Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 117


__ADS_3

Indri tersenyum dengan penuh kemenangan. Kemudian, wanita itu memutuskan untuk segera beristirahat karena sebentar lagi ia akan bangun untuk melihat Melinda yang terus mual-mual.


Baru saja Indri memejamkan matanya, tiba-tiba ia merasakan pusing yang cukup pusing.


“Aww, ada apa ini? Kenapa kepalaku tiba-tiba pusing?” tanya Indri panik.


Indri bangkit dari tidurnya dan hal tak terduga pun terjadi. Ia merasakan mual diperutnya, seperti diaduk-aduk dengan sangat cepat.


Indri mencoba untuk tetap tenang, ia berpikir kemungkinan karena dirinya makan cukup banyak sehingga ia merasakan pusing serta mual yang datang secara bersamaan.


“Uwek.... Uwek....” Indri tak tahan lagi, ia berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi di dalam perutnya.


“Uwek... Uwek... Uwek....”


Disaat yang bersamaan, Melinda dan Raka sedang berbincang-bincang di ruang keluarga. Mereka berdua sedang membahas tentang lokasi wisata yang baru-baru ini sedang booming di salah satu daerah di kota Bandung.


Almer yang tak sengaja melintas dan mendengar percakapan mereka, saat itu juga menghampiri keduanya.


“Wah, sepertinya tempat itu cocok untuk kalian berdua. Pergilah, hitung-hitung sebagai bulan madu kalian,” ucap Sang Kakek.


Raka dan Melinda saling tukar pandang dengan senyum yang mengembang sempurna diantara keduanya.


“Kakek, sebenarnya kami ingin pergi kesana. Akan tetapi....”


“Sssuuttss, akan tetapi apa Raka? Kamu tidak perlu memikirkan yang disini. Kalian juga harus memiliki banyak waktu berduaan, sebelum kalian memiliki anak,” pungkas Almer.


“Kakek bisa saja,” sahut Raka dengan tersenyum lebar.


Jika Raka menganggap santai perkataan Kakeknya. Lain halnya dengan Melinda, wanita muda itu tahu bahwa selamanya mereka tidak akan memiliki seorang anak. Dikarenakan, Sang suami tidak bisa memberikan keturunan.


Meskipun begitu, Melinda sama sekali tak mempermasalahkannya. Karena cinta Melinda untuk suaminya benar-benar tulus dan apa adanya.


Mas Raka pasti sedih mendengar perkataan Kakek. Akan tetapi, Mas Raka sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya di depan Kakek Almer. (Batin Melinda)

__ADS_1


“Bagaimana, apakah kalian tertarik melakukan liburan bulan madu kalian dalam waktu dekat? Kalau memang begitu, Kakek yang akan memberikan fasilitas yang lengkap untuk kalian berdua,” ucap Almer dengan penuh semangat.


“Ayolah, Kakek. Uang Raka juga sangat banyak, Kakek tidak perlu bicara seperti itu,” balas Raka setengah jengkel.


“Maaf, Kakek terlalu senang mendengar kalian membahas tempat wisata itu. Ya sudah, kalian berdua lanjutkan pembicaraan kalian. Kakek mau istirahat, pinggang Kakek ini tidak kuat kalau lama-lama duduk apalagi berdiri,” ungkap Sang Kakek sembari menyentuh pinggangnya.


Melinda bangkit dari duduk dengan niat untuk mengantarkan Sang Kakek menuju kamar.


“Cucu menantu, Kakek bisa sendiri. Cucu menantu lebih baik duduk disini bersama cucu Kakek yang nakal ini,” ucap Sang Kakek kepada Cucu menantunya.


“Kakek, biar Melinda mengantarkan Kakek ke kamar,” balas Melinda dengan mata berkaca-kaca karena tidak ingin bila Sang Kakek menolak bantuan darinya.


“Baiklah, apa boleh buat. Ya sudah, ayo antarkan Kakek ke kamar,” sahut Kakek tua itu dengan tersenyum kecil.


Indri keluar dari kamarnya dan melihat Melinda yang sedang berjalan berdampingan dengan Sang Kakek. Melihat Melinda dalam keadaan baik-baik saja, membuat Indri terheran-heran karena seharusnya Melinda sedang merasakan mual-mual yang teramat parah.


