Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 57


__ADS_3

3 hari telah berlalu dan 3 hari itu juga Melinda merindukan suaminya yang masih berada di Malaysia karena suatu pekerjaan.


Kemarin sore, Melinda pergi ke salah satu kedai yang menjual bakso. Melinda pergi bersama dengan sahabatnya yang tak lain adalah Ratna.


“Mas Raka sudah makan belum ya? Aku ingin sekali bertanya. Akan tetapi, aku takut mengganggu pekerjaan Mas Raka disana,” tutur Melinda yang tengah merebahkan tubuhnya di sofa.


Melinda terkejut manakala pintu kamar diketuk dan saat itu juga Melinda bergegas membuka pintu.


“Nona Muda, sudah waktunya makan siang,” tutur pelayan pada Melinda yang sedari tadi tidak keluar dari kamar.


Melinda menoleh ke arah jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.


“Ternyata sudah jam 1, sebentar lagi saya akan turun,” balas Melinda.


Melinda kembali masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.


Tak butuh waktu lama, Melinda pun keluar dari kamar bergegas menuju ruang makan.


Saat Melinda baru keluar dari lift, salah satu pelayan menghampirinya dan mengatakan bahwa ada keluarga Melinda yang datang.


“Nona Muda, di depan ada keluarga Nona Melinda yang sedang menunggu.”


“Keluarga?” tanya Melinda dan berjalan menuju ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, Melinda tak melihat satupun keluarganya yang datang.


“Maaf, Nona Muda. Bukan di ruang tamu, tetapi di depan teras rumah,” terang pelayan.


Melinda berjalan dengan langkah lebar dan ternyata yang datang adalah Katty.


“Katty, kamu ngapain disini?” tanya Melinda terheran-heran.


“Apa maksud kamu? Dengan kata lain aku tidak boleh datang kemari?” tanya Katty dengan nada tinggi.


Melinda meminta para pelayan dan juga bodyguard untuk menjauh karena tidak ingin bila percakapannya dengan Katty di dengar oleh mereka.


“Kamu memang benar-benar anak yang tak tahu diri.” Katty berkacak pinggang dan menghina Melinda tak rasa takut sedikitpun.


“Katty, jaga ucapanmu. Aku lebih tua darimu dan seharusnya kamu lebih menghargai ku sebagai seorang kakak,” balas Melinda yang tak tahan dengan sikap Katty yang sudah sangat kurang ajar terhadapnya.


“Apa katamu? Cuiihh..” Katty seketika itu meludah di lantai dan membuat Melinda terkejut.


Ternyata tidak hanya Melinda saja yang terkejut, para pelayan dan juga bodyguard begitu terkejut dengan sikap kasar Katty.


“Katty, sebaiknya kamu bicara langsung dan pergilah dari sini. Aku tidak ingin mereka memberitahu kelakuan kamu disini dan membuat suamiku semakin membenci keluarga kita,” ucap Melinda meminta Katty untuk bicara langsung.

__ADS_1


“Aku datang kemari karena ingin meminta uang padamu. Cepat, berikan aku uang 5 juta sekarang juga!”


Melinda saat itu juga meminta bodyguard untuk mengusir Katty secepat mungkin.


Katty yang tak terima dengan kesal menyebut Melinda sebagai wanita bodoh, pelit dan tak tahu diri.


Melinda acuh tak acuh dengan apa yang Katty katakan. Secepat mungkin Melinda masuk ke dalam rumah untuk segera mengisi perutnya.


Para pelayan mulai membicarakan Katty yang benar-benar kurang ajar terhadap Nona Muda mereka dan salah satu dari mereka memutuskan untuk mengepel lantai yang diludahi oleh Katty.


“Mbak, biar saya saja yang mengambil makanan saya sendiri. Bisa tinggalkan saya sendiri di ruangan ini?” tanya Melinda.


“Baik, Nona Muda. Saya permisi, kalau butuh sesuatu tinggal tekan bel ini saja. Saya dan pelayan yang lain akan segera datang menghampiri Nona Muda,” terangnya sembari memberikan bel kecil kepada Melinda.


Melinda menerima dan meletakkan bel kecil tersebut di atas meja makan bersebelahan dengan gelas air minum.


Disaat yang bersamaan, Raka baru saja menyelesaikan meeting room bersama partner bisnis. Saat itu juga, Raka meminta asisten pribadinya untuk segera membawanya kembali ke hotel.


Kondisi Raka selama berada di Malaysia terlihat tak sehat. Wajahnya agak memucat dan Raka harus lebih sering beristirahat setelah selesai dari pertemuan partner bisnis yang tentunya membahas mengenai kerjasama antar negara.


“Tuan Muda, sepertinya Anda belum membalas pesan dari Nona Muda. Saat ini Nona Muda pasti menunggu kabar Tuan Muda,” ucap Reza mengingatkan Tuan Mudanya untuk membalas pesan dari Nona Mudanya.


“Nanti saja, aku akan membalas pesan wanita itu ketika tiba di hotel,” jawab Raka.


Reza yang sedang mendorong kursi roda Tuan Mudanya seketika itu berhenti ketika mendengar panggilan Kakek dari Tuan Mudanya.


“Kamu mau kemana? Ayo kita pergi cari makan. Kakek sudah sangat lapar dan butuh sekali asupan makanan,” ucap Almer mengajak Cucu kandungnya mencari makan terlebih dulu sebelum kembali ke hotel.


