
Pagi hari.
Sebelum pergi ke universitas yang akan menjadi tempat bagi Melinda melanjutkan pendidikannya, Melinda harus kembali ke rumah orangtuanya untuk mengambil beberapa berkas miliknya yang masih tertinggal di rumah.
Melinda pergi ke rumah orangtuanya tentu saja ditemani oleh Raka dan asisten pribadi suaminya.
“Kalian ingin pergi sekarang?” tanya Almer ketika melihat Melinda dan juga Raka sudah berada di depan rumah.
“Iya, Kakek. Kami terlebih dulu pergi ke rumah orang tua Melinda,” ucap Raka.
Melinda dan Almer menatap bingung Raka yang tiba-tiba menyebut nama Melinda dan tidak menyebut Melinda dengan sebutan “Istri Raka”
“Ada apa?” tanya Raka terheran-heran.
“Tumben,” celetuk Almer.
Raka semakin bingung dan hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
“Tuan Muda, kita harus berangkat sekarang,” ujar Reza mengingatkan Tuan Mudanya untuk segera pergi.
“Kakek, Raka dan Melinda pergi sekarang!”
Reza membantu Tuan Mudanya masuk ke dalam. Sementara Melinda, berpamitan kepada Almer dengan mencium punggung tangan Almer.
Mobil pun perlahan melaju keluar dari halaman rumah mewah tersebut.
“Mas Raka yakin tidak mau masuk ke dalam rumah?” tanya Melinda memastikan kembali.
“Jangan banyak bertanya. Lagipula, aku sangat muak melihat keluargamu,” tegas Raka tanpa ingin menoleh ke arah Melinda yang sejak tadi memandangnya. “Satu lagi, bisakah kamu menyingkirkan pandangan mu itu? Aku sangat benci jika ada orang yang memandangku lebih dari 5 detik,” imbuh Raka.
Melihat seketika itu juga berpaling muka ke arah luar.
Disaat yang bersamaan, Katty dan Dina sedang duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi yang isinya adalah berita gosip mengenai para publik figur.
“Mama, lihatlah itu. Kenapa wajah suami dari wanita jelek itu selalu ada di setiap berita?” tanya Katty yang sangat jengkel manakala Raka Arafat selalu menjadi bahan perbincangan.
“Ya wajar saja jika pria itu yang selalu diberitakan. Sekarang, kamu cari acara yang lain saja,” balas Dina.
Bambang datang menghampiri anak dan istrinya yang sedang bersantai-santai di ruang keluarga.
“Dina, kenapa belum masak? Kamu juga Katty, cobalah untuk menyapu lantai yang kotor ini.”
Untuk pertama kalinya Bambang angkat bicara dengan Katty yang tidak pernah menyapu lantai.
Katty melongo tak percaya mendengar apa yang Ayahnya katakan.
“Ayah tadi bilang apa sama Katty? Ayah menyuruh Katty menyapu lantai? Bukankah Ayah tahu bahwa Katty tidak pernah menyapu lantai?”
“Ssuuttss... Katty, jangan bicara seperti itu kepada Ayahmu. Cepat minta maaf.” Dina meminta putrinya untuk segera minta maaf karena asal bicara.
“Kenapa Katty yang harus minta maaf?” tanya Katty dan melenggang pergi meninggalkan ruang keluarga dengan hati jengkel.
Bambang memijat pelipisnya yang terasa pusing dengan sikap putri kesayangannya.
“Mas Bambang, jangan diambil hati ya perkataan putri kita. Katty begini karena belum sepenuhnya dewasa,” ujar Dina berusaha membela putri mereka.
“Kamu cepatlah masak dan sapu lantai yang kotor ini. Aku mau pergi sebentar.”
“Mas Bambang mau pergi kemana sepagi ini?” tanya Dina.
__ADS_1
“Mau ke warung Pak Yanto,” jawabnya dan melenggang pergi.
Dina mulai jenuh dengan kondisi keluarganya yang semakin hari semakin miskin. Ia berjalan menuju dapur dan hanya menemukan telur di dalam kulkas.
