
Beberapa bulan kemudian.
Hubungan Raka dan Melinda semakin hari semakin membaik. Mereka bahkan tak lagi malu-malu untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing, hal itu membuat Raka semakin yang dengan hubungan sepasang suami istri tersebut.
“Mas Raka, ini vitaminnya,” ucap Melinda dan memasukkan vitamin milik suaminya ke dalam tas.
“Terima kasih, sayang. Aku hampir saja tidak membawa vitamin ini,” ujar Raka.
Raka tidak lagi memanggil istrinya dengan panggilan nama. Panggilan mereka sudah berganti menjadi panggilan “Sayang”
Melinda masih belum terbiasa dengan panggilan “Sayang” di depan orang lain. Akan tetapi, bila mereka hanya berduaan saja, Melinda selalu memanggil suaminya dengan panggilan “Sayang”
“Kakek, kenapa tidak masuk ke dalam mobil? Seharusnya Kakek memberikan waktu untuk Raka dan kesayangan Raka,” ujar Raka yang sedikit protes dengan sikap Kakeknya yang entah kenapa sangat suka mengganggu kebersamaan dirinya bersama dengan Sang istri.
“Kakek hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak akan membuat cucu menantu Kakek sedih,” balas Almer yang tentu saja ucapannya semata-mata gurauan belaka.
“Ayolah, Kakek. Raka sangat mencintai istri Raka ini, apakah sampai sekarang Kakek masih mencurigai hubungan kami ini?” tanya Raka.
“Tidak, tentu saja tidak. Kakek percaya dengan kalian berdua, baiklah kalau begitu. Kakek akan masuk duluan,” pungkas Almer dan perlahan berjalan menuju area depan rumah.
Melinda menggelengkan kepalanya setelah melihat kelakuan suaminya.
“Sayang, jangan bicara kasar seperti itu terhadap Kakek. Kasihan Kakek,” ujar Melinda dengan tatapan sedih.
“Apakah aku tadi berkata kasar terhadap Kakek?” tanya Raka.
Melinda perlahan mengangguk mendapat pertanyaan dari suaminya.
“Baiklah, aku akan minta maaf kepada Kakek,” tutur Raka.
Melinda dan Raka akhirnya berpisah untuk sementara waktu, dikarenakan Raka harus berangkat bekerja.
Melinda mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah dan tak lupa melambaikan tangan ke arah suaminya yang perlahan pergi dengan mobil.
“Mas Raka sudah pergi, sekarang aku harus bersiap-siap untuk menemui Ratna,” ujar Melinda dan bergegas kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa saat kemudian.
Melinda tiba di depan sebuah cafe yang cukup terkenal di kota tersebut.
“Pak, saya akan menemui sahabat saya di dalam cafe. Pak Agus pulang saja,” ujar Melinda pada Sang sopir.
“Tapi, Nona Muda. Bagaimana Nona Muda pulang nanti?” tanya Pak Agus.
“Pak Agus tenang saja, sehabis menemui sahabat saya, saya akan langsung pergi menemui Suami saya, Mas Raka,” jawab Melinda dengan senyum ramahnya.
“Baik, Nona Muda. Saya permisi,” ucap Pak Agus dan perlahan pergi dengan mobil milik Raka Arafat.
Melinda mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum memasuki cafe tersebut. Baru saja melangkah masuk, tiba-tiba dua orang wanita menghalangi jalan masuk Melinda.
__ADS_1
“Hei, kamu Melinda 'kan?” tanya salah satu wanita dari dua wanita dihadapan Melinda.
“Iya, saya Melinda. Kamu tahu saya?” tanya Melinda penasaran.
“Oh, ternyata benar ini kamu. Kok tampilan kamu sekarang beda ya?” tanya wanita yang menggenakan dress putih selutut.
Melinda mulai risih dengan ucapan sekaligus tatapan tak suka dari kedua wanita dihadapannya.
“Melinda!” Ratna cepat-cepat menghampiri sahabatnya dan pasang badan dari dua wanita yang sebelumnya menghadang jalan masuk Melinda.
“Loh, bukankah ini si Ratna ya? Ya ampun, kalian berdua ternyata masih dekat. Tapi, tak masalah. Lagipula, kalian sama-sama orang miskin,” ucap wanita yang sebaya dengan Melinda dan juga Ratna.
“Kamu siapa ya?” tanya Ratna.
“What? Kalian berdua benar-benar tidak mengenal kami? Kami ini dulunya adalah anggota OSIS yang mendapat julukan bidadari sekolah,” ucap salah satu wanita dengan penuh kebanggaan.
“Oh, aku ingat sekarang. Kalian berdua adalah dua wanita yang sok kecantikan itu ya? Ya ampun, penampilan kalian saat ini benar-benar aneh. Barang-barang yang kalian kenakan itu terlihat sangat kampungan,” balas Ratna mencoba membalas perkataan kurang pantas untuk didengar.
“Eh, mulut kamu itu dijaga ya kampungan,” ucap wanita yang mengenakan setelan baju berwarna merah.
