
Beberapa hari kemudian.
Pagi itu, Raka meminta saudara sepupunya untuk datang bertamu. Eko pun setuju dan akan datang sekitar pukul 1 siang.
Mengetahui bahwa saudara sepupu dari Sang suami akan datang, Melinda sangat senang. Melinda harus meminta maaf sekaligus berterima kasih kepada Eko yang dengan sigap membawanya ke rumah sakit.
“Sayang, hari ini tidak ada kelas 'kan?” tanya Raka memastikan bahwa Sang istri pagi itu libur.
“Iya sayang, tidak ada kelas hari ini,” jawab Melinda.
“Syukurlah kalau begitu, kita harus menyambut kedatangan Eko dan mengucapkan terima kasih atas apa yang telah ia lakukan,” tutur Raka.
Melinda mengangguk kecil dengan senyum manisnya.
Almer datang menghampiri Raka dan Melinda yang kebetulan saat itu sedang berada di ruang keluarga.
“Kakek,” ucap Raka setengah terkejut ketika melihat Sang Kakek telah mengenakan setelan jas.
“Tidak perlu terlalu terkejut seperti itu, hari ini Kakek akan pergi karena ada urusan penting. Kamu tetaplah di rumah, bersama dengan cucu menantu,” ujar Almer dan kemudian melenggang pergi untuk segera pergi ke perusahaan.
Melinda nampak sedikit sedih karena Kakek tua itu pergi tanpa ditemani Sang suami.
“Sudah, jangan sedih. Lagipula Kakek tidak ingin memisahkan kita berdua,” ucap Raka dengan santai.
“Sayang, seharusnya jangan berkata seperti itu. Besok-besok Mas Raka sayang harus pergi ke perusahaan,” tegas Melinda.
“Siap, istriku yang bawel,” sahut Raka.
Beberapa jam kemudian.
Siang itu, Raka dan Melinda baru saja melaksanakan shalat Dzuhur berjama’ah di kamar mereka. Keduanya kompak mendo’akan agar hubungan rumah tangga mereka selalu tentram, damai, bahagia dan berkecukupan.
“Sayang, besok malam kita akan pergi ke acara salah satu temanku semasa SMA dulu,” ucap Raka yang baru ingat acara tersebut.
“Memangnya acara apa, sayang?” tanya Melinda penasaran.
“Acara aqiqah anak temanku,” jawab Raka.
“Wah, pasti baby nya lucu,” ujar Melinda yang tak sabar ingin menghadiri acara aqiqah tersebut.
Suara ketukan pintu mengagetkan keduanya. Melinda cepat-cepat melepaskan mukenanya dan berlari kecil untuk membuka pintu kamar.
__ADS_1
“Ada apa, Mbak?” tanya Melinda penasaran.
“Maaf, Nona Muda. Dibawah ada Tuan Eko," jawab pelayan wanita.
Melinda terkejut mendengar bahwa Eko telah tiba.
“Baik, Mbak. Saya dan Mas Raka akan segera turun, tolong bilang kepada Mas Eko untuk menunggu kami,” pinta Melinda.
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Melinda segera menutup pintunya dan memberitahukan bahwa Eko telah tiba.
“Sayang, kamu nanti menyebut Eko jangan Mas atau apalah itu. Panggil saja dia Eko, karena aku lebih tua darinya,” terang Raka memberitahukan istrinya agar memanggil Eko dengan sebutan nama saja.
Melinda mematuhi apa yang suaminya katakan. Lalu, mereka berdua pun keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan Eko.
“Kak Raka!” Eko tersenyum lebar sembari berjalan menghampiri Saudara sepupunya itu.
“Kamu semakin tampan saja, Eko,” puji Raka kepada sepupunya itu.
“Kak Raka bisa saja, kalau dilihat dari arah manapun tetap aku yang kalah bila dibandingkan dengan wajah Kak Raka,” pungkas Eko yang mengakui ketampanan dari Raka Arafat.
Raka tertawa lepas mendengar perkataan Raka.
“Kamu ini ada-ada saja,” tutur Raka.
“Nona Melinda apakah sudah tahu siapa saya?” tanya Eko penasaran.
