
Indri sedang merilekskan tubuh serta pikirannya di kolam renang. Betapa senang hatinya ketika mengetahui bahwa Melinda pergi ke rumah sakit karena gatal-gatal yang disebabkan oleh dirinya.
“Oh begini ya kelakuan kamu,” ucap Almer ketika melihat Indri tengah berenang.
Indri samar-samar mendengar suara Almer dan ia pun mendongakkan kepalanya.
“Kakek.” Indri sangat terkejut melihat Almer yang menatapnya dengan penuh amarah.
“Keluar dari air itu sekarang juga!” perintah Almer.
“Kakek, aku baru saja turun dan Kakek malah menyuruhku untuk menyudahi aktivitas berhargaku,” balas Indri yang enggan menyudahi aktivasinya begitu saja.
“Cepat keluar dari kolam renang dan pergi dari rumah ini!” perintah Almer yang sudah kehilangan kesabaran atas apa yang telah dilakukan oleh Indri terhadap cucu menantu kesayangannya.
Indri terkejut dan saat itu juga keluar dari kolam renang dengan perasaan kesal.
“Kakek kenapa tiba-tiba mengusirku? Kakek apakah lupa bahwa aku adalah istri dari cucu Kakek?” tanya Indri setengah berteriak.
“Tenang saja, kalau itu saya tidak pernah lupa. Akan tetapi, kamu tidak bisa lagi tinggal disini. Karena saat ini juga kamu harus angkat kaki dari sini,” tegas Almer.
“Kakek tidak bisa memperlakukan aku seenaknya dong. Mau bagaimanapun, aku akan tetap tinggal disini.”
“Baiklah, kalau kamu maunya seperti ini. Saya akan menghubungi polisi atas apa yang telah kamu lakukan terhadap cucu menantu saya,” ujar Almer bersiap-siap menghubungi polisi untuk menangkap Indri.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Almer, membuat Indri terkejut dan seketika itu juga Indri bersimpuh di hadapan Almer.
“Kakek, tolong jangan lakukan hal ini terhadap aku. Aku tidak mungkin bisa hidup bila tinggal dipenjara.” Indri memohon belas kasih dari Almer agar tak memenjarakannya.
“Baiklah, kalau begitu kamu harus segera angkat kaki dari sini. Saya telah memesankan tiket pesawat untuk kamu agar pergi meninggalkan Indonesia,” pungkas Almer.
Indri mendongakkan kepalanya dengan ekspresi yang sangat terkejut.
“Maksud Kakek apa? Kakek ingin aku tinggal di luar negeri?”
“Ya. Kakek akan mengirim kamu ke Singapura untuk menjadi pelayan di salah satu restoran disana,” jelas Almer.
“Kakek tidak bercanda, 'kan?” tanya Indri memastikan.
“Untuk apa saya bercanda? Kamu akan saya kirim di salah satu restoran milik saya yang berada di Singapura. 1 tahun cukup, bukan?”
Indri menangis histeris setelah tahu bahwa Almer mengirimnya jauh dari Indonesia untuk menjadi seorang pelayan restoran.
“Simpan air mata itu, lebih baik kamu bersiap-siaplah karena 1 jam lagi kita harus sudah berangkat.”
***
Raka dan Melinda tiba di rumah. Hal pertama yang Melinda lakukan adalah bertanya kepada salah satu pelayan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dikarenakan suasana saat itu terlihat sangat menyeramkan.
Melinda terkejut ketika mengetahui bahwa Indri diusir oleh Sang Kakek.
__ADS_1
“Ada apa? Kenapa wajahmu langsung gelisah begitu?” tanya Raka melihat wajah Melinda yang begitu gelisah.
“Mas Raka, apakah Mas Raka mengatakan yang sebenarnya kepada Kakek?” tanya Melinda.
“Ya. Memangnya kenapa?” tanya Raka kesal.
“Mas Raka, kalau Mbak Indri diusir, Mbak Indri mau tinggal dimana? Saya juga sudah memaafkan apa yang telah Mbak Indri lakukan terhadap saya,” pungkas Melinda.
“Untuk apa kamu peduli dengan wanita licik itu? Sekarang kamu masuk ke kamar dan jangan keluar sebelum aku memberi perintah!”
Saat Melinda ingin membalas perkataan Raka, Indri muncul dari lift dengan air mata yang terus mengalir.
Melinda menoleh ke arah lift yang baru saja terbuka dan saat itu juga berlari ke arah Indri.
“Mbak Indri mau kemana? Kenapa membawa koper?” tanya Melinda yang tidak ingin bila Indri sampai keluar dari rumah tersebut.
“Apakah kamu sengaja melakukan ini terhadapku? Gara-gara kamu, aku sampai diusir dari rumah ini dan dikirim oleh Kakek ke Singapura menjadi pelayan restoran. Apa sekarang kamu puas?” Indri tak bisa menahan rasa sakit dihatinya. Dengan kesal, Indri berteriak keras tepat dihadapan Melinda.
“Mbak Indri kenapa berbicara seperti ini terhadap saya? Saya sama sekali tidak menginginkan hal ini terjadi, Mbak Indri. Saya sudah menganggap Mbak Indri seperti kakak perempuan saya sendiri,” ungkap Melinda yang tak ingin membuat Indri semakin membenci dirinya.
“Melinda, masuk ke dalam kamar sekarang juga!” perintah Raka yang terlihat marah besar.