“Hanya telur? Katty masih tidak ingin makan kalau tahu bahwa hanya ada telur yang bisa dimasak,” ucap Dina bermonolog.
Dina menatap cincin emas miliknya dan terbesit di benaknya untuk menjual cincin emas miliknya itu.
“Apa aku jual saja ya cincin ini. Kalau aku jual lumayan lah uangnya untuk membeli kebutuhan rumah dan keperluan Katty,” ucap Dina.
Dina menghela napasnya dan memutuskan untuk memasak telur terlebih dahulu.
Katty yang berada di dalam kamar hanya bisa menangis. Ia butuh uang dan uang untuk memenuhi gaya hidupnya yang cukup tinggi.
“Ayah sekarang miskin. Apa aku harus mencari pria kaya agar hidupku bisa menjadi kaya seperti Upik abu itu?” tanya Katty bermonolog.
🌷🌷
Beberapa saat kemudian.
Bunyi suara klakson membuat penghuni rumah, yaitu Bambang, Dina dan juga Katty bergegas keluar dari rumah dengan kompak.
Senyum ketiganya mekar sempurna manakala melihat mobil milik Raka Arafat. Kedatangan Raka Arafat membuat mereka bersemangat karena mereka pikir akan mendapatkan uang. Sungguh keluarga yang tak tahu malu setelah apa yang telah terjadi kepada Melinda.
“Kak Melinda!” Katty berlari dengan semangat menghampiri Melinda yang baru saja keluar dari mobil.
Melinda tak suka dengan cara Katty menyambutnya. Melinda tahu bahwa Katty tidak menyambut kedatangannya dengan senang.
“Akhirnya kamu datang kemari, Upik abu. Cepat beri aku uang.” Katty berbisik ditelinga Melinda.
“Katty, aku kemari bukan untuk memberikan kamu uang. Ada berkas-berkas yang harus aku ambil,” balas Melinda.
Melinda dengan sigap menahan tubuhnya dan untungnya saja ia tidak jatuh.
Apa yang Katty lakukan disaksikan langsung oleh Raka yang berada di dalam mobil. Saat itu juga, Raka meminta asisten pribadinya untuk membawanya keluar.
Reza mengiyakan dan bergegas turun dari mobil untuk membantu Tuan Mudanya turun dari mobil.
“Melinda, kamu kesini pasti kangen sama Ayah ya? Ayah juga kangen sekali sama kamu,” ucap Bambang berlagak seperti seorang Ayah yang baik kepada putrinya.
”Ayah, Melinda kesini bukan kangen sama Ayah. Akan tetapi, dia kesini karena ada berkas yang mau dia ambil,” ucap Katty mengadu pada Bambang.
Bambang terkejut sekaligus kecewa. Bambang pikir kedatangan putrinya adalah untuk memberikannya uang.
“Nak, apakah kamu tidak ada uang untuk diberikan kepada Ayah?” tanya Bambang tanpa rasa malu apalagi bersalah sedikitpun kepada putrinya.
“Ayah seharusnya tahu bahwa Melinda adalah orang miskin yang tak punya apa-apa. Lagipula, Melinda tidak berani meminta uang kepada Mas Raka maupun Kakek,” ungkap Melinda menahan diri untuk tidak menangis ketika tahu bahwa Ayahnya malah menanyakan uang dan bukan kabarnya.
Raka turun dari mobil dengan sangat kesal.
“Hei kamu, apa yang telah kamu lakukan kepada istriku tadi?” tanya Raka sembari menunjuk ke arah Katty.
Katty dengan cepat memasang wajah tak bersalah.
“Maksud Kak Raka apa?” tanya Katty seakan-akan dirinya telah dianiaya oleh Melinda.
“Cukup!” Raka berteriak dan membuat mereka terkejut. “Jangan sekali-kali memanggilku dengan sebutan itu. Kau cukup memanggilku dengan sebutan Tuan Muda,” tegas Raka.
