
“Kak Raka, aku sangat berterima kasih atas hidangan ini. Maaf, aku datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Ngomong-ngomong, Kakek Almer mana?” tanya Eko menanyakan keberadaan Sang Kakek.
“Kakek masih ada urusan, mungkin beberapa jam lagi Kakek akan pulang. Kamu tunggulah sampai Kakek pulang,” ujar Raka.
“Kak Raka tenang saja, aku pasti akan menunggu kedatangan Kakek,” sahut Eko.
Mereka bertiga akhirnya menikmati makan siang bersama di ruang makan.
Disaat yang bersamaan, Indri menangis terharu karena akhirnya ia menginjakkan kaki di Jakarta. Setelah cukup lama dan setengah tahun lebih dirinya di Singapura, akhirnya ia bisa kembali ke Indonesia tanpa sepengetahuan dari Almer, Kakek dari almarhum suaminya yaitu, Rafa Arafat.
“Akhirnya aku bisa menghirup udara Jakarta yang cukup panas ini. Sekarang, lebih baik aku mencari hotel untuk menginap beberapa hari ke depan. Setelah dirasa cukup aman, aku akan kembali mengambil hak ku sebagai istri dari suaminya, Rafa Arafat,” ucap Indri dan bergegas mencari taksi untuk membawanya ke hotel terdekat.
Indri tersenyum lebar dengan penuh kemenangan. Ia melambaikan tangannya ke arah taksi yang melaju ke arahnya.
“Pak, bawa saya ke hotel terdekat!” perintah Indri.
Indri masuk ke dalam taksi tersebut sembari tertawa karena tak sabar ingin menendang Melinda jauh-jauh dari kediaman keluarga Arafat.
Sore hari.
Almer baru saja tiba setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Almer tersenyum lebar manakala melihat Cucu dari adik kandungnya yang kini menetap di Singapura.
“Kakek, apa kabar?” Eko berlari kecil dan memeluk erat tubuh Sang Kakek dengan penuh semangat.
“Uhuk... Uhuk....” Almer terbatuk-batuk karena pelukan erat dari Eko.
Eko refleks melepaskan pelukannya dan meminta maaf berulang kali karena pelukannya yang terlalu bersemangat.
“Tenanglah, Kakek tidak apa-apa. Oya, kamu kesini datang hanya sendiri? Apakah orang tuamu dan Kakek mu tidak ikut bersama mu?” tanya Almer penasaran.
“Maaf menyela pembicaraan, lebih enak kalau kita duduk, Kek,” ucap Melinda dengan sangat sopan.
“Maaf, Kakek terlalu senang melihat Eko. Ayo, kita ke ruang keluarga,” ajak Almer menuju ruang keluarga.
Melinda tersenyum manis dan membawa suaminya menuju ruang keluarga dengan kursi roda yang terus diduduki oleh Raka Arafat.
Sesampainya di ruang keluarga, Melinda memilih duduk berdekatan dengan Sang suami. Sementara Eko dan Sang Kakek duduk di sofa yang sama.
__ADS_1
Raka, Eko dan Sang Kakek berbincang-bincang dengan begitu seru. Sementara Melinda, memilih menjadi pendengar yang baik bagi ketiganya.
Ya Allah, semoga suasana damai seperti ini selalu menyelimuti keluarga kami. (Batin Melinda)
Melinda tak sengaja meneteskan air mata, tentu saja itu adalah air mata bahagia yang tak terhingga.
Disaat yang bersamaan, Raka melihat tetesan air mata istrinya.
“Ada apa, istriku?” tanya Raka sembari menyentuh pipi Melinda yang masih basah karena air mata.
“Mas Raka, saya tidak apa-apa,” jawab Melinda.
“Tidak. Kamu sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, aku melihatmu menangis,” ucap Raka yang nampak sangat khawatir ketika mengetahui bahwa Melinda baru saja meneteskan air mata.
Eko dan Almer nampak bingung karena ucapan Raka.
“Mas Raka, saya tidak kenapa-kenapa. Saya menangis karena saya terharu bisa berada disini bersama dengan Mas Raka, Kakek dan ditambah dengan kehadiran Eko,” jawab Melinda.
