
Melinda dan Raka baru saja melaksanakan sholat subuh di kamar. Senyum keduanya nampak sangat bahagia ketika menatap satu sama lain.
“Sayang, apakah kesayangan ku akan terus berada di kursi roda ketika berhadapan dengan Kakek Almer serta pekerja yang lain?” tanya Melinda yang kini mengganti kata saya menjadi aku dikarenakan Raka merasa bahwa istrinya terlalu formal ketika berbicara dengan suaminya sendiri.
“Tentu saja tidak, sayang. Setelah istriku tahu bahwa aku sudah bisa berjalan normal, mereka juga harus tahu. Terutama Kakek ku tercinta,” jawab Raka yang nampak bahagia karena terbebas dari trauma yang ia derita selama bertahun-tahun.
Raka beranjak dari sajadahnya dan meminta Melinda untuk berdiri. Melinda tanpa pikir panjang beranjak dari duduknya dengan masih mengenakan mukena miliknya.
“Sayang!” Raka mengangkat tubuh istrinya tinggi-tinggi bahkan melempar tubuh istrinya dengan cukup tinggi, tentu saja Raka tak lupa menangkap Sang istri yang saat itu nampak sangat terkejut.
“Mas Raka! Tidak! Cepat turunkan aku!” Melinda berteriak keras karena suaminya benar-benar jahil.
Raka tetap dengan permainannya, ia sangat senang menunjukkan dirinya kuat kepada Sang istri tercinta.
“Mas Raka!” Melinda nampak sangat ketakutan dengan apa yang suaminya lakukan.
Seketika itu juga Raka menghentikan aksinya tersebut.
“Mas Raka gila ya?” tanya Melinda dengan napas terengah-engah karena ulah suaminya.
“Sepertinya begitu, apa istriku mau lagi?” tanya Raka yang menggendong istrinya ala bridal style.
Melinda dengan cepat memeluk leher suaminya agar suaminya tak bisa langsung melemparnya ke udara seperti tadi.
“Sekarang, apakah istriku sudah percaya bahwa suamimu kuat? Bagaimana kalau besok malam kita melakukan malam pertama?” tanya Raka dan tersenyum genit.
“Haaa?” Melinda tercengang dengan apa yang di dengarnya, ia hampir lupa bahwa dirinya dan Sang suami belum pernah melakukan malam pertama mereka.
Malam pertama? Apakah aku dan Mas Raka benar-benar akan melakukannya? (Batin Melinda)
“Sayang, kenapa malah melongo? Ayo jawab, bagaimana kalau besok malam?” tanya Raka.
Melinda memukul dada suaminya dengan cukup keras dan saat itu juga Raka melepaskan istrinya.
Melinda cepat-cepat melepaskan mukena yang masih melekat ditubuhnya dan membereskan semua peralatan sholat. Kemudian, Melinda berlari keluar kamar dan dikejar oleh Raka.
Mereka berdua berlari sampai akhirnya masuk ke dalam lift. Raka berusaha menempel dan Melinda berusaha menjauh dari suaminya.
Ketika lift terbuka, keduanya berlarian keluar.
Almer yang saat itu tengah menoleh ke arah lift nampak sangat terkejut melihat Raka yang tengah berlarian dengan Cucu menantunya. Bahkan para pelayan ikut terkejut dengan pemandangan yang sangat mencengangkan tersebut, ada juga pelayan yang tengah memegang piring yang akhirnya piring itu terlepas dari tangannya hingga pecahan piring itu bertaburan di lantai.
Melinda dan Raka menyadari bahwa mereka telah menjadi pusat perhatian. Terlebih lagi Raka yang lumpuh kini sudah bisa berdiri bahkan berlarian kesana-kemari mengejar istri tercinta.
Almer memejamkan matanya, ia berpikir bahwa apa yang dilihat adalah ilusi.
Raka berlari kecil menghampiri Kakeknya yang diam mematung, di peluknya tubuh Kakek tua itu dengan perlahan.
Kemudian Raka membisikkan sesuatu ke telinga Kakek kesayangannya.
“Kakek, bukalah kedua mata Kakek dan lihatlah bagaimana Raka bisa kembali berjalan,” ucap Raka berbisik di telinga Kakek kesayangannya.