Tubuh Katty gemetar hebat dan seketika itu ia menangis karena terkejut dengan suara Raka yang membentak dirinya.
__ADS_1
“Tuan Muda, tolong maafkan putri saya. Putri saya belum dewasa dan jadinya seperti ini,” ucap Dina yang lagi-lagi membela Katty.
“Apa matamu buta? Apakah harus umur 100 tahun dulu baru bisa dikatakan dewasa? Cepat suruh putrimu yang tak tahu diri ini minta maaf kepada istriku!” perintah Raka.
“Mas Raka, saya sudah memaafkan,” ujar Melinda yang tak ingin bila keluarganya semakin membencinya.
“Diam kamu. Meskipun kamu telah memaafkan wanita bodoh ini, aku tetap tidak bisa memaafkannya. Atau begini saja, sepertinya akan sangat cocok kalau wanita bodoh ini mendekam di penjara,” pungkas Raka.
Mendengar bahwa dirinya akan dimasukkan ke dalam penjara, saat itu juga Katty berlutut dan meminta maaf kepada Melinda. Katty tidak ingin masuk penjara dan mengakibatkan hidupnya menjadi hancur.
“Kak Melinda, tolong maafkan aku. Aku mengaku salah, tolong jangan kirim aku ke penjara,” ucap Katty.
“Katty, aku sudah memaafkan mu. Tolong jangan seperti ini lagi,” sahut Melinda membantu Katty berdiri.
Raka tak suka berlama-lama di tempat itu. Raka pun meminta Melinda untuk cepat mengambil berkas-berkas penting dan bergegas pergi dari tempat itu.
Melinda mengiyakan dan berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Kini, Bambang, Dina dan juga Katty hanya bisa berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Kamu kemari!” perintah Raka pada Bambang.
Bambang dengan takut berjalan menghampiri Raka yang duduk manis di kursi roda.
Raka mengeluarkan amplop yang tentu saja berisi uang tunai.
“Ambilah!” Raka melempar uang tersebut ke wajah Bambang dan membuat uang pecahan 100 ribu berserakan di tanah.
Bambang, Dina dan Katty terlihat sangat bersemangat. Mereka berebut memunguti uang tersebut.
“Lihatlah mereka, yang mereka tahu hanya uang dan uang,” ucap Raka menghina keluarga dari istrinya.
Ucapan Raka sama sekali tak di dengar oleh ketiganya. Mereka bertiga hanya fokus memunguti uang tersebut.
Melinda keluar dari rumah dan melihat pemandangan yang membuat kesal.
“Ayah.” Melinda mencoba memanggil Ayahnya yang tengah sibuk memunguti uang.
“Sudah sana, pergi kamu.” Bambang berkata tanpa menoleh sedikitpun ke arah Melinda.
Raka tertawa mengejek dan meminta istrinya segera masuk ke dalam mobil.
Melinda tak bisa berkata-kata melihat Ayahnya yang lebih mementingkan uang daripada putrinya sendiri.
“Cepat pergi dari sini!” perintah Raka ketika ia dan Melinda telah masuk ke dalam mobil.
Melinda menunduk sembari menahan air matanya.
“Keluargamu benar-benar tak tahu malu. Yang mereka pikirkan hanya uang dan uang,” ucap Raka.
“Mas Raka kenapa memberikan mereka uang?” tanya Melinda yang terus menunduk malu.
“Aku memberikannya sebagai sedekah. Atau mungkin, aku memberikannya hanya untuk pamer? Entahlah. Aku tidak ingin membahas ketiga sampah itu,” pungkas Raka.
Melinda mengangkat kepalanya dan cepat-cepat menghapus air matanya.
“Kenapa? Kamu masih ingin menangisi keluarga seperti itu?” tanya Raka kesal ketika melihat Melinda menangis.
“Maafkan saya, Mas Raka. Saya terlalu malu menghadapi keluarga saya dan saya juga sangat malu dengan Mas Raka serta Kakek,” ungkap Melinda.
__ADS_1
“Cukup. Jangan membahas tentang hal yang paling aku benci,” pinta Raka.