
“Begini, sebenarnya Kakek dan almarhum Kakek dari cucu menantu dulu pernah melakukan perjanjian untuk menikahkan kalian berdua. Hanya saja, almarhum Kakek dari cucu menantu meninggal dunia dan Kakek kira perjodohan itu tidak bisa terwujud. Akan tetapi, Allah memiliki caranya sendiri untuk mempertemukan kalian. Yaitu, dengan cara yang tak terduga, yang tidak perlu lagi Kakek jelaskan mengapa pernikahan kalian bisa terjalin,” terang Almer.
Raka dan Melinda saling tukar pandang dengan tatapan terheran-heran.
“Lalu, kenapa Kakek tidak langsung memberitahukan alasan yang sebenarnya?” tanya Raka.
“Kakek tidak bisa berpikir apapun dengan kejadian waktu itu. Yang ada pikiran Kakek adalah menikahkan kalian berdua, meskipun dengan keterpaksaan. Dan pada akhirnya, pernikahan kalian sesuai dengan yang kami harapkan,” jawab Almer.
“Kakek, apakah Kakek memiliki kebencian terhadap Ayah Bambang?” tanya Melinda penasaran dengan wajah sedih.
“Cucu menantu kenapa berpikiran seperti itu? Kalau boleh jujur, tentu saja ada. Apalagi saat Kakek tahu bahwa Almarhum Ayah cucu menantu dan juga keluarga Cucu menantu yang sangat suka membuat istri dari Cucu Kakek bersedih,” terang Almer apa adanya.
“Kakek, tolong maafkan Ayah,” pinta Melinda karena tidak ingin membuat Sang Ayah menderita di akhirat.
“Kakek sama sekali tidak ada dendam dan Kakek juga sudah memaafkan almarhum Bambang,” sahut Almer.
Raka masih penasaran dengan hubungan antara Kakeknya dan juga Almarhum Kakek dari Sang istri. Saat itu juga Raka meminta Sang Kakek untuk menceritakan secara detail mengenai hubungan Sang Kakek dengan almarhum Kakek dari Sang istri tercinta.
Dengan senang hati, Almer menjelaskan dan menceritakan keinginannya dan Almarhum Kakek dari Melinda yang ingin menikahkan cucu mereka.
Raka maupun Melinda mendengarkan setiap perkataan Sang Kakek dengan sangat serius. Bahkan, keduanya saling melempar senyum satu sama lain karena pada akhirnya mereka menikah dan saling mencintai satu sama lain.
Sekitar 1 jam lamanya, Almer akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Karena besok ia dan Sang Cucu akan pergi ke perusahaan.
“Selamat tidur, Kakek,” ucap Melinda.
“Selamat tidur juga, Cucu menantu,” balas Almer dan perlahan melenggang pergi menuju kamarnya.
Kini, di ruang keluarga tersisa sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara.
“Ada apa, Mas Raka? Apa ada sesuatu di wajah saya?” tanya Melinda menjadi salah tingkah ketika Raka terus-menerus memandangi wajahnya.
“Malam ini kamu terlihat jauh lebih cantik dari malam-malam sebelumnya,” puji Raka.
Melinda refleks menutup mulut suaminya dengan tangan.
“Ssuuuttss, jangan bicara seperti itu disini, Mas Raka. Saya malu jika Mbak yang lain mendengarnya,” ucap Melinda dengan pipi merah merona karena pujian dari Sang suami.
“Aku mengatakannya dari lubuk hatiku yang paling dalam, istriku,” pungkas Raka sembari memegang tangan Melinda yang sebelumnya menutup mulutnya.
“Mas Raka, kita ke kamar saja ya,” ajak Melinda.
Saat itu juga Melinda membawa suaminya untuk segera meninggalkan ruang keluarga.
Disaat yang bersamaan, Luna memutuskan untuk benar-benar meninggalkan Indonesia. Penolakan Raka terhadap dirinya membuat seorang Luna akhirnya menyerah. Meskipun begitu, Luna berharap dikemudian hari Raka mencari dirinya dan memutuskan untuk kembali menjalin hubungan asmara seperti dulu lagi.
Kak Raka, selamat tinggal. Aku akan pergi meninggalkan Indonesia dan juga melepaskan mu. (Batin Luna)
Luna menitikkan air matanya sembari menarik koper miliknya. Malam itu, ia akan melakukan penerbangan ke new York.
Sebelum masuk ke dalam pesawat, Luna terlebih dulu menitipkan sepucuk surat kepada salah satu bodyguard yang menjaganya selama di Indonesia untuk diberikan kepada seorang Raka Arafat.
“Berikan ini kepada Kak Raka,” ucap Luna dan setelah memberikan sepucuk surat yang ia tulis, Luna pun perlahan masuk ke dalam pesawat.
