
“Apa kamu bilang? Apa kamu benar-benar tidak memiliki harga diri lagi? Apakah uang yang almarhum Kak Rafa berikan tidakkah cukup untuk memenuhi kebutuhan super mewah mu itu? Dengan gampang dan gamblangnya kamu ingin tetap tinggal disini? Mimpi saja,” ujar Raka yang nampak sangat geram dengan apa yang Indri katakan.
“Tidak, pokoknya aku akan tetap tinggal disini. Kalau tidak....”
“Kalau tidak kamu mau apa?” tanya Raka yang ingin tahu apa yang sebenarnya akan Indri lakukan jika Indri tidak tinggal di rumah mewah itu.
“Jika tidak, aku akan membocorkan perlakuan kalian ini kepada wartawan. Seorang cucu menantu dan seorang kakak ipar yang teraniaya,” terang Indri yang berpikir bahwa ancamannya dapat membuat Raka maupun Sang Kakek tidak jadi mengusirnya.
“Silakan kalau memang itu yang kamu inginkan. Tapi sebelum itu, akan saya pastikan bahwa kamu berada di rumah sakit jiwa,” tegas Almer yang sama sekali tidak takut dengan ancaman Indri.
Indri seketika itu diam membisu, perkataan Almer membuatnya takut. Ia tidak bisa bermain-main dengan Kakek tua dihadapannya, sekali A maka A dan tidak bisa berubah menjadi B.
Melinda hanya bisa diam melihat mereka bertengkar, dikarenakan mereka masih merasa bahwa ia belum pantas untuk ikut mengambil keputusan. Meskipun begitu, Melinda setuju dengan keputusan suami dan Sang Kakek yang ingin mengusir Indri sejauh mungkin.
“Kenapa diam? Dimana mulutmu yang berbicara seperti orang gila? Dimana?” tanya Raka.
Almer beranjak dari duduk dan meminta para pelayan untuk segera mengemasi barang-barang serta pakaian Indri. Almer bahkan meminta para pelayan untuk mengemasi semuanya tanpa ada yang tertinggi satupun.
Mendengar perintah tersebut, Indri sangat takut. Ia memeluk kaki Sang Kakek dan memohon agar dirinya tak jadi diusir. Keputusan Kakek tua itu sudah bulat, Indri tidak bisa dan tidak akan pernah bisa diberikan kesempatan sekali lagi. Sudah banyak kesempatan yang Indri buang secara percuma dan tidak ada gunanya lagi bagi mereka yang memberikan kesempatan tersebut.
“Kirim wanita ini ke rumah hijau, dia akan tinggal disana dan akan menetap disana untuk selamanya,” pungkas Almer.
Perlu kalian ketahui, rumah hijau yang dimaksud Almer adalah rumah yang terletak disebuah desa daerah Bandung yang cukup terpencil. Rumah itu dulunya menjadi rumah almarhum Cucunya yaitu Rafa. Rumah yang menjadi tempat tinggal sementara untuk Rafa ketika Rafa sedang ingin menyendiri.
“Kakek, apakah aku harus tinggal di rumah hijau? Tidak bisakah Kakek memberikan rumah yang layak untukku?” tanya Indri yang protes ketika tahu bahwa ia akan tinggal di rumah hijau.
“Sekarang kamu putuskan, tinggal di rumah hijau atau tidak sama sekali?” tanya Almer dan tersenyum sinis ketika melihat wajah panik Indri.
Sialan, apa yang ada dipikiran Kakek bau tanah ini? Rumah hijau adalah rumah yang paling aku benci dan sekarang aku harus tinggal disana? (Batin Indri)
“Kenapa diam, Kakek bertanya dan kamu harus menentukan pilihannya,” tutur Raka setengah berteriak karena Indri malah diam membisu.
“Rumah hijau adalah tempat yang sangat sepi. Apa tidak ada tempat lain lagi? Lalu, bagaimana cara untukku makan, belanja dan merawat diri?” tanya Indri yang masih tak tahu malu padahal hidupnya sudah diujung tanduk.
“Baiklah, kalau kamu memang tidak ingin tinggal disitu. Saya akan memberikannya uang sebesar 1 milyar, asal kamu tanda tangan perjanjian yang sudah saya siapkan sebelumnya,” tutur Almer menjentikkan jarinya dan salah satu pelayan menghampiri Tuan Besarnya sembari membawa sebuah amplop.
Mata Indri berbinar-binar mengetahui bahwa ia akan diberikan uang sebesar 1 milyar kalau menyetujui perjanjian tersebut. Tentu saja, Indri akan memilih uang daripada tinggal di rumah hijau yang sangat kampungan.
