Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 149


__ADS_3

Usia kandungan Melinda telah berjalan 5 bulan, meskipun begitu perutnya terlihat sangat besar karena ada dua bayi kembar yang sedang berada di perut buncitnya itu.


Di kehamilannya yang pertama, Melinda cukup sulit untuk bergerak. Meskipun begitu, Sang suami selalu setia menemani serta mendampingi Melinda. Bahkan, ketika Melinda masuk kelas alias kuliah, Raka selalu mengantar dan juga menjemput istri tercintanya itu.


“Reza, sudah hampir 4 bulan dan kamu masih tersenyum lebar ketika melihat jam tangan pemberianku itu? Aku curiga, sepertinya kekasihmu itu adalah jam tangan itu,” ujar Raka yang cukup risih dengan tingkah Reza.


“Saya terlalu senang, Tuan Muda. Terlebih lagi, Tuan Muda kalah dari saya,” balas Reza dan seketika itu membuat Raka kesal.


“Sepertinya aku harus mencari asisten pribadi yang baru,” tutur Raka.


Reza yang duduk di kursi pengemudi seketika itu menoleh ke arah Tuan Mudanya.


“Tuan Muda, saya lebih berkompeten dalam hal apapun,” ucap Reza penuh percaya diri.


Apa yang Reza katakan tak bisa dibantah oleh Raka. Bagaimana, hanya Reza yang berkompeten serta berdedikasi tinggi terhadap dirinya maupun perusahaan Arafat.


Raka menoleh sekilas ke arah jam tangan miliknya yang tentu saja lebih mahal dari jam tangan yang ia berikan kepada asisten pribadinya itu.


Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 2, Raka dengan cepat keluar dari mobil untuk menghampiri istrinya.


“Sayang,” ujar Raka berlari kecil menghampiri Melinda yang tengah berjalan keluar dari kelas.


Raka seketika itu mencium kening istrinya dan tak lupa mencium perut buncit Sang istri tercinta.


“Bagaimana kelas hari ini?” tanya Raka dengan merangkul pinggang Melinda.


“Alhamdulillah berjalan lancar, sayang. Si kembar juga tidak rewel,” jawab Melinda sembari mengelus perutnya yang buncit itu.


Kemesraan keduanya terlihat sangat jelas, bahkan beberapa mahasiswa serta mahasiswi sudah tidak kaget lagi dengan perlakuan romantis Raka terhadap Melinda.


“Sayang, mau makan apa?” tanya Raka.


“Hmm.. Tiba-tiba mau makan rujak buah,” jawab Melinda.


“Bagaimana kalau rujak buah yang biasanya kita beli?” tanya Raka.


“Boleh, sayang,” balas Melinda tersenyum lebar menatap suaminya yang semakin tampan itu.


Merekapun sampai di dalam mobil dan Raka memberi perintah kepada Reza untuk segera membawa mereka menuju rujak buah langganan Melinda.


“Sayang, nanti jangan lupa mampir ke apotek. Vitamin Kakek sisa sedikit,” tutur Melinda.

__ADS_1


Melihat wajah gemas istrinya, Raka seketika itu mencium pipi istrinya berulang kali.


Lagi lagi Reza hanya dianggap seperti patung di dalam mobil itu.


“Ya Allah, kenapa istriku semakin hari semakin cantik saja. Rasanya aku ingin terus-menerus didalam kamar saja bersama istrinya dan tidak usah keluar dari kamar,” ungkap Raka dan kembali menciumi pipi Melinda yang agak tembam karena kehamilannya.


“Sayang, jangan begini. Ada Mas Reza,” ujar Melinda yang sungkan dengan kehadiran asisten pribadi suaminya itu.


“Tenang saja, anggap saja kita berdua di dalam mobil ini,” sahut Raka dengan santai.


Melinda geleng-geleng kepala dengan apa yang suaminya katakan.


Beberapa saat kemudian.


Raka meminta asisten pribadinya untuk turun membelikan rujak buah sebanyak 3 porsi, yaitu untuk istri tercinta, Raka serta asisten pribadinya itu.


Reza pun mengiyakan dan bergegas keluar, semenjak hubungan antara Tuan Muda serta Nona Mudanya semakin erat. Reza lah yang akan melakukan ini dan itu atas perintah Tuan Mudanya yang menyebalkan.


“Sayang, jangan keterlaluan begitu dengan Mas Reza,” ucap Melinda sembari memeluk suaminya dengan manja.


“Biarkan saja, lagipula aku menaikkan gajinya,” balas Raka apa adanya.


