Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 98


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Melinda tersenyum kecil di pemakaman Sang Ayah. Wanita muda itu terlihat baik-baik saja, meskipun sebenarnya dalam hatinya masih ada kesedihan yang mendalam.


“Mas, ayo kita pulang,” ucap Melinda mengajak suaminya untuk segera pulang ke rumah.


“Kamu yakin tidak ingin berlama-lama disini?” tanya Raka memastikan dan terlihat sangat perhatian dengan istrinya.


“Mas Raka, sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada Mas Raka karena semuanya Mas Raka dan Kakek yang urus mengenai pemakaman Ayah Bambang. Selain itu, saya berharap agar Mas Raka bisa menerima saya yang seperti ini,” pungkas Melinda sembari menahan air matanya agar tak jatuh.


“Melinda, kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih. Dan untuk ucapan mu yang itu, aku ingin membahasnya di rumah,” balas Raka yang terus menatap Melinda dengan tatapan penuh kasih sayang.


Melinda mengangguk kecil dan mendorong kursi roda suaminya untuk segera pergi meninggalkan pemakaman umum tersebut.


Reza yang berada di dalam mobil, bergegas keluar dari mobil untuk membantu Tuan Mudanya masuk ke dalam mobil.


“Melinda, apakah ada tempat yang ingin kamu singgahi?” tanya Raka.


“Tidak ada, Mas Raka. Saya ingin segera pulang,” jawab Melinda yang ingin segera pulang ke rumah.


“Reza, kamu dengar apa yang istriku katakan? Ayo kita pulang!”


“Baik, Tuan Muda!”


Melinda tersenyum kecil dan menggenggam erat jemari tangan suaminya. Raka pun tersenyum dan membalas genggaman erat jemari tangan istrinya.


“Kalau kamu ingin menangis, menangis lah dan jangan ditahan. Mungkin dengan cara seperti itu, kamu akan jauh lebih tenang,” ujar Raka tanpa ingin melihat ekspresi sedih istrinya.


“Mas Raka bicara apa? Saya sudah tidak menangis lagi. Lagipula, sekarang hati saya sedikit lebih lega dari sebelumnya.”


“Benarkah? Apa kamu sekarang sedang mencoba membohongiku?” tanya Raka sembari menyipitkan matanya ke arah Melinda.


Melinda terkekeh kecil melihat ekspresi wajah suaminya yang terlihat sangat jelek.


“Mas kalau begitu jadinya jelek,” ungkap Melinda.


Raka mengubah ekspresi menjadi seperti biasa dan refleks mencubit dagu Melinda.


“Maaf, aku refleks,” ucap Raka ketika melihat ekspresi terkejut Melinda setelah dagunya disentuh oleh Raka.


Melinda menyentuh dagunya sendiri dengan tatapan terkejut sekaligus terheran-heran.


“Apakah sakit?” tanya Raka memastikan.


Melinda masih diam membisu dan ketika Raka ingin menyentuh dagunya sekali lagi, barulah Melinda sadar dan cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


“Tidak, Mas Raka. Sama sekali tidak sakit,” jawab Melinda dan tertunduk malu.


Raka segera mengalihkan pandangannya dari Melinda karena pria itu juga terlihat malu setelah apa yang telah ia lakukan.


Reza menahan tawa melihat sepasang suami istri yang duduk tepat dibelakangnya. Sebenarnya Reza tidak tahan melihat keduanya yang terus-menerus malu kucing seperti itu.


🌷


Melinda turun dari mobil begitu juga Raka yang dibantu oleh asisten pribadinya.


“Reza, kamu pulanglah. Besok jemput aku sebelum jam 8 pagi,” ujar Raka pada asisten pribadinya.


“Siap, Tuan Muda. Saya permisi, wassalamu'alaikum.”

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam,” jawab Raka dan juga Melinda.


Setelah Reza pergi bersama dengan mobil milik Raka, saat itu juga Melinda membawa suaminya masuk ke dalam rumah.


Baru saja memasuki rumah, mereka sudah disambut oleh seorang Kakek tua yang tentu saja itu adalah Almer.


“Kalian sudah pulang, bagaimana hari ini?” tanya Almer karena seharian Raka dan juga Melinda tidak berada di rumah.


“Kakek, Raka dan Melinda mendatangi makam almarhum Ayah Bambang. Akan tetapi, sebelum itu kami pergi ke rumah Melinda,” pungkas Raka.


Rumah peninggalan orang tua Melinda, saat ini resmi menjadi milik Melinda. Ternyata, Bambang sama sekali tidak memberikan sepeserpun harta warisan untuk Dina maupun Katty.


“Cepat masuk ke kamar, kalian berdua pasti sangat lelah,” ucap Almer kepada sepasang suami istri tersebut.


“Kakek, sebelum kami masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sebaiknya kami makan terlebih dahulu,” balas Raka yang cukup lapar karena seharian tidak makan.


“Mas Raka lapar? Mau saya masakin sesuatu?” tanya Melinda yang ingin melangkah menuju dapur.


Raka dengan cepat meraih tangan Melinda agar tak pergi ke dapur.


“Kamu tidak perlu memasak makanan untukku. Lagipula sudah ada pelayan yang memasak makanan, kamu seharusnya duduk bersamaku untuk menikmati makanan,” pungkas Raka.


“Baik, Mas Raka,” sahut Melinda dengan senyum manisnya.


Akhirnya sepasang suami istri itu pergi menuju ruang makan. Sementara Almer, kembali sibuk dengan pekerjaannya di ruang kerjanya.


“Kalian, siapkan makanan!” perintah Raka pada para pelayan.


Melinda mendorong kursi roda suaminya mendekati kursi yang akan diduduki oleh Melinda.


