
Waktu berbuka puasa sebentar lagi akan tiba. Raka dan juga Melinda telah duduk di kursi meja makan menanti adzan Maghrib.
Almer saat itu tidak berada di ruang makan, dikarenakan Kakek tua itu memilih untuk beristirahat di kamarnya sekaligus memberikan waktu bagi Cucu serta cucu menantunya.
Reza yang kebetulan belum pulang, memutuskan untuk berbuka puasa di kediaman mewah keluarga Arafat. Reza sebenarnya tidak ingin berbuka puasa satu meja makan dengan sepasang suami istri itu, dikarenakan Reza tidak ingin mengganggu keduanya yang terlihat semakin dekat dan juga semakin mesra.
“Mas Raka, saya berharap masakan yang saya masak ini, bisa dinikmati oleh Mas Raka,” ujar Melinda yang sangat berharap bahwa masakan yang ia masak dapat memuaskan suaminya.
“Kenapa bicara begitu? Masakan mu tentu saja sangat enak dan bukankah aku selalu menikmati masakan yang kamu masak?” tanya Raka dengan serius.
“Benarkah?” tanya Melinda yang tidak yakin dengan apa yang suaminya katakan.
Raka tertawa kecil dan mencubit pelan pipi istrinya begitu saja.
Deg!
Raka dan juga Melinda saling bertatapan satu sama lain. Keduanya pun menjadi salah tingkah, hingga siapapun yang melihat mereka malah menjadi canggung.
“Uhuk! Uhuk!” Reza terbatuk-batuk dan memutuskan untuk meninggalkan ruang makan tersebut sementara waktu karena tidak ingin mengganggu keduanya.
Suasana ruang makan kini terasa sangat canggung. Raka maupun Melinda terlihat salah tingkah atas apa yang baru saja terjadi.
Untuknya saja, adzan Maghrib berkumandang dan pada akhirnya suasana canggung tersebut seketika itu hilang ketika para pelayan menyuguhkan berbagai macam makanan yang kebanyakan dimasak oleh tangan Melinda itu sendiri.
“Apakah kamu yang memasak sebanyak ini? Dan ini, bagaimana kamu tahu bahwa aku sangat suka dengan makanan laut?” tanya Raka penasaran.
“Benarkah? Sebenarnya saya juga pencinta makanan laut, Mas Raka,” balas Melinda dengan senyum manisnya.
“Ternyata kita juga banyak kesamaan,” tutur Raka dan membuat Melinda nampak gugup dengan penuturan suaminya.
Raka mengambil segelas air minum dan memberikannya kepada Melinda. Melinda pun melakukan hal yang sama, yaitu mengambil segelas air dan memberikannya kepada Sang suami.
__ADS_1
Reza kembali datang dan segera mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.
“Kalian pergilah dan segera membatalkan puasa kalian!” perintah Raka pada pelayan.
Para pelayan mengiyakan dengan kompak dan bergegas berbuka puasa bersama dengan para bodyguard yang lainnya.
“Mas Raka mau makan apa?” tanya Melinda yang terlihat sangat perhatian dengan suaminya.
“Cumi-cumi yang kamu masak ini juga boleh. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya masakan yang kamu masak ini,” ujar Raka sembari menunjuk ke arah piring yang berisi cumi-cumi yang cukup banyak.
Beberapa saat kemudian.
Melinda yang sedang duduk di ruang keluarga seorang diri, tiba-tiba mendapat pesan singkat dari Ibu tirinya bahwa Sang Ayah tidak sadarkan diri. Melinda pun terkejut dan berlari secepat mungkin menuju kamar untuk memberitahu suaminya mengenai Sang Ayah.
“Mas Raka!” panggil Melinda yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Raka yang saat itu tengah membaca buku, seketika itu juga menoleh ke arah istrinya.
“Kamu yang tenang dan jangan dulu panik. Sekarang hubungi Ibu tirimu dan tanyakan dimana Ayah berada sekarang!”
Melinda mematuhi apa yang suaminya katakan dan bergegas menghubungi Ibu tirinya.
Setelah berbincang-bincang sekitar 5 menit, Melinda pun mengakhiri panggilan telepon tersebut.