“Sudah, Mas Raka telah memberitahukan saya. Sebelumnya, saya minta maaf atas waktu itu dan saya juga ingin berterima karena kamu telah menyelamatkan saya,” ucap Melinda.
“Nona Melinda tidak perlu terlalu sopan seperti ini. Saya senang karena bisa membantu Nona Melinda,” pungkas Eko.
Melinda tersenyum dan pamit pergi meninggalkan keduanya.
Kini, hanya ada Raka dan Eko di ruang keluarga.
“Kak Raka begitu sangat mencintai Nona Melinda?” tanya Eko memastikan, karena sedari tadi Raka terus memandangi Melinda yang sedang berbicara pada Eko.
“Apakah begitu jelas?” tanya Raka memastikan dan tersenyum lebar.
“Oh, tentu saja. Begitu jelas, hingga aku merasa bersalah karena datang kemari,” jawab Eko.
“Kamu ini ya! Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu ke Indonesia. Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa aku datang ke Indonesia,” ujar Raka penasaran.
__ADS_1
“Maaf, aku tidak sempat memberitahu Kak Raka.”
Raka menggelengkan kepalanya, isyarat tak percaya dengan perkataan saudara sepupunya itu.
Disaat yang bersamaan, Melinda tengah sibuk di ruang makan bersama para pelayan. Melinda termasuk dengan para pelayan sedang sibuk untuk menyiapkan makan siang.
“Mbak, apakah saudara sepupu Mas Raka sering datang kemari?” tanya Melinda penasaran dengan hubungan dekat suami serta Eko tersebut.
“Begini, sejak saya kerja disini sekitar belasan tahun yang lalu dan sampai detik ini. Mungkin, tidak sampai 5 kali Tuan Muda dan juga Tuan Eko bertemu,” jawabnya.
Melinda mengangguk kecil sembari menata piring di atas meja dengan sangat hati-hati.
Tak butuh waktu lama, mereka pun memutuskan untuk kembali bergabung dengan suami dan juga saudara sepupunya dari Sang suami.
“Bagaimana, apakah semuanya sudah siap?” tanya Raka pada Melinda yang baru saja duduk tepat disampingnya.
Dengan suara lembut, Melinda mengiyakan pertanyaan Raka padanya.
Eko tertawa lepas melihat bagaimana Raka begitu luluh dihadapan seorang wanita bernama Melinda Anandi.
“Nona Melinda, maukah saya beritahu sesuatu mengenai Kakak sepupu saya ini?” tanya Eko.
Melinda terdiam sejenak sembari mengernyitkan keningnya tanda bahwa Melinda bingung dengan pertanyaan Eko.
“Begini, Nona Melinda kedepannya tidak perlu lagi risau bilamana Kakak sepupuku ini keluar selama berhari-hari atau berbulan-bulan. Saya pasti bahwa Kak Raka akan terus setia kepada Nona Melinda, dikarenakan Kak Raka begitu mencintai dan sangat menyukai sosok Nona Melinda,” terang Eko.
“Bagaimana kamu bisa tahu? Apakah Suami saya memberitahu kamu?” tanya Melinda penasaran.
“Tidak. Semua terlihat sangat jelas manakala Kak Raka memandangi Nona Melinda,” jawabnya.
Melinda menjadi salah tingkah dengan perkataan Eko padanya.
“Ssuuttss, Eko kamu jangan terlalu banyak memberikan informasi hatiku kepada istriku. Kalau begini terus, yang ada aku yang malah malu,” ucap Raka dengan wajah merah seperti tomat rebus.
Melinda tertawa begitu begitu juga dengan Eko ketika melihat wajah aneh dari Raka Arafat.
Beberapa menit kemudian.
Raka mengajak saudara sepupunya untuk makan siang bersama, kebetulan siang itu kebanyakan makanan adalah makanan kesukaan Eko.
“Wow, apakah menu makanan siang hari ini temanya adalah makanan kesukaanku?” tanya Eko memastikan.
__ADS_1
“Tentu saja, aku sangat tahu bahwa kamu begitu lapar. Makanya aku meminta para pelayan untuk memasak makanan kesukaanmu. Dan, tidak hanya pelayan saja yang memasak ini, istriku juga turut andil dalam memasak makanan kesukaanmu. Aku harap kamu menyukai masakan yang telah dihidangkan ini,” ungkap Raka.