Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 132


__ADS_3

Ketika sedang perjalanan pulang, mobil tiba-tiba mengalami kendala. Sang sopir segera menepikan mobil untuk mengetahui apa yang telah terjadi.


“Tunggu sebentar, Nona Muda. Sepertinya ada kendala,” ucapnya dan segera turun untuk memeriksa kondisi ban mobil.


Melinda sangat penasaran dan ikut turun untuk melihat apa yang terjadi dengan mobil yang ia naiki itu.


“Ada apa, Pak? Kenapa dengan ban mobil?” tanya Melinda penasaran sembari menoleh ke arah ban mobil yang sudah kempes.


“Ban mobilnya bocor, Nona Muda. Sebentar, saya akan menghubungi pihak dealer mobil siapa tahu bisa segera kemari,” ujar sopir pribadi dan segera menghubungi dealer mobil untuk memperbaiki ban mobil tersebut.


“Ya Allah, ada-ada saja,” tutur Melinda sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.


Karena cuaca yang cukup panas, pria itu meminta Melinda untuk tetap didalam mobil. Sementara ia, menunggu orang yang akan mengganti ban mobil.


“Pak, apa masih lama ya?” tanya Melinda yang ingin segera pulang ke rumah.


“Begini saja, Nona Muda sebaiknya naik taksi saja. Bukankah Nona Muda harus segera beristirahat karena nanti sore akan pergi ke perusahaan?”


“Tapi, Pak...” Melinda terlihat keberatan jika harus meninggalkan pria paruh baya itu sendirian di cuaca panas yang cukup menyengat tersebut.


“Sudah tidak apa-apa, Nona Muda. Ini sudah menjadi resiko saya, sekarang lebih baik Nona Muda pulang duluan,” pungkas sopir tersebut kepada Melinda.


Melinda akhirnya mengiyakan, ia juga harus memberikan obat yang ia beli untuk Sang Kakek.


Kebetulan, saat itu ada taksi yang melintas. Sang sopir melambaikan tangannya agar taksi tersebut berhenti.


“Pak, saya duluan ya. Bapak hati-hati, assalamu’alaikum,” ujar Melinda dan masuk ke dalam taksi.


Melinda menghela napasnya dan mencoba kembali menghubungi suaminya. Akan tetapi, lagi-lagi nomor suaminya tidak aktif dan membuat Melinda harus menahan air matanya.


Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih kalau sampai Mas Raka tidak bisa dihubungi seperti ini. Ya Allah, Mas Raka apakah baik-baik saja disana? (Batin Melinda)


“Loh, ini kamu Mel?” tanya pengemudi taksi yang menatap Melinda dari kaca kecil yang terhubung langsung dengan wajah Melinda.


“Siapa ya?” tanya Melinda bingung yang merasa asing dengan pria yang mengemudikan taksi yang ia tumpangi.


“Kamu benar, Melinda 'kan? Aku Putra, kita SMP dulu pernah sekelas,” jawabnya.


“Putra?” Melinda sebisa mungkin mengingat nama Putra. “Ya ampun, kamu Putra? Bukankah dulu kamu gendut?” tanya Melinda karena yang Melinda tahu Putra adalah orang yang gendut serta pendek.


“Kamu ini, ya apa aku harus selalu gendut dan pendek? Kamu Habis darimana? Kamu yang sekarang terlihat sangat cantik ya,” puji Putra.


“Alhamdulillah, suamiku selalu memberikan yang terbaik untukku,” pungkas Melinda karena tidak ingin ada kesalahan paham diantara dirinya dan teman masa SMP Melinda.


“Wah, kamu sudah menikah ternyata. Kelihatannya, suamimu adalah orang kaya,” sahut Putra yang senang bila Melinda mendapatkan suami yang kaya raya.


“Alhamdulillah,” balas Melinda sembari tersenyum tipis.


“Ngomong-ngomong sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu. Oya, kamu sekarang tinggal dimana?” tanya Putra.


“Aku tinggal di rumah suamiku, kamu sudah menikah, Put?” tanya Melinda sekedar basa-basi.

__ADS_1


“Alhamdulillah sudah, Mel. Anakku bahkan sudah dua dan masing-masing kecil, yang pertama berumur 3 tahun dan yang bungsu berumur 1 tahun,” ucap Putra.