__ADS_1
Almer perlahan membuka matanya dan Raka dengan bahagia menggerakkan kakinya. Bahkan, Raka melompat-lompat menunjukan bahwa ia benar-benar bisa berjalan.
Almer hanya bisa menangis terharu, Kakek tua itu sangat bahagia sampai tak bisa berkata-kata lagi.
Dengan tubuh gemetaran, Almer merentangkan kedua tangannya agar Raka kembali memeluknya.
Raka menangis melihat Kakeknya menangis terharu melihat dirinya bisa berjalan kembali.
Melinda yang masih berada cukup jauh ikut menangis terharu, begitu juga dengan para pelayan dan Bodyguard yang kebetulan ada di ruangan tersebut.
Almer menggerakkan tangannya isyarat agar Melinda juga mendekat. Melinda berlari kecil dan ikut berpelukan satu sama lain.
“Kakek bahagia?” tanya Raka.
Almer mengangguk kecil, Kakek tua itu masih tak bisa berkata-kata. Hanya tangisan bahagia yang bisa menggambarkan suasana ruangan tersebut.
🌷
Beberapa saat kemudian.
Almer sedang berbaring di tempat tidurnya setelah minum obat, Raka dan Melinda juga berada di kamar Kakek Almer untuk menemani Kakek Almer yang sedang berbaring untuk beristirahat.
Kakek almer telah mendengar semua penjelasan dari Cucu kandungnya mengenai trauma yang Cucu kandungnya alami setelah mengalami kecelakaannya yang tentu saja hampir merenggut nyawa cucu kandungnya. Almer sama sekali tak marah, justru Kakek tua itu senang karena pada akhirnya Cucu kandungnya melepaskan semua rasa trauma itu dan yang menghilangkannya adalah sosok dari Melinda Anandi.
“Kakek, kami semua sayang Kakek,” ucap Raka.
“Raka, terima kasih telah melawan trauma yang kamu alami dan untuk cucu menantu, terima kasih telah membuat alasan bagi Raka melepaskan rasa ketakutannya,” pungkas Almer yang tak henti-hentinya berterima kasih kepada sepasang suami istri tersebut.
“Mas Raka, aku keluar dulu ya. Mas Raka tetaplah disini menemani Kakek,” ucap Melinda dengan berbisik.
Melinda ingin memberikan waktu untuk suaminya bisa berduaan dengan Kakek Almer. Sepertinya, ada hal yang harus mereka berdua bicarakan.
Ketika Melinda baru saja meninggalkan kamar Kakek Almer, para pelayan berlari kecil menghampiri Melinda.
Mereka sekali lagi mengucapkan selamat karena Tuan Muda mereka akhirnya bisa berjalan kembali.
Melinda membalas ucapan selamat mereka dengan ucapan terima kasih dan meminta mereka untuk selalu mendo’akan kesehatan Kakek Almer agar berumur panjang.
“Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih,” ujar Melinda sebelum melenggang menuju taman depan rumah.
Cuaca pagi itu sangat cerah ditambah angin sepoi-sepoi yang membuat hati Melinda semakin bahagia.
Melinda ingin berteriak sekeras mungkin untuk mengucapkan terima atas karena akhirnya Sang suami bisa berjalan normal seperti sediakala.
Melinda berjalan disekitar taman yang dipenuhi berbagai macam jenis bunga. Mulai dari yang lokal sampai dengan tanaman mancanegara.
“Wah, bunga ini sangat cantik,” ucap Melinda ketika melihat dua bunga yang bermekaran dengan sangat cantik.
“Tentu saja lebih cantik istriku,” sahut Raka.
Ketika Melinda ingin berbalik menoleh ke arah suaminya, Raka sudah lebih dulu mendekap tubuh istrinya dari belakang.
__ADS_1
Kemesraan keduanya tak sengaja disaksikan langsung oleh para bodyguard, saat itu juga mereka berbalik badan karena menjaga privasi keduanya yang memang sedang ingin bermesraan di area taman.
