
Sudah seminggu Kakek Almer dirawat dan sudah seminggu itu juga Melinda terus menemani Kakek Almer di rumah sakit. Bahkan, selama seminggu itu Melinda izin untuk tidak masuk kelas karena ingin menemani Kakek Almer yang sedang sakit.
“Kakek sudah bosan di rumah sakit, keadaan Kakek juga sudah baik. Bagaimana kalau besok Kakek pulang ke rumah?” tanya Almer kepada Melinda.
“Maaf ya Kakek. Melinda tidak bisa mengambil keputusan, lebih baik kita tanyakan saja kepada dokter,” jawab Melinda.
Disaat yang bersamaan, Dokter yang biasa merawat Almer datang untuk memberikan obat.
“Dok, apakah besok saya sudah boleh pulang?” tanya Almer yang sangat ingin keluar dari rumah sakit.
“Tuan Besar, untuk sementara waktu ini tetaplah di rumah sakit. Saya akan melihat kondisi kesehatan Tuan Besar dalam 2 hari ini, kalau kondisi Anda membaik maka Anda boleh pulang,” jawab Dokter.
Almer tersenyum lega, ia begitu rindu dengan suasana rumah. Rasanya ia ingin segera kembali dan tidur dikamar tidurnya sendiri.
Melinda menangis dalam hati, keinginan Kakek tua itu benar-benar Besar untuk kembali ke rumah. Sementara itu, 3 hari yang lalu Dokter memberitahukan dirinya bahkan kondisi kesehatan Sang Kakek semakin menurun. Melinda berharap ada keajaiban yang datang untuk Kakek Almer.
“Tuan Besar, sebaiknya Anda tidur yang cukup. Bukankah Tuan Besar ingin segera pulang?”
Almer saat itu juga memejamkan matanya, jelas sekali bahwa keinginan Almer untuk kembali ke rumah begitu besar.
Dokter itupun bergegas keluar dari ruangan karena harus memeriksa kondisi pasien yang lain.
Melinda menghela napasnya yang terasa sangat sesak. Dan ketika Melinda ingin mendaratkan bokongnya di sofa, ponselnya berbunyi dan ternyata Sang suami ingin melakukan video call.
Melinda tentu saja panik, karena selama ini suaminya tidak tahu dan sengaja tidak diberitahu oleh Melinda mengenai kondisi Sang Kakek. Jika saat itu Melinda menerima panggilan video call dari suaminya, otomatis Sang suami tahu bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
Seketika itu juga, Melinda berlari secepat mungkin keluar dari area rumah sakit.
Raka terus menghubungi Melinda dan ketika dirasa sudah jauh dari area rumah sakit, Melinda akhirnya menerima panggilan video call dari Sang suami.
“Assalamu’alaikum, istriku sayang. Kenapa lama sekali mengangkat video call dariku?” tanya Raka.
“Wa’alaikumsalam, suamiku sayang. Maaf, tadi sedang ada urusan,” jawab Melinda.
“Sayang, kamu kenapa? Ada apa dengan wajahmu? Apakah kamu sakit dan sekarang kamu ada dimana?” tanya Raka dan sangat jelas bahwa wajah Melinda nampak tidak sehat.
Melinda segera memalingkan perhatiannya ke arah lain. Semakin ia memperhatikan suaminya, semakin Melinda tidak bisa berbohong.
“Sayang, kenapa tidak menjawab? Oya, apakah Kakek akhir-akhir ini sangat sibuk? Aku mencoba menghubungi Kakek tetapi sama sekali tidak bisa dihubungi,” tutur Raka yang mengadu kepada istrinya karena sulit menghubungi Sang Kakek.
Melinda ingin sekali memberitahu apa yang terjadi. Akan tetapi, Kakek Almer sudah meminta dirinya untuk merahasiakan hal tersebut dan Melinda pun terpaksa untuk terus menutupi penyakit Kakek Almer.
“Mas Raka sayang, video call kita, kita lanjutkan nanti lagi ya. Perut saya sakit dan saya ingin segera ke toilet,” ujar Melinda.
“Baiklah sayang, nanti aku akan video call. Kalau ada Kakek di rumah, aku juga ingin video call dengan Kakek. Ngomong-ngomong kamu sedang apa disekitar rumah sakit? Apakah ada temanmu yang sakit?” tanya Raka yang menyadari bahwa istrinya sedang berada tak jauh dari area rumah sakit.
