
Melinda merasa tak tenang setelah suaminya pergi ke perusahaan bersama dengan asisten pribadi suaminya. Entah kenapa, Melinda memiliki firasat yang kurang baik hari itu dan berharap suaminya pulang dengan selamat.
Almer yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, tak sengaja melihat cucu menantu yang berjalan dengan langkah tak semangat.
“Cucu menantu, apakah cucu menantu sakit?” tanya Almer memastikan.
Melinda menggerakkan tangannya sembari tersenyum lebar.
“Tidak, Kakek. Melinda baik-baik saja dan sangat sehat,” jawab Melinda.
“Benarkah? Kenapa Kakek melihat cucu menantu sepertinya tak bersemangat. Apa yang membuat cucu menantu tak terlihat tak bersemangat dan juga sedih?” tanya Almer penasaran.
Melinda menyentuh wajahnya sendiri dan kembali tersenyum lebar.
“Mungkin perasaan Kakek saja. Ngomong-ngomong, Kakek nanti pergi ke perusahaan?” tanya Melinda.
“Tentu saja, sekitar jam 10 nanti Kakek ada rapat. Cucu menantu mau ikut?”
“Ikut? Memangnya boleh ya Kakek? Apa Melinda boleh masuk ke perusahaan?” tanya Melinda memastikan.
Almer tertawa geli mendengar pertanyaan cucu menantunya.
“Tentu saja boleh, memangnya siapa yang mau melarang cucu menantu Kakek dan istri dari Raka Arafat?” tanya Almer.
“Melinda mau, Kakek. Melinda juga ingin membawakan makan siang untuk Mas Raka,” tutur Melinda dengan penuh semangat.
“Kakek setuju. Raka pasti sangat menyukai bentuk perhatian cucu menantu,” balas Almer.
Melinda permisi ke dapur untuk melihat apa saja yang akan ia siapkan untuk makan siang suaminya. Melinda ingin menjadi istri yang baik sekaligus istri yang bisa diandalkan oleh suaminya.
“Mbak, kotak nasi ada?” tanya Melinda pada salah satu pelayan yang sedang mengepel dapur.
“Maksud Nona Muda, kotak untuk bekal makanan?” tanya pelayan memastikan.
“Iya, Mbak. Apakah ada?”
“Tentu saja ada, Nona Muda,” jawabnya.
”Syukurlah,” tutur Melinda.
Ketika memastikan bahwa kotak bekal makanan itu ada, Melinda pun memilih salah satu kotak bekal makanan. Kemudian, mencucinya sampai bersih tak ada noda maupun kuman sama sekali. Setelah itu, Melinda melenggang menuju area halaman depan rumah untuk berolahraga sejenak.
Melinda melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum ia berlari kecil mengelilingi area halaman rumah yang bisa dikatakan sangat luas bagi Melinda.
Luas halaman rumahnya ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luas halaman rumah keluarga Arafat.
Sekitar 30 menit Melinda berlari mengelilingi area halaman rumah, hingga akhirnya Melinda memutuskan untuk menyudahinya karena keringat yang bercucuran dengan cukup deras.
“Sepertinya sudah cukup,” ujar Melinda bermonolog.
Pelayan datang menghampiri Melinda sembari memberikan air minum yang telah diberi irisan lemon.
“Nona Muda, silakan!”
“Ini untuk saya?” tanya Melinda karena sebelumnya ia tidak meminta dibawakan air minum dengan irisan lemon.
“Tentu saja, Nona Muda. Dulu Tuan Muda juga sering lari pagi seperti Nona Muda dan biasanya Tuan Muda meminum air yang ada irisan lemon,” ungkapnya.
“Ya ampun, terima kasih Mbak. Saya jadi terharu karena Mbak perhatian dengan saya,” ucap Melinda yang tiba-tiba mengingat almarhum Ibunya.
Melinda menangis terharu dan meminta izin untuk memeluk pelayan yang datang memberinya minum. Pelayan itu dengan senang hati mengizinkan Nona Mudanya untuk memeluk tubuhnya.
“Terima kasih, Mbak. Sekarang perasaan saya sedikit lega,” tutur Melinda sembari melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Nona Muda menangis?” tanya pelayan itu ketika menyadari wanita muda dihadapannya mengeluarkan air mata.
