Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 109


__ADS_3

Melinda mencoba untuk tetap tenang, ia bangkit dari ranjang pasien untuk mengambil ponselnya. Akan tetapi, ponsel miliknya malah mati kehabisan baterai.


“Bagaimana ini, ponselku mati. Bagaimana bisa aku menghubungi Ratna dan juga Mas Raka,” ujar Melinda bermonolog.


Melinda kembali merasakan sakit di bagian punggungnya dan juga tengkuk lehernya.


“Aww, sebaiknya aku berisitirahat sejenak,” ujar Melinda dan kembali naik ke tempat tidur.


Tak butuh waktu lama, Raka akhirnya tiba di rumah sakit.


“Cepat, dorong lebih cepat lagi!” perintah Raka yang tak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya.


Melinda yang sedang tiduran begitu terkejut, manakala ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan cukup keras.


“Sayang, kamu kenapa bisa kemari ada apa? Bukankah tadi pagi kamu bilang ingin bertemu dengan Ratna?” tanya Raka yang kini sudah berada dekat dengan Sang istri.


Reza tidak ingin mengganggu momen penting keduanya, saat itu juga Reza memutuskan untuk menunggu diluar ruangan.


“Sayang, sebenernya tadi...”


Melinda akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dirinya bisa berada di rumah sakit.


“Begitulah ceritanya, sayang. Akan tetapi, Melinda tidak tahu siapa pria yang membawa Melinda kesini, sayang,” terang Melinda setelah menceritakan kejadian tersebut.


“Sayang, kamu tidak perlu takut. Dia Eko, sepupuku yang tinggal di Singapura,” pungkas Raka.


“Sepupu? Kenapa Melinda baru tahu kalau Mas punya sepupu?” tanya Melinda terheran-heran.


“Ya bagaimana aku mau bilang, jika kesayangan ku tidak pernah bertanya,” balas Raka.


“Mas Raka sayang, ayo pulang,” pinta Melinda yang tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.


“Sayang, perbuatan mereka sudah keterlaluan. Aku tidak terima dan masalah ini akan aku bawa ke ranah hukum,” pungkas Raka yang tidak bisa diam saja mengetahui bahwa istrinya telah diperlakukan seenaknya oleh dua wanita tersebut.


“Sayang, kita lupakan saja ya kejadian ini. Melinda tidak ingin bila kedepannya ada masalah datang terus-menerus,” ujar Melinda yang memilih untuk melupakan kejadian tersebut.


“Baiklah, kalau begitu aku akan mengirim Reza untuk menemui mereka dan memberikan mereka sedikit gertakan. Aku melakukan ini untuk berjaga-jaga agar dikemudian hari mereka tidak akan mengulangi hal yang sama,” terang Raka.


Melinda pun setuju dengan apa yang suaminya katakan.


“Sayang, tolong hubungi Ratna,” pinta Melinda meminta Sang suami menghubungi sahabatnya, Ratna.


“Ini sayang, kamu saja yang menghubunginya,” tutur Raka dan memberikan ponselnya kepada Melinda.

__ADS_1


Untungnya saja Melinda hafal dengan nomor telepon Ratna. Melinda pun menekan nomor telepon sahabatnya, Ratna.


Raka hanya diam tak berbicara dan hanya fokus memperhatikan wajah Melinda yang sedang berbincang-bincang dengan Ratna melalui sambungan telepon.


“Syukurlah kamu tidak apa-apa, Ratna. Bagaimana dengan mereka berdua?” tanya Melinda.


Raka tersenyum tipis dan perlahan menyentuh pipi Melinda dengan sangat hati-hati.


Setelah hampir 5 menit Melinda berbicara dengan sahabatnya melalui telepon, akhirnya keduanya mengakhiri perbincangan mereka.


“Sudah?” tanya Raka ketika Melinda baru saja mengakhiri perbincangannya bersama dengan Ratna.


“Sudah, sayang. Alhamdulillah Ratna tidak apa-apa dan Ratna sekarang sudah di rumah,” ujar Melinda memberitahukan suaminya mengenai keadaan Ratna.


“Iya sayang, Alhamdulillah,” sahut Ratna yang ikut bernapas lega.


“Mas Raka sayang, kita pulang ya,” pinta Melinda yang lagi-lagi meminta suaminya agar memulangkan dirinya.


“Kenapa? Apa kesayanganku sudah benar-benar membaik?” tanya Raka memastikan.


