Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 78


__ADS_3

Melinda dan Raka akhirnya kembali untuk menginap di rumah keluarga Melinda. Dina dan Katty terlihat tak senang dengan kedatangan sepasang suami istri tersebut.


Dina bahkan tidak menyapa maupun menyambut kedatangan keduanya di rumah itu.


Raka ingin sekali marah dan juga protes dengan apa yang dilakukan oleh Dina. Akan tetapi, Raka berusaha keras untuk tidak memperparah keadaan yang akan membuat Melinda sedih.


Melinda menoleh sekilas ke arah suaminya dan berharap suaminya mau sabar untuk menghadapi keluarganya, terlebih lagi menghadapi sikap Dina maupun Katty yang memang kelewat batas.


“Mas Raka mau langsung ke kamar?” tanya Melinda.


“Iya, antarkan aku ke kamar saja. Aku tidak ingin berlama-lama melihat wajah mereka,” pungkas Raka.


“Mas Raka, maafkan keluarga saya ya,” tutur Melinda yang merasa tidak enak dengan suaminya karena sikap keluarganya.


“Kamu untuk apa meminta maaf denganku seperti ini? Lagipula, mereka yang seperti itu dan sangat tidak sopan. Seharusnya mereka lah yang sadar diri,” tegas Raka yang tidak ingin bila istrinya mewakili sikap Dina dan Katty yang sangat tidak sopan.


Melinda tersenyum dan menyentuh dada suaminya dengan maksud agar kekesalan suaminya segera hilang.


“Kita sedang puasa, Mas Raka,” tutur Melinda dengan senyum teduhnya.


Melihat senyum Melinda, seketika itu juga rasa kesal dan amarah Raka hilang begitu saja.


“Terima kasih sudah menjadi obat untukku,” pungkas Raka pada Melinda.


Melinda tersipu malu dan bergegas membawa suaminya masuk ke dalam kamar.


Dina dan Katty tengah di kamar. Mereka berdua sedang membicarakan pasangan suami istri yang akan menginap di rumah itu selama semalam.


“Mama, bagaimana ini? Aku tidak ingin Melinda dan juga suaminya yang lumpuh itu tidur di rumah ini,” ucap Katty yang tak Sudi dengan Melinda dan juga Raka yang akan menginap di rumah itu.


“Mama juga tidak senang, Katty sayang. Mama ingin mereka keluar dari rumah ini,” pungkas Dina pada putri kesayangannya.


🌷

__ADS_1


Malam hari.


Setelah melaksanakan sholat isya, Melinda maupun Raka memilih untuk berada di dalam kamar.


“Mas Raka ingin saya buatkan kopi?” tanya Melinda menawarkan kopi untuk suaminya, barangkali Sang suami ingin menikmati kopi.


“Boleh, asal tidak merepotkan kamu,” jawab Raka yang tidak ingin merepotkan istrinya.


Melinda tertawa kecil mendengar apa yang suaminya katakan.


“Membuat kopi sama sekali tidak merepotkan, Mas Raka. Justru saya senang bisa melayani Mas Raka,” terang Melinda dan tersenyum semanis mungkin.


Raka menjadi salah tingkah ketika melihat senyum manis istrinya.


Kenapa Melinda selalu tersenyum seperti ini? Perasaan sayang dan cintaku untuknya kalau seperti ini terus, akan terus-menerus bertambah. (Batin Raka)


Melinda pun keluar dari kamar dan seketika itu juga Katty menghampiri Melinda yang tengah berjalan menuju dapur.


Melinda tak terima dengan apa yang Katty katakan mengenai suaminya.


“Cukup. Aku masih diam ketika kamu menghujat, mencemooh ku bahkan mengatakan hal-hal buruk tentangku. Akan tetapi, jangan sekali-kali kamu menghina suamiku,” tegas Melinda sembari mencengkram erat tangan Katty yang sebelumnya menunjuk-nunjuk kepalanya dengan sangat tidak sopan.


