Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 49


__ADS_3

Usai menikmati makan siang, Raka harus pergi ke apartemen miliknya hadiah dari Kakak kesayangannya, Rafa Arafat.


“Kakek, sepertinya malam ini Raka tidak pulang ke rumah,” ujar Raka pada Kakeknya.


“Kenapa? Apakah ada urusan penting di perusahaan?”


“Kakek, Raka sudah sangat lama tidak tidur di apartemen,” jawabnya.


“Lalu, bagaimana dengan cucu menantu?” tanya Almer menoleh ke arah Melinda yang terlihat kebingungan.


Melinda sendiri tidak paham dengan apartemen yang dimaksud oleh suami dan juga Kakek dari suaminya.


“Istriku, malam ini izinkan suamimu tidak pulang ya,” ujar Raka berusaha membujuk istrinya di depan Almer.


Aku mohon iyakan saja keinginanku ini. (Batin Raka)


“Mas mau tidur di apartemen? Memangnya ada apa dengan kamar kita?” tanya Melinda penasaran.


“Lihatlah, istrimu saja sepertinya tidak menginginkan kamu jauh-jauh darinya,” tutur Almer.


Sial, kenapa wanita ini harus selalu banyak tanya? Tidak bisakah wanita ini hanya mengiyakan perkataan ku? Sudahlah. Lebih baik aku mengajaknya saja. (Batin Raka)


“Istriku, karena kamu tidak ingin tidur sendiri. Bagaimana kalau ikut suamimu tidur di apartemen?” tanya Raka menawarkan diri untuk mengajak Melinda ikut menginap di apartemen.


Melinda sedang tidak ingin pergi kemana-mana. Kalau terus-menerus pergi kesana-kemari, Melinda takut tubuhnya akan semakin melemah.


“Tidak, Mas Raka. Saya di rumah saja,” jawab Melinda menolak secara halus.


“Kakek dengar sendiri apa yang istri Raka katakan?”


“Karena cucu menantu sudah mengatakannya dan tidak ingin ikut, baiklah kamu bisa pergi ke apartemen dan Kakek harap hanya 1 malam saja.”


“Kakek jangan khawatir. Raka tentu saja hanya semalam saja, karena kalau Raka berhari-hari ditakutkan istri Raka ini kembali berdekatan dengan pria jelek,” pungkas Raka melirik tajam ke arah Melinda.


“Maksud kamu?” tanya Almer penasaran dan tak mengerti dengan apa yang Raka katakan. Perkataan Raka seperti teka-teki baru untuknya.


“Oh, itu. Tidak ada maksud apa-apa, Kek. Raka hanya asal bicara saja,” jawab Raka dan tertawa lepas untuk mengusir kecanggungan di ruang makan tersebut.


Melinda sangat penasaran mengenai alasan suaminya tidur di apartemen. Akan tetapi, Melinda tak sanggup untuk bertanya karena takut terdengar kata-kata yang tak seharusnya ia dapatkan dari mulut suaminya.


Sebaiknya aku menanyakan masalah apartemen itu kepada Mas Reza saja. Mas Reza pasti akan menjawab pertanyaan ku ini. (Batin Melinda)


Almer telah selesai menikmati makan siangnya, begitu juga dengan Raka dan Melinda.


Tak ingin membuang-buang waktu, Raka memutuskan untuk segera pergi menuju apartemen.

__ADS_1


Melinda ingin bertanya mengenai apartemen tersebut. Akan tetapi, sepertinya belum waktunya bagi Melinda untuk menanyakan masalah apartemen itu.


“Aku akan bermalam di apartemen dan kamu tidak boleh mengatakan menjelek-jelekkan aku pada Kakek,” tutur Raka memberi peringatan kepada Melinda.


“Mas Raka, sebelum pergi bolehkah saya bertanya? Kenapa Mas Raka harus bermalam di apartemen?” tanya Melinda yang memutuskan untuk bertanya langsung kepada suaminya.


“Kamu mau tahu?” tanya Raka dingin.


“Tentu saja, apakah saya salah jika bertanya?”


“Apartemen itu adalah hadiah ulang tahunku yang ke 17 tahun dari almarhum Kak Rafa. Apakah sudah cukup?”


Melinda merasa sedikit bersalah karena tidak seharusnya ia bertanya hal yang dapat membuat suaminya menjadi sedih.


“Karena kamu sudah tahu, tolong jangan lagi bertanya. Sekarang antarkan aku ke depan!”


Melinda menyentuh tangan kanan suaminya dan mencium punggung tangan suaminya dengan perlahan.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Raka terkejut ketika punggung tangannya dicium oleh Melinda.


“Mas Raka bisa menolak kenyataan bahwa kita telah menjadi suami istri. Akan tetapi, saya tidak bisa bila mengabaikan pernikahan kita ini. Izinkan saya menjadi istri untuk Mas Raka,” terang Melinda yang memutuskan menerima sekaligus berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya.


