatu pekerjaan yang penting. Yang membuatku sedih adalah karena suamiku tidak tahu kapan kembali ke Indonesia. Sebagai istri, tentu saja aku sangat sedih. Meskipun begitu, suamiku tidak ingin aku sedih disini dan berjanji akan selalu bertukar kabar setiap hari. Bagaimanapun, aku mengkhawatirkan kondisi suamiku bila berada di sana, aku takut tidak ada yang bisa mengurus suamiku dengan baik disana,” terang Melinda.
Ratna tersenyum bahagia, ia sangat bahagia sampai tak bisa berkata-kata lagi.
“Kamu kenapa malah tersenyum?” tanya Melinda terheran-heran.
“Melinda, kalau boleh jujur aku sangat bahagia atas hubunganmu dan juga Tuan Raka. Kalian berdua saling mencintai satu sama lain dan itu yang membuatku sangat bahagia,” pungkas Ratna.
“Uhuk... Uhuk...” Ratna terbatuk-batuk karena pelukan Melinda yang cukup erat.
“Maaf,” ucap Melinda yang segera melonggarkan pelukannya.
Ratna pun membalas pelukan sahabatnya untuk menghibur hati Sang sahabat tersayang.
Dua pelayan wanita datang dengan membawa cemilan serta jus jeruk untuk Melinda serta Ratna.
“Terima kasih, Mbak,” ucap Melinda.
Ratna tersenyum dan juga mengucapkan terima kasih kepada dua pelayan yang baru saja menyuguhkan beberapa cemilan serta jus jeruk untuknya.
“Kami permisi, Nona Muda!”
Melinda mempersilakan Ratna untuk menikmati cemilan dan juga jus jeruk yang telah dibawakan oleh para pelayan.
Ratna tak sungkan-sungkan, ia pun meneguk jus jeruk yang nampak begitu segar ketika masuk melewati tenggorokannya yang cukup kering.
“Ratna, maukah kamu tidur disini semalam saja?” tanya Melinda meminta Ratna untuk tidur menemani dirinya semalam saja.
Ratna yang sedang meneguk jus jeruk tiba-tiba tersedak dengan pertanyaan Melinda.
“Uhuk... Uhuk... Uhuk...”
Melinda mengernyitkan keningnya dan meminta maaf karena telah membuat Ratna tersedak.
Ratna memaklumi Melinda yang tidak sengaja membuatnya tersedak.
__ADS_1
“Melinda, apa tidak apa-apa bila aku menginap disini? Lagipula, Tuan Besar Almer tidak setuju jika aku bermalam disini,” tutur Ratna.
“Siapa bilang kalau Kakek tidak setuju?” tanya Almer yang tiba-tiba muncul dan kebetulan mendengar apa yang kedua wanita itu katakan.
Ratna seketika itu beranjak dari duduknya dan menyapa Almer dengan cara setengah membungkuk.
“Selamat pagi menjelang siang, Tuan Besar Almer!” Ratna menyapa Kakek tua itu dengan sangat hati-hati.
“Panggil saja saya Kakek! Lagipula, Nak Ratna ini adalah sahabat dari cucu menantu saya,” pinta Almer yang ingin dipanggil Kakek daripada Tuan Besar.
“Baik, Tuan Besar. Eh, maksud saya Kakek,” tutur Ratna.
“Bagaimana, apakah kamu mau tidur disini menemani cucu menantu Kakek?” tanya Almer.
Ratna berpikir sejenak dan perlahan ia mengiyakan permintaan Melinda.
Melinda begitu senang, ia mendekati Kakek tua itu dan mengucapkan terima kasih.
“Kalian lanjutkan perbincangan hangat kalian, Kakek mau keluar ada urusan mendadak,” tutur Almer dan perlahan pergi melewati ruang tamu.
Melinda dan Ratna kembali mendaratkan bokong mereka ke sofa setelah Almer keluar dari rumah untuk urusan mendadak yang entah itu apa.
“Melinda, kebahagiaanku bertambah berkali-kali lipat,” ungkap Ratna yang nampak sangat bahagia.
“Kalau boleh tahu, kenapa?” tanya Melinda penasaran.
“Karena sahabatku berada di keluarga yang tepat. Aku sangat bahagia dan aku berharap selamanya kamu akan terus bahagia,” jawab Ratna.
“Aamin, aku pun berharap agar kamu segera menikah dan mendapatkan keluarga yang juga menyayangi kamu,” tutur Melinda.
Ratna mengaminkan do'a Melinda untuknya. Bagaimanapun, Ratna juga ingin mendapatkan keluarga baru yang begitu menyayangi dirinya.
“Melinda, aku sepertinya harus pulang terlebih dahulu,” ucap Ratna yang harus pulang untuk mengambil pakaian ganti miliknya.
“Kenapa? Tidak bisakah kamu tidak pulang?” tanya Melinda.
“Maksudku begini, aku tidak membawa pakaian ganti,” jawab Ratna apa adanya.
“Ya ampun, kamu ini seperti sama siapa saja. Pakai saja punyaku, aku ada beberapa pakaian yang masih baru dan untuk masalah pakaian dalam serta ****** *****, di almari ku banyak yang masih baru. Kamu tinggal pakai saja,” bisik Melinda.
Ratna tertawa kecil ketika mendengar bisikan Melinda yang cukup menggelitik perutnya.
“Baiklah, aku tidak jadi pulang. Aku tidur di kamar tamu saja ya,” ucap Ratna.
“Jangan. Kamu tidur bersamaku di kamar yang dulu pernah aku gunakan sebelum menikah dengan suamiku. Bagaimana?” tanya Melinda berharap Ratna langsung mengiyakan pertanyaan darinya.
“Apa tidak masalah? Bagaimana kalau Tuan Besar marah?” tanya Ratna.
“Ratna, bukankah kamu harus memanggil beliau dengan panggilan Kakek?” tanya Melinda mengingatkan kembali sahabatnya untuk memanggil Kakek dari suaminya dengan panggilan Kakek.
“Baiklah, maksudku Kakek. Apakah Kakek tidak akan marah?” tanya Ratna.
“Tentu saja tidak, Ratna. Bagaimana?” tanya Melinda penasaran.
“Baiklah, terserah kamu saja. Asal kamu senang, aku juga ikut senang,” jawab Ratna pada sahabatnya itu.
Keduanya saling tertawa bahagia satu sama lain. Para pelayan akhirnya bisa bernapas lega melihat Nona Muda mereka yang nampak bahagia karena kehadiran Ratna. Mereka tidak ingin melihat Nona Muda mereka terus-menerus sedih karena perpisahan sementara waktu tersebut.
__ADS_1