Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 141


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Raka dan Melinda tersenyum lepas setelah mendengar keputusan bahwa Indri akhirnya mendekam di penjara atas apa yang telah ia lakukan kepada Melinda Anandi. Sementara para teman Indri, hanya dikenakan sangsi wajib lapor.


“Terima kasih, sayang.” Melinda tersenyum lepas dan kemudian, meneteskan air mata bahagia.


Apa yang telah Indri tanam tentu saja harus ia tuai sendiri.


“Sayang, sekarang tidak ada lagi yang mengganggumu ataupun mengganggu keluarga kita. Sekarang, kita harus fokus dengan penyembuhan Kakek dan keturunan kita,” tutur Raka yang ingin segera memiliki buah hati bersama Sang istri.


Melinda mengangguk setuju dan Raka pun mengajak istrinya untuk segera meninggalkan teman tersebut.


Indri berteriak dengan penuh kekesalan, wanita itu marah karena hidupnya berakhir dipenjara.


Raka maupun Melinda mengabaikan perkataan Indri. Bagi mereka, teriakan Indri hanyalah suara anjing yang menggonggong.


“Reza, antar kami pulang!” perintah Raka.


“Baik, Tuan Muda!” seru Reza dan bergegas mengemudikan mobil menuju kediaman keluarga Arafat.


“Sayang, aku hampir saja lupa kalau sore nanti waktunya Kakek untuk kontrol,” ujar Melinda kepada Sang suami.


“Iya sayang, tenang saja karena suamimu ini ingat,” balas Raka.


Melinda bernapas lega dan menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Raka tersenyum dan mengecup kening istrinya dengan mesra.


“Sayang, bagaimana kalau besok lusa kita ke rumah sakit? Maksudku kita menjalani program bayi kembar?” tanya Raka.


Melinda mengernyitkan keningnya dan menutup mulutnya suaminya dengan telapak tangannya.


“Sayang, kita bahas di rumah saja ya. Tidak enak di dengar oleh Mas Reza,” bisik Melinda.


Raka mengangguk setuju dan saat itu juga Melinda menjauhkan tangannya dari mulut Raka.


Reza tersenyum kecil, ia berharap bahwa sepasang suami istri itu segera mempunyai momongan yang sangat menggemaskan.


🌷


Merekapun tiba dan Raka meminta Reza untuk kembali ke rumahnya sendiri. Raka ingin asisten pribadinya itu berisitirahat karena beberapa hari terakhir ini Reza selalu tidak memiliki waktu untuk istirahat karena mengantarkan Tuan Muda serta Nona Mudanya kesana-kemari mengurus kasus Indri yang telah menyebarkan fitnah serta melakukan kekerasan fisik terhadap Melinda Anandi.


“Baik, Tuan Muda. Saya permisi,” ujar Reza dan kembali masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumahnya sendiri.

__ADS_1


Raka merangkul pinggang istrinya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Kedatangan keduanya disambut hangat oleh para pelayan dan juga para bodyguard.


“Mbak, Kakek sudah makan siang dan minum obat?” tanya Melinda.


“Alhamdulillah sudah, Nona Muda. Sekarang Tuan Besar tengah tidur,” jawabnya.


“Syukurlah, terima kasih ya Mbak karena sudah merawat Kakek dengan baik,” ucap Melinda.


Raka pun mengucapkan terima kasih dan mengajak istrinya untuk segera masuk ke dalam kamar. Raka tak sabar ingin membahas perihal buah hati mereka.


Di dalam kamar, Raka melepaskan kemeja yang ia kenakan dan sengaja bertelanjang dada memamerkan perutnya yang sixpack kepada Sang istri.


Melinda tertawa geli melihat kedua alis mata milik suaminya naik turun.


“Sayang, mau makan tidak?” tanya Melinda sembari meletakkan kemeja yang sebelumnya dikenakan oleh suaminya ke dalam keranjang khusus pakaian kotor.


“Tidak sayang, aku masih kenyang. Apakah kamu ingin makan siang, sayangku?” tanya Raka.


“Aku juga masih kenyang, sayang,” balas Melinda.