“Maaf ya Mbak, saya menangis karena teringat dengan Almarhumah ibu saya,” jawab Melinda pada wanita dihadapannya yang usianya sekitar 40 tahun.
“Ibu saya juga telah meninggal dunia, Nona Muda. Kehilangan Ibu adalah seperti kehilangan separuh jiwa kita.”
“Iya, Mbak. Mbak benar sekali dan ketika saya merindukan almarhumah Ibu saya, yang bisa saya lakukan hanyalah berdo'a dan menangis,” terang Melinda.
Melinda cepat-cepat menghapus air matanya manakala melihat Almer berjalan menuju padanya.
“Cucu menantu, kenapa menangis?” tanya Almer ketika dari kejauhan melihat Melinda menangis.
Melinda tak bisa berbohong, ia pun menceritakan alasan mengapa dirinya menangis. Untuk membuat Melinda tidak bersedih lagi, Almer pun menawarkan diri untuk membawa Melinda ke pemakaman tempat dimana almarhum Ibu Melinda dimakamkan, sebelum mereka pergi ke perusahaan.
Melinda mengiyakan tawaran Almer padanya dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Almer selama ini.
Beberapa jam kemudian.
Melinda tiba di pemakaman almarhumah Ibu kandungnya. Melinda mencium batu nisan almarhumah ibunya dengan air mata yang berlinang membasahi wajahnya.
“Ibu apa kabar? Melinda sangat merindukan Ibu. Ibu disana jangan khawatir lagi ya, sekarang Melinda telah menikah dan memiliki suami serta Kakek yang begitu baik kepada Melinda,” ujar Melinda sembari menaburkan bunga mawar ke makam almarhumah ibunya.
Almer meneteskan air matanya dan cepat-cepat ia menghapusnya agar tidak dilihat oleh cucu menantu kesayangannya.
Setelah hampir 20 menit, Melinda pun memutuskan untuk segera pergi karena tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Toh, Ibundanya di surga pasti akan sangat sedih ketika melihat putri tunggal kesayangannya sedih terus-menerus.
“Kakek, terima kasih sudah membawa Melinda kemari,” ucap Melinda pada Almer yang sangat baik padanya.
“Iya, sama-sama. Kakek hanya tidak ingin melihat cucu menantu menangis sedih. Sekarang, cucu menantu harus tersenyum dan ceria kembali seperti biasanya.”
Melinda mengangguk kecil dengan senyum manisnya.
“Kalau begitu, cucu menantu terlihat semakin cantik. Raka pasti semakin menyukai cucu menantu,” tutur Almer.
Disaat yang sama.
Seorang wanita dengan tubuh bak model turun dari pesawat dengan bibir yang dihiasi lipstik berwarna merah merona.
Beberapa orang yang berada di sekitar bandara, mengenali wanita cantik itu. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang meminta foto bersama.
Wanita itu mengibaskan rambutnya yang panjang dan berputar sehingga dress berwarna merah yang ia kenakan terangkat naik, memperlihatkan paha putih mulusnya.
“Wah cantiknya,” puji beberapa orang ketika melihat senyum cantik dari wanita itu.
“Terima kasih,” balasnya sembari melepaskan kacamata hitam yang ia kenakan.
Dua pria datang menghampiri dirinya, berpakaian serba hitam dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Ternyata, dua pria itu adalah bodyguard yang ia sewa untuk melindunginya dari orang-orang yang mengerumuninya.
“Kalian kenapa lama sekali? Aku harus berpura-pura ramah dihadapan orang kampung seperti mereka itu,” ucapnya dengan sangat sombong.
“Maafkan kami, Nona Luna. Ada insiden tak terduga ketika kami dalam perjalanan menuju bandara,” terang salah satu bodyguard yang tengah mengendarai mobil.
Wanita itu ada Luna, wanita yang dulu sangat dicintai oleh Raka. Luna pergi meninggalkan Raka ketika Raka sedang dalam keadaan yang sangat sulit dan bukannya menemani Raka yang sedang dalam keadaan terpuruk, Luna malah pergi mengejar mimpinya menjadi seorang model di New York.
Tentu saja kedatangannya ke Indonesia adalah untuk menemui mantan kekasihnya itu. Entah apa yang akan Luna lakukan ketika bertemu dengan mantan kekasihnya.