“Mas Raka, saat ini Ayah sudah berada di rumah sakit. Ibu Dina meminta uang untuk membayar biaya administrasi,” pungkas Melinda.
Raka menanyakan dimana rumah sakit tempat dimana Ayah mertuanya di rawat dan Melinda pun memberitahu lokasi rumah sakit tersebut kepada suaminya.
Tanpa pikir panjang, Raka meminta Reza dan mengirim Reza pergi ke rumah sakit untuk memastikan apa yang dikatakan Dina adalah benar ataukah tidak.
“Mas Raka, apakah saya tetap berada disini?” tanya Melinda dengan gusar.
__ADS_1
“Kamu tenanglah, tidak ada hal buruk yang terjadi kepada Ayahmu. Untuk sementara ini kamu diamlah di rumah dan setelah Reza benar-benar memastikan bahwa Ayahmu berada di rumah sakit, kita berdua akan pergi untuk menjenguk Ayahmu,” terang Raka panjang lebar.
“Baik, Mas Raka. Semoga saja Ayah baik-baik saja,” ucap Melinda berusaha untuk tetap tenang.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal yang aneh-aneh. Sekarang, tidurlah bersamaku,” tutur Raka mengajak istrinya untuk segera tidur.
Melinda mengangguk kecil dan memutuskan untuk naik ke tempat tidur.
“Mas, sepertinya malam ini saya tidak bisa tidur sebelum mendapatkan kabar dari Mas Reza,” pungkas Melinda yang terlihat gelisah.
Raka mengerti dengan ketakutan Melinda atas sakit yang diderita oleh Bambang.
Sekitar 1 jam lamanya, Reza menghubungi Tuan Mudanya dan mengatakan bahwa pasien atas nama Bambang yang dimaksud oleh Nona Mudanya, ternyata tidak ada di daftar rumah sakit tersebut. Setelah mengetahui hal itu, Raka menutup sambungan telepon tersebut.
“Bagaimana, Mas Raka? Apakah Ayah baik-baik saja?” tanya Melinda penasaran.
Raka sebenarnya tidak ingin memberitahukan hal sebenarnya bahwa Dina ternyata membohongi Melinda. Akan tetapi, Raka juga tidak ingin membuat Melinda semakin sedih atas apa yang sudah Dina lakukan padanya.
“Mas Raka kenapa diam saja? Apakah penyakit Ayah sangat parah? Kalau begitu, izinkan saya ke rumah sakit sekarang,” tutur Melinda dan berharap suaminya mengizinkan dirinya untuk pergi ke rumah sakit.
“Kamu tidak boleh pergi ataupun keluar dari rumah ini. Lagipula, Ayahmu baik-baik saja dan Dina ternyata telah membohongi kamu, Melinda,” terang Raka pada istrinya.
“Apaa!! Maksudnya Ibu Dina sengaja berbohong agar mendapatkan uang dari Mas Raka, begitu?”
Raka tak menjawab, pria itu hanya mengangguk kecil ketika mendapatkan pertanyaan dari istrinya.
“Ya Allah, kenapa Ibu Dina berbohong?” Melinda nampak sangat kecewa sekaligus sedih karena ternyata Ibu tirinya sengaja berbohong hingga membuatnya panik ketika mendengar kondisi kesehatan Sang Ayah.
“Melinda, aku sudah tidak bisa bersabar lagi atas kelakuan Ibu tirimu. Untuk itu, malam ini juga aku akan menghubungi polisi dan memasukan wanita itu ke penjara secepat mungkin,” tegas Raka yang sudah tidak tahan atas apa yang Dina lakukan pada istrinya.
“Tidak, Mas Raka. Saya mohon jangan laporkan masalah ini ke polisi. Lagipula, saya tidak ingin memperburuk keadaan yang ada. Jika Ayah tahu masalah ini, ditakutkan akan membuat penyakit Ayah semakin memburuk,” pungkas Melinda para Sang suami.
__ADS_1
“Lalu, aku harus membiarkan wanita itu? Melinda, tidak bisakah kamu membalas perlakuan mereka yang sudah sangat keterlaluan itu?” tanya Raka yang sangat gemas dengan sikap istrinya.