Saat Melinda ingin menjawab perintah dari Raka, Almer muncul dengan setelan rapi.
“Cucu menantu, kenapa pulang? Seharusnya Cucu menantu tetap berada di rumah sampai keadaan benar-benar membaik,” tutur Almer yang begitu perhatian dengan Melinda.
Lagi-lagi pemandangan tersebut membuat Indri tak bisa berkata-kata. Indri menangis dan ingin sekali mencekik leher Melinda yang membuatnya tersingkirkan dari rumah tersebut.
“Cucu menantu tidak boleh membela orang yang salah seperti wanita ini. Terlebih lagi, melindungi wanita yang memang sengaja ingin mencelakai cucu menantu. Kakek melakukan hal yang benar dan saat ini juga Kakek harus pergi ke bandara untuk memastikan bahwa wanita ini terbang meninggalkan Indonesia,” ungkap Sang Kakek panjang lebar.
Indri berlari keluar sembari menarik koper miliknya. Pemandangan tersebut, membuat dirinya seakan-akan tak berada diantara mereka.
Saat Melinda ingin mengejar Indri, Almer dengan sigap menahan tangan Melinda.
“Jangan dikejar, wanita seperti itu tidak pantas untuk dimaafkan. Cucu menantu tenang saja, Kakek mengirimnya ke Singapura agar dia bisa lebih menghargai caranya hidup yang baik dan benar.”
Almer melenggang pergi untuk segera mengantarkan Indri ke bandara.
Raka tertawa puas mengetahui Indri akan segera dikirim ke Singapura.
“Kenapa masih disini? Ayo masuk ke kamar!” perintah Raka.
Melinda meneteskan air matanya dan mendorong kursi roda Raka menuju lift.
Para pelayan bertepuk tangan dengan penuh semangat manakala Mak lampir telah pergi dari rumah tersebut.
Setibanya di kamar, Raka meminta Melinda untuk membantunya naik ke tempat tidur.
Melinda mengiyakan dan membantu suaminya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
“Kenapa kamu malah menangis? Jangan bilang kamu menangis karena wanita licik itu?” tanya Raka.
Melinda diam tak menjawab pertanyaan dari suaminya.
Melihat Melinda yang diam tak merespon pertanyaannya, membuat Raka tahu bahwa kesedihan dari istrinya karena kepergian Indri.
“Dengar baik-baik, aku paling tidak suka ada wanita bodoh dan lemah seperti kamu. Bagaimana bisa kamu masih memaafkannya yang jelas-jelas telah membuat keadaan kamu menjadi seperti?”
“Mas Raka, mendiang almarhumah Ibu saya tidak pernah mengajarkan saya untuk dendam terhadap orang yang membenci saya. Jika saya membalasnya, itu artinya sama saja saya seperti mereka,” terang Melinda.
“Bodoh,” celetuk Raka dan memejamkan matanya seketika itu juga.
Melinda menghela napasnya dan melangkah pelan menuju sofa yang telah menjadi kasur empuk baginya.
🌷
Almer berdiri tepat dihadapan Indri dan meminta Indri untuk segera masuk ke dalam kabin pesawat.
“Kakek, apakah Kakek benar-benar mengirim aku ke Singapura? Tidak bisakah Kakek memaafkan aku? Melinda saja memaafkan aku, kenapa Kakek tidak?” tanya Indri yang berharap agar keputusan Almer untuk mengirimnya ke Singapura dibatalkan.
“Perkataan saya yang sebelumnya sudah sangat jelas. Sekarang masuklah!” perintah Almer.
Indri mencengkram erat koper miliknya dan memutuskan untuk membalas dendam bila saatnya tiba.
Awas saja kamu wanita kampungan. Sekali lagi, kamu menang dan aku kalah. Lihat saja nanti, setelah semuanya selesai, aku akan kembali dan membuat mu menderita berkali-kali lipat. (Batin Indri)
“Cepat pergi!” perintah Almer pada Indri yang malah melamun.
Indri pun pergi dengan dendam yang akan ia tahan sampai dirinya kembali ke Indonesia.
“Rafa, maafkan Kakek. Istrimu ini sungguh keterlaluan dan dengan cara inilah yang bisa Kakek lakukan agar kedepannya istrimu bisa menerima kehadiran adik iparmu,” ucap Almer bermonolog.
Setelah pesawat benar-benar lepas landas, Almer pun bergegas untuk meninggalkan bandara.
Almer berjalan menuju mobil dengan mata berkaca-kaca. Kakek tua itu merindukan sosok almarhum cucu pertamanya yang tak lain adalah kakak kandung dari Raka Arafat.
“Tuan besar, apa kita langsung pulang?” tanya sopir.
“Ya. Kita langsung pulang,” jawab Almer singkat sembari menata ruang dihatinya agar tidak larut dalam kesedihan.
Saat Almer tengah menoleh ke arah luar jendela, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
Almer yang sebelumnya nampak sedih, tiba-tiba tersenyum dengan penuh semangat dan tak sabar ingin segera tiba di rumah.
“Kenapa baru terpikirkan sekarang?” tanya Almer.
“Iya, Tuan besar,” ujar Sang sopir mengira bahwa Almer tengah mengajaknya berbicara.
“Aku tidak bicara padamu,” sahut Almer dan kembali tersenyum lebar.
__ADS_1
Mungkin dengan cara ini, hubungan keduanya bisa semakin membuahkan hasil. (Batin Almer)