“Mas Raka, terima kasih banyak,” ucap Melinda yang kembali mengucapkan terima kasih kepada suaminya.


Melinda tersenyum sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.


Tak butuh waktu lama, hidangan makanan siap untuk dinikmati.


“Kalian, tinggalkan kami berdua!” perintah Raka yang hanya ingin berduaan di ruang makan bersama Sang istri.


Para pelayan dengan patuh menuruti perintah dari Tuan Muda mereka.


“Kamu makanlah yang banyak. Apa kamu tidak sadar bahwa tubuhmu sekarang sangatlah kurus?” tanya Raka pada Melinda yang tengah sibuk mengisi piring dengan makanan.


“Saya akan berusaha menambah berat badan saya, Mas Raka,” balas Melinda.


“Berapa tinggi dan berat badan kamu?” tanya Raka penasaran.


“Tinggi saya 158 cm dan berat badan saya 45 kg,” jawab Melinda.


“Tambah 5 kg lagi,” tutur Raka.


“Baik, Mas Raka,” balas Melinda dengan tersenyum kecilnya.


“Akan lebih sehat, kalau kamu mengonsumsi vitamin, buah-buahan dan juga sayur-mayur,” terang Raka yang tidak ingin bila istrinya menjadi kurus.


“Baik, Mas Raka,” jawab Melinda dengan patuh.


Usai menikmati makan sore bersama, keduanya bergegas pergi meninggalkan ruang makan.


“Siapkan aku pakaian. Aku ingin mandi,” ujar Raka yang ingin segera menyegarkan tubuhnya dengan air.

__ADS_1


Melinda mengiyakan dan mengambil pakaian suaminya di almari pakaian. Setelah itu, Melinda membantu suaminya melepaskan pakaian.


“Mau mandi bersama?” tanya Raka yang tentu saja ucapannya hanyalah gurauan saja.


“Ya??” Melinda nampak terkejut mendengar pertanyaan suaminya yang mengajaknya untuk mandi bersama.


Raka tertawa lepas melihat respon istrinya yang sangat terkejut.


“Aku hanya bercanda saja, kamu tidak perlu tegang begitu,” ungkap Raka yang kini hanya mengenakan ****** ***** saja.


Pria itu menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Melinda, masih nampak terkejut dengan sikap suaminya.


“Melinda, sadarlah. Mas Raka hanya bercanda saja, ayo fokuslah,” ucap Melinda bermonolog dan memutuskan untuk mandi di kamar mandi yang dulu menjadi kamarnya sebelumnya menikah dengan Sang suami.


🌷


Pukul 21.15 WIB.


Raka dan Melinda sudah berada di atas tempat tidur. Terlihat keduanya sedang sibuk dengan buku mereka masing-masing.


“Kamu besok masuk kuliah?” tanya Raka tanpa menoleh ke arah Melinda.


“Iya, Mas Raka. Besok saya harus masuk,” jawab Melinda yang justru menoleh ke arah lawan bicaranya.


“Jam berapa?” tanya Raka yang kini menoleh ke arah Sang istri.


“Jam 9 sudah sampai kampus,” jawab Melinda lagi.


“Maaf, besok aku tidak bisa mengantarkan kamu ke kampus. Kamu tahu sendiri, jam 8 aku sudah tiba di kantor,” terang Raka yang merasa bersalah.


Melinda tersipu malu ketika melihat ekspresi wajah suaminya. Akan tetapi, Melinda tidak ingin salah sangka karena takutnya apa yang suaminya katakan hanyalah bentuk perhatian saja dan tidak lebih.


“Besok malam kita tidur di apartemen, apakah kamu mau?” tanya Raka yang ingin mengajak Melinda untuk tidur di apartemen miliknya.


“Hanya kita berdua saja, Mas Raka?” tanya Melinda memastikan.


“Tentu saja. Memangnya kamu ingin mengajak para pelayan, Kakek dan juga asisten ku untuk tidur di apartemen?” tanya Raka terheran-heran.


“Tidak, Mas Raka. Saya hanya memastikan saja, kalau memang begitu tentu saja saya akan mengiyakan ajakan Mas Raka,” jawab Melinda dengan pipi yang telah merah merona.


“Karena kamu sudah setuju, sebaiknya kita tidur. Besok adalah hari yang sangat panjang untuk kita berdua,” ucap Raka sembari menutup halaman buku miliknya dan meletakkan di nakas yang tentu saja gampang untuk diraih bagi pria lumpuh seperti dirinya.


Melinda tersenyum kecil melihat Raka yang sudah memejamkan mata terlebih dahulu.


Karena Sang suami akan segera tidur, Melinda pun memutuskan untuk menyusul suaminya. Mereka tidur dengan posisi saling membelakangi satu sama lain.


“Uhuk... uhuk...” Raka tiba-tiba batuk dan saat itu juga Melinda bangkit dari tidurnya untuk memberikan air minum kepada Sang suami.


Raka meneguk air minum pemberian Melinda dan tak lupa mengucapkan terima kasih.


“Terima kasih,” ucap Raka pada Melinda.


“Bagaimana? apakah sudah mendingan?” tanya Melinda yang sangat perhatian dengan suaminya itu.


“Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih karena kesigapan mu,” jawab Raka.


Melinda tersenyum manis mendengar perkataan suaminya yang mengucapkan terima kasih.


Raka kembali merebahkan tubuhnya dan diikuti pula oleh Melinda.

__ADS_1


Kini, tak ada lagi pembicaraan dari keduanya. Mereka berdua kembali memejamkan mata untuk segera terlelap dan menyambut esok pagi yang cerah.


__ADS_2