Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 81


__ADS_3

Almer tertawa melihat ekspresi wajah cucunya yang terlihat sangat khawatir.


“Kakek, Raka sedang tidak bercanda,” ucap Raka ketika melihat Kakeknya yang malah tertawa.


“Iya, Kakek tahu kalau kamu tidak sedang bercanda. Baiklah, Kakek akan segera makan dan minum obat,” tutur Almer.


Raka mengangguk setuju dan sangat berharap bahwa Sang Kakek bisa segera sembuh.


“Ya sudah, Raka dan Melinda mau kembali ke kamar,” ujar Raka yang ingin kembali beristirahat bersama istrinya, Melinda.


“Pergilah sana, kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan Kakek. Kakek akan segera membatalkan puasa dan setelah itu minum obat,” pungkas Almer.


Melinda pun melenggang pergi sembari mendorong kursi roda suaminya untuk segera kembali ke kamar mereka.


Sebelum memasuki lift, Raka meminta para pelayan agar menyiapkan makanan untuk Sang Kakek. Para pelayan pun mengiyakan dengan kompak permintaan dari Tuan Muda mereka itu.


“Mas Raka, menu berbuka puasa Mas Raka ingin makan apa?” tanya Melinda sebagai bentuk perhatiannya kepada Sang suami.


“Apa kamu ingin memasak makanan untukku?” tanya Raka memastikan dan terlihat sangat senang mendapat pertanyaan dari istrinya itu.


Melinda mengangguk dengan malu-malu sembari membantu suaminya naik ke tempat tidur.


“Apapun yang kamu masak, aku pasti akan memakannya,” jawab Raka yang tidak ingin merepotkan istrinya untuk menyiapkan menu berbuka puasa.


Melinda tertawa kecil dan cepat-cepat memalingkan wajahnya yang terasa panas karena jawaban dari suaminya yang membuat perasaannya teramat bahagia.


“Ada apa?” tanya Raka karena istrinya tiba-tiba memalingkan wajah.


Melinda menoleh ke arah suaminya dengan senyum manisnya.


“Iya, Mas Raka,” sahut Melinda sembari menahan diri untuk tidak terlihat aneh dihadapan suaminya.


“Kamu baik-baik saja? Apakah tubuhku bau?” tanya Raka yang tak tenang ketika mengingat bagaimana Melinda memalingkan wajah darinya.


Melinda menggelengkan kepalanya sembari menggerakkan tangannya berulang kali.


“Tidak, Mas Raka. Tubuh Mas Raka sangat wangi, sampai-sampai saya tidak ingin jauh dari Mas Raka,” pungkas Melinda.


Melinda keceplosan bicara dan segera menutup mulutnya rapat-rapat. Sementara Raka terlihat sangat terkejut sekaligus bangga dengan tubuhnya yang harum setelah mendapatkan pujian dari istrinya.

__ADS_1


“Apakah benar bau tubuhku harum?” tanya Raka memastikan kembali atas apa yang dikatakan Melinda.


Melinda mengangguk malu-malu dan memutuskan untuk segera keluar dari kamar.


Raka tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang malu-malu.


Melinda berlari hingga sampai area kolam renang. Melinda mendaratkan bokongnya di kursi sembari menyentuh dadanya yang berdebar-debar lebih kencang dari biasanya.


“Ya ampun, kenapa Mas Raka terlihat semakin tampan?” tanya Melinda bermonolog.


Wanita muda itu semakin jatuh cinta dengan sosok suaminya. Rasanya, Melinda ingin berlari menghampiri suaminya dan mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Sang suami.


“Nona Muda sedang apa disini?” tanya salah satu pelayan ketika melihat Melinda sedang duduk seorang diri sembari tersenyum lebar yang entah tersenyum kepada siapa.


Melinda terkesiap ketika mendengar salah satu pelayan bertanya padanya.


“Saya sedang ingin duduk-duduk disini, Mbak,” jawab Melinda.


“Nona Muda, sepertinya Tuan Muda tadi mencari Anda,” tutur pelayan.


“Mas Raka mencari saya? Apakah Mas Raka keluar dari kamar?” tanya Melinda penasaran.