“Anakmu masih kecil sekali, Put. Istrimu orang mana? Salam ya buat istrimu,” ujar Melinda.


“Tangerang, Mel!”


“Put, perempatan jalan nanti belok kanan ya. Tempat tinggalku tak jauh dari sana,” tutur Melinda.


Tak butuh waktu lama, akhirnya taksi tersebut berhenti di depan gerbang yang cukup tinggi dan besar.


“Put, ini untukmu dan ini untuk biaya perjalanan ku,” ujar Melinda yang memberikan sedikit uangnya kepada Putra.


Putra nampak terkejut ketika tahu bahwa Melinda memberikan uang sebesar 2 juta padanya.


“Mel, apa ini? Aku tidak bisa menerimanya,” ucap Putra sembari menyodorkan uang tersebut kepada Melinda.


“Tolong kamu terima ya, Put. Aku mohon, anggap saja ini rezeki untuk kedua anakmu. Kapan-kapan datang ke rumah bersama keluarga kecilmu,” tandas Melinda.


Melinda melambaikan tangannya dan buru-buru masuk melewati gerbang rumah.


Putra di dalam mobil menangis terharu, ia tidak mengira akan mendapatkan rezeki dari teman lamanya.


Melinda masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengucapkan salam.


Almer yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu, membalas salam dari Melinda.


“Wa’alaikumsalam, akhirnya Cucu menantu Kakek pulang. Kakek tadi baru dapat pesan dari Joko kalau Cucu menantu pulang naik taksi, bagaimana hari ini?” tanya Almer.


“Berapa harganya? Kakek akan mengganti harga obat ini,” tutur Almer kepada Melinda.


“Kakek tidak perlu memikirkan masalah uang. Uang Melinda masih banyak, sekarang yang terpenting Kakek banyak istirahat,” balas Melinda.


Kakek Almer akhirnya memilih untuk berterima kasih karena Melinda tidak ingin uang darinya.


“Kakek jangan lupa istirahat ya, Melinda mau ke kamar. Ada tugas yang ingin Melinda kerjakan dan insya Allah nanti Melinda ingin ke perusahaan, Kek. Melinda ingin melihat-lihat situasi di perusahaan, meskipun hanya sebentar,” ujar Melinda.


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Melinda bergegas melangkah menuju lift.


Ketika Melinda baru saja membuka pintu kamar, ponselnya berbunyi dan ketika melihat melihat notifikasi tersebut. Rupanya itu notifikasi pemberitahuan mengenai uang hasil dari restoran milik Melinda, restoran yang suaminya beli untuk seorang Melinda Anandi.


“Alhamdulillah, ternyata bulan ini pemasukkan restoran sangat banyak,” ucap Melinda dan bergegas untuk melaksanakan sholat Dzuhur di kamar.


Melinda ingin mengucapkan syukur atas nikmat Allah yang begitu banyak datang kepadanya. Melinda berharap, bahwa rezeki yang ia dapatkan bisa nikmati oleh yang lain juga.


Ya Allah, terima kasih atas Nikmat yang Engkau berikan kepada hamba. Insya Allah, hamba akan menggunakan uang ini sebaik dan sebijak mungkin. (Batin Melinda)


Begitulah cara Melinda mengucapkan syukur kepada Allah. Berdo'a diatas sajadah miliknya dengan sangat khusyuk.


Malam hari.


Melinda masih menunggu pesan dari suaminya yang entah kenapa belum juga diterimanya. Bahkan, pesan Melinda yang sebelumnya belum juga diterima oleh suaminya.

__ADS_1


Hal itu, membuat Melinda menangis sedih di dalam kamar. Melinda berharap, suaminya segera menghubungi dirinya. Meskipun, hanya sekedar pesan singkat.


Saat Melinda tengah menangis, sahabatnya yaitu Ratna malah menghubungi dirinya. Dengan suara khas orang menangis, Melinda menerima sambungan telepon Ratna.


“Assalamu'alaikum, Melinda,” ucap Ratna.


“Wa’alaikumsalam, Ratna,” balas Melinda.