Katty terkejut melihat Melinda yang merespon dengan cukup berani. Karena kesal dengan respon dari Melinda, Katty saat itu juga menjambak rambut Melinda dengan cukup keras. Melinda tak tahan dengan sikap Katty yang begitu kasar, Melinda akhirnya membalas perlakuan Katty dengan cara menjatuhkan Katty.


“Aakkkhh...” Katty terjatuh ke lantai dengan cukup keras.


Dina mendengar suara teriakkan dari putri kesayangannya, Dina pun berlari secepat mungkin dan melihat Katty sudah berada di lantai.


“Katty...” Dina panik dan membantu putri kesayangannya bangkit.


“Mama, Melinda mendorongku,” ucap Katty dan menangis histeris, seakan-akan ia adalah korban dari Melinda.


Saat Melinda ingin menjelaskan apa yang terjadi, Dina malah menampar putri tirinya dengan cukup keras. Kebetulan, kejadian itu dilihat langsung oleh Raka.

__ADS_1


“Hei!” Raka berteriak ketika melihat istrinya baru saja ditampar oleh Dina.


Suami mana yang diam saja ketika melihat istrinya disakiti terlebih lagi di tampar di depan mata si suami.


“Tuan Raka, saya melakukan hal ini karena Melinda telah berbuat kasar terhadap Katty,” terang Dina berusaha membela diri sekaligus membela putri kandungnya.


“Diam!” Raka berteriak meminta Dina untuk diam karena yang ingin Raka dengar adalah penjelasan dari istrinya dan bukan orang lain.


Raka menggerakkan kursi rodanya mendekati Sang istri yang baru saja di tampar oleh Dina.


“Jawab dengan jujur, apa yang sebenarnya terjadi,” pinta Raka pada istrinya.


“Mas Raka akan percaya dengan apa yang saya katakan?” tanya Melinda memastikan.


Raka tersenyum dan menggenggam erat tangan kanan istrinya.


“Tentu saja, aku percaya padamu,” jawab Raka dengan tatapan penuh cinta untuk istrinya.


Melinda tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari suaminya. Ia pun akhirnya menjelaskan apa yang terjadi dan bagaimana Katty memulai permasalahan mereka.


Raka mendengarkan apa yang Melinda katakan dengan sangat serius dan ketika Raka mengetahui bahwa Katty serta Dina lah yang memulainya, Raka pun marah dan mengancam keduanya untuk tidak melakukan hal diluar batas kesabaran seorang Raka Arafat.


“Ini peringatan terakhir untuk kalian. Aku harap kalian tidak akan menjalani ramadhan dan lebaran nanti dipenjara. Atau begini saja, bagaimana kalau kalian menjalankan ibadah puasa serta lebaran untuk beberapa tahun ke depan di sel tahanan?” tanya Raka mengatakan dengan sungguh-sungguh apa yang ia katakan.


Dina dan Katty bersimpuh dengan air mata yang telah mengalir deras. Mereka sama sekali tidak ingin melewati idul Fitri bulan ramadhan dan juga lebaran di penjara.


“Tuan Raka, tolong maafkan kami. Kami khilaf dan kami tidak akan melakukan hal seperti tadi lagi,” ucap Dina memohon ampun.


“Apa yang kalian lakukan? Kalian telah membuat istriku menderita dan kamu sebagai seorang ibu, apa pantas menampar seorang putri meskipun wanita ini adalah putri tirimu?” tanya Raka dengan sangat lantang.


Dina dan Katty kompak meminta maaf kepada Melinda yang telah mereka perlakukan dengan sangat tidak adil.


Melihat ibu tirinya dan juga Katty yang bersimpuh dihadapannya dengan terus meminta maaf. Membuat hati Melinda melunak saat itu juga. Akan tetapi, Melinda tidak langsung memaafkan mereka. Melinda meminta mereka untuk berjanji agar hal seperti tadi tidak pernah terjadi lagi dan Melinda juga meminta keduanya untuk memperlakukan dirinya serta Sang suami sebaik mungkin.

__ADS_1


__ADS_2