Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 51


__ADS_3

Pelayan dan juga sopir hanya diam karena bingung harus mengatakan apa. Mereka tak suka dengan sikap Katty yang sangat kasar kepada Melinda.


”Saya minta tolong, masalah ini jangan sampai diketahui oleh Kakek maupun Mas Raka. Saya tidak ingin membuat keluarga saya semakin dibenci oleh Kakek dan Mas Raka,” ucap Melinda.


Mereka berdua dengan kompak mengiyakan. Meskipun, dalam hati mereka tak terima dengan kejadian tersebut.


Melinda melamun memikirkan hidupnya yang terlalu banyak cobaan. Sikap Katty padanya cukup keterlaluan dan berharap kedepannya Katty bisa menghargainya sebagai seorang Kakak perempuan seperti kebanyakan orang pada umumnya.


“Nona Muda, setelah ini Nona Muda ingin pergi kemana?” tanya Sang sopir.


“Langsung pulang saja, Pak,” jawab Melinda dan menghela napasnya yang terasa berat.


Melinda ingin bergegas kembali ke rumah, ia takut bila suaminya tiba di rumah dan dirinya tidak ada.


Sesampainya di rumah, Melinda berlari kecil menuju lift.


Ketika Melinda masuk ke dalam kamar, rupanya Sang suami sudah ada di kamar dan tengah merokok di sofa.


“Mas Raka sudah pulang?” tanya Melinda setengah terkejut.


“Tentu saja, memangnya aku tidak boleh pulang ke rumah? Ngomong-ngomong kamu dari mana?” tanya Raka dingin.


Melinda tersenyum sembari meletakkan barang belanjaannya di atas meja. Kemudian, duduk tepat disamping suaminya.


“Saya habis dari minimarket, Mas Raka. Membeli pembalut, vitamin dan beberapa cemilan,” jawab Melinda.


“Sendirian?” tanya Raka datar.


“Tidak, Mas Raka. Mbak dan Pak sopir juga ikut mengantarkan saya,” jawab Melinda pada suaminya.


Melinda tak sengaja melihat sebuah kotak ponsel di atas nakas.


Karena Melinda sudah melihatnya, Raka pun memberitahukan bahwa dirinya telah membeli ponsel untuk istrinya, Melinda.


“Ambillah, itu ponsel untuk kamu,” ucap Raka tanpa ingin melihat ekspresi wajah Melinda.


“Benarkah? Mas Raka membelikannya untuk saya?” tanya Melinda memastikan sembari berjalan ke arah nakas untuk melihat ponsel barunya.


“Kakek akan marah bila tahu aku telah merusak telepon jelek mu itu. Dan tidak hanya itu, Kakek juga pasti akan marah karena kita sama-sama tidak tukar nomor telepon,” pungkas Raka.


Melinda mengucapkan terima kasih dengan penuh semangat.


“Terima kasih, Mas Raka. Saya sangat senang,” ungkap Melinda memberitahukan perasaannya.


“Eiittsss, kamu jangan senang dulu. Aku tidak memberikan ponsel itu secara cuma-cuma, tentu saja ada syaratnya,” ujar Raka pada Melinda.


“Syarat? Syarat apa Mas Raka?” Melinda nampak bingung.


“Syaratnya adalah setiap kamu ingin pergi wajib lapor padaku,” jawab Raka dan kembali mengisap rokok ditangannya.


“Mas Raka tenang saja, saya akan mematuhi persyaratan dari Mas Raka ini.”


“Baiklah, kalau begitu pijat punggungku sekarang!” perintah Raka.


“Punggung Mas Raka kenapa? Apa perlu saya oleskan minyak?”

__ADS_1


“Aku memintamu memijat punggungku dan bukan mengoleskan minyak ke punggungku,” terang Raka.


“Maaf, Mas Raka. Saya terlalu senang dan juga terlalu bersemangat.”


Saat Melinda ingin memijat punggung suaminya, Raka tiba-tiba memberi isyarat kepada Melinda untuk tetap berdiri menjauh darinya. Melinda yang bingung pun langsung bertanya alasan dari suaminya yang malah menyuruhnya berdiri.


“Ada apa, Mas Raka? Bukankah tadi Mas Raka ingin dipijat?”


“Apa kamu tidak lihat, aku sekarang sedang merokok. Berdirilah disitu sampai rokokku habis,” perintah Raka.


“Baik, Mas Raka,” balas Melinda mematuhi perintah suaminya.


Raka mengisap rokok ditangannya dengan sangat santai dan setelah itu, ia meminta Melinda untuk membawanya ke kamar mandi.


Melinda tanpa pikir panjang, langsung mengiyakan permintaan suaminya dan menuntun suaminya untuk pindah di kursi roda.


“Mau kemana?” tanya Raka ketika Melinda ingin keluar dari kamar mandi.


“Mau keluar, Mas Raka.”


“Siapa yang mengizinkanmu keluar dari sini? Sekarang, bantu aku mencuci kaki dan juga menggosok gigi!” perintah Raka.


Melinda mengiyakan dan melakukan apa yang diperintahkan Raka padanya.


Setelah selesai, Melinda kembali mendorong kursi roda suaminya keluar dari kamar mandi dan membantu suaminya berbaring di tempat tidur.


