
“Kamu kira uang 10 juta cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari? Kamu sih enak, karena tinggal di rumah mewah ini dan tidak memikirkan ini dan itu,” ucap Dina pada Melinda dengan sangat sinis.
“10 juta? Itu sangat banyak dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibu, tolonglah jangan begini. Apa Ibu tidak malu dengan yang lain?”
“Malu? Untuk apa aku malu. Lagipula, yang seharusnya malu itu kamu dan bukan aku,” tegas Dina.
Melinda sudah tak tahan lagi, ia memanggil bodyguard untuk mengantarkan Dina maupun Katty pulang sampai rumah.
“Tolong antarkan Katty dan juga Ibu Dina pulang ke rumah. Bila mereka bertindak macam-macam, laporkan saja ke polisi,” ucap Melinda bertindak tegas terhadap keduanya.
“Kamu!” Dina meronta-ronta agar lepas dari para bodyguard. Dina sangat ingin menghabisi Melinda malam itu juga.
Melinda berjalan dengan langkah yang sangat berat. Kepalanya mendadak pusing dan perlahan penglihatannya menjadi gelap.
Bruk! Melinda jatuh dan tak sadarkan diri.
Para pelayan terkejut dan secepat mungkin berlari menghampiri Melinda yang telah tergeletak di lantai.
“Nona Muda! Nona Muda!” Para pelayan berusaha membangunkan Melinda dengan cara memanggilnya. Akan tetapi, Melinda sama sekali tak merespon dan semakin membuat para pelayan panik.
Salah satu bodyguard mendekat dan menggendong tubuh Nona Mudanya.
“Dua dari kalian ayo ikut aku ke kamar. Dan yang lain, cobalah menghubungi dokter untuk datang kemari,” ucap salah satu bodyguard tersebut.
Sesampainya di dalam kamar, bodyguard itu membaringkan Nona Muda mereka di tempat tidur dan meminta dua pelayan yang ikut masuk ke dala kamar untuk tetap di dalam kamar. Berjaga-jaga jika nanti Nona Muda mereka bangun.
“Bagaimana ini? Apakah kita harus menghubungi Tuan Besar dan juga Tuan Muda?” tanya salah pelayan berbicara dengan teman satu profesinya.
“Jangan dulu. Kita tidak boleh langsung memberitahukan Tuan Besar dan juga Tuan Muda mengenai kondisi Nona Muda. Lagipula, Nona Muda tidak senang jika harus melaporkan masalah ini kepada Tuan Besar dan Tuan Muda.”
🌷🌷
Beberapa saat kemudian.
Dokter wanita yang sebelumnya dihubungi oleh salah satu pelayan rumah, akhirnya datang untuk memeriksa kondisi kesehatan Nona Muda di rumah itu.
__ADS_1
“Silakan masuk, Bu dokter. Nona Muda kami ada di dalam,” ucap salah satu pelayan mempersilakan dokter wanita itu masuk ke dalam kamar.
Dokter wanita itu berjalan menghampiri Melinda yang masih tak sadarkan diri. Dan dengan hati-hati mulai memeriksa kondisi tubuh Melinda.
Dokter itu cukup serius memeriksa kondisi kesehatan Melinda dan tak butuh waktu lama, pemeriksaan pun selesai.
“Bagaimana, Bu dokter? Nona Muda kamu sakit apa?” tanya salah satu pelayan yang nampak khawatir.
“Nona Melinda sepertinya banyak pikiran dan tensi darah Nona Melinda dibawah 90. Ini resep yang sudah saya tulis mohon untuk segera ditebus. Nona Melinda sebaiknya banyak istirahat, makan yang cukup dan konsumsi makanan serta buah-buahan penambah darah,” terangnya.
Salah satu pelayan memberikan uang kepada Dokter itu. Dokter itupun menerima uang tersebut dan bergegas pamit pulang.
Salah satu pelayan dengan ramah mengantarkan dokter wanita itu sampai ke teras depan rumah.
Melinda perlahan membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya telah berada di kamar.
“Saya kenapa bisa berada di kamar, Mbak?” tanya Melinda lirih.
“Nona Muda jangan banyak berpikir. Tadi, Nona Muda pingsan dan akhirnya salah satu bodyguard yaitu, Yoga membawa Nona Muda ke kamar,” terang si pelayan.
