
Pagi hari yang cerah, Melinda dengan penuh semangat berjalan masuk menuju koridor kampus dan terus berjalan hingga tiba di kelasnya.
Siska melambaikan tangannya ketika melihat Melinda yang sedang memasuki kelas.
Melinda pun melambaikan tangannya dan memutuskan untuk menghampiri Siska yang tidak jauh dari kursi Melinda.
“Selamat pagi, Siska,” ucap Melinda menyapa Siska.
“Selamat pagi juga, Melinda. Btw, kamu pagi ini terlihat sangat bahagia. Kasih tahu dong alasannya!” pinta Siska penasaran.
Melinda tersenyum malu-malu dan memutuskan untuk kembali ke kursinya.
Siska tertawa kecil melihat ekspresi wajah Melinda yang malu-malu seperti itu.
Tak sampai 15 menit, dosen akhirnya datang dan kelas pun dimulai.
Melinda dengan tenang mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari dosen di depan. Keinginan Melinda semakin besar dan berharap kedepannya dirinya bisa menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya kelak.
Disaat yang bersamaan, Raka sedang berada di ruang rapat bersama partner bisnis dari luar negeri, lebih tepatnya dari negeri tirai bambu (China)
Usai melakukan rapat penting, Raka tidak langsung meninggalkan ruang rapat tersebut. Raka masih ingin berbincang-bincang santai dengan para rekan kerja yang kebetulan usia mereka tidak jauh dengan usia Raka Arafat.
Almer selaku Kakek dari Raka Arafat, terlihat sangat senang melihat bagaimana Cucu kandungnya itu begitu mahir berbicara dengan menggunakan bahasa Mandarin.
Almer dan Raka sekilas memberi isyarat mata sebelum keduanya berpisah.
“Lihatlah cucu kandungku, semakin hari semakin pintar bicara,” ucap Almer memuji kemampuan Cucu kandungnya kepada asisten pribadi Raka Arafat, yaitu Reza.
Reza mengiyakan dengan setuju ucapan Almer yang memuji sosok Raka Arafat.
Sekitar 30 menit, Raka akhirnya selesai berbincang-bincang santai dan memanggil asisten pribadinya untuk segera membawa ke sebuah toko pakaian.
Raka ingin memberikan sesuatu untuk Sang istri dan Raka berharap bahwa istrinya itu menyukai hadiah pemberiannya.
“Reza, kau antarkan aku ke sebuah toko atau butik baju yang modelnya bagus, cantik, mahal sekaligus elegan untuk dipakai oleh istriku, Melinda,” pungkas Raka.
Reza berusaha mengingat-ingat kembali butik yang menjual pakaian yang ciri-cirinya baru saja disebutkan oleh Tuan Mudanya.
“Ada apa? Jangan bilang kalau kamu tidak tahu?” tanya Raka yang kesal melihat ekspresi wajah Reza.
“Tuan Muda, saya akan mencari informasi tentang butik tersebut secepat mungkin,” balas Reza dan secepat mungkin mengeluarkan ponselnya untuk melihat apakah ada butik yang dimaksud oleh Tuan Mudanya.
Raka menarik napasnya dan menghelanya dengan kesal. Kemudian, Raka menggerakkan kursi rodanya seorang diri dengan perasaan kesal terhadap asisten pribadinya yang menurut Raka begitu lambat dalam mencari informasi butik tersebut.
Reza sama sekali tak menyadari bahwa Tuan Mudanya pergi begitu saja, dikarenakan Reza terlalu sibuk mencari informasi tentang butik baju.
“Loh, Tuan Muda kemana?” tanya Reza sembari melihat di sekitar tempatnya berdiri.
Reza berlari kecil mencari Tuan Mudanya yang pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Saat Reza tengah berlari mencari Tuan Mudanya, ia tak sengaja menabrak salah satu staff kantor.
Bruk!!!
“Maaf, saya tidak sengaja,” ucap Reza dan kembali berlari mencari Tuan Mudanya itu.
Saat Reza tengah berlari, ponselnya tiba-tiba berbunyi dan ternyata yang mencoba menghubunginya adalah Tuan Mudanya sendiri.