Mas Raka mencari ku? Sebaiknya aku segera pergi ke kamar. (Batin Melinda)


Melinda beranjak dari duduknya dan memutuskan untuk kembali ke kamar. Setibanya di kamar, ternyata Sang suami sudah terlelap. Melinda yang juga mengantuk akhirnya memilih untuk tidur di ranjang yang sudah menjadi milik bersama.


🌷


Sore hari.


Melinda tengah sibuk bersama para pelayan di dapur untuk menyiapkan menu berbuka puasa. Terlihat jelas, bahwa Melinda begitu semangat memasak makanan seakan-akan dirinya tidak sedang berpuasa.


Jiwa semangat Melinda berkobar-kobar ketika memasak makanan yang tentu saja akan dinikmati oleh suami, Kakek dari suaminya serta yang lainnya, yang bekerja di rumah tersebut.


“Nona Muda, untuk es campur buah-buahannya apa saja?” tanya salah satu pelayan yang sedang memotong-motong buah naga untuk dijadikan minuman es campur.


“Apa saja, Mbak. Seperti biasanya juga tidak apa-apa,” jawab Melinda dengan senyum manisnya.


Disaat yang bersamaan, ternyata Raka sedang memperhatikan istrinya yang tengah sibuk di dapur. Kedatangan Raka saat itu sama sekali tidak diketahui oleh Melinda maupun para pelayan.

__ADS_1


Melinda tak sengaja menoleh ke arah dimana suaminya sedang memerhatikan dirinya.


“Mas Raka!” Melinda seketika itu menghampiri suaminya yang datang bersama dengan asisten pribadi suaminya, Reza.


“Lanjutkan saja, aku hanya lewat dan tidak sengaja melihat kamu,” ucap Raka yang tentu saja ucapannya hanya alasan baginya untuk bisa melihat Melinda yang sedang sibuk di dapur.


“Benarkah?” tanya Melinda terheran-heran.


“Tentu saja, apa kamu tidak percaya padaku?” tanya Raka.


Melinda menganggukkan kepalanya berulang kali, tanda bahwa dirinya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raka padanya.


Karena Melinda sudah percaya padanya, Raka pun meminta Reza untuk membawanya keluar menikmati udara di sore hari.


Melinda tersenyum manis manakala suaminya perlahan pergi meninggalkan dapur bersama dengan Reza.


“Sebaiknya aku melanjutkan lagi pekerjaanku,” ucap Melinda bermonolog.


Raka dan Reza telah tiba di taman pekarangan depan rumah yang cukup luas dengan tanaman hias yang tentu saja harganya diatas rata-rata.


“Apa Tuan Muda tidak ingin mengatakan perasaan Tuan Muda kepada Nona Muda?” tanya Reza penasaran.


“Bicara apa kamu? Jangan lagi-lagi menanyakan hal mengenai perasaanku untuk Melinda. Lagipula, aku butuh waktu yang tepat untuk menyatakan rasa cintaku padanya,” pungkas Raka yang terlihat sangat mencintai istrinya, Melinda.


“Maafkan saya, Tuan Muda. Akan tetapi, saya melakukan hal ini karena sepertinya Nona Muda juga tertarik dengan Tuan Muda,” ujar Reza apa adanya.


“Benarkah?” tanya Raka memastikan dan terlihat sangat senang ketika mendengar apa yang Reza katakan.


“Saya tidak bisa memberi jawaban yang pasti. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang saya, sepertiga Nona Muda juga tertarik dengan Tuan Muda,” jawab Reza dari sudut pandangnya.


“Jawabanmu sama sekali tak membuatku puas. Sudahlah, lupakan saja. Mana mungkin Melinda tertarik dengan pria sepertiku?”


Raka terlihat sedang berpikir keras dan membuat Reza penasaran dengan apa yang sedang Tuan Mudanya pikirkan.


Raka diam melamun dan entah apa yang ia pikirkan. Saat itu juga Raka mencoba untuk tidak memikirkan hal yang menurutnya tidak penting. Kemudian, Raka meminta Reza untuk kembali membawanya masuk ke dalam rumah.


Reza mengiyakan dengan patuh dan saat itu juga membawa Tuan Mudanya masuk ke dalam rumah.


Apa aku harus secepatnya menyatakan perasaanku pada Melinda? Akan tetapi, apakah Melinda akan membalas rasa cintaku untuknya? Ah, aku rasanya hampir gila bila memikirkan semua ini. (Batin Raka)

__ADS_1


__ADS_2