“Sampai detik ini aku masih belum bisa menerima kehadiran mu di rumah ini. Akan tetapi, aku memutuskan untuk tidak membuat perjanjian yang beberapa waktu lalu aku janjikan padamu,” balas Raka.


“Benarkah?” tanya Melinda yang sangat antusias.


“Apapun itu, saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Raka.”


“Cukup. Aku tidak ingin mendengar apa yang kamu katakan. Sekarang, bawa aku ke depan! Reza pasti sudah menungguku.”


Wanita muda berusia 20 tahun itu hanya tersenyum dan membawa suaminya untuk segera keluar rumah.


“Mas Reza, tolong jaga suami saya disana,” tutur Melinda pada asisten pribadi suaminya.


“Iya...” Reza terkejut dan segera menoleh ke arah Tuan Mudanya.


“Kenapa melihatku seperti itu? Kau abaikan saja wanita gila ini. Cepat bantu aku masuk ke dalam mobil!” perintah Raka.


Melinda perlahan mulai memahami sikap suaminya.


Sepertinya aku mulai memahami orang seperti apa Mas Raka ini. Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha membuat Mas Raka menerimaku sekaligus menyukaiku. (Batin Melinda)


Melinda melambaikan tangan ke arah suaminya yang sudah berada di dalam mobil.


“Hati-hati suamiku.” Melinda terus melambaikan tangan sembari tersenyum manis.

__ADS_1


Raka menjadi salah tingkah dan meminta Reza untuk segera pergi.


“Wajah Tuan Muda kenapa jadi merah merona seperti itu?” tanya Reza menggoda Tuan Mudanya.


“Berhenti menatapku, fokuslah ke depan.”


Raka menyentuh pipinya yang terasa panas.


“Apakah aku sakit? Sepertinya aku baik-baik saja,” ucap Raka bermonolog.


“Iya, Tuan Muda. Tuan Muda tadi mengatakan sesuatu?” tanya Reza yang samar-samar mendengar Tuan Mudanya berbicara.


“Aku tidak bicara padamu, aku bicara dengan diriku sendiri,” celetuk Raka.


Reza mengangguk kecil dan kembali fokus dengan jalan raya dihadapannya.


Melinda tersenyum bahagia dan berharap hubungannya dengan suaminya mengalami kemajuan.


“Ehem... Kakek perhatian, Cucu menantu dari tadi senyum sendiri. Boleh Kakek tahu kenapa Cucu menantu tersenyum?” tanya Almer penasaran yang ternyata sudah berada di samping Melinda.


Melinda salah tingkah mendapat pertanyaan dari Kakek tua yang berdiri tepat disampingnya.


“Apakah Cucu menantu tertarik dengan Cucu Kakek? Kakek tahu bahwa pernikahan kalian ini atas paksaan dari Kakek. Kakek berharap Cucu menantu memiliki perasaan untuk Cucu Kakek, raka.”


“Hhmm.. Sebenarnya Melinda mulai menyukai Mas Raka, Kakek. Meskipun Mas Raka galak, cerewet, bawel, angkuh dan....”


“Haha.. haha...” Almer tertawa lepas mendengar bagaimana Melinda dengan santainya menjelekkan cucu kandungnya itu.


“Haduh.. Maafkan Melinda, Kakek. Bukan maksud Melinda menjelek-jelekkan Mas Raka di depan Kakek,” ucap Melinda dan menepuk-nepuk mulutnya sendiri.


“Kakek suka dengan sikap Cucu menantu yang seperti ini. Kakek hanya berpesan 1 hal, tolong temani Cucu Kakek sampai kalian tua nanti. Kakek mempercayakan Cucu kandung Kakek kepada cucu menantu,” ungkap Almer serius.


“Kakek...” Melinda menangis terharu. Untuk pertama kalinya, ada orang yang begitu percaya dengannya.


“Jangan menangis. Kalian berdua memang telah ditakdirkan untuk menjadi sepasang suami istri.”


Melinda menghapus air matanya dan tersenyum lebar.


“Kakek, Melinda berjanji aku selalu menemani Mas Raka. Pernikahan ini awalnya adalah paksaan bagi Mas Raka. Akan tetapi, bagi Melinda ini adalah bentuk tanggung jawab. Melinda berharap semoga pernikahan kami ini selalu langgeng sampai mau yang memisahkan kami di dunia ini,” terang Melinda.


Almer mengucapkan terima kasih kepada Melinda yang telah mau menerima Raka apa adanya.


“Sekali lagi terima kasih, Cucu menantu. Ayo kita masuk ke dalam, Cucu menantu harus segera beristirahat.”


Rasanya sangat lega ketika Kakek mempercayakan aku. (Batin Melinda)

__ADS_1


Melinda dan Almer berjalan berpisah ke kamar mereka masing-masing.


Saat ini, Melinda begitu bahagia karena ia sadar bahwa perasaannya untuk suaminya benar-benar tulus. Melinda tak peduli dengan kondisi suaminya, menurutnya cinta itu nyata dan tulus.


__ADS_2