“Mau apa?” tanya Raka dingin.


“Bukankah tadi Mas Raka ingin punggungnya di pijat?” tanya Melinda yang bersiap-siap untuk memijat punggung suaminya.


“Mas Raka mau buah apa?” tanya Raka yang ingin tahu buah apa yang akan dinikmati oleh suaminya.


“Terserah,” jawab Raka singkat dan memejamkan matanya.


Melinda sangat bingung dengan buah yang diinginkan oleh suaminya.


“Mas Raka tenang saja, saya akan membawakan buah-buahan itu ke kamar,” pungkas Melinda.


Melinda bergegas melenggang pergi keluar dari kamar.


“Ada yang bisa kami bantu, Nona Muda?” tanya salah satu pelayan ketika melihat Melinda yang tengah membuka kulkas dan terlihat sedang mencari sesuatu.


“Mbak, buah-buahannya ditaruh mana ya? Kebetulan Mas Raka sedang ingin makan buah,” tutur Melinda karena tak menemukan buah-buahan di dalam kulkas.


“Nona Muda, buah-buahannya ada disebelah sana!” Pelayan wanita itu menunjuk ke arah meja.


“Kenapa ditaruh disitu?” tanya Melinda sembari kearah buah-buahannya tersebut.


“Sepertinya Nona Muda belum tahu,” ucap pelayan wanita.


“Belum tahu apa ya mbak maksudnya?” tanya Melinda penasaran.


“Setiap hari buah-buahan disini diganti dengan yang baru, Nona Muda. Misal, kalau buah-buahan ini tidak habis ya tentu saja akan kami makan dan kami akan membelinya yang baru.”


“Maksudnya membeli menggunakan uang Mbak?”

__ADS_1


Pelayan itu tertawa sembari geleng-geleng kepala.


“Tentu saja tidak, Nona Muda. Tuan Besar setiap hari memberikan kami uang untuk keperluan di rumah ini. Tuan Besar maupun Tuan Muda selalu mengkonsumsi buah-buahan yang segar,” ungkapnya.


“Benarkah? Kehidupan orang kaya benar-benar berbeda,” tutur Melinda berusaha memahami kehidupan barunya di rumah mewah tersebut.


Melinda menepuk dahinya sendiri dan bergegas memilih buah untuk dinikmati suaminya. Ada 3 macam buah-buahan yang Melinda pilih, yaitu buah Mangga, buah naga dan buah apel.


“Kenapa lama sekali?” tanya Raka pada Melinda yang baru memasuki kamar.


Melinda hanya diam tak menjawab.


“Suami bertanya dan wajib hukumnya bagi istri untuk menjawab,” ucap Raka.


Senyum manis terlihat jelas dibibir Melinda ketika mendengar ucapan Raka.


“Berhenti tersenyum seperti itu! Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak,” ujar Raka yang salah tingkah melihat senyum manis Melinda.


“Mas Raka lucu kalau seperti ini,” tutur Melinda yang sangat senang melihat ekspresi wajah suaminya.


“Kamu kira aku badut? Cepat suapi aku!” perintah Raka.


Melinda tertegun sejenak ketika mendengar perintah Raka. Dengan tangan gemetar, Melinda menyuapi buah-buahan yang sudah ia potong-potong ke dalam mulut suaminya.


“Tanganmu gemetar, apakah kamu gugup menyuapi ku?” tanya Raka datar.


“Bisa dibilang begitu,” jawab Melinda malu-malu.


Raka tertawa lepas melihat ekspresi wajah Melinda yang terlihat sangat bodoh.


Wajah Melinda merah merona dan sebisa mungkin Melinda menutupi dengan tangan kirinya.


“Tidak perlu kamu tutupi, dengan menggunakan lubang sedotan saja aku bisa melihat wajahmu yang memerah itu. Apakah kamu menyukaiku?” tanya Raka penasaran.


Saat Melinda ingin membuka mulutnya, Raka tiba-tiba berbicara hal yang membuat Melinda agak jengkel.


“Mimpi. Mau bagaimanapun kamu bukan tipeku dan yang paling penting aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu,” tegas Raka yang tanpa sadar membuat Melinda menjadi sedih.


Melinda berusaha terlihat baik-baik saja dan berusaha tak terpengaruh dengan apa yang Raka katakan padanya.


“Mas Raka juga bukan tipe saya,” celetuk Melinda.


Raka seketika itu mendongak menatap Melinda dengan penuh amarah.


“Kenapa? Apakah karena aku pria lumpuh?” tanya Raka.


Melinda terkejut sekaligus merasa bersalah. Bukan maksudnya mengatakan hal yang dipikirkan oleh suaminya, Raka.


“Mas Raka salah paham, saya tidak bermaksud seperti itu.”


“Cukup. Aku tidak ingin mendengar penjelasan sampah dari mulutmu. Sekarang lebih baik kamu keluar dari kamar ini!” perintah Raka lantang.


Melinda saat itu juga melenggang pergi menuruti perintah suaminya.


Aku terlalu malu untuk menyatakan perasaanku pada Mas Raka. Seandainya aku memberitahukan perasaanku, sudah pasti Mas Raka akan mengatakan hal buruk mengenai diriku. (Batin Melinda)

__ADS_1


__ADS_2