
Pagi hari.
Reza baru tiba dan salah satu bodyguard keluarga Arafat berlari kecil ke arahnya. Kemudian, bodyguard itu menjelaskan apa yang terjadi semalam.
Reza terkejut bukan main, rupanya Luna berniat untuk datang kembali ke dalam kehidupan Tuan Mudanya.
Asisten pribadi Raka, sama sekali tidak suka dengan Luna dan berpikir keras agar Luna secepatnya menyerah dengan keinginannya itu.
“Tidak, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Sekarang, Tuan Muda adalah milik Nona Muda dan sebaliknya, Nona Muda adalah milik Tuan Muda,” ujar Reza bermonolog.
Reza berjalan masuk ke dalam rumah itu dan berusaha mencari keberadaan Tuan Mudanya. Reza pun menanyakan kepada salah satu pelayan yang tak sengaja berpapasan dengannya mengenai keberadaan Tuan Mudanya dan pelayan itu pun mengatakan bahwa Nona Muda dan juga Tuan Muda sedang berada di samping rumah, yaitu area kolam renang.
“Tuan muda.” Reza berjalan menghampiri Tuan Mudanya dengan ekspresi wajah yang sangat aneh.
Raka mengernyitkan keningnya, menyadari ekspresi wajah asisten pribadinya yang tidak biasa.
“Ada apa?” tanya Raka dengan ekspresi datar, seakan-akan tidak peduli dengan kedatangan Asisten pribadinya itu.
“Tuan Muda, bisakah kita berbicara empat mata saja?” tanya Reza yang hanya ingin berbicara empat mata dengan Tuan Mudanya, tanpa ada Nona Mudanya disamping mereka.
Raka menoleh sekilas ke arah Melinda yang saat itu terlihat tak nyaman dengan apa yang dikatakan Reza.
“Ada apa? Bicaralah saja, lagipula tidak ada hal yang perlu kita sembunyikan dari Melinda,” sahut Raka.
”Benarkah?” tanya Reza memastikan dan ingin melihat respon selanjutnya dari Tuan Mudanya.
”Tentu saja,” jawab Raka yang semakin santai dengan apa yang akan dikatakan oleh Reza padanya.
“Baiklah, saya akan membahas masalah Luna,” ungkap Reza.
Raka terkejut dan saat itu juga meminta istrinya untuk segera meninggalkan area kolam renang.
Melinda tak kalah terkejut ketika melihat ekspresi suaminya yang mendengar nama Luna.
Siapa Luna? Kenapa reaksi Mas Raka seperti itu? Apakah wanita bernama Luna adalah mantan kekasih Mas Raka? (Batin Melinda)
“Melinda, cepat pergi dari sini!” perintah Raka mendesak Melinda untuk segera meninggalkan area kolam renang.
Melinda dengan berat hati akhirnya melenggang pergi sesuai dengan perintah Raka padanya.
Raka merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia katakan. Akan tetapi, bila sampai Melinda mendengar bahwa yang ia dan Raka bahas adalah Luna, mantan kekasih yang dulu sangat ia cintai, apakah Melinda akan baik-baik saja?
Begitulah isi dari pikiran seorang Raka Arafat.
“Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan!” perintah Raka mendesak Reza untuk segera menceritakan mengenai mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
“Begini, bukan maksud saya untuk ikut campur dengan hubungan Tuan Muda. Akan tetapi, apakah boleh saya tahu mengenai perasaan Tuan Muda kepada wanita bernama Luna itu? Apakah Tuan Muda masih mencintainya?” tanya Reza penasaran.
Reza menatap serius asisten pribadinya yang telah lancang mempertanyakan mengenai hubungannya itu.
“Apa maksudmu? Bukankah kamu sudah memblokir nomor teleponnya? Pernahkah kamu melihat aku mencoba menghubungi wanita itu setelah apa yang terjadi padaku? Setelah apa yang telah dia lakukan padaku? Meninggalkan ku begitu saja dan memilih mengejar mimpi gilanya itu,” terang Raka panjang lebar kepada asisten pribadinya itu.
Raka akhirnya membatalkan semua pekerjaannya karena kesal ketika mendengar nama Luna.
Melinda duduk merenung seorang diri di taman depan rumah, wanita muda berusia 20 tahun itu tiba-tiba kehilangan semangatnya.
Nama Luna terus-menerus berada dipikirkannya dan membuat semangat Melinda perlahan memudar.
Raka berusaha mencari istrinya dan tak menemukan batang hidung istrinya itu. Entah kemana Sang istri pergi setelah Raka mengusirnya.
“Melinda pasti kesal terhadapku. Tidak seharusnya aku mengatakan kalimat tersebut, itu sama saja aku mengusirnya,” ucap Raka bermonolog.
Reza berlari menghampiri Tuan Mudanya dan meminta maaf atas pertanyaan yang sangat lancang tersebut. Raka tak menjawab ataupun menerima permintaan maaf dari asisten pribadinya itu. Dikarenakan, Raka memfokuskan perhatiannya untuk mencari Sang istri.
“Tuan Muda apakah sedang mencari Nona Muda?” tanya salah satu bodyguard ketika melihat Raka yang baru saja keluar dari rumah dan kini berada di teras depan rumah.