__ADS_1
Melinda terkejut dan berpura-pura tidak mendengar apa yang suaminya katakan. Kemudian, Melinda mematikan data seluler ponselnya seakan-akan jaringan sinyal di ponselnya sedang bermasalah.
“Huffttt...” Melinda bernapas lega dan kembali masuk menuju rumah sakit.
Tiba di ruangan Kakek Almer, Melinda perlahan berjalan menuju sofa dan siang itu pun ia terlelap di sofa.
Sekitar 35 menit Melinda terlelap, Melinda akhirnya terbangun dan menoleh ke arah Sang Kakek yang ternyata sudah terjaga.
“Kakek sudah bangun. Kakek mau makan atau minum?” tanya Melinda.
“Kakek mau makan, setelah itu Kakek mau minum agar bisa segera keluar dari rumah sakit ini,” pungkas Kakek.
“Wah, Kakek sepertinya sangat bersemangat. Baiklah, Melinda akan menyuapi bubur pada Kakek Almer!” seru Melinda bersemangat.
Keesokan harinya.
Cuaca panas kota Jakarta dan polusi udara cukup membuat kulit kering. Melinda siang itu sedang berdiri sembari memperhatikan ke arah luar rumah sakit, dari atas ia bisa melihat orang-orang yang sedang berkendara lalu-lalang di siang hari yang cukup panas dan mampu menyengat kulit manusia.
Siang itu, Melinda cukup lega karena kondisi Sang Kakek sudah menunjukkan hasil yang baik. Diperkirakan, dua hari lagi Kakek Almer diperbolehkan pulang. Dengan syarat, Kakek Almer harus terus minum obat dan istirahat cukup.
“Cucu menantu, kenapa berdiri disitu? Duduklah, ada yang mau Kakek ceritakan!” pinta Almer agar Melinda duduk didekatnya.
Melinda berbalik dan menuruti permintaan Kakek Almer untuk segera duduk didekatnya.
“Iya, Kakek. Kakek ingin menyampaikan apa?” tanya Melinda penasaran.
“Maaf, Kakek. Melinda sama sekali tidak bisa, lagipula Melinda tidak tahu-menahu mengenai perusahaan. Melinda takut, Kek,” terang Melinda yang nampak sangat terkejut dengan apa yang ia dengar.
“Cucu menantu, Kakek belum selesai bicara. Sebenarnya, Cucu menantu hanya perlu datang dan melapor kepada Kakek siapa saja bila ada hal-hal yang penting. Cucu menantu tenang saja, di perusahaan sudah ada beberapa orang kepercayaan Kakek yang mengurus selama Kakek sakit. Tolong bantu Kakek ya!” pinta Kakek Almer kepada cucu menantu kesayangannya itu.
“Apakah Melinda tidak apa-apa, Kek? Melinda tidak memiliki basic mengenai perusahaan,” balas Melinda yang sangat ragu dengan dirinya sendiri.
“Tenang saja, kalau Cucu menantu kurang paham, akan ada yang membantu menjelaskan secara detail kepada Cucu menantu,” pungkas Almer.
Melinda akhirnya mengiyakan, meskipun ia masih meragukan kemampuannya itu.
“Syukurlah,” ucap Kakek Almer yang akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar keputusan Melinda.
“Kakek, Melinda keluar dulu ya. Melinda ingin bertemu dengan Dokter,” ujar Melinda.
Melinda meninggalkan ruangan itu dan bergegas menemui dokter yang menangani Kakek Almer.
“Mari masuk, ada yang harus kita bicarakan,” tutur Dokter pria mempersilakan Melinda untuk segera masuk ke dalam ruangannya.
Tanpa menunda-nunda lagi, Dokter itu mengatakan bahwa kondisi kesehatan Almer belum cukup sehat. Kedepannya, Sang Kakek akan mengalami sakit terus-menerus jika tidak minum obat teratur dan juga istirahat yang cukup. Penyakit yang diderita oleh Almer, adalah penyakit yang biasanya diderita oleh usia-usia yang bisa dibilang sudah sepuh (tua).