🌷
Pagi hari.
Melinda pagi itu memutuskan untuk tidak masuk kelas, dikarenakan ia harus menemani sahabatnya ke rumah sakit. Karena Nenek dari sahabatnya itu sedang dirawat di rumah sakit.
“Istriku sayang, yakin tidak ingin ditemani?” tanya Raka yang berniat menemani Sang istri pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
“Yakin, Mas Raka. Lagipula Mas Raka dan Kakek harus pergi ke kantor,” jawab Melinda.
“Baiklah, kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku,” ujar Raka pada Melinda.
“Iya, Mas Raka,” balas Melinda.
Raka pun akhirnya masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh Reza, yang tak lain adalah asisten pribadi Raka.
Melinda tersenyum dengan terus melambaikan tangannya ke arah Sang suami yang perlahan pergi bersamaan dengan perginya mobil mewah tersebut.
“Mas Raka dan Kakek sudah pergi, itu artinya hanya aku saja di rumah bersama dengan para Mbak serta para penjaga,” ujar Melinda bermonolog.
Melinda menghela napasnya dan tiba-tiba teringat kejadian dimana Sang suami pergi menemui Luna yang masuk rumah sakit akibat percobaan bunuh diri.
Kira-kira Nona Luna sekarang sudah membaik ataukah belum? Aku harap, Nona Luna tidak mencoba bunuh diri untuk menarik perhatian dari Mas Raka lagi. (Batin Melinda)
Sampai detik itu, Raka maupun Melinda tidak tahu bahwa Luna telah meninggalkan Indonesia. Dikarenakan, surat yang Luna tulis khusus untuk Raka belum juga diterima.
Melinda mengeluarkan ikat rambut miliknya dengan saku celananya dan mulai mengikatnya. Bukan apa-apa, Melinda sengaja tak mengikat rambutnya sebelum Sang suami pergi. Dikarenakan, Sang suami sangat senang melihat rambutnya yang panjang tergerai bebas daripada harus diikat.
“Mbak, tolong buatkan bubur ayam,” pinta Melinda.
“Baik, Nona Muda. Kami akan segera membuatkan bubur ayam untuk Nona Muda,” jawab salah satu pelayan.
“Bukan untuk saya, tapi untuk Ibu dari sahabat saya,” jelas Melinda sebelum meninggalkan dapur.
Merekapun mengiyakan dengan patuh dan bergegas menyiapkan bahan untuk membuat bubur ayam.
Melinda tiba di kamar dan memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya secara online. Untungnya saja, dosen yang mengajar hari itu memberikannya tugas dan bisa mengerjakan tugas tersebut di rumah.
Tentu saja hal itu adalah campur tangan dari Raka yang sama sekali tidak Melinda ketahui. Sebelum Melinda meminta izin terlebih dahulu, Raka sudah menghubungi dosen tersebut dan meminta dosen tersebut untuk memaklumi Sang istri yang tidak hadir.
“Ternyata tugasnya cukup banyak, semoga saja cepat selesai dan setelah itu aku bergegas pergi menemui Ratna.
Melinda telah selesai dengan tugas dan saat itu juga Melinda bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ratna.
“Mbak, bubur ayam sudah jadi?” tanya Melinda yang baru saja tiba di dapur.
“Sudah, Nona Muda,” jawab mereka.
Melinda tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena ternyata bubur ayam tersebut sudah siap untuk dibawa.
“Mbak, saya keluar dulu ya. Wassalamu'alaikum,” ucap Melinda dengan sangat sopan.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati Nona Muda,” balas mereka.
Dalam hati mereka, mereka memuji sikap sopan santun yang dimiliki oleh seorang Melinda Anandi.
🌷
Melinda akhirnya sampai di depan rumah Ratna tinggal. Melihat Melinda turun dari mobil, Ratna bergegas menghampiri Sang sahabat.
“Melinda, kamu benar-benar tidak masuk kelas?” tanya Ratna sedih.
“Ratna, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang, Nenekmu pasti menunggu mu,” ujar Melinda dan membawa masuk Ratna ke dalam mobil.
“Terima kasih, Melinda. Kamu satu-satunya sahabat yang ku punya, aku sangat beruntung karena memiliki sahabat yang begitu baik,” ucap Ratna dengan mata berkaca-kaca.
“Akulah yang sangat beruntung memiliki kamu, Ratna. Hanya kamu yang mau berteman denganku yang kata mereka aku adalah wanita aneh,” sahut Melinda.
Mereka berdua saling berpelukan satu sama lain dengan perasaan terharu.
__ADS_1
“Sudah, kita tidak harus menangis begini. Semangat untuk kita berdua,” ujar Melinda sembari mengangkat tangannya ke atas.