“Ini, silakan kamu baca baik-baik dan kalau kamu setuju, tanda tangan lah!”
Indri mengambil map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang ternyata banyak sekali persyaratan-persyaratan di dalamnya.
Indri tertawa bahagia ketika membaca salah satu persyaratan yang isinya bahwa ia tidak bisa lagi menggunakan nama Arafat dan memutuskan hubungan dengan keluarga Arafat.
“Kakek, sebenarnya nama Arafat kurang cocok untukku. Jadinya, aku tidak akan berpikir ulang untuk melepaskan nama Arafat ini,” terang Indri dan pada akhirnya Indri menandatangani perjanjian tersebut.
Melinda bergidik ngeri melihat ekspresi Indri yang begitu bahagia setelah menandatangani perjanjian tersebut.
Wanita ini, ternyata uang lah yang dia pilih. (Batin Melinda)
__ADS_1
“Kamu yakin tidak menyesal dengan keputusan yang kamu ambil ini?” tanya Almer memastikan.
“Cih, wanita seperti dia ini tentu saja memilih uang. Dasar tak tahu malu,” ucap Raka menghina Indri.
Indri sama sekali tak ambil pusing dengan hinaan Raka. Toh, sebentar lagi ia akan memiliki uang yang sangat banyak. 1 milyar bisa membuatnya kaya mendadak dan ia juga bahkan bisa mempercantiknya dirinya, sehingga dikemudian hari ia dapat memikat pria kaya raya untuk menikahinya.
“Tidak sama sekali, Kakek,” jawab Indri.
“Jangan panggil saya Kakek, panggil saya Tuan Besar. Dan ingat baik-baik, kedepannya jangan pernah lagi kamu muncul ataupun sengaja datang kepada kami. Karena kalau tidak, selamanya kamu mendekam di balik jeruji besi,” tegas Almer.
“Tuan Besar tenang saja, aku tidak akan pernah muncul di hadapan Tuan Besar ataupun hadapan mereka berdua,” balas Indri sembari melirik sinis ke arah Raka dan Melinda yang juga tengah menatapnya dengan tatapan aneh.
Almer kembali menjentikkan jarinya dan salah seorang bodyguard datang dengan membawa koper yang diduga isi didalam koper tersebut adalah uang sebesar 1 milyar.
“Ambil uang ini, semoga bermanfaat untukmu,” ucap Almer kepada Indri.
Indri tertawa lepas seperti wanita yang telah kehilangan akal sehatnya. Ia mencium koper tersebut dan memeluknya dengan sangat erat. Kemudian, Indri membuka perlahan resleting dari koper itu dan ia tercengang melihat tumpukan uang berwarna merah.
“Akhirnya aku punya uang banyak,” ucap Indri kegirangan.
Almer memberi isyarat mata agar segera membawa Indri keluar saat itu juga dan juga barang-barang milik Indri harus keluar dari rumah itu, tidak terkecuali.
Beberapa saat kemudian.
Melinda masih terlihat terkejut, Raka sebagai suami berusaha menghibur hati istrinya. Bagaimanapun, perbuatan Indri benar-benar mengecewakan.
“Sayang, sudah ya jangan dipikirkan lagi masalah wanita tak tahu malu dan tak tahu berterima kasih itu. Lagipula, dia sudah pergi bersama dengan uang itu,” terang Raka dan mengecup lembut punggung tangan istri tercinta.
Tiba-tiba suara pintu yang diketuk dari luar kamar, Melinda menghela napasnya sejenak dan membuka pintu tersebut.
“Kakek,” ucap Melinda yang cukup terkejut ketika melihat Sang Kakek telah berdiri dihadapannya.
“Apakah Kakek mengganggu waktu berdua kalian?” tanya Almer pada cucu menantu kesayangannya.
“Tidak sama sekali, Kek. Mari masuk!” Melinda dengan sangat sopan mempersilakan Kakek tua itu untuk masuk ke dalam kamar.
Almer tersenyum kecil sembari memasuki kamar sepasang suami istri tersebut.
“Kakek sedang apa kemari? Kenapa tidak menyuruh pelayan untuk turun ke bawah?” tanya Raka.
“Kakek sengaja datang kemari secara langsung. Apakah Kakek mengganggu kalian?” tanya Almer memastikan kembali.
“Ya, Kakek sangat mengganggu momen antara Raka dan juga istri Raka,” jawab Raka dan memperlihatkan wajahnya yang kesal.
Almer tertawa lepas melihat ekspresi wajah menjengkelkan Cucu kandungnya.
“Lihatlah wajah suamimu itu Cucu menantu, rasanya Kakek ingin sekali memukul ekspresi wajah menyebalkan itu,” ucap Almer sembari menunjuk ke arah wajah cucunya.