__ADS_1
Melinda mendengarkan penjelasan dokter dengan sangat serius. Bagaimanapun, ia harus terus menjaga kondisi kesehatan Kakek Almer selama Sang suami belum kembali ke Indonesia.
“Cukup sekian penjelasan dari saya. Saya berharap, Tuan Besar Almer tidak kumat lagi. Yang terpenting, beliau minum obat yang teratur dan istirahat yang cukup. Itu artinya, beliau tidak boleh lagi memikirkan hal yang berat-berat,” ucap Dokter kepada Melinda.
“Sekali lagi terima kasih, Dok. Saya pamit mau kembali ke kamar Kakek,” balas Melinda.
Melinda melangkah pergi menuju ruang rawat Kakek Almer. Ketika baru saja memasuki ruangan tersebut, Melinda melihat seorang pria yang sepertinya berasal dari perusahaan.
Saat itu juga, Melinda bertindak sebagai orang kepercayaan Kakek Almer dan meminta pria itu untuk berbicara padanya. Bukan kepada Kakek Almer yang sedang terbaring untuk berisitirahat.
“Maaf, Anda siapa? Apakah Anda yang bekerja di perusahaan?” tanya Melinda.
Pria itu mengiyakan pertanyaan Melinda.
“Anda boleh menyampaikan masalah perusahaan kepada Saya. Kakek Almer butuh istirahat, saya harap Anda bisa mengerti maksud dari perkataan saya,” ujar Melinda.
Almer tersenyum dalam hatinya, Melinda terlihat begitu anggun, cantik dan juga tegas. Almer seperti melihat seseorang yang begitu bijaksana didalam diri dari seorang Melinda Anandi.
Melinda dan pria itupun bergegas keluar dari ruangan untuk membicarakan masalah perusahaan.
Setelah mendengarkan penjelasan dari pria dihadapannya, Melinda mengiyakan dan mencoba memahami maksud dari yang pria itu katakan.
“Baiklah, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk datang ke perusahaan. Kakek sudah memberi saya kesempatan untuk menjadi anggota baru di perusahaan, saya mohon bimbingan dari Bapak selama saya bekerja di perusahaan,” tutur Melinda.
Pria itu tersenyum lebar, sepertinya ia sangat senang melihat respon dari Melinda dan akan menunggu Melinda untuk bisa secepatnya bergabung menangani perusahaan milik keluarga Arafat.
Melinda kembali masuk ke dalam setelah pria itu pamit pulang.
“Bagaimana, apakah Cucu menantu akan segera menangani perusahaan?” tanya Almer.
Tanpa pikir panjang, Melinda setuju untuk ikut andil dalam menangani perusahaan. Itu artinya, Melinda harus belajar lebih giat lagi mengenai perusahaan.
“Syukurlah, sekali lagi terima kasih, Cucu menantu.”
“Kakek tidak perlu berterima kasih kepada Melinda, karena Melinda belum melakukan apapun. Sekarang, Kakek tidak usah memikirkan hal yang berat-berat. Tugas Kakek sekarang dan kedepannya adalah minum obat tepat waktu yang artinya harus makan tepat waktu juga. Serta, istirahat yang cukup. Kakek tidak boleh tidur malam lagi, pokoknya harus tepat waktu,” tegas Melinda.
“Wah, ternyata Cucu menantu Kakek kejam juga ya,” ucap Almer sedikit bercanda.
“Kakek, ini juga demi kebaikan Kakek. Pokoknya Kakek harus sehat,” pungkas Melinda.
“Siap. Kakek akan sehat dan sehat terus karena dirawat oleh Cucu menantu,” tandas Almer kepada Melinda.
Syukurlah, sehat-sehat terus Kakek. Melinda akan berusaha keras untuk menangani perusahaan, agar Kakek tidak lagi memikirkan hal yang berat-berat. Kakek harus fokus untuk sembuh dan Melinda akan berusaha untuk menjaga Kakek. (Batin Melinda)
Melinda sebenarnya sangat merindukan suaminya disana. Akan tetapi, Melinda juga harus banyak bersabar karena ia tidak tahu kapan suaminya itu kembali ke Indonesia.
__ADS_1
Yang bisa Melinda lakukan saat ini adalah bersabar dan terus bersabar menunggu hari dimana ia akan dipersatukan lagi oleh kekasih halalnya itu.