“Wanita kampungan itu baik-baik saja? Apakah aku salah lihat?” tanya Indri dengan terus menyentuh perutnya yang merasa mual-mual tak menentu.


Karena penasaran, Indri pun menunggu Melinda di depan pintu kamar Sang Kakek untuk memastikan kembali bahwa apa yang Indri lihat tidaklah benar.


“Maksud Mbak Indri? Saya baik-baik saja,” jawab Melinda sembari memperhatikan Indri yang terlihat seperti sedang menahan sakit.


“Benarkah?” tanya Indri yang tak senang mengetahui bahwa Melinda baik-baik saja.


“Mbak Indri ingin saya kenapa-kenapa?” tanya Melinda yang sengaja memancing Indri.


“Kamu kok bertanya seperti itu, Melinda? Aku tentu saja senang karena kamu sangat sehat,” balas Indri.


“Lalu, bagaimana dengan Mbak Indri? Apakah Mbak Indri baik-baik saja? Wajah Mbak Indri terlihat pucat dan terlihat seperti menahan sakit,” ucap Melinda dengan tatapan datar.


Indri berkacak pinggang dan tersenyum lebar menunjukkan seakan-akan dirinya baik-baik saja. Indri tidak ingin ketahuan dan Indri harus tetap terlihat akrab dengan Melinda.


“Aku baik-baik saja,” pungkas Indri.

__ADS_1


Indri kembali merasakan mual, ia pun berlari secepat mungkin meninggalkan Melinda.


“Sudah sangat jelas, bahwa ada sesuatu di minumanku. Untungnya saja, aku sudah menukarnya tanpa diketahui oleh Mbak Indri,” tutur Melinda bermonolog.


Indri kembali merasakan mual-mual hingga membuatnya lemas tak berdaya di dalam kamar mandi.


Dengan langkah tertatih-tatih, Indri keluar dari kamar mandi dan perlahan duduk bersandar didekat tempat tidurnya.


“Sial, rasanya aku benar-benar ingin mati saja. Aku tidak kuat dengan mual-mual ini dan juga kepalaku yang pusing tujuh keliling ini,” ucap Indri yang menyerah dengan rasa sakit yang ia rasakan.


Saat Indri sedang merasakan sakit di dalam kamarnya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. Indri ingin sekali berteriak dan memarahi si pengetuk pintu, akan tetapi ia benar-benar tak memiliki tenaga dan hanya bisa duduk diam menahan sakit yang teramat sakit.


“Mbak Indri, apakah Mbak Indri baik-baik saja? Tolong buka pintunya Mbak Indri,” ucap Melinda yang terus mengetuk pintu kamar Indri.


Mau apa wanita itu? Pasti dia sangat senang karena sekarang aku yang kena batunya. (Batin Indri)


Sekitar 5 menit Melinda berdiri di depan pintu kamar Indri dan 5 menit itu juga Indri belum juga membukakan pintu.


“Mbak Indri, apakah Mbak Indri mendengar suara saya?” tanya Melinda yang mulai khawatir dengan kondisi Indri di dalam sana.


Indri perlahan membuka pintu kamar dan hal tak terduga pun terjadi. Indri jatuh pingsan tak sadarkan diri sesaat setelah membukakan pintu untuk Melinda.


“Mbak Indri!” Melinda berteriak terkejut melihat Indri yang pingsan tepat dihadapannya.


Para pelayan dan beberapa bodyguard datang setelah mendengar suara teriakan Nona Muda mereka.


“Kalian, tolong bawa Mbak Indri ke dalam mobil. Mbak Indri harus segera dilarikan ke rumah sakit,” ucap Melinda panik.


Dua bodyguard mulai mengangkat tubuh Indri dan membawanya keluar rumah untuk dibawa masuk ke dalam mobil.


“Cucu menantu, ada apa dengan wanita itu? Kenapa bisa pingsan?” tanya Almer ketika melihat Indri yang tengah digotong keluar.


“Melinda juga tidak tahu, Kek. Saat Mbak Indri baru saja membuka pintu, Mbak Indri tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri,” jawab Melinda.

__ADS_1


“Baguslah, sepertinya dia terkena karma,” pungkas Almer dengan cukup lega.


__ADS_2