“Benarkah? Apakah masalah ini Kakek dan Mas Raka tahu?” tanya Melinda memastikan.
“Syukurlah, saya tidak ingin membuat Kakek dan Mas Raka khawatir dengan kondisi saya,” pungkas Melinda yang terlihat sangat lemas.
“Nona Muda sebaiknya beristirahat dan segera tidur. Saya akan meminta Yoga untuk menebus obat milik Nona Muda. Dokter tadi mengatakan bahwa Nona Muda terlalu banyak pikiran dan juga sedang mengalami sakit darah rendah,” terang pelayan kepada Melinda.
Melinda mengiyakan dan pada akhirnya ia kembali tidur di ranjang suaminya.
Melihat Melinda yang tengah tertidur, dua pelayan itu memutuskan untuk segera keluar dari kamar dan membiarkan Nona Muda mereka beristirahat.
Pagi hari.
Kondisi Melinda perlahan mulai membaik setelah meminum obat. Melinda berharap tubuhnya cepat sembuh sebelum Suami dan Kakek dari suaminya kembali 2 hari lagi.
“Nona Muda, silakan diminum jus jambu ini. Jus jambu ini bisa membuat kondisi tubuh Nona Muda semakin membaik.”
__ADS_1
“Terima kasih, Mbak. Saya akan menghabiskan jus jambu ini,” jawab Melinda yang sedang duduk seorang diri di ruang keluarga.
“Nona Muda, saya permisi. Kalau butuh sesuatu, tekan saja bel ini,” ucapnya dan memberikan bel kecil tersebut kepada Melinda.
Melinda tertawa kecil dan mengiyakan apa yang Pelayan wanita itu katakan.
Setelah pelayan itu pergi, Melinda dengan perlahan meminum jus jambu tersebut. Melinda berharap dengan meminumnya, ia bisa segera sembuh.
Dada Melinda tiba-tiba sesak ketika mengingat kejadian semalam dimana Dina dan juga Katty datang padanya untuk meminta uang.
“Aku sebaiknya tidak boleh melemah terhadap Ibu dan juga Katty. Kalau aku diam saja dan tak melakukan apapun, bisa saja mereka datang kembali dan membuat masalah lagi dan lagi,” tutur Melinda.
Melinda menghela napasnya yang terasa berat dan mencoba menghubungi sahabatnya, Asih. Melinda berharap Asih bisa datang menemuinya untuk berbincang-bincang sejenak.
Pesan pun terkirim dengan nomor telepon barunya dan berharap Asih bisa datang untuk bertemu dengannya.
Tak butuh waktu lama, pesan singkat Melinda akhirnya dibalas dan ternyata Asih tidak bisa datang karena harus bekerja.
Melinda bisa memaklumi kesibukan sahabatnya itu dan berharap sahabatnya bisa menjalani kehidupan sebaik mungkin.
“Ternyata sudah habis,” ucap Melinda manakala jus jambu miliknya telah habis.
Melinda beranjak dari sofa untuk meletakkan gelas kaca yang sudah kosong itu ke dapur.
“Nona Muda tidak perlu mencucinya. Biar saya saja,” tutur pelayan ketika melihat Melinda yang hendak mencuci gelas tersebut.
“Mbak, biarkan saya saja yang mencucinya,” balas Melinda dan mencuci bersih gelas tersebut.
“Nona Muda, setelah ini tolong jangan lagi melakukan tugas yang memang adalah tugas kami. Saya tidak ingin bila Tuan Besar atupun Tuan Muda melihat hal ini.”
“Apakah Kakek dan Mas Raka akan marah?” tanya Melinda penasaran.
“Mungkin saja, Nona Muda. Tugas kami adalah melayani Tuan Besar, Tuan Muda dan juga Nona Muda. Tolong, Nona Muda jangan seperti ini lagi.”
“Baiklah, saya tidak akan melakukannya lagi,” balas Melinda dengan pasrah.
__ADS_1
Melinda pun melenggang pergi menuju ruang keluarga dan sedikit kecewa karena ia tidak boleh melakukannya ini dan itu.
Menjadi istri di rumah itu membuatnya seperti putri yang diperlakukan dengan sangat baik. Akan tetapi, Melinda sama sekali tidak terbiasa. Dikarenakan, bila ia berada di rumah orangtuanya, Melinda melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri tanpa dibantu oleh ibu tirinya maupun Katty.