Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 153


__ADS_3

3 hari kemudian.


Kondisi Melinda sangat cepat membaik pasca melahirkan sepasang bayi kembar yang begitu menggemaskan, buah cintanya bersama Sang suami tercinta.


Pagi itu, Melinda bersama sepasang bayi kembarnya akan pulang ke rumah. Lagipula, Melinda tidak sabar membawa bayi kembarnya untuk segera pulang ke kediaman keluarga Arafat.


“Bagaimana, sayangku? Apakah sudah membaik?” tanya Raka yang saat itu tengah menggendong bayi kembar berjenis kelamin laki-laki.


“Alhamdulillah sudah, sayang,” jawab Melinda.


“Yakin kamu mau pulang ke rumah?” tanya Raka memastikan bahwa istrinya benar-benar yakin untuk segera kembali ke rumah.


“Sayang, Orang-orang rumah pasti tidak sabar ingin melihat bayi kembar kita. Lagipula, kasihan kalau Kakek yang terus-menerus datang kemari,” terang Melinda.


Raka tersenyum lebar dan mengecup lembut kening istrinya.


Disaat yang bersamaan, Reza datang menghampiri sepasang suami istri yang telah sah menjadi orang tua.


“Pagi, Tuan dan Nona Muda!” Reza menyapa keduanya dengan penuh semangat.


“Pagi juga, Mas Reza,” sahut Melinda.


Raka mendelik tajam kearah asisten pribadinya dan memberi isyarat agar asisten pribadinya itu segera keluar dari ruangan.


Reza pun bergegas keluar dengan perasaan takut karena tatapan tajam dari Tuan Mudanya itu.


“Sayang, sebaiknya jangan lagi menyapa Reza!” perintah Raka yang semakin posesif.


Melinda tertawa kecil melihat bagaimana suaminya yang semakin posesif setelah menjadi seorang Ayah.


Ketika Raka sedang membelai rambut istrinya, seorang dokter wanita datang memasuki ruangan dan memberitahukan bahwa mereka diperbolehkan untuk pulang.


Raka dengan semangat meletakkan kembali bayi laki-laki yang ia gendong dan memutuskan untuk memapah istrinya.


Sementara sepasang bayi kembar mereka berada di dalam ranjang bayi.


Dua perawat menyusul masuk ke dalam untuk membawa bayi kembar tersebut.


Sesampainya di area parkir, kedua bayi kembar itu perlahan dimasukkan ke sebuah keranjang bayi yang berada di dalam mobil.


Setelah mereka masuk, tak lupa Raka dan juga Melinda mengucapkan terima kasih kepada para perawat yang sudah membantu membawa bayi mereka.


Tak ingin berlama-lama, Reza pun bergegas mengemudikan mobil menuju kediaman keluarga Arafat.


“Siapa, sayang?” tanya Melinda ketika Raka baru saja menutup ponselnya.

__ADS_1


“Oh ini tadi Kakek, sepertinya Kakek sudah tidak sabar ingin melihat si kembar,” terang Raka kepada istrinya.


Melinda hanya senyum-senyum mendengar keterangan dari suaminya.


“Bagaimana ini? Sepertinya posisiku benar-benar telah tergantikan setelah kedatangan mereka berdua,” ucap Raka sembari melirik ke arah bayi kembar yang tengah terlelap.


“Sayangku cemburu?” tanya Melinda setengah menggoda.


Raka menganggukkan kepalanya, persis seperti anak kecil yang kehilangan permen.


“Sayangku tidak usah cemburu. Selamanya suamiku selalu ada di hatiku,” pungkas Melinda dan memeluk suaminya dengan cukup erat.


Reza menelan salivanya dengan susah payah mendengar perkataan Melinda dan melihat kemesraan dari keduanya.


Apakah aku akan menjadi obat nyamuk lagi? Sepertinya mereka akan memiliki bayi lagi. (Batin Reza)


Beberapa saat kemudian.


Kakek Almer tersenyum lebar, begitu juga dengan para pelayan dan para bodyguard yang nampak begitu antusias menunggu kedatangan pasangan suami istri yang telah dikaruniai sepasang bayi kembar.


“Assalamu’alaikum, Kakek!” Melinda dengan semangat mencium punggung tangan Kakek Almer dan tak lupa memberikan pelukan hangat kepada Kakek Almer tersayang.


“Wa’alaikumsalam, bagaimana kabarmu cucu menantu?” tanya Kakek Almer.


“Alhamdulillah, Melinda sekarang sudah sehat,” jawab Melinda.


“Terima kasih, atas do'a semuanya,” balas Melinda yang sangat berterima kasih atas ucapan selamat dari para pelayan dan juga para bodyguard.


Raka hanya mengangguk kecil dengan wajah datarnya.