Melinda tidak tahan dengan apa yang tengah terjadi. Saat itu juga, Melinda menarik tangan Ratna untuk segera meninggalkan kedua wanita yang sangat tak ramah itu.
“Hei!” teriak salah satu wanita bernama Yuni sembari menarik rambut Melinda.
Melinda yang tak siap saat itu jatuh dengan tubuh bagian belakang yang jatuh lebih dulu ke lantai.
Kejadian tersebut saat itu juga mendapatkan sorotan dari orang-orang disekitar, termasuk para pelanggan di cafe tersebut.
Ratna panik dan menampar wajah wanita yang mengenakan dress berwarna putih dengan cukup keras.
“Beraninya kamu membuat sahabatku terjatuh,” ucap Ratna dan terjadilah aksi jambak-menjambak tersebut.
Saat mereka bertiga tengah asik saling menjambak rambut satu sama lain, Melinda malah dibawa pergi oleh pria tersebut ke rumah sakit karena ternyata Melinda tidak sadarkan diri.
🌷
Raka yang sedang fokus dengan laptop dihadapannya, tiba-tiba terkejut ketika mendengar suara ponselnya berbunyi.
Karena tengah fokus dengan pekerjaannya, Raka pun meminta asisten pribadinya lah yang menerima panggilan tersebut.
Raka dengan patuh mengikuti perintah Tuan Mudanya. Pria itupun menerima panggilan tersebut dan terkejut ketika tahu bahwa istri dari Tuan Mudanya tengah berada di rumah sakit.
“Ada apa?” tanya Raka ketika menyadari ekspresi terkejut dari Asisten pribadinya itu.
“Tuan Muda, Nona Muda saat ini ada di rumah sakit,” ungkap Reza.
“Apa???” Raka seketika itu menjadi khawatir dan memutuskan untuk segera meninggalkan perusahaan.
Disaat yang bersamaan, Melinda sedang ditangani dan pria itu berharap bahwa Melinda baik-baik saja.
__ADS_1
“Maaf, anda siapanya Pasien?” tanya salah satu perawat.
“Saya Eko, sepupu dari suami Nona Melinda,” terang pria bernama Eko.
“Anda tunggulah disini, Nona Melinda sedang ditangani di dalam,” ujar perawat tersebut.
“Baik, Sus,” balas Eko patuh.
🌷
Sekitar setengah jam Melinda pingsan, akhirnya Melinda sadarkan diri. Melinda membuka matanya dengan bagian punggung yang cukup pegal.
Pelan tapi pasti, Melinda akhirnya teringat apa yang telah terjadi kepada dirinya.
“Aku dimana? Bukankah tadi aku sedang berada di cafe bersama dengan Ratna,” ujar Melinda kebingungan.
Melinda semakin bingung manakala melihat sesosok pria yang tengah tidur di sofa dengan cukup nyenyak.
“Ya Allah, aku dimana?” tanya Melinda panik.
Eko terkejut mendengar suara Melinda dan yang sengaja Eko jatuh dari sofa dengan efek suara yang cukup keras.
“Aw,” ucap Eko ketika merasakan bagian siku tangannya seperti kesetrum.
“Kamu siapa? Kenapa aku bisa ada disini?” tanya Melinda sembari memegang bantal untuk menjadi tameng bilamana pria dihadapannya ingin macam-macam terhadap dirinya.
“Nona Melinda yang tenang. Saya bukan orang jahat, saya membawa Nona Melinda kesini karena kebetulan Nona Melinda pingsan,” ucap Eko mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Bagaimana kamu tahu nama saya? Jawab!” Melinda teriak dengan cukup keras, hingga membuat salah satu perawat masuk ke ruang Melinda karena ketika melintasi kamar Melinda, perawat itu mendengar Melinda berteriak.
“Nona Melinda ada apa teriak-teriak?” tanya perawat.
Melinda tak asing dengan seragam yang dikenakan oleh wanita yang baru saja bertanya padanya. Tak butuh waktu lama, Melinda akhirnya tahu bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.
“Apa ini rumah sakit?” tanya Melinda.
“Benar, ini memang rumah sakit,” jawab perawat.
Melinda bernapas lega dan perawat wanita itu memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Jawab jujur, kamu siapa dan mau apa?” tanya Melinda dengan tatapan tajam.
Eko terdiam sejenak dan di detik berikutnya pria itu tertawa dengan cukup keras.
“Apa Kak Raka tidak pernah menceritakan mengenai saya?” tanya Eko.
“Jawab pertanyaan saya,” pinta Melinda setengah mendesak.
“Kalau itu, biar Kak Raka saja yang menjelaskannya. Saya permisi karena masih ada urusan yang harus saya selesaikan, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Eko yang memutuskan meninggalkan Melinda.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Melinda yang masih terheran-heran dengan sosok dari Eko.
Siapa nama pria itu? Kenapa dia memanggil Mas Raka dengan sebutan Kak raka? (Batin Melinda)