“Kau dimana? Cepat ke parkiran!” perintah Raka dan menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Reza mempercepat larinya untuk segera menghampiri Tuan Mudanya yang ternyata sudah berada di area parkir.
“Tuan Muda pergi kesini sendirian?” tanya Reza memastikan dengan napas terengah-engah.
“Ada banyak karyawan disini, apa gunanya mereka kalau tidak membantuku kemari? Cepat bawa aku masuk ke mobil, kita harus pergi ke butik secepatnya!” perintah Raka.
“Baik, Tuan Muda!” seru Reza dan perlahan memasukkan Tuan Mudanya ke dalam mobil.
Beberapa jam kemudian.
Melinda tersenyum lebar manakala mendapat pesan singkat dari suaminya yang akan datang menjemputnya. Hati istri mana yang tak senang dan juga bahagia mengetahui bahwa dirinya akan dijemput oleh Sang suami tercinta.
“Hayo, senyum-senyum sendiri. Pasti dari Ayang Beb,” ucap Siska menggoda Melinda.
“Terlihat jelas ya?” tanya Melinda yang menjadi salah tingkah dengan ucapan Siska.
“Oh, ya jelas dong. Btw, ayo pergi ke tempatku,” ajak Siska.
“Boleh, sekalian aku menunggu kedatangan suamiku di depan,” balas Melinda menerima ajakan Siska padanya.
Keduanya pun berjalan beriringan keluar dari kelas.
Beberapa saat kemudian.
Melinda pamit kepada Siska dan kedua orang Tuan Siska karena mobil Raka Arafat telah tiba. Tak lupa Melinda mengucapkan terima dan salam perpisahan untuk keluarga kecil tersebut.
“Assalamu’alaikum, Mas Raka,” ucap Melinda sembari masuk ke dalam mobil.
“Wa’alaikumsalam, sayang. Bagaimana kelas hari ini?” tanya Raka yang ingin tahu mengenai kelas istrinya tercinta.
“Alhamdulillah lancar, Mas Raka,” jawab Melinda yang kini tengah bersandar di bahu Sang suami.
“Sayang, ada sesuatu untukmu. Sekarang, kamu tengoklah ke belakang!” pinta Raka.
Melinda terkesiap dan menoleh ke arah kursi belakang. Sekilas tak ada yang aneh, sampai akhirnya Melinda melihat sebuah kotak kado yang ukurannya cukup besar.
“Apakah kamu melihat ada kado? Sekarang kamu ambil dan bukalah kado itu!” perintah Raka yang tak sabar ingin melihat ekspresi wajah senang istrinya.
Melinda tersenyum lebar sembari meraih kado tersebut.
“Sayang, bolehkah saya membukanya saat kita di kamar?” tanya Melinda dengan berbisik di telinga Sang suami.
“Hmmm... Baiklah, kalau itu yang istriku mau tentu saja aku akan menurutinya,” jawab Raka dan memberikan kecupan mesra di pipi kanan Sang istri.
Telinga Reza tiba-tiba terasa geli manakala mendengar suara kecupan yang ditimbulkan oleh bibir Tuan Mudanya.
“Kau kenapa, Reza? kenapa bahasa tubuhmu seakan-akan tidak suka dengan pembicaraan ku kepada istriku?” tanya Raka yang terdengar sangat sinis.
“Tuan Muda jangan salah paham, saya hanya merinding saja. Mungkin beberapa saat yang lalu ada makhluk tak kasat mata lewat didekat saya,” ungkap Reza yang tentu saja makhluk tak kasat mata yang dimaksud oleh Reza adalah Tuan Mudanya sendiri.
“Aku harap makhluk tak kasat mata yang kau maksud bukanlah aku,” tegas Raka.
“Ten-tentu saja tidak, Tuan Muda. Tuan Muda yang sangat tampan dan tak tertandingi tidak mungkin memiliki wajah tak kasat mata seperti hantu,” jawab Reza dan tertawa garing.
“Cukup. Jangan lagi tertawa!” pinta Raka kepada Reza.
Reza dengan cepat mengiyakan dan fokus mengemudikan mobil untuk segera sampai.