“Melinda, kamu kenapa menangis? Ada apa? Cerita sama aku!” pinta Ratna ketika mendengarkan suara Melinda yang serak khas orang yang menangis.


“Aku tidak kenapa-kenapa, Ratna. Hanya saja aku merindukan suamiku,” tutur Melinda.


“Kamu yang sabar ya Melinda, maaf aku hanya bisa mengatakannya dari sini. Aku masih belum ingin kembali ke Jakarta,” terang Ratna yang sangat nyaman tinggal di Aceh.


“Tidak apa-apa, Ratna. Aku senang karena kamu bisa betah disana, yang paling penting jangan pernah melupakan aku disini. Kamu sahabatku dan aku sahabatmu,” jelas Melinda.


“Kamu ya, sekarang aku malah menangis terharu begini. Selamanya, kamu tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun, Melinda. Oya Melinda, sudah dulu. Kamu jangan nangis lagi, ok! Tuan Raka pasti akan segera menghubungimu,” ujar Ratna.


Perbincangan keduanya akhirnya berakhir dan Melinda kembali melanjutkan tangisannya. Setidaknya, dengan cara itu ia bisa mengeluarkan semua kesedihan dihatinya. Walaupun, akan ada titik dimana Melinda kembali menangis ketika merindukan sosok suaminya.


Melinda menangis sampai akhirnya ia terlelap karena kelelahan menangis.


Disaat yang bersamaan, Dina dan Katty tengah berada di dalam penjara. Ibu dan anak itu tampak kesusahan selama berada di balik jeruji besi.


“Mama, sampai kapan kita harus mendekam di penjara? Katty ingin membahas. Apakah butuh waktu belasan tahun lagi untuk kita keluar dari sini? Apakah selamanya kita tidak bisa melihat dunia luar?” tanya Katty protes.


“Maafkan Mama ya sayang, tidak seharusnya kamu ikut terlibat atas kasus itu,” balas Dina.


Mendengar perbincangan Ibu dan anak yang sangat berisik itu. Salah satu penghuni penjara terbangun dan segera memperingatkan keduanya untuk diam tak bersuara.


“Hei, kalian berdua! Apakah mulut kalian itu harus ku jahit terlebih dahulu agar bisa diam? Kalau berdua apa sudah buta? Tidak lihat apa ini malam, waktunya untuk tidur. Awas saja kalau kalian masih berisik,” tegas wanita bertubuh gemuk dan alasan ia dipenjara adalah dengan kasus yang sama seperti Dina beserta putrinya, Katty.


Katty sangat ketakutan, ia hanya bisa memeluk Mamanya setelah mendapat ancaman dari penghuni yang lain.


“Kamu tenang ya sayang, ayo sebaiknya kita tidur. Jangan sampai wanita gendut itu menghajar kita,” ucap Dina dengan berbisik.


Jika dulu Dina dan Katty bisa bertindak semena-mena. Lain halnya ketika berada di penjara, mereka berdua seperti orang bodoh yang tak bisa melawan.


Dimana Melinda sekarang, kenapa dia tidak pernah datang mengunjungi ku. Sebagai anak ya meskipun tiri, tidak seharusnya ia membuat ibu tirinya dan juga saudari tirinya mendekam di penjara. Awas saja kalau aku dan Katty sudah bebas, aku tidak akan sehari pun membiarkan kamu bahagia, Melinda. Tidak akan pernah, ini sumpah ku. (Batin Dina)


Dina sama sekali tidak jera setelah apa yang ia terima. Tidak seharusnya seorang istri membunuh suaminya. Dina benar-benar wanita jahat yang entah kapan akan bertaubat.


“Mama, ayo tidur,” ujar Katty karena Dina belum juga memejamkan matanya.


“Iya sayang, ini Mama ingin tidur,” balas Dina pada Katty yang nampak ketakutan.


Dina sangat kasihan dengan putri kandungannya, tidak seharusnya putri kandungannya berada di dalam sel penjara bersama dirinya.


Bukannya introspeksi diri, Dina malah menyalahkan putri tirinya yang dengan tega mengirim dirinya dan Katty ke penjara yang sangat menyeramkan itu.


Selamanya, aku akan terus ingat perbuatan kamu, anak kurang ajar. (Batin Dina)

__ADS_1


__ADS_2