Ratna tertawa lepas melihat bagaimana Melinda begitu semangat.
“Pak, kita ke rumah sakit ya,” ucap Melinda dan menyebutkan nama rumah sakit tempat dimana Nenek dari Ratna di rawat.
Ratna bersandar di bahu Melinda dengan sangat nyaman.
“Melinda, terima kasih atas bantuan mu. Aku rasa, uang yang kamu kirim itu terlalu banyak,” ucap Ratna.
“Kamu kenapa bicara begitu? Lagipula, dulu kamu juga sering berbagi makanan untukku. Anggap saja uang itu sebagai hadiah untukmu dan aku tidak ingin bila kamu menolak uang yang aku berikan,” pungkas Melinda.
“Melinda, lagi-lagi kamu membuatku tak bisa berkata-kata,” balas Ratna yang kembali menitikkan air mata bahagia.
“Cup... Cup... Sudah jangan menangis, malu sama anak bayi,” ucap Melinda meledek sahabatnya.
“Kamu ya, orang menangis malah disamakan dengan bayi,” sahut Ratna.
Disaat yang bersamaan, Raka sedang sibuk di ruang kerjanya dengan dihadapkan pada tumpukan buku yang cukup banyak.
“Apa ini? Apakah aku harus memeriksanya satu-persatu? Kenapa tidak kamu saja?” tanya Raka yang enggan memeriksa tumpukan buku yang cukup banyak itu.
“Tuan Muda, buku-buku ini sengaja Tuan besar kirimkan untuk Tuan Muda,” terang Reza, asisten pribadi Raka.
Raka mengernyitkan keningnya dan melirik sekilas ke arah salah satu judul buku dihadapannya.
Mata Raka seketika itu fokus ketika tak sengaja judul buku mengenai panduan menjadi pemimpin.
“Buku ini,” ucap Raka terkejut.
“Iya, Tuan Muda. Ada apa dengan buku itu?” tanya Reza penasaran.
“Apakah kamu tidak tahu maksud dari kakek ku? Kakek ingin aku segera mempelajari buku-buku ini, dikarenakan sebentar lagi Kakek akan mewariskan seluruh hartanya kepadaku,” ucap Raka dengan penuh semangat.
Semangat Raka tiba-tiba menghilang ketika menyadari bahwa hal itu tidaklah benar.
Disaat yang bersamaan, Sang Kakek masuk ke dalam ruang kerja cucu kandungnya dengan mengunakan tongkat.
“Kakek harap kamu segera mempelajari buku-buku itu. Meskipun Kakek tahu, bahwa kamu sudah menguasai ilmu dunia bisnis,” tutur Almer dan mendaratkan bokongnya di sofa.
Almer memberi isyarat kepada Reza agar segera keluar meninggalkan dirinya dan juga Sang cucu.
“Kakek, apakah Kakek berencana ingin pensiun?” tanya Raka memastikan.
“Kakek sudah sangat tua dan sudah waktunya Kakek pensiun. Lagipula, keinginan Kakek sudah terwujud. Kakek sekarang sudah sangat lega ketika tahu hubungan mu dan cucu menantunya kini membuahkan hasil,” jawab Almer.
“Kakek, tolong pertimbangan lagi keinginan Kakek untuk pensiun. Lagipula, Raka masih sibuk dengan perusahaan Raka yang lain,” tutur Raka yang agak keberatan jika harus menerima warisan Sang Kakek dalam keadaan yang seperti itu.
“Suutss, Kakek tidak ingin mendengar apapun darimu. Sudahlah, kamu lebih baik pelajari buku-buku itu! Kakek akan pulang duluan,” ujar Almer dan melenggang pergi bersama dengan tongkatnya.
Raka mencoba untuk tetap tenang dengan membayangkan senyum cantik Sang istri tercinta. Ternyata, cara itu berhasil dan membuat Raka semakin mencintai sosok istrinya.
Kehadiran Melinda membuatku semakin bersemangat menjalani hidup ini. (Batin Raka)
Reza kembali masuk ke dalam ruang kerja Tuan Mudanya, setelah Kakek tua dari Tuan Mudanya keluar.
“Kamu pergilah temani Kakek pulang ke rumah!” perintah Raka pada asisten pribadinya.
“Lalu, bagaimana dengan Tuan Muda?” tanya Reza yang nampak enggan meninggalkan Tuan Mudanya seorang diri.
“Bukankah kamu tahu bahwa aku baik-baik saja disini?” tanya Raka.
__ADS_1
“Baik, Tuan Muda. Saya mengerti, kalau begitu saya permisi,” tutur Reza dan pamit pergi untuk menemani Almer pulang ke rumah.