“Kakek, kalau mau makan kita bisa memesan makanan di hotel,” balas Raka.


“Raka, Kakek paling tidak suka kalau kamu seperti ini.”


“Baiklah, terserah Kakek saja,” balas Raka pasrah.


Malam hari.


Raka akhirnya tiba di hotel dan bergegas membalas pesan dari Melinda. Raka membalas pesan tersebut dan meminta Reza untuk menyiapkan pakaian untuknya.


“Reza, menurutmu cinderamata apa yang pantas untuk wanita itu?” tanya Raka tanpa ekspresi.


“Maksud Tuan Muda cinderamata untuk Nona Muda?” tanya Reza yang nampak senang ketika Tuan Mudanya mulai memperhatikan Nona Mudanya.


“Sudah jangan banyak tanya, aku butuh jawaban dan bukan pertanyaan darimu,” pungkas Raka yang tak senang bila dirinya mendapat pertanyaan dari asisten pribadinya itu.


Disaat yang bersamaan, Melinda tersenyum bahagia karena akhirnya pesan yang ia nantikan datang juga.

__ADS_1


“Mas Raka benar-benar sangat sibuk disana. Untungnya, Mas Raka masih sempat membalas pesanku,” ucap Melinda bermonolog.


Melinda tersenyum manis melihat dirinya sendiri di cermin. Ia tersenyum sembari menyisir rambutnya yang panjang. Melinda tak sabar ingin bertemu dengan suaminya beberapa hari lagi.


Setelah menyisir rambutnya yang panjang, Melinda berjalan menuju sofa dan berpikir keras untuk mengirim pesan selanjutnya kepada Sang suami. Tiba-tiba saja, senyum Melinda menghilang ketika mengingat bagaimana Katty begitu kasar terhadapnya.


Melinda berharap, bahwa kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Bila sampai terulang lagi, suami dan Kakek dari suaminya akan semakin membenci keluarganya. Dan bisa saja, perceraiannya dengan Raka akan menjadi kenyataan.


“Karena Ayah aku menjadi seperti ini. Kini, aku telah menerima pernikahan ini dan juga kondisi Mas Raka. Akan tetapi, apakah Mas Raka bisa menerimaku sebagai istrinya?” Melinda bertanya-tanya sembari menatap langit-langit kamar.


Melinda tak sengaja melirik ke arah ponselnya dan tiba-tiba ia ingat belum mengirim kembali pesan singkat untuk suaminya.


💌 Melinda “Mas sudah makan? Saya sudah makan dan sedang beristirahat di kamar.”


Begitulah isi pesan Melinda untuk Sang suami yang masih berada di Malaysia.


Melinda berharap pesan singkat untuk Sang suami langsung dibalas. Akan tetapi, Melinda tahu bahwa suaminya disana pasti sangat lelah dan butuh sekali beristirahat.


Suara ketukan pintu membuat Melinda terkejut. Melinda pun bangkit dari sofa untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamar.


“Iya, Mbak. Ada apa?” tanya Melinda.


“Nona Muda, di depan ada adik Nona Muda dan juga Ibu Nona Muda,” terang pelayan.


“Haaa? Benarkah?” Melinda sangat terkejut mengetahui Katty dan ibu tirinya datang di jam malam.


Mau apa mereka datang di jam segini. Apakah mereka akan membuat keributan lagi? Ya Allah, tolong hamba. (Batin Melinda)


“Nona Muda sebaiknya segera menemui mereka. Kalau tidak, mereka akan mengancam ingin bunuh diri di depan rumah,” terang pelayan.


“Astaghfirullahaladzim, saya akan segera kesana. Mbak tolong halangi mereka,” balas Melinda.


Melinda masuk ke dalam kamar untuk mengikat rambutnya. Setelah itu, Melinda berlari untuk segera menemui Katty dan juga Dina.


“Akhirnya kamu keluar juga anak sialan,” ucap Dina pada Melinda yang baru saja datang menghampiri dirinya dan juga Katty.


“Ibu ngapain disini malam-malam? Tolong pulanglah, aku tidak ingin melihat Mas Raka dan juga Kakek marah,” tutur Melinda yang sangat terkejut dengan kedatangan Katty dan juga Dina di jam malam seperti itu.


“Kamu ya, sudah saya besarkan dengan susah payah. Ternyata eh ternyata, kamu malah mengusir adikmu yang datang kemari untuk meminta uang. Apa kamu sudah tidak waras?” Dina berkata dengan berteriak lantang pada Melinda, putri tirinya.


“Ibu, aku mohon jangan membuat keributan disini. Pulanglah sekarang,” pinta Melinda memohon kepada Ibu tirinya untuk segera pulang ke rumah.


“Kami akan pergi kalau kamu memberikan kami uang. Bukankah kamu memiliki banyak uang?” Dina bersikeras dan tanpa rasa malu meminta uang kepada Melinda.


“Ya Allah, Ibu. Bukankah beberapa hari yang lalu Mas Raka sudah memberikan Ibu, Ayah dan Katty uang. Kenapa Ibu harus meminta lagi?” tanya Melinda yang tak habis pikir dengan pemikiran Ibu tirinya itu.

__ADS_1


__ADS_2