Raka, Almer dan juga Eko seketika itu menghela napas panjang. Mereka hampir saja berpikir yang tidak-tidak karena Melinda menangis.
Setelah melaksanakan sholat isya, Eko memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Dikarenakan, Eko harus kembali ke hotel tempat dia menginap.
Raka dan Sang Kakek mencoba membujuk Eko untuk menginap di rumah. Akan tetapi, Eko menolaknya secara halus. Akhirnya, Raka dan Almer hanya bisa mengiyakan keinginan Eko untuk tidur di hotel.
Melinda sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada saudara sepupu Sang suami. Melinda bahkan memberikan beberapa cemilan yang sebelumnya ia beli dan dengan senang hati Eko menerima cemilan pemberian dari Melinda untuknya.
Setelah Eko pergi, Almer memutuskan untuk segera beristirahat. Begitu juga dengan Raka dan Melinda yang bergegas pergi menuju kamar tidur mereka.
“Ada apa, sayang?” tanya Raka yang saat itu tengah menyentuh dadanya dengan ekspresi kebingungan.
Melinda tidak langsung menjawab, wanita muda itu terlebih dahulu menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
“Sayang, entah kenapa perasaan saya tidak nyaman. Seperti ada yang mengganjal,” ucap Melinda.
“Sayang, maksudnya mengganjal bagaimana? Ayo kita tidur, besok ada banyak tugas dan pekerjaan yang menanti kita,” ajak Raka agar segera beristirahat untuk mengumpulkan tenaga di esok harinya.
Disaat yang bersamaan, Almer baru saja merebahkan tubuhnya dan mendapat pesan entah dari siapa.
__ADS_1
Almer hanya menoleh sekilas ke arah ponselnya yang baru saja berbunyi. Tanpa pikir panjang, Almer pun memilih untuk mengabaikan pesan tersebut dan akan membacanya pada waktu esok pagi.
“Aku yang sudah tua begini harus banyak istirahat,” ucap Almer dan menarik selimutnya pelan-pelan untuk menutupi tubuhnya yang dingin.
Almer mengangkat tangannya dan perlahan membaca do'a sebelum tidur.
Usai membaca do'a sebelum tidur, Almer pun memejamkan matanya untuk menyambut hari esok yang lebih cerah dari hari sebelumnya.
🌷
Melinda menatap derasnya air hujan yang membasahi bumi dari jendela kamar tidur.
Melinda tiba-tiba teringat dengan sosok Ibu dan juga Sang Ayah telah tenang di Surga Allah. Kenangan yang sampai kapanpun akan selalu diingat dan juga di kenang oleh Melinda Anandi.
“Sayang, kenapa melamun sambil melihat hujan?” tanya Raka memergoki Sang istri yang tengah melamun sembari memperhatikan derasnya air hujan yang membasahi bumi tercinta.
“Mas Raka sayang, saya tidak sedang melamun,” jawab Raka mengelak pertanyaan dari suaminya.
“Aku suamimu, sayang. Tidak mungkin aku salah tebak,” tutur Raka yang yakin benar kalau Sang istri beberapa menit lalu sedang melamun.
Melinda tersenyum dan membawanya suaminya untuk naik ke tempat tidur.
“Sayang, kita tidur lagi yuk,” ajak Melinda yang sangat ingin tidur di Chaca yang dingin seperti itu.
“Kenapa? Istriku mau tidur lagi? Masih mengantuk?” tanya Raka yang masih berada di kursi roda miliknya.
“Sebenarnya tidak mengantuk. Hanya saja, sepertinya enak kalau kita selimutan,” jawab Melinda yang sama sekali tidak mengantuk.
“Bagaimana, kalau kita makan ramen?” tanya Raka barangkali Sang istri ingin makan ramen.
“Ramen? Sayang mau ramen?” tanya Melinda.
“Iya, kamu mau tidak?” tanya Raka dan berharap Sang istri ingin menikmati ramen seperti yang Raka inginkan.
Melinda dengan semangat mengiyakan dan bergegas keluar dari kamar untuk meminta pelayan membuat ramen dua porsi. Untuknya dan untuk Sang suami tercinta.
Dasar istriku ini, sudah baik, lucu, menggemaskan, cantik pula. (Batin Raka)
__ADS_1