Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 64


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, semua makanan telah tersaji di atas meja. Raka meminta salah satu pelayan untuk membantu istrinya berjalan menuju meja yang sudah dipenuhi oleh makanan. Melinda pun duduk manis berdampingan dengan suaminya.


“Kalian pergilah!” perintah Raka pada para pelayan tersebut.


Merekapun bergegas meninggalkan sepasang suami istri itu di dalam kamar.


“Makanlah. Aku tidak ingin sampai Kakek pulang dan memarahiku karena kamu belum makan,” tutur Raka sembari menoleh ke arah Melinda.


Melinda mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Kemudian, Raka mengambil piring tersebut dan membuat Melinda terkejut.


“Ada apa? Untuk kali ini saja, aku akan menyuapi mu makanan,” pungkas Raka tanpa ekspresi.


Melinda tersenyum tipis dan tiba-tiba jantungnya berdebar-debar tak menentu. Lagi-lagi Raka memberikan perhatian yang membuat Melinda semakin tertarik dengan sosok Raka Arafat.


Raka menyuapi makanan ke dalam mulut Melinda secara perlahan tanpa ingin menatap mata Melinda sedikitpun. Raka melakukan hal itu, karena jika sampai mereka bertatapan, sudah pasti Raka tidak ingin menyuapi Melinda lagi.


“Mas Raka tidak makan?” tanya Melinda penasaran.


“Jangan banyak bicara, aku akan makan setelah kamu makan,” jawab Raka dan kembali menyuapi makanan tersebut.


“Terima kasih, karena telah perhatian serta peduli dengan saya,” ucap Melinda yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Raka tak menjawab apa yang dikatakan oleh Melinda. Ia hanya fokus menyuapi makanan ke dalam mulut istrinya.


Setelah selesai makan siang, Raka meminta Melinda untuk segera beristirahat sembari menunggu dokter yang akan memeriksa Melinda datang.


Melinda kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur suaminya dan memutuskan untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sepertinya, Sang suami sedang tidak ingin mendengarkan apa yang Melinda katakan.


Tak berselang lama, dokter yang sebelumnya dihubungi oleh asisten pribadi Raka akhirnya tiba juga.


Raka pun meminta kepada dokter wanita itu untuk segera memeriksa kondisi kesehatan Melinda.


“Tuan Raka, bisakah tinggalkan kami berdua?” tanya dokter wanita itu yang ingin memeriksa kondisi kesehatan Melinda seorang diri.


Raka dan Reza pun melenggang pergi meninggalkan Melinda bersama dengan dokter tersebut berdua saja.


“Tuan Muda, apakah Nona Muda akan baik-baik saja?” tanya asisten pribadi itu kepada Tuan Mudanya.


Raka yang duduk di kursi rodanya terlihat gusar dan tak mendengar apa yang asisten pribadinya tanyakan.


“Tuan Muda, apakah anda melamun?” tanya Reza memastikan.


Raka mendongak menatap asisten pribadinya sembari menggelengkan kepala.


Sekitar 15 menit dokter itu berada di dalam kamar untuk memeriksa kondisi kesehatan Melinda, hingga akhirnya dokter itu keluar dan memberitahukan bahwa Melinda harus mengonsumsi sayur-mayur, buah-buahan serta makanan sehat lainnya.


Kemudian, dokter itu memberikan resep obat untuk diminum oleh Melinda agar mengurangi rasa nyeri akibat datang bulan.


Raka mentransfer uang ke dalam rekening dokter tersebut. Kemudian, Reza mengantarkan dokter wanita itu sampai keluar sekaligus membeli obat yang telah diresepkan oleh dokter untuk Nona Mudanya.


Raka menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam kamar dan tak lupa menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


Saat itu, Raka tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia menggerakkan kursi rodanya ke meja makan dan mulai menikmati makan siangnya seorang diri, karena sebelumnya Melinda telah makan dengan cara Raka yang menyuapi makanan ke dalam mulut Melinda.


Melinda ingin kembali mengucapkan terima kasih. Akan tetapi, suaminya saat itu tengah makan dan jika Melinda mengucapkan sepatah kata saja, sudah pasti suaminya itu akan mengomeli dirinya terus-menerus.