“Sayang, kalau Melinda disini terus, yang ada Melinda bukannya cepat sembuh malah jadi malas-malasan. Please, pulang ya,” pinta Melinda memohon agar suaminya mau memenuhi permintaannya itu.


Raka mengangguk kecil dan menghubungi asisten pribadinya untuk membayar biaya pengobatan Sang istri.


Reza masuk ke dalam dan memberitahukan Tuan Mudanya bahwa biaya pengobatan Melinda sudah dibayar lunas oleh Eko.


“Mas Raka, apakah pria yang bernama Eko itu sungguh pria baik?” tanya Melinda memastikan.


Raka tertawa kecil melihat bagaimana wajah istrinya yang terlihat sangat waspada ketika membahas mengenai sepupunya.


“Mas Raka, kenapa malah tertawa?” tanya Melinda yang merasa bahwa suaminya sedang meledek dirinya.


Raka memberi isyarat mata kepada Reza untuk segera keluar dari ruangan tersebut. Reza yang mengerti secepat mungkin meninggalkan keduanya.


“Sayang,” ucap Melinda yang memanggil suaminya dengan sebutan “Sayang”


“Kenapa hanya saat kita berdua saja kamu memanggilku dengan panggilan sayang?” tanya Raka yang protes dengan panggilan sayang tersebut.


“Mas Raka sayang, bagaimana Melinda malu bila di dengar oleh yang lain. Butuh waktu untuk bisa sesantai itu,” pungkas Melinda.


“Baiklah, terserah istriku saja,” ujar Raka yang pasrah dengan keinginan Sang istri.


🌷

__ADS_1


Malam hari.


Melinda terbangun dari tidurnya dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Melinda memutuskan untuk pergi ke dapur mencari minum karena tenggorokannya yang terasa kering.


“Mau kemana?” tanya Raka yang tiba-tiba terbangun ketika merasakan bahwa Melinda turun dari tempat tidur.


“Mas Raka sayang, kenapa bangun? Gara-gara saya ya?” tanya Melinda.


“Kamu mau kemana, sayang?” tanya Raka yang belum sepenuhnya terjaga.


“Mas Raka sayang, saya mau minum. Kebetulan tenggorokan kering,” jawab Melinda sembari menyentuh tenggorokannya.


“Kenapa tidak panggil saya bibi dengan menekan tombol panggil,” ujar Raka.


“Tidak, sayang. Mereka juga butuh istirahat. Kalau begitu, saya ke dapur dulu ya sayang,” tutur Melinda.


Setibanya di dapur, Melinda mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Kemudian, Melinda meneguknya sampai habis. Setelah itu, Melinda kembali mengisi gelas yang sebelumnya kosong dengan air untuk dibawa ke kamar.


“Cucu menantu sedang ngapain?” tanya Melinda yang ingin masuk ke dalam lift.


Melinda mengurungkan niatnya masuk ke dala lift dan perlahan menghampiri Almer yang berdiri tak jauh dari lift.


“Kakek kenapa belum tidur? Melinda tadi haus, makanya Melinda ke dapur untuk mengambil air minum,” jawab Melinda.


“Ya sudah sana, pergilah ke kamar. Ini Kakek habis dari ruang kerja dan sekarang Kakek mau tidur,” ucap Almer.


“Ya sudah, Kek. Melinda permisi mau ke atas,” tutur Melinda dan akhirnya masuk ke dalam lift untuk segera ke lantai atas.


Melinda membuka pintu kamar dengan perlahan dan rupanya Sang suami telah terjaga.


“Sayang, kenapa tidak tidur lagi?” tanya Melinda sembari meletakkan gelas minimnya diatas meja dekat dengan sofa.


“Bagaimana bisa tidur, kalau istriku tidak ada di dekatku,” jawab Raka dengan menampilkan ekspresi sedih.


Melinda tersenyum lebar dan naik ke tempat tidur agar suaminya itu bisa kembali tidur.


“Lihatlah, istri kesayangan Mas Raka sudah disini. Ayo kita tidur,” ujar Melinda mengajak suaminya untuk tidur kembali.


Raka menggelengkan kepalanya dan memberi isyarat agar Melinda mencium pipinya terlebih dahulu sebelum mereka tidur.


Melinda perlahan mendekat ke wajah suaminya dan mencium pipi suaminya dengan menggunakan seluruh hatinya.


“Sekarang apakah Mas Raka sayang sudah ingin tidur?” tanya Melinda.

__ADS_1


“Oh, tentu saja. Ayo kita tidur!” seru Raka dan merekapun akhirnya berpelukan satu sama lain.


__ADS_2