__ADS_1
Melinda kembali bersandar di bahu suaminya dengan tangan yang melingkar sempurna di lengan suaminya.
“Apakah istriku senang?” tanya Raka penasaran.
“Sangat senang dan sangat bahagia,” jawab Melinda.
“Kenapa bisa begitu? Bukankah kado yang aku beri sama sekali belum dibuka?” tanya Raka penasaran.
“Mas Raka sayang, dijemput oleh Mas Raka saja sudah membuat saya bahagia. Apalagi, dihadiahi kado oleh Mas Raka,” pungkas Melinda.
“Kamu ini bisa saja,” balas Raka sembari menyentuh pipi mulus Melinda dengan sangat hati-hati.
“Mas Raka, jangan disini. Tidak enak dengan Mas Reza, Mas Reza pasti tidak nyaman melihat kita seperti ini,” pinta Melinda setengah berbisik.
“Benarkah?” tanya Raka.
Melinda mengiyakan dan saat itu juga Raka mencoba terlihat biasa-biasa saja di dalam mobil untuk menghargai kehadiran Asisten pribadinya atas permintaan Sang istri tercinta.
Dari sini saja kita sudah tahu, bahwa Raka benar-benar mencintai sosok istrinya yaitu, Melinda Anandi.
Di rumah.
Setelah mengantarkan Tuan Mudanya masuk ke dalam kamar, Reza izin untuk pamit pergi. Raka mengiyakan dan mengingatkan kembali Asisten pribadinya untuk tetap siap bila ada panggilan mendadak darinya. Reza dengan patuh mengiyakan apapun yang Tuan Mudanya katakan.
Setelah Reza benar-benar pergi, Melinda dengan bahagia memeluk suaminya dari belakang yang saat itu masih duduk di kursi roda.
“Terima kasih, suamiku sayang,” ucap Melinda dengan sangat senang.
“Kamu belum membuka kado dariku. Sekarang bukanlah dan setelah itu istriku ini boleh mengucapkan terima kasih,” pungkas Raka.
Melinda tertawa geli mendengar ucapan suaminya yang selalu saja mengatakan hal yang sama.
“Baiklah, saya akan membukanya. Saya juga penasaran dengan isi di dalam kado tersebut,” balas Melinda.
Melinda mengambil kado yang sebelumnya diletakkan di atas meja. Perlahan, Melinda membuka bungkus kado tersebut dengan malu-malu. Senyum Melinda mengembang sempurna ketika mengetahui sebuah dress berwarna putih dihiasi mutiara berwarna senada yang membuat dress itu begitu wow.
“Sayang, bukankah dress ini terlalu mahal?” tanya Melinda.
“Tidak. Sama sekali tidak mahal, istriku akan terlihat semakin cantik bila memakainya,” balas Raka.
Melinda meletakkan dress tersebut dengan hati-hati dan berbalik badan untuk menghampiri suaminya sekaligus mengucapkan terima kasih atas kado terindah itu.
“Terima kasih, suamiku sayang. I love you,” ucap Melinda dan memberanikan diri mencium pipi suaminya.
Raka tersenyum lebar dan meminta Melinda untuk mencium pipinya yang lain.
“Aku juga mencintaimu, istriku sayang,” balas Raka.
Melinda kembali tersenyum dan memutuskan untuk mengganti pakaian Sang suami.
“Sayang, sebentar lagi aku akan pergi ke luar negeri dengan waktu yang cukup lama. Apakah kamu bisa menungguku?” tanya Raka penasaran dengan jawaban Melinda.
“Pasti ada alasan mengapa saya tidak diajak. Lagipula, saya tidak masalah bila Mas Raka pergi ke luar negeri. Seluruh hati saya sudah dimiliki oleh Mas Raka, begitu juga sebaliknya. Jadi, saya sama sekali tidak mempermasalahkannya,” ungkap Melinda yang sangat percaya dengan kekuatan cinta mereka.
Raka merasa tersentuh dan pada akhirnya Raka menangis dihadapan istrinya, Melinda.
“Kamu istriku untuk selamanya,” tegas Raka dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
__ADS_1
Melinda menangis terharu dan memeluk erat tubuh suaminya. Raka pun membalas pelukan erat dari Sang istri tercinta.