“Mbak, tolong bayi kami bawa ke kamar!” pinta Melinda.


Raka melanjutkan langkahnya dengan terus merangkul pinggang istrinya masuk ke dalam rumah.


“Kalian sudah menyiapkan nama untuk cicit Kakek?” tanya Kakek Almer sembari berjalan beriringan dengan sepasang suami istri tersebut.


Melinda tersenyum lebar tanda bahwa dirinya dan Sang suami telah menyiapkan nama untuk bayi kembar mereka.


“Kakek, insya Allah ketika bayi kami berusia 7 hari. Rencananya kami ingin mengadakan aqiqah untuk bayi kembar kami,” pungkas Raka dan kembali melanjutkan langkahnya untuk segera masuk ke dalam lift.


Raka ingin istrinya kembali beristirahat, agar kondisi istrinya segera pulih seperti sediakala.


“Terima kasih, Mbak,” ucap Melinda kepada dua pelayan yang baru saja meletakkan bayi kembarnya ke dalam ranjang bayi.


“Tuan Muda dan Nona Muda, kami permisi,” ucap mereka berdua dan bergegas keluar dari kamar tidur tersebut.

__ADS_1


Melinda berjalan mendekati bayi kembarnya dan tiba-tiba air matanya menetes begitu saja.


Melihat istrinya menangis, seketika itu juga Raka mendekap istrinya dan tak lupa memberikan kecupan mesra di kening Sang istri.


“Sayang, kamu kenapa tiba-tiba menangis? Apa ada yang sakit?” tanya Raka khawatir.


Melinda menggelengkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di dada Raka.


“Aku merindukan almarhum Ayah dan juga Almarhum Ibu. Andai saja mereka masih hidup, mereka pasti sangat bahagia karena memiliki sepasang cucu kembar yang sangat lucu,” terang Melinda memberitahukan alasan mengapa dirinya tiba-tiba menangis.


“Kedua orangtuaku juga pasti sangat senang dengan hadirnya sepasang bayi kembar yang begitu menggemaskan,” balas Raka yang juga yatim-piatu sama seperti istrinya, Melinda Anandi.


“Maafkan aku, sayang. Ternyata kita sama-sama yatim-piatu,” ucap Melinda merasa bahwa dirinya terlalu cengeng.


“Kenapa malah minta maaf? Lagipula, kita sekarang sudah bahagia dan yang pasti, orang tua kita juga telah bahagia di surga. Si kembar pasti sangat bangga memiliki orang tua seperti kita, begitu juga sebaliknya,” pungkas Raka.


Kata-kata Raka membuat Melinda menjadi semakin bahagia dengan hubungan mereka. Sebagai suami dan istri, tentu saja mereka berusaha saling melengkapi satu sama lain.


“Kamu lapar, sayang?” tanya Raka.


Melinda mengiyakan pertanyaan suaminya.


“Ayo kita ke ruang makan, mereka pasti telah menyiapkan banyak makanan untuk kita!” ajak Raka.


“Bagaimana dengan bayi kita?” tanya Melinda yang enggan meninggalkan si kembar di dalam kamar.


“Nanti kita suruh pelayan untuk menjaga bayi kita,” balas Raka dengan santai.


Sebelum meninggalkan kamar, Melinda mencium pipi kemerah-merahan bayi kembar tersebut dengan sangat hati-hati.


“Sayang, kalian berdua di kamar dulu ya. Mama dan Papa mau makan dulu,” tutur Melinda sebelumnya meninggalkan kamar.


Raka merangkul pinggang istrinya dan menuntun Sang istri keluar dari kamar untuk mengisi perut mereka.


“Kalian berdua, pergilah ke kamar dan jaga bayi kembar kami!” perintah Raka.


Dua pelayan itu mengiyakan dan berlari kecil menuju kamar Tuan Muda mereka.


“Kakek sekalian mau sarapan dengan kami?” tanya Melinda ketika berpapasan dengan Kakek Almer.


“Kebetulan Kakek sudah makan. Boleh tidak kalau Kakek masuk ke kamar kalian?” tanya Kakek Almer yang ingin sekali melihat cicit kembarnya.


“Boleh, Kakek,” jawab Melinda.


Melinda meminta salah satu pelayan wanita untuk mengantarkan Kakek ke kamar, melihat bayi kembar yang tengah terlelap di dalam kamar.

__ADS_1


“Kakek, bayi kami jangan diajak ngobrol yang tidak-tidak ya!” pinta Raka tentunya perkataan Raka hanyalah sebuah candaan saja.


“Kakek akan membuat cicit kembar Kakek berpihak kepada Kakek dan Cucu menantu,” tegas Kakek Almer dan melenggang pergi dengan sangat angkuh.


__ADS_2