
Malam hari.
Melinda tersenyum lebar sembari bercermin dengan terus memperhatikan perutnya yang masih rata. Melinda tak sabar melihat bayi mungilnya yang berada di dalam kandungan.
“Sudah siap sayangku?” tanya Raka kepada istrinya.
“Sudah, sayang. Ayo waktunya kita berangkat!” seru Melinda.
Melinda merangkul tangan suaminya dan melenggang pergi meninggalkan kamar.
Baru saja keluar dari lift, Kakek Almer telah menyambut keduanya yang akan berangkat ke rumah sakit.
“Kalian sudah siap?” tanya Almer kepada keduanya.
“Sudah, Kakek. Kami berdua tidak sabar ingin melihat bayi kami, kalaupun tidak kembar juga tidak masalah,” jawab Raka dengan sangat santai.
“Ya sudah, kalian hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam,” ujar Almer yang tak sabar ingin mengetahui kabar selanjutnya dari sepasang suami istri tersebut.
“Kakek, kami berdua pamit. Assalamu'alaikum,” ucap Raka dan juga Melinda.
Keduanya bergegas pergi menuju depan rumah karena sudah ada Reza yang menunggu mereka berdua.
“Tuan Muda dan Nona Muda, sekali lagi selamat,” ucap Reza memberi selamat kepada keduanya.
“Terima kasih, Mas Reza,” balas Melinda.
Raka hanya membalas ucapan selamat dari Reza dengan anggukan kecil.
Keduanya bergegas masuk ke dalam dan seketika itu juga Reza menyalakan mesin mobil menuju rumah sakit.
🌷
Setibanya di rumah sakit, Raka dan Melinda tersenyum lebar. Kemudian, ada seorang perawat yang mendatangi keduanya.
“Nona Melinda dan Tuan Raka?” tanya perawat itu.
“Iya, apakah anda yang dikirim oleh Dokter Farah?” tanya Raka.
“Iya, benar. Mari saya antar ke ruang Dokter Farah!” ajak perawat itu.
Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya berada di sebuah ruangan yang cukup besar. Dokter wanita yang sebelumnya memeriksa kehamilan Melinda menyapa Melinda dengan hangat.
“Apa kabar Nona Melinda? Apakah anda masih mengalami mual-mual?”
“Iya, Dok. Apakah itu tidak masalah?” tanya Melinda.
Dokter itu tertawa kecil dan mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
“Sama sekali tidak masalah, Nona Melinda. Mual, pusing ataupun perasaan yang sering berubah-ubah itu sangat wajar dialami oleh setiap Ibu hamil,” terang Dokter Farah.
Melinda menoleh ke arah suaminya yang duduk disampingnya.
“Ayo Nona Muda, silakan rebahan disini. Sepertinya Nona Melinda dan Tuan Raka tak sabar ingin melihat janin dalam perut,” tutur Dokter Farah meminta Melinda berbaring untuk melakukan USG.
Melinda beranjak dari duduknya begitu juga dengan Raka. Perlahan, Melinda berbaring dibantu oleh Sang suami tercinta.
“Maaf ya,” ucap Dokter Farah sembari menyibak pakaian yang Melinda kenakan. Kemudian, melumuri perut Melinda dengan gel khusus.
Melinda dan Raka nampak sangat fokus melihat monitor USG.
“Masya Allah, bayinya kembar,” ucap Dokter Farah ketika melihat dua janin di dalam perut Melinda.
Melinda dan Raka melongo melihat layar tersebut.
“Selamat untuk Nona Melinda dan Tuan Raka,” ucap Dokter Farah.
Raka melompat kegirangan dan kemudian memeluk tubuh istrinya dengan semangat. Akhirnya, usaha mereka berhasil juga. Melinda akhirnya mengandung bayi kembar, pewaris dari Raka Arafat.
”Sayang, kita berhasil. Allah akhirnya mewujudkan keinginan kita setelah apa yang kita lakukan selama ini. Tidak sia-sia aku makan tauge, ubi-ubian dan sayur-mayur,” ucap Raka.
Raka tak sabar ingin segera pulang, Kakek Almer harus tahu berita bahagia tersebut.
Disaat yang bersamaan, Kakek Almer belum juga terlelap. Kakek tua itu masih menunggu kedatangan cucu kandung serta cucu menantunya.