“Ya. Aku mencarinya dan belum juga menemukan istriku. Apakah kamu tahu keberadaan istriku?” tanya Raka penasaran.
“Tadi saya melihat Nona Muda berlari ke arah taman, sepertinya Nona Muda disana,” jawab bodyguard itu sembari menunjuk ke arah dimana Nona Mudanya berlari ke taman yang berada di halaman rumah tersebut.
Melinda segera menghapus air matanya manakala mendengar suara suaminya yang sedang memanggil namanya. Melinda pun beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk menghampiri suaminya yang ternyata tengah mencari dirinya.
”Iya, Mas Raka. Mas Raka mencari saya?” tanya Melinda memastikan.
“Tentu saja, aku mencari mu. Kamu kenapa disini?” tanya Raka penasaran.
“Saya sedang menghirup udara segar disini. Apakah Mas sudah selesai berbincang-bincang dengan Mas Reza?” tanya Melinda penasaran.
“Oh itu, aku tidak membahas apapun pada Reza. Aku langsung mencari mu dan kamu tidak ada di dalam rumah,” ungkap Raka pada istrinya.
“Mas Raka mencari saya ada perlu apa?” tanya Melinda terheran-heran karena sebelumnya Sang suami mengusirnya dari area kolam renang.
Reza mendekat ke arah Nona Mudanya dan meminta maaf karena gara-gara dirinya lah, Tuan Mudanya berbicara seperti itu.
Melinda berpura-pura menganggap santai mengenai hal tersebut. Meskipun dalam hatinya, Melinda merasa tak nyaman dengan wanita bernama Luna yang kemungkinan adalah nama mantan dari suaminya.
“Mas Raka kenapa masih disini? Ayo kita harus ke kamar sekarang juga, bukankah pagi ini Mas harus berangkat ke kantor,” tutur Melinda yang panik karena suaminya akan segera pergi bekerja.
“Aku hari ini libur dan ingin bersantai-santai di rumah saja,” pungkas Raka yang ingin menghilang sementara waktu.
“Benarkah? Kenapa Mas tiba-tiba ingin bersantai di rumah? Mas Raka tidak tahu kalau rugi?” tanya Melinda dengan tatapan yang sangat polos nan menggemaskan.
__ADS_1
“Ha? Rugi bagaimana? Aku tentu saja tidak akan rugi. Harta keluarga ku banyak,” jawab Raka sesantai mungkin.
Melinda tertawa mendengar perkataan suaminya itu.
“Sudah jangan tertawa, ayo kita masuk ke dalam. Udara pagi ini ternyata cukup dingin dan aku tidak ingin kamu bersin terlalu sering seperti ketika kita berada di puncak,” ujar Raka ketika mengingat Melinda yang bersin terus-menerus selama berada di puncak ketika mereka berdua sedang berbulan madu.
“Ternyata Mas Raka masih ingat kejadian itu. Meskipun begitu, dulu Mas Raka sangat jahat dan sering membentak ku,” ujar Melinda yang protes dengan sikap suaminya dulu ketika mereka berada di puncak.
“Iya, aku salah dan aku akan terus mencoba untuk mengikuti apa yang kamu katakan padaku. Sekarang, ayo masuk ke dalam!” ajak Raka.
Reza kembali mendorong kursi roda Tuan Mudanya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Melinda sedikit merasa lega karena apa yang telah suaminya katakan.
“Bagaimana kalau nanti siang kita pergi ke mal?” tanya Raka barangkali Melinda mau pergi ke pusat perbelanjaan.
“Hhmmm... Kita kesana ngapain Mas Raka?” tanya Melinda penasaran.
“Tentu saja berbelanja, bagaimana? Apakah kamu suka?” tanya Raka dan ingin tahu respon istrinya.
“Mas Raka, bukannya saya tidak mau. Akan tetapi, bukankah ada tempat yang bisa kunjungi selain pusat perbelanjaan?” tanya Melinda yang sama sekali tidak tertarik dengan mal yang dimaksudkan oleh suaminya.
“Lalu, apakah ada tempat rekomendasi yang menurut mu bagus untuk dikunjungi?” tanya Raka.
Melinda tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.
“Sepertinya tidak ada, Mas Raka. Lagipula, rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk saya,” pungkas Melinda.
“Ya sudah, kita di dalam rumah saja. Lagipula, rumah ini sangat lebar dan tidak terasa sesak seperti rumahmu,” ucap Raka meledek kediaman keluarga Melinda.
Melinda sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan suaminya. Justru, Melinda menganggap perkataan suaminya hanyalah gurauan semata.
“Reza, kau boleh pergi sekarang dan jangan lagi mengatakan hal yang tidak penting padaku,” tegas Raka pada asisten pribadinya.
Reza mengiyakan dan kembali meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Kemudian, melenggang pergi sembari menunda semua jadwal Tuan mudanya pada hari itu.
Melinda menatap suaminya dengan tatapan sedikit kesal.
“Mas Raka kenapa harus berbuat seperti ini?” tanya Melinda penasaran.
“Maksudnya?” tanya Raka terheran-heran.
“Sudahlah, tidak perlu dibahas. Sekarang, saya mau ke samping lagi. Duduk santai sembari melihat jernihnya air kolam renang,” pungkas Melinda.
“Ayo, kita duduk santai seperti tadi lagi,” sahut Raka sembari mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin.
__ADS_1