“Berhentilah menatapku dan cepat tidur!” perintah Raka yang menyadari bahwa Melinda terus saja memandanginya di tempat tidur.

__ADS_1


Melinda terperanjat dan saat itu juga ia memejamkan matanya kembali.


🌷


Malam hari.


Sekitar pukul 8 malam, Almer baru saja kembali setelah seharian tidak berada di rumah.


Almer yang baru tiba bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, Almer juga telah makan malam sehingga tidak perlu lagi makan malam di rumah.


Disaat yang sama, Raka sedang berbincang-bincang dengan asisten pribadinya di pinggir kolam renang dengan kopi hitam buatan Melinda.


Meskipun Melinda sakit, Melinda masih bisa melayani suaminya dengan baik dan itu juga yang membuat Raka cukup salut dengan istrinya itu.


Melinda yang telah mengantuk dan ingin tidur, terlebih dulu pamit pada suaminya. Ditakutkan, bila nanti saat suaminya memanggil dirinya, dirinya tidak datang dan malah membuatnya suaminya marah.


“Mas Raka, saya permisi mau ke kamar. Saya juga ingin langsung tidur,” tutur Melinda yang sudah cukup mengantuk efek dari obat yang ia konsumsi.


”Ya. Tidurlah,” jawab Raka singkat dan kembali membahas masalah pekerjaan dengan asisten pribadinya itu.


Melinda perlahan berjalan menuju lift untuk sampai ke lantai atas.


“Cucu menantu!” Almer tiba-tiba muncul memanggil cucu menantunya yang akan masuk ke dalam lift.


Melinda berbalik dan bergegas menghampiri Kakek dari suaminya.


“Iya, Kakek. Kakek kapan pulang?” tanya Melinda yang tak mengetahui kepulangan Almer Arafat.


“Sekitar 10 menit yang lalu. Cucu menantu apakah sedang sakit dan dimana Raka?” tanya Almer karena tak melihat batang hidung cucu kandungnya.


“Melinda tidak sakit, Kakek. Ini hanya efek dari datang bulan. Mas Raka saat ini sedang berada di samping, bersama dengan Mas Reza,” jawab Melinda dengan senyum manisnya.


“Alhamdulillah, sudah Kakek. Tadi siang Mas Raka memanggil Dokter dan telah memeriksa kondisi Melinda. Melinda juga sudah meminum obat yang diresepkan oleh dokter yang memeriksa Melinda tadi siang,” pungkas Melinda.


“Syukurlah, ya sudah cucu menantu segera beristirahat lah. Kakek mau menemui Raka,” ujar Almer.


Melinda menekan tombol lift dan bergegas masuk ke dalam lift tersebut.


Almer berjalan menuju kolam renang untuk menemui cucu kandungnya.


“Kakek.” Raka terkejut manakala Kakeknya telah pulang.


“Kenapa ekspresi mu begitu? Kamu tidak suka kalau Kakek pulang ke rumah?” tanya Almer sinis.


“Kakek ini bicara apa, kenapa Kakek baru pulang?” tanya Raka penasaran.


“Kakek tadi mampir sebentar ke rumah sepupu Kakek,” jawab Almer apa adanya sembari mendaratkan bokongnya di kursi besi berwarna putih.


“Kakek sudah makan malam? Apa perlu Raka bilang ke pelayan untuk menyiapkan makan malam” tanya Almer yang bersiap-siap menekan tombol bel kecil yang berfungsi untuk memanggil para pelayan agar segera mendatangi Tuan mereka.


“Ah, tidak perlu lagipula Kakek masih kenyang dan sebentar lagi Kakek akan istirahat,” balas Almer.


“Apakah Kakek sakit lagi? Asam urat Kakek kambuh lagi?” tanya Raka penasaran.


Almer tertawa dan menggelengkan kepalanya.


“Kakek baik-baik saja dan tidak sakit. Kakek harus tetap sehat untuk persiapan melihat cicit Kakek,” ucap Almer dan kembali tertawa.

__ADS_1


Raka tertawa bodoh begitu juga dengan Reza.


“Berhentilah mengejek Kakek, Kakek tahu permintaan Kakek ini sangatlah kecil keberhasilannya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa cicit Kakek akan segera hadir ke dunia ini,” tutur Almer dengan sangat serius.


