Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 71


__ADS_3

Melinda tiba di dapur dan mengambil beberapa jeruk untuk dijadikan jus jeruk segar untuknya dan Sang suami.


Wanita itu terlihat sangat teliti dengan apa yang ia tangani dan tak butuh waktu lama, jus jeruk pun siap untuk dinikmati.


Raka baru saja selesai mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Dzuhur, Melinda pun masuk ke dalam kamar dengan membawa dua gelas jus jeruk.


“Letakkan gelas itu di meja, ayo sholat. Kita tadi belum sholat Dzuhur,” ucap Raka mengajak istrinya untuk sholat berjama'ah.


“Iya Mas Raka, sebentar saya ganti baju dulu. Bisakah Mas Raka memejamkan mata karena saya harus berganti baju,” tutur Melinda.


“Tentu saja,” balas Raka dan saat itu juga memejamkan matanya.


Melinda mengambil pakaian dan cepat-cepat mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Sebenarnya, bisa saja Melinda mengganti pakaiannya di kamar mandi. Akan tetapi, Melinda lebih senang mengganti di kamar tidur dan bukan kamar mandi.


Raka terus memejamkan matanya dan tak ada niat sedikitpun untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia dengan patuh menuruti apa yang istrinya katakan.


“Sudah selesai, Mas Raka boleh membuka mata,” ujar Melinda yang telah selesai berganti pakaian.


Raka membuka matanya dan fokus dengan sajadah yang sudah ia duduki.


“Mas Raka turun sendiri dari kursi roda? Seharusnya Mas Raka tunggu sampai selesai membuat jus jeruk,” ujar Melinda pada suaminya.


“Aku masih bisa turun sendiri, meskipun agak sulit. Sekarang ambil wudhu dan kita sholat Dzuhur berjama'ah,” ujar Raka.


Melinda pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan sholat Dzuhur berjama'ah dengan sang suami.


Tak butuh waktu lama, mereka pun melangsungkan sholat Dzuhur berjama'ah.


Melinda sangat bahagia dan berharap bahwa seterusnya ia akan selalu melaksanakan sholat berjama'ah dengan sang suami.


Ya Allah, terima kasih atas hari yang bahagia ini. (Batin Melinda)


🌷


Sore hari.


Sore itu Raka meminta asisten pribadinya untuk datang ke rumah. Dikarenakan, Raka akan mengajak Melinda jalan-jalan sekaligus meminta maaf atas sikap kasarnya terhadap Melinda selama ini.


Raka telah berpakaian rapi dengan dibantu oleh asisten pribadinya. Sedangkan Melinda, masih bingung dengan pakaian yang akan ia kenakan.


“Haduh, bagaimana ini? Mas Raka pasti sudah menungguku di bawah dan aku masih belum apa-apa,” ucap Melinda yang mulai panik.


Melinda berpikir keras untuk memilih pakaian yang ia kenakan. Akhirnya, ia memilih dress berwarna putih susu.


Kulit Melinda yang mulus tentu saja mendukung dress berwarna putih yang ia kenakan.


Melinda memakai riasan setipis mungkin agar terlihat natural. Kemudian, Melinda memilih lipstik