Melihat tak bisa menahan tawa setelah melihat ekspresi wajah suaminya. Melinda pun tertawa dan tawanya Melinda akhirnya menulari suaminya.
__ADS_1
Kamar tidur Raka dan Melinda kini berubah menjadi ramai karena datangnya Sang Kakek.
Momen tersebut, membuat Melinda sangat bersyukur. Meskipun ia telah ditinggalkan kedua orang tuanya, setidaknya ada keluarga baru yang selalu berada disisinya.
Kakek tua itu menyentuh perutnya, sepertinya ia tidak bisa tertawa lama-lama. Melinda yang sangat perhatian, mempersilakan Kakek tua itu untuk duduk di sofa.
“Kakek, terima kasih telah mengeluarkan wanita itu untuk selama-lamanya dari keluarga kita,” ucap Raka mengucapkan terima kasih kepada Sang Kakek.
“Kakek melakukan semua ini demi kebaikan kalian berdua. Saat Kakek meninggal nanti, Kakek tidak ingin ada satu orangpun yang mengusik ketenangan rumah tangga kalian. Kakek ingin selamanya kalian bahagia setelah meninggalnya Kakek,” ungkap Almer.
Melinda merasa tersentuh, ia menangis terharu dan tak bisa berkata-kata lagi. Allah benar-benar menunjukkan kebesarannya dengan memberikan sebuah keluarga yang begitu menyayangi dirinya lebih dari keluarga kandungnya sendiri.
“Sayang, kenapa menangis?” tanya Raka yang sebenarnya tahu alasan mengapa istrinya menangis.
“Kakek, bolehkah Melinda memeluk Kakek sebentar saja?” tanya Melinda meminta izin untuk memeluk Kakek tua itu.
Almer tersenyum lebar dan mengiyakan permintaan Melinda. Air mata Melinda kembali mengalir dengan semangat, Melinda memeluk tubuh Kakek tua itu dan berulang kali mengucapkan terima kasih.
“Kakek, terima kasih karena telah memikirkan kami. Terima kasih, Kek. Terima kasih, Kek. Melinda bahagia dan sangat beruntung memiliki Kakek yang seperti Kakek kandung bagi Melinda,” ucap Melinda yang nampak sangat bahagia.
“Benarkah? Kakek sangat senang mengetahui bahwa cucu menantu menganggap Kakek seperti Kakek kandung untuk cucu menantu,” balas Almer Arafat kepada Sang Cucu menantu tersayang.
“Melinda sayang sekali dengan Kakek. Bagi Melinda, Kakek adalah Kakek yang sangat baik sekaligus Kakek yang bijaksana,” pungkas Melinda.
“Ehemm... Kasih sayang Kakek untuk Raka tentu lebih besar dari Kasih sayang Kakek untuk Melinda, bukan?” tanya Raka memastikan.
“Tentu cucu menantu yang paling Kakek sayang daripada kamu,” jawab Almer.
“Kakek....” Raka merengek mendengar jawaban dari Kakeknya itu.
Tentu saja rengekan Raka tidaklah sungguh-sungguh. Dalam hatinya, Raka begitu senang karena Kakeknya begitu menyayangi istri tercintanya itu.
Mereka bertiga kembali berbincang-bincang dan tak ingin berlama-lama di kamar sepasang suami istri itu, Sang Kakek pun memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya.
Setelah Sang Kakek pergi, Melinda menutup rapat-rapat pintu kamar dan menguncinya.
“Sayang, apa yang akan Mbak Indri lakukan dengan uang sebanyak itu?” tanya Melinda penasaran, berharap uang 1 milyar itu digunakan dengan sangat bijak.
“Kalau menurutku, uang itu akan segera habis dan sama sekali tidak ada hasilnya. Dia adalah wanita boros sekaligus wanita tak tahu diri,” jawab Raka.
“Sayang, tolong jangan lagi menjelek-jelekkan Mbak Indri. Meskipun, didalam hati kita masih ada rasa jengkel,” pinta Melinda.
“Kita? Itu artinya, kamu juga jengkel terhadapnya?” tanya Raka memastikan.
Melinda perlahan mengangguk mengiyakan.
“Meskipun begitu, kita juga harus mendo'akan yang terbaik untuk Mbak Indri. Bukankah kita juga manusia yang penuh dosa?”
Raka tersenyum tipis dan meminta Sang istri untuk mendekat padanya. Ketika melihat mendekat wajahnya ke arah suaminya, Raka dengan penuh semangat menarik Melinda kepangkuannya dan menciumi bibir Melinda dengan cukup liar.
__ADS_1