Raka menelan salivanya dengan susah payah setelah mendengar penuturan dari kakeknya itu. Terlihat jelas, bahwa kakeknya begitu menginginkan cicit darinya dan istrinya, Melinda.


“Sudahlah, Kakek akan beristirahat. Kamu jangan malam-malam disini, kasihan cucu menantu di kamar sendirian,” ujar Almer dan melenggang pergi.


Raka menghela napasnya dan untungnya Sang Kakek sudah pergi ke kamar untuk beristirahat.


“Lihatlah, Kakek tua itu. Selalu saja membicarakan hal konyol kepadaku,” ucap Raka pada asisten pribadinya.


”Maaf, Tuan Muda. Kali ini saya setuju dengan apa yang Tuan Besar inginkan,” pungkas Reza.


Raka mengangkat sebelah alisnya menganggap bahwa asisten pribadinya itu sama gilanya dengan Kakeknya.


“Kamu sama saja dengan Kakek tua itu. Sudahlah, aku mengantuk dan ingin tidur. Cepat bawa aku ke kamar dan setelah itu, pulanglah kamu. Besok sebelum jam 6 datanglah kemari dan sarapan lah disini bersama kami,” tutur Raka memberi perintah kepada asisten pribadinya.


“Baik, Tuan Muda. Sebelum jam 6 saya akan sudah berada disini,” jawab Reza dengan lantang.


Melinda telah terlelap di sofa yang menjadi tempat tidurnya. Ia terlelap sembari memeluk guling dengan cukup erat.


Raka pun masuk dan segera mengunci pintu kamarnya.


“Ternyata wanita ini sudah tidur,” ucap Raka lirih dan tentunya tidak bisa di dengar oleh Melinda.


Raka mengerakkan kursi rodanya menuju tempat tidurnya dan Melinda sama sekali tidak bangun. Efek dari obat yang Melinda konsumsi ternyata cukup efektif.


Raka berusaha naik ke tempat tidurnya dengan usahanya sendiri. Tak butuh waktu lama, akhirnya Raka berhasil naik ke tempat tidur.


“Uhuk... Uhuk....” Melinda tak sengaja tersedak oleh air liurnya sendiri dan membuatnya seketika itu bangun dari tidurnya.


Melinda tak sengaja menoleh ke arah tempat tidur suaminya yang ternyata tengah menatapnya.


“Astaghfirullahaladzim,” ucap Melinda terkejut mengira bahwa Raka adalah sosok makhluk astral yang menunjukkan eksistensinya.


Raka mengernyitkan keningnya melihat respon Melinda yang terkejut melihatnya.


“Mas Raka sudah disini, sejak kapan?” tanya Melinda sembari menyentuh dadanya akibat dari rasa terkejutnya.


“Sudah dari tadi,” jawab Raka berbohong, padahal ia baru 5 menit masuk ke dalam kamar.


“Benarkah?” tanya Melinda memastikan. “Maaf, Mas Raka. Pasti karena saya tidur terlalu pulas dan tidak menyadari bahwa Mas Raka sudah berada di kamar,” imbuh Melinda pada suaminya.


“Sudahlah, jangan terlalu banyak bicara. Bukankah kamu tadi tersedak? Cepatlah minum dan setelah itu kembalilah tidur!” perintah Raka dan saat itu juga memejamkan matanya.


Melinda mengiyakan dengan patuh dan mengambil segelas air yang berada di atas meja, kemudian meneguknya sampai habis. Setelah itu, Melinda kembali melanjutkan tidurnya agar besok pagi kondisi tubuhnya membaik seperti sediakala.


“Selamat tidur, Mas Raka,” ucap Melinda begitu saja.


Saat itu juga Raka membuka matanya mendengar ucapan selamat tidur dari Melinda.


“Coba ulangi sekali lagi!” perintah Raka untuk memastikan apakah pendengarannya masih berfungsi dengan baik ataukah tidak.


“Selamat malam, Mas Raka. Semoga mimpi indah,” pungkas Melinda dengan malu-malu. Kemudian, Melinda menutup seluruh tubuhnya tak terkecuali bagian kepalanya.


Raka melongo tak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Melinda padanya.

__ADS_1


“Dasar gila,” celetuk Raka terheran-heran dan kembali memejamkan matanya.


__ADS_2