“Sudah jam segini dan wajahku seperti sangat kering. Kalau begitu, bawa aku ke hotel. Sebaiknya aku beristirahat dan melakukan perawatan terlebih dahulu sebelum menemui Kak Raka,” ujar Luna sembari melihat wajahnya di cermin yang harganya tentu saja diatas rata-rata.
🌷
Almer dan Melinda akhirnya tiba di perusahaan. Melinda terlihat tak sabaran ingin memberikan bekal makan siang yang ia masak sendiri.
Almer menggerakkan tangannya memanggil salah satu karyawan yang bekerja di perusahaannya.
__ADS_1
“Iya, Tuan Besar!”
“Tolong bawa cucu menantuku ini ke ruang kerja cucuku,” pinta Almer pada salah satu bawahannya.
“Baik, Tuan Besar,” jawabnya dengan lantang.
Melinda berjalan mengikuti karyawan tersebut untuk pergi ke ruang kerja suaminya.
Melinda berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya ia melihat asisten pribadi suaminya yang sedang berdiri tegak di depan pintu.
“Tinggalkan saya, saya sudah tahu ruang kerja suami saya,” tutur pelayan dan seketika itu juga, karyawan itu permisi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Reza melihat Nona Mudanya berdiri sembari memperhatikannya. Saat itu juga, Reza berlari ke arah istri dari Tuan Mudanya itu.
“Nona Muda dengan siapa kemari?” tanya asisten pribadi Raka.
“Saya kemari dengan Kakek. Oya, Mas Raka apakah ada di dalam?” tanya Melinda.
“Tuan Muda ada di dalam, Nona Muda. Mari saya antarkan menemui Tuan Muda!”
Reza menuntun istri Tuan Mudanya masuk ke dalam ruang kerja Tuan Mudanya.
Raka menoleh ketika pintu ruang kerjanya terbuka.
”Selamat siang, Mas Raka,” sapa Melinda sembari berjalan mendekat ke arah suaminya.
Raka terkejut melihat Melinda yang sudah berada dihadapannya.
“Kamu datang kemari dengan siapa?” tanya Raka penasaran.
“Dengan Kakek, Mas Raka sudah makan siang? Saya membuatkan bekal makan siang untuk Mas Raka,” pungkas Melinda sembari meletakkan bekal makanan yang ia masak ke atas meja suaminya.
“Benarkah? Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya,” balas Raka yang cukup senang ketika Melinda datang membawakannya bekal makanan.
Reza merasa seperti nyamuk di ruang itu, Reza pun memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu dan membiarkan keduanya saling berdekatan satu sama lain.
“Mas Raka apakah sangat sibuk? Kalau begitu saya menunggu saja diluar,” ujar Melinda yang bersiap-siap untuk keluar dari ruang kerja suaminya.
“Aku sama sekali tidak sibuk, tetaplah disini. Aku tidak ingin Kakek melihatmu diluar dan malah menyalahkan aku yang mengabaikan dirimu. Sekarang, bantu aku membuka bekal makan siang ini!” perintah Raka.
“Mas Raka mau makan siang sekarang?” tanya Melinda dengan penuh semangat.
“Tentu saja, kamu sudah datang dan membuatkan makan siang ini untukku. Untuk menghargai usahamu, aku akan makan sekarang juga,” pungkas Raka pada Melinda dengan senyumnya.
Melinda menjadi salah tingkah ketika melihat senyum suaminya yang semakin membuat suaminya terlihat sangat tampan.
Raka tertawa kecil ketika melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
“Aku suka dengan caramu datang seperti ini,” ucap Raka memuji Melinda.
Melinda tertegun sejenak ketika mendengar suaminya baru saja memuji dirinya.
“Lihatlah, wajahmu kembali memerah seperti tomat,” tutur Raka sembari menyentuh pipi Melinda.
Deg!
Melinda maupun Raka saling bertatapan dengan cukup lama. Kemudian, Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Melinda. Akan tetapi, adegan itu tiba-tiba berakhir ketika Raka mendengar suara Kakeknya.
“Apakah cucu menantuku di dalam?” tanya Almer dengan suara cukup lantang.
Almer masuk ke dalam ruang kerja cucu menantunya dan mendapati Melinda serta Raka yang terlihat aneh.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Almer terheran-heran.
__ADS_1
Raka maupun Melinda hanya saling tukar pandang satu sama lain tanpa menjawab pertanyaan dari Kakek tua itu.