“Sayang, jangan disini. Lihatlah para penjaga disana, mereka sampai berbalik badan karena tak ingin membuat kita merasa canggung,” ujar Melinda sembari menunjuk ke arah para bodyguard yang semuanya berbalik badan.
Raka menarik tangan istrinya dan mengajak istrinya berlari masuk ke dalam. Melinda tertawa lepas melihat aksi suaminya sepertinya seorang remaja yang mengajak kekasihnya untuk kabur dari kejaran polisi karena melanggar peraturan yang ada.
Bisa berjalan lagi menurut Raka adalah keajaiban. Setelah berhasil melawan rasa ketakutannya, Raka seperti menjadi seorang laki-laki yang muda kembali.
Napas mereka saling bertautan ketika berada di dalam lift. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka, yang ada hanya napas yang saling bertautan satu sama lain.
Ketika pintu lift terbuka, Raka mempersilakan Melinda untuk lebih dulu keluar layaknya tuan putri yang baru saja turun dari kereta kuda.
Melinda masih tak menyangkut, bahwa pria yang ia nikahi ternyata pria yang tidak lumpuh secara permanen. Melainkan pria yang memiliki trauma atas kecelakaan yang dialami oleh suaminya.
“Ayo kita ke kamar, aku sedang ingin bermesraan dengan istriku,” ujar Melinda.
Raka tiba-tiba teringat dengan tanggal pernikahan, ia baru saja bahwa pernikahan mereka telah berjalan selama 1 tahun lebih.
“Ada apa, sayang?” tanya Melinda karena Raka tiba-tiba berhenti dengan tatapan aneh.
Raka tersenyum lebar dan mencium pipi kanan istrinya.
“Ayo, masuk ke kamar!” ajak Raka yang ingin berdekatan dengan Sang istri tercinta.
Setelah masuk ke dalam kamar, Raka tak lupa mengunci rapat-rapat pintu kamar mereka. Kemudian, mengambil ponselnya untuk menghubungi Reza agar segera datang ke rumah.
“Sayang, bukankah hari ini tidak pergi ke perusahaan? Kenapa menghubungi Mas Reza?” tanya Melinda penasaran.
Raka menarik tubuh istrinya dan menjatuhkan tubuhnya istrinya ke atas tempat tidur.
“Sayang, selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke 1 tahun lebih ini. Maaf baru bisa mengucapkannya sekarang, apakah istriku ingin beli sesuatu sebagai hadiah atas ulang tahun pernikahan kita?” tanya Raka.
Melinda menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tidak ingin hadiah apapun dari suaminya. Melihat suaminya ada dihadapannya sudah sangatlah cukup.
“Sayang, bagaimana kalau kita merayakan ulang tahun pernikahan kita dengan berbagi rezeki?” tanya Melinda.
“Baiklah, istriku memang beda dari yang lain. Nanti sore kita akan berbagi rezeki kepada orang-orang yang membutuhkan,” pungkas Raka dan merekapun saling berciuman satu sama lain.
Melinda benar-benar bahagia merasakan perlakuan hangat dari suaminya. Sosok pria yang dulu sangat membencinya dan bahkan sering menghina dirinya, kini malah menjadi sesosok suaminya yang sangat mencintai dirinya. Bahkan, Melinda menjadi alasan terbesar suaminya untuk bisa kembali berjalan normal seperti sediakala.
“Sayang, mau ke kamar mandi,” ucap Melinda karena suaminya terus mendekap dirinya.
“Baiklah, pergilah sana dan jangan lama-lama. Aku masih ingin mendekap tubuh istriku,” ujar Raka dan menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Melinda.
Melinda beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Melinda tidak langsung buang air kecil. Wanita itu malah menangis terharu, ia benar2 bahagia karena suaminya ingat ulang tahun pernikahan mereka meskipun sedikit telat mengucapkannya.
“Sayang, kenapa lama sekali?” tanya Raka.
Melinda telah selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi, ia keluar dengan senyum manisnya.
“Masya Allah, betapa cantiknya istriku ini,” puji Raka melihat wajah cantik istrinya.
__ADS_1
Melinda berlari kecil ke arah suaminya dan menjatuhkannya dirinya di tempat tidur. Raka dengan semangat menarik tubuh Melinda ke atas tubuhnya.