“Tuan Besar, sebaiknya Tuan Besar menunggu di dalam saja. Diluar udaranya dingin, Tuan Muda akan marah jika tahu bahwa Tuan Besar meninggalkan diluar rumah,” ucap salah satu pelayan yang bertugas menjaga Almer.
1 jam, 2 jam Raka dan Melinda belum juga kembali. Almer berusaha untuk tetap terjaga, padahal sebenarnya ia sangat mengantuk.
Berulang kali, Kakek tua itu menguap karena mengantuk selama menunggu kedatangan keduanya.
“Tuan Besar, mari saya antar ke kamar. Tuan Besar harus segera tidur,” ucap pelayan.
Almer ingin menolak, tetapi ia juga sangat ingin tidur. Walaupun hanya sebentar saja.
“Baiklah,” ucap Almer yang akhirnya memutuskan untuk segera beristirahat.
Almer masuk ke dalam kamar, ia berbaring dan tak butuh waktu lama Kakek tua itupun terlelap.
Sekitar 10 menit kemudian, Raka dan Melinda akhirnya tiba di rumah.
“Bibi, Kakek kemana?” tanya Raka menanyakan keberadaan Sang Kakek.
“Tuan Besar sudah tidur di kamar. Apakah harus saya bangunkan, Tuan Muda?” tanya Pelayan.
“Tidak usah, Bi. Biarkan Kakek tidur, Kakek juga harus beristirahat,” balas Raka.
__ADS_1
Raka merangkul pinggang Melinda dan membawa Sang istri masuk ke dalam rumah. Berulang kali Raka mengelus lembut perut datar istrinya yang berisi calon buah hati kembar milik mereka berdua.
“Sayang, jangan disini. Malu dilihat yang lain,” bisik Melinda.
Raka tertawa kecil sembari masuk ke dalam lift.
“Sayang, kok tiba-tiba mau makan martabak telur ya?” tanya Melinda.
Raka tersenyum lebar dengan santainya ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asisten pribadinya.
“Tenang sayang, ada Reza yang akan membelikan martabak telur untuk istriku,” ucap Raka dengan santai.
“Sayang, sebenarnya suamiku ini kamu apa Mas Reza?” tanya Melinda yang ingin sekali bila suaminya lah yang membeli martabak telur dan bukannya Reza.
“Ya tentu saja aku, sayang. Jadi, istriku ingin aku yang pergi membeli martabak telur?” tanya Raka.
“Iya sayang,” balas Melinda.
Raka mengiyakan dan membawa istrinya masuk ke dalam terlebih dahulu.
“Istriku tetap di dalam kamar ya, suamimu akan pergi membeli martabak telur,” tutur Raka.
Raka mengecup bibir istrinya dan kemudian, mengecup perut yang masih rata berisi calon buah hati kembar mereka.
“Sayang, aku berangkat dulu ya. Kalian berdua jangan nakal, jangan buat istriku mual-mual lagi,” ucap Raka kepada janin di dalam perut Sang istri.
“Sayang, jangan bicara seperti itu. Mereka tentu saja anak-anak yang baik, tidak seperti Ayahnya,” tutur Melinda meledek suaminya.
Raka tertawa kecil mendengar penuturan istrinya.
“Ayo sayang, cepat pergi lagi,” pinta Melinda agar suaminya segera pergi membeli martabak telur keinginannya.
“Iya sayang, aku berangkat ya. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Melinda.
Raka berlari kecil keluar dari kamar dan bergegas masuk ke dalam lift. Untungnya saja, Reza belum pulang dan sedang bersantai sembari menyesap secangkir kopi.
“Reza, kamu sedang apa? Ayo antar aku membeli martabak telur!” perintah Raka.
Reza menutup cangkir kopi miliknya dengan piring kecil dan bergegas masuk ke dalam mobil untuk mengantar Tuan Mudanya membeli martabak telur.
“Nona Muda lagi mau martabak telur ya Tuan Muda?” tanya Reza basa-basi.
“Iya, maka dari itu untuk beberapa hari ke depan kamu harus menginap di rumah,” tegas Raka.
“Asal uangnya ditambah ya Tuan Muda,” celetuk Reza.
__ADS_1
“Kalau soal itu gampang, bukankah aku selalu memberikan bonus kepada mu?”
“Iya Tuan Muda, terima kasih,” ucap Reza dengan tersenyum lebar.