
Beberapa bulan kemudian.
Melinda menangis kesakitan manakala merasakan sakit di sekujur perutnya, sepertinya si kembar sudah tak tahan ingin keluar dari perutnya.
Raka sebagai suami sekaligus pria yang bertanggung jawab atas hamilnya Sang istri, ikut merasakan kesedihan melihat Melinda yang hampir tiap malam tidak bisa tidur karena ulah kedua bayi kembar mereka.
“Sayang,” ucap Melinda lirih.
Raka yang berada disamping Sang istri seketika itu mengecup lembut kening Melinda.
“Iya sayangku,” balas Raka dengan terus menatap mata indah Melinda.
“Sepertinya kita harus ke rumah sakit,” tutur Melinda.
Persalinan Melinda sebenarnya masih kurang 2 Minggu lagi, akan tetapi sepertinya bayi kembar yang ada di dalam perut Melinda ingin segera dilahirkan.
Mendengar apa yang istrinya katakan, seketika itu juga Raka memencet tombol panggil agar para pelayan segera datang menghampiri sepasang suami istri yang kala itu berada di dalam kamar.
“Kalian kemana saja?” tanya Raka setengah berteriak setelah menunggu kedatangan para pelayan sekitar 2 menit.
“Maafkan kami, Tuan Muda.” Para pelayan dengan kompak meminta maaf dengan posisi tubuh yang tengah membungkuk.
“Cepat kemas pakaian istriku dan calon bayi kembar ku!” perintah Raka yang nampak begitu galak.
Meskipun Raka begitu lembut dengan istrinya, tetap saja Raka masih sama seperti dulu. Yang cukup galak bila dengan pelayan maupun para bodyguard yang bekerja di rumah itu.
“Sayang, jangan marah-marah,” tutur Melinda dengan terus menahan rasa sakit yang disebabkan oleh bayi kembar di dalam perutnya.
“Maaf sayangku, aku terlanjur panik,” balas Raka dan menggendong istrinya meninggalkan kamar mereka.
Di depan rumah, sudah ada Reza yang selalu siap menerima perintah dari Tuan Mudanya itu.
Melihat Tuan Mudanya yang panik sembari menggendong Nona Mudanya, saat itu juga Reza membuka pintu mobil lebar-lebar.
Reza dengan sigap mengendarai mobil menuju rumah sakit yang nantinya akan menjadi tempat bersalin bagi Melinda Anandi.
Di dalam mobil, Melinda meringis kesakitan. Bahkan, Melinda menangis sembari mencengkram erat tangan suaminya.
Raka panik begitu juga dengan Reza karena mendengar tangisan kesakitan Melinda.
“Reza, cepat!” perintah Raka mendesak agar asisten pribadinya melajukan mobil lebih cepat.
“Saya berusaha untuk cepat sampai rumah sakit, Tuan Muda,” sahut Reza dengan tangan gemetar.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Melinda akhirnya masuk di sebuah ruangan dimana Melinda akan melahirkan bayi kembarnya.
Suara rintihan kesakitan Melinda benar-benar membuat Raka ketakutan, bingung dan begitu nano-nano untuk dijelaskan.
Proses persalinan akan segera berlangsung, seketika itu juga Raka terkejut ketika Sang istri dengan kuat menarik rambutnya.
“Sayang!” Raka berteriak kesakitan, akan tetapi Melinda jauh lebih kesakitan karena akan segera melahirkan.
Disaat yang bersamaan, Kakek Almer baru mengetahui bahwa cucu menantunya akan segera melahirkan. Saat itu juga, Kakek Almer meminta sopir untuk segera membawanya ke rumah sakit. Tempat dimana Melinda akan segera melahirkan.
“Cepat, bawa aku ke rumah sakit!” perintah Kakek Almer yang saat itu akan masuk ke dalam mobil.
Kakek Almer nampak tak sabar ingin melihat bayi kembar yang nantinya akan menjadi penerus keluarga Arafat selanjutnya.
“Ayo cepat!” perintah Kakek Almer sekali lagi kepada sopir pribadinya.
***
Rumah Sakit.
Melinda berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan bayi kembar yang tak sabar ingin lahir ke dunia. Raka sebagai suami sekaligus Ayah dari bayi kembar tersebut, begitu tegang melihat Melinda yang sedang berada di antara hidup dan mati untuk melahirkan bayi kembar mereka.
“Sayang, jangan nangis!” Melinda setengah berteriak ketika melihat suaminya malah menangis.
“Oek... oek...” Suara bayi pertama begitu lantang memenuhi ruangan.
“Alhamdulillah, bayi pertama adalah laki-laki,” ucap Dokter wanita yang membantu Melinda bersalin.
Melinda menangis terharu, begitu juga dengan Raka yang mendengar suara tangisan lantang putra kecil pertama mereka.
“Awww... Sakit...” Melinda kembali merasakan sakit yang luar biasa, sepertinya bayi kedua saat itu ingin menyusul Sang Kakak.
Raka berteriak penuh kesakitan, manakala Melinda menarik rambutnya dengan sekuat tenaga.
Perawat yang berada di dalam ruangan itu, nampak terkejut sekaligus merasa terhibur dengan teriakkan Raka yang memenuhi ruang bersalin tersebut.
“Oek... Oek...” Bayi kedua akhirnya keluar dengan jenis kelamin perempuan.
Lengkaplah sudah kebahagiaan Raka dan Melinda yang akhirnya sah menjadi orang tua.
“Selamat, bayi kedua berjenis kelamin perempuan,” ucap Dokter wanita yang membantu Melinda bersalin.
__ADS_1
Kedua bayi kembar itu perlahan digendong untuk dibersihkan terlebih dahulu. Sementara Melinda nampak begitu kelelahan karena telah melahirkan dua bayi mungil tersebut.
Raka yang masih merasakan sakit, hanya bisa mengucapkan syukur sembari menata rambutnya yang berantakan.
Tak lama, Raka mendekati istrinya dengan berlinang air mata.
“Terima kasih, istriku sayang. Karena telah melahirkan keturunanku, aku berhutang nyawa padamu, istriku,” tutur Raka berbisik di telinga Melinda.
Raka mengecup kening istrinya berulang kali dengan linangan air mata. Berulang kali juga, Raka mengucapkan terima kasih atas perjuangan Sang istri yang telah mempertaruhkan nyawa atas kelahiran bayi kembar mereka itu.
Saat itu Melinda hanya bisa tersenyum kecil melihat bagaimana suaminya begitu mencintainya.
Beberapa saat kemudian.
Raka tersenyum lega setelah mengadzani kedua bayi kembarnya secara bergantian. Raka berharap sepasang bayi kembar itu menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah.
“Kalian berdua harus menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, memiliki sopan santun dalam berbudi pekerti, serta taat pada Allah yang maha kuasa,” tutur Raka yang nampak begitu serius kepada bayi kembar yang masih merah itu.
“Sayang..” Panggil Melinda dengan sangat lirih.
Raka seketika itu juga berlari mendekati istrinya dan meninggalkan dua bayi kembar yang tengah berada di ranjang bayi.
“Iya sayang, kamu mau apa sayang?” tanya Raka sembari membelai wajah pucat Melinda.
Disaat yang bersamaan, Kakek datang memasuki ruang bersalin tersebut.
“Cucu menantuku apakah sudah melahirkan?” tanya Kakek Almer dengan penuh semangat.
Raka mengiyakan sembari menunjuk ke arah ranjang bayi berusia dua bayi kembarnya bersama Sang istri.
Kakek Almer melirik sekilas dan memilih untuk menghampiri cucu menantu kesayangannya.
“Cucu menantu, Kakek mengucapkan terima kasih banyak karena telah melahirkan keturunan dari cucu Kakek yang tak tahu diri ini,” ucap Kakek Almer sembari menjewer telinga Raka.
“Kakek, sakit,” tutur Raka sembari berusaha melepaskan tangan kakeknya yang menjewer telinganya.
Melinda tertawa kecil melihat tingkah laku Kakek Almer.
“Oek... Oek...” Kedua bayi kembar itu dengan kompak menangis, sepertinya mereka tidak terima jika Ayah mereka diperlakukan seperti itu oleh Kakek buyut mereka.
Kakek Almer terkejut dan cepat-cepat menjauhkan tangannya.
“Kakek, sepertinya bayi kembar Raka tidak suka dengan Kakek,” celetuk Raka dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Kakek Almer yang geram dengan Cucu kandungnya, seketika itu juga melempar sepatu yang ia kenakan ke arah wajah Raka. Akan tetapi, Raka dengan cepat menghindari lemparan sepatu dari Sang Kakek.
Melinda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang selalu saja tak akur.