Sekitar 10 menit, Reza pun kembali masuk ke dalam mobil. Saat itu mereka tidak langsung melenggang pergi, akan tetapi sibuk menikmati rujak buah mereka masing-masing.


“Terima kasih, Mas Reza,” ucap Melinda.


Pada saat Reza ingin mengiyakan, Raka dengan cepat membalas ucapan Melinda.


“Iya sayang, suamimu ini yang membeli rujak buah yang kita makan ini,” sahut Raka.


“Sayang, jelas-jelas Mas Reza yang keluar membeli rujak buah ini,” balas Melinda.


“Tetap saja, istriku sayang. Rujak buah ini beli dengan menggunakan uangku,” pungkas Raka dan lagi-lagi mencium pipi Melinda tak pemberitahuan terlebih dahulu.


Reza tertawa kecut dan buru-buru menghabiskan rujak buah miliknya agar segera sampai ke rumah.


1 jam kemudian.


Kedatangan sepasang suami istri itu disambut hangat oleh Kakek tercinta, Almer Arafat yang tentu saja kondisi Sang Kakek semakin hari semakin membaik berkat pengobatan canggih di Amerika.


“Assalamu’alaikum, Kakek. Ini Melinda bawakan vitamin untuk Kakek,” tutur Melinda yang semakin dekat dengan Sang Kakek tercinta.

__ADS_1


Jika Melinda sudah bertemu dengan Sang Kakek, begitu juga sebaliknya. Posisi Raka sebagai cucu kandung bisa-bisa terancam, dikarenakan Kakek lebih senang bercerita mengenai hal apapun kepada Melinda dibandingkan Cucu kandungnya sendiri, yaitu Raka Arafat.


“Cucu menantu, pergilah berisitirahat. Nanti sore, Kakek mau bercerita lagi mengenai masa muda Kakek dulu,” tutur Kakek Almer.


“Kakek, apa Raka bukan cucu Kakek lagi? Ayolah, Kek. Ceritakan juga masa muda Kakek kepada Raka!” pinta Raka dengan memaksa.


“Tidak. Kakek lebih suka berbincang-bincang dengan cucu menantu. Lagipula, sebentar lagi Kakek akan memilih cicit-cicit yang sama-sama menggemaskan,” pungkas Kakek Almer dan melenggang pergi begitu saja.


Raka melongo tak percaya mengetahui sikap Kakeknya itu.


“Sudah jelas, sepertinya aku bukan Cucu kandung Kakek,” ucap Raka yang nampak pasrah.


Melinda tertawa lepas melihat ekspresi suaminya yang nampak sangat putus asa.


“Lihatlah, istriku sendiri malah menertawakan suaminya yang malang ini,” tutur Raka.


“Ya mau bagaimana lagi? Suamiku terlihat sangat lucu,” balas Melinda.


“Sayang, kamu terlalu terang-terangan menggodaku. Kalau begitu, ayo kita masuk ke kamar!” seru Raka dengan penuh semangat dan tak sabar ingin membawa Sang istri masuk ke dalam kamar mereka.


“Sayang, masih lapar,” ucap Melinda sembari mengelus-elus perut buncitnya itu.


Raka menghela napasnya dan meminta para pelayan untuk menyiapkan makan siang. Dikarenakan si kembar yang masih berada di dalam perut istrinya membuat Sang istri menjadi lapar kembali.


“Hai, kalian berdua lapar ya? Habis makan, beri waktu buatku dan istriku bermesraan ya,” ujar Raka berbicara pada perut buncit Melinda.


“Sayang, dengan anak sendiri kok berbicara seperti itu?” tanya Melinda terheran-heran sembari menahan tawanya.


“Ya mau bagaimana lagi,. mereka berdua masih di dalam perut saja sudah membuat Papa mereka kesal. Bagaimana nanti kalau mereka sudah keluar?” tanya Raka yang tentu saja itu hanya candaan saja.


Melinda akhirnya tertawa lepas mendengar apa yang suaminya katakan.


“Istriku tertawa, itu artinya Papa mereka lebih lucu daripada mereka berdua,” tutur Raka dengan terus mengelus-elus perut buncit Melinda.


“Dasar kepedean,” celetuk Melinda.


“Aku memang lucu dan juga tampan. Perlu bukti?” tanya Raka.


Melinda seketika itu menggelengkan kepalanya.


“Sayang, tentu saja aku percaya. Karena sampai saat inipun masih banyak wanita yang mencoba menggoda suamiku yang lucu serta tampan ini,” terang Melinda dan mencium pipi suaminya.

__ADS_1


__ADS_2