Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 92


__ADS_3

“Mas Raka kenapa diam saja? Mau saya buatkan kopi?” tanya Melinda pada suaminya yang hanya diam membisu.


“Boleh. Tapi, setengah gelas saja ya,” jawab Raka yang sebenarnya tidak ingin minum kopi. Akan tetapi, berhubung Melinda sudah menawarkan kopi untuknya, maka Raka tak bisa menolak.


“Baik, Mas Raka tunggu di kamar ya. Saya mau ke dapur dulu,” tutur Melinda dan melenggang keluar dari kamar untuk segera pergi ke dapur.


Raka tersenyum tipis melihat Melinda yang telah keluar dari kamar.


“Melinda, sepertinya dalam waktu dekat ini aku akan mengatakan perasaanku yang sebenarnya padamu. Sepertinya, tidak baik bila aku berdiam diri seperti ini,” ujar Raka bermonolog.


Melinda telah sampai di dapur dan bergegas membuatkan kopi untuk Sang suami tercinta.


“Mbak, churros yang kemarin apakah masih ada?” tanya Melinda.


“Masih, Nona Muda,” jawab pelayan wanita yang kebetulan berdiri tak jauh dari Melinda.


“Tolong keluarkan dan letakan di piring ya Mbak. Sama satu lagi, tolong beri saus green tea juga ya mbak,” pinta Melinda.


Pelayan itu mengiyakan dan mengambil churros serta saus green tea untuk membuat churros tersebut semakin enak untuk dinikmati.


Raka tengah berada di tempat tidur dan saat itu ia sedang memandangi foto Melinda ketika Melinda baru menginjak umur 7 tahun.


“Mas Raka,” ujar Melinda sembari masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi kopi serta churros untuk cemilan mereka berdua.


Raka pun terkejut dan ponsel yang berada ditangannya terlepas begitu saja. Untungnya, ponsel miliknya jatuh di tempat tidur dan bukan di lantai yang keras.


“Kamu membuatku terkejut,” tutur Raka yang terkejut karena ulah istrinya.


“Benarkah? Maaf, Mas Raka. Saya benar-benar tidak sengaja,” balas Melinda meminta maaf kepada Sang suami.


“Kamu kenapa minta maaf kepadaku? Bukankah katanya kamu tadi tidak sengaja?” tanya Raka terheran-heran.


“Saya tidak ingin Mas Raka kesal terhadap saya,” jawab Melinda.


“Kamu kenapa berpikiran begitu? Aku sama sekali tidak kesal. Sekarang letakan nampan itu di meja dan bantu aku turun,” pinta Raka yang tidak ingin menikmati kopi buatan Melinda di atas tempat tidur.


Melinda mengangguk kecil mendengar permintaan Raka padanya. Kemudian, Melinda meletakkan nampan tersebut ke atas meja dan bergegas membantu Sang suami turun dari tempat tidur.

__ADS_1


“Terima kasih,” ujar Raka yang saat itu sudah berhadapan dengan kopi serta churros yang dibawa oleh Melinda.


Raka mengambil churros tersebut dengan saus green tea yang rasanya cukup enak.


“Perpaduan churros dan rasa dari green tea ternyata sangat enak. Kamu memang pintar.” Kali ini Raka memuji istrinya.


Melinda tersenyum malu-malu dan mengambil churros tersebut untuk ikut merasakan bagaimana enaknya churros tersebut.


Keesokan pagi.


Raka harus kembali bekerja dan tentu saja Melinda akan kembali ditinggal oleh suaminya.


“Mas Raka, bisakah pulang lebih awal?” tanya Melinda penasaran.


“Kenapa memangnya?” tanya Raka pada Melinda dengan penasaran.


“Tidak apa-apa, Mas Raka. Kalau Mas Raka tidak bisa juga tidak apa-apa,” balas Melinda yang berusaha menyembunyikan kesedihannya karena harus kembali ditinggalkan suaminya untuk bekerja.


“Aku tidak janji akan pulang lebih awal. Akan tetapi, aku akan usahakan agar bisa pulang lebih awal seperti yang kamu inginkan,” pungkas Raka yang duduk di kursi rodanya itu.