“Karena kita tadi sudah sholat di masjid, ayo waktunya kita tidur siang!” ajak Raka dan menguasai tempat tidur lebih dulu.


“Sebentar ya sayang, aku mau ke kamar mandi dulu. Nanti aku akan menyusul,” balas Melinda.


Setelah keluar dari kamar mandi, Melinda memanyunkan bibirnya yang cukup bengkak karena ulah suaminya.


“Sayang, aku minta maaf,” ucap Raka karena menciumi bibir Melinda dengan penuh gairah.


Melinda hanya diam dan naik ke tempat tidur tanpa menoleh ke arah suaminya.


Raka pun menyusul dan memeluk istrinya dengan erat.


“Maaf ya sayang,” ucap Raka sekali lagi.


Melinda tersenyum kecil dan pada akhirnya tertawa lepas ketika melihat ekspresi wajah bersalah suaminya.


“Sayang, kalau mau cium itu jangan di kamar mandi,” pungkas Melinda.


“Iya sayang, tidak lagi-lagi deh. Ayo tidur, nanti jam setengah 3 kita bangun dan jam 4 kita pergi mengantarkan Kakek kontrol,” tandas Raka.


Merekapun langsung memejamkan mata untuk segera tertidur dengan posisi menghadap ke kanan dan Raka yang memeluk istrinya dari samping dengan cukup erat.

__ADS_1


2 jam kemudian.


Melinda terbangun dari tidurnya dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saat itu juga, Melinda membangunkan suaminya dan tak butuh waktu lama Raka akhirnya terbangun. Akan tetapi, Raka masih ingin memeluk tubuh istrinya.


“Jangan bergerak sayang, diamlah seperti ini sebentar saja!” pinta Raka.


Melinda mengiyakan dengan patuh dan membiarkan suaminya memeluk tubuhnya.


Kruyuk! Kruyuk! Tiba perut Melinda berbunyi dan membuat Raka terkejut.


“Apakah istriku sudah lapar?” tanya Raka sembari menoleh ke arah perut Melinda.


Melinda dengan malu-malu mengiyakan bahwa dirinya lapar dan ingin makan sesuatu untuk mengisi perutnya itu.


“Ayo, kita ke bawah. Aku juga sudah lapar, istriku sayang,” ucap Raka mengajak istrinya untuk segera pergi ke ruang makan.


Raka terlebih dulu mengenakan pakaian santainya begitu juga dengan Melinda. Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah mereka agar terlihat segar.


Sebelum pergi ke ruang makan, Raka dan Melinda terlebih dulu menemui Kakek Almer yang ternyata sedang berada di ruang keluarga seorang diri.


“Kakek sedang apa disini sendirian?” tanya Raka dan duduk tepat disamping Kakeknya itu.


Melinda tersenyum dan duduk disamping Sang suami tercinta.


“Kakek sedang menonton televisi, kalian pasti lapar. Kakek sudah bilang ke bibi untuk menyiapkan makan buat kalian berdua,” tutur Almer.


“Haa? Kakek tahu darimana kalau kita lapar?” tanya Raka terheran-heran.


Melinda pun ikut terheran-heran dengan apa yang Kakek Almer katakan.


“Kakek memiliki insting yang cukup tajam, sekarang kalian lebih baik makan sana!”


“Kakek mau ikut makan bersama kami?” tanya Melinda.


“Kakek nanti saja cucu menantu, Kakek masih kenyang. Kalian lebih baik makan sekarang,” balas Almer menoleh ke arah Melinda.


Saat itu juga mereka berdua pamit untuk mengisi perut mereka yang cukup lapar.


Ketika mereka berdua tengah berjalan menuju ruang makan, Raka tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Melinda sedikit heran dengan tingkah suaminya.


“Ada apa sayang?“ tanya Melinda.

__ADS_1


“Sayang, seharusnya kita di kamar tadi membahas calon bayi kita,” jawab Raka yang ingin sekali membahas masalah momongan bersama Sang istri tercinta.


“Sssuttss, sayang jangan terlalu keras kalau bicara. Bagaimana jika ada yang mendengar? Ayo lebih baik kita makan dulu,” ujar Melinda dengan suara yang sangat lirih agar tidak didengar yang lain.


__ADS_2