
Katty menahan diri untuk tidak membalas perlakuan sepasang suami istri itu terhadapnya dan juga Mama tercintanya.
“Pergilah kalian dari dapur ini!” perintah Raka yang tidak ingin melihat Ibu dan anak itu di dapur.
Dina menarik paksa Katty pergi meninggalkan Raka serta Melinda yang berada di dapur.
“Kamu tidak apa-apa? Apakah sangat sakit?” tanya Raka memastikan bahwa istrinya tidak apa-apa.
Melinda tersenyum lebar melihat suaminya yang begitu perhatian sekaligus mengkhawatirkan dirinya.
“Saya sama sekali tidak apa-apa, Mas Raka. Mas Raka kenapa datang ke dapur?” tanya Melinda penasaran.
“Aku mendengar suara Katty berteriak dan akhirnya aku datang kemari,” jawab Raka apa adanya.
Melinda menghela napasnya dan memutuskan untuk segera membuatkan kopi keinginan Sang suami sebelumnya.
Setelah Melinda selesai membuatkan kopi untuk suaminya, Melinda pun membawa suaminya kembali masuk ke dalam kamar.
Disaat yang bersamaan, Katty menangis karena lagi-lagi ia kalah dari Melinda.
“Ssuuttss, Katty sayang kamu jangan menangis begini. Kalau sampai terdengar oleh wanita sialan itu, dia pasti akan sangat bahagia. Lebih baik kita tenang sampai mereka berdua angkat kaki dari rumah ini,” ujar Dina pada putri kesayangannya.
“Ma, Katty tidak bisa terima atas perlakuan mereka berdua terhadap kita. Apa Mama tidak lihat wajah sombongnya itu? Suami lumpuh seperti itu saja apa gunanya?” Sekali lagi Katty menghina Raka yang lumpuh.
“Iya Katty sayang, Mama juga tahu itu. Meskipun begitu, saat ini kita tidak boleh gegabah. Kamu mau kita berdua mendekam di penjara? Tidak, 'kan?”
Katty memanyunkan bibirnya sembari menghapus air matanya.
“Sekarang kamu beristirahatlah. Mama ingin beristirahat, supaya pikiran Mama tenang,” ucap Dina sembari memijat pelipisnya.
“Tidak bisakah Mama tidur bersama Katty saja? Ayah pasti tidak keberatan dengan Mama yang tidur disini untuk menemani Katty,” ujar Katty yang tidak ingin tidur seorang diri setelah apa yang telah terjadi kepadanya dan juga Mamanya.
“Katty sayang, Ayahmu juga butuh Mama. Sekarang kamu tidurlah dan jangan keluar dari kamar ini. Mama tidak ingin kamu kembali membuat masalah terhadap wanita gila itu,” pungkas Dina dan setelah itu Dina keluar dari kamar putri kesayangannya.
__ADS_1
Keesokan pagi.
Setelah melaksanakan sholat subuh, Raka mengajak istrinya untuk kembali ke rumah. Melinda pun mengiyakan tanpa ada keinginan untuk menolak ajakan sang suami. Akan tetapi, sebelum Melinda meninggalkan rumah itu, Melinda terlebih dulu berbincang-bincang sebentar dengan Sang Ayah. Perbincangan mereka terlihat serius dan beberapa kata juga keluar dari mulut Bambang yang mengatakan dirinya akan segera menyusul almarhumah Ibu dari Melinda.
Melinda menggelengkan kepalanya dan meminta kepada Sang Ayah untuk tidak memikirkan hal seperti itu. Bagaimanapun, Melinda tetap menyayangi Ayahnya. Meskipun, dulu Sang Ayah sering menganggapnya tak pernah ada.
“Nak, sering-seringlah datang kemari. Ayah sangat senang bila kamu terus datang kemari untuk Ayah,” ujar Bambang pada putri sulungnya.
“Melinda tidak bisa janji, Ayah. Akan tetapi, Melinda akan menyempatkan waktu untuk sering datang kemari menemui Ayah,” balas Melinda.
Bambang tersenyum lega, ia senang melihat putrinya yang sehat dan tengah berdiri dihadapannya.
“Kamu sangat mirip dengan Ibumu,” tutur Bambang ketika melihat wajah putri sulungnya.
Melinda mengangguk kecil dan bergegas untuk segera pamit karena Sang Suami tidak bisa menunggu terlalu lama.
Melinda dan Raka pamit untuk pulang ke rumah keluarga Arafat tanpa adanya Katty dan Dina. Sepertinya, Ibu dan anak itu sengaja tidak keluar dari kamar.
Melinda dan Raka akhirnya masuk ke dalam mobil. Kemudian, mobil yang mereka tumpangi perlahan pergi meninggalkan area rumah. Setelah sepasang pengantin itu benar-benar pergi, Bambang masuk ke dalam rumah untuk menanyakan alasan dari istri serta putrinya yang sama sekali tidak keluar ketika Raka maupun Melinda pamit untuk pulang.
“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Bambang penasaran dan juga setengah marah dengan keduanya.
“Maksud Mas Bambang ini apa ya? Mas seharusnya jangan terlalu baik dengan mereka berdua. Lagipula, aku dan Katty sangat tidak menyukai Melinda serta suaminya yang lumpuh itu,” tegas Dina sembari berkacak pinggang seakan-akan menantang Bambang.
Bambang terkejut dengan sikap istrinya yang begitu berani. Bambang refleks menampar wajah istrinya seketika itu juga.
Plak!
Dina terkejut ketika mendapatkan sebuah tamparan keras dari suaminya.
“Ayah kenapa menampar Mama?” tanya Katty yang sangat terkejut dengan sikap Ayahnya yang tiba-tiba menjadi sangat kasar.
Katty menangis histeris dan Dina terlihat sangat syok hingga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
Bambang menghela napasnya dan melenggang pergi keluar dari kamar Katty begitu saja tanpa mengatakan apa-apa setelah menampar wajah istrinya.
“Mama...” Katty menangis histeris sembari memeluk erat tubuh Dina.
Dina pun ikut menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Mereka berdua sangat egois, tidak bisakah mereka menyayangi Melinda?” Bambang duduk seorang diri di kursi ruang tamu sembari mengingat wajah Dina serta Katty yang begitu membenci putrinya, Melinda.
Bambang kini telah sadar bahwa selama ini dirinya begitu egois sekaligus jahat dengan putri kandungnya. Tidak seharusnya ia memperlakukan Melinda dengan tidak adil selama Melinda belum menjadi istri dari Raka Arafat.
“Kalau saja aku tidak mencuri, Melinda pasti tidak akan menikah dengan Tuan Raka. Semua ini salahku yang terlalu serakah sehingga Melinda lah yang menanggung semua kesalahanku ini,” ucap Bambang bermonolog.
Disaat yang bersamaan, Melinda dan Raka sedang berbincang-bincang di dalam mobil. Keduanya saling melempar senyum ketika sedang berbincang-bincang mengenai hal yang menurut keduanya sangatlah lucu.
Reza pun ikut tertawa dan berharap hubungan Tuan Muda serta Nona Mudanya semakin membaik. Sehingga, keduanya bisa mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.
“Mas Raka, kita mampir ke minimarket sebentar ya. Ada yang mau saya beli,” ujar Melinda pada suaminya.
“Kamu mau beli apa, Melinda?” tanya Raka penasaran.
“Tidak tahu, apakah Mas bisa menebaknya?” tanya Melinda dengan senyum manisnya.
Lagi-lagi Raka menjadi salah tingkah ketika melihat senyum istrinya yang semakin membuat istrinya terlihat semakin cantik.
“Tentu saja bisa, Melinda. Apakah cemilan yang kamu maksud?” tanya Raka.
“Haa? Kok Mas Raka bisa tahu?” tanya Melinda penasaran.
“Tentu saja aku tahu. Cemilan adalah kesukaanmu,” jawab Raka dan tertawa lepas ketika melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan.
Melinda mengangguk kecil dan kembali tersenyum lebar ke arah suaminya yang duduk tepat disampingnya.
“Tuan Muda, sebelum kemari Tuan Besar menitipkan pesan agar Tuan Muda dan Nona Muda nanti malam tidur di apartemen,” terang Reza yang baru ingat pesan dari Almer Arafat, Kakek kandung dari Raka Arafat.
__ADS_1