Senyum Melinda mengembang sempurna mendengar apa yang suaminya katakan.


Reza tak tahan dengan keduanya yang terus-menerus menunjukkan rasa ketertarikan mereka berdua. Dengan cepat, Reza membawa Tuan Mudanya menuju depan.


Melinda tersenyum dan berjalan beriringan dengan suaminya yang duduk manis di kursi roda.


Reza perlahan membantu Tuan Mudanya masuk ke dalam mobil dan saat itu juga Melinda terus melebarkan senyumnya kepada Sang suami yang akan berangkat bekerja.


“Melinda, aku berangkat dan kamu jangan lupa makan teratur serta tepat waktu,” ujar Raka mengingatkan istrinya untuk selalu menjaga pola makan yang baik.


“Baik, Mas Raka,” balas Melinda dengan patuh.


Jendela mobil pun perlahan naik, hingga Raka tak terlihat.


Melinda melambaikan tangannya ke arah mobil yang perlahan keluar meninggalkan area halaman rumah kediaman keluarga Arafat.


“Ya Allah,” ucap Melinda bermonolog sembari menyentuh jantungnya yang berdetak tak karuan karena tersentuh dengan perhatian dari Sang suami.

__ADS_1


Saat Melinda sedang terhanyut dalam kebahagiaannya, tiba-tiba salah satu pelayan wanita menghampiri dengan tingkah laku yang sangat panik.


“Nona Muda, Nona Muda,” ucap pelayan wanita itu dengan suara gemetaran.


“Ada apa, Mbak?” tanya Melinda yang dikejutkan oleh suara pelayan wanita yang kini sudah berada tepat dihadapannya.


“Nona Muda saat ini juga harus ke rumah sakit,” ucap pelayan tersebut.


“Rumah sakit? Memangnya siapa yang masuk rumah sakit, Mbak?” tanya Melinda yang tidak mengerti dengan apa yang pelayan wanita itu katakan.


“Begini Nona Muda, saya baru saja mendapatkan kabar dari Ibu tiri Nona Muda, bahwa Ayah Nona Muda telah meninggal dunia,” ungkapnya.


“Apa!!” Melinda terlihat sangat terkejut dan berusaha untuk tidak mempercayai kabar tersebut.


Melinda berlari menuju lift untuk segera sampai di kamar. Wanita muda itu ingin mengetahui apakah ucapan ibu tirinya benar adanya ataukah kebohongan saja seperti yang sudah-sudah.


Disaat yang bersamaan, Raka baru saja mendapatkan pesan dari nomor yang tidak kenal dan isinya adalah kematian Bambang, ayah kandung dari istrinya.


Raka sama sekali tak percaya dengan pesan tersebut, mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Dina maupun Katty terhadap istrinya, Melinda Anandi.


Lagi-lagi nomor telepon itu mengirim pesan singkat mengenai alamat rumah sakit tempat dimana Bambang menghembuskan nafas terakhirnya.


“Reza, putar arah!” perintah Raka secara mendadak.


Reza terkejut mendengar perintah dari Tuan Mudanya, sampai-sampai ia mengerem mendadak dan untungnya tidak ada kendaraan dari belakang yang bisa-bisa menimbulkan kecelakaan.


“Reza, apa kamu ingin aku mati mendadak?” tanya Raka yang hampir saja terjungkal ke depan karena Reza yang mengerem mendadak.


“Maafkan saya, Tuan Muda,” balas Reza meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan, meskipun sebenarnya yang salah adalah Tuan Mudanya sendiri.


Raka memberi perintah kepada asisten pribadinya untuk putar arah dan bergegas menuju rumah sakit tempat dimana Bambang menghembuskan nafas terakhirnya.


Reza tanpa bertanya seketika itu berbalik arah menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Tuan Mudanya.


“Aku harus benar-benar memastikan hal itu,” ucap Raka bermonolog.


“Iya, Tuan Muda. Tuan Muda bicara dengan saya?” tanya Reza karena samar-samar mendengar Tuan Mudanya berbicara.

__ADS_1


“Aku tidak bicara padamu. Sebaiknya kamu fokus menyetir!” perintah Raka dingin.


“Baik, Tuan Muda,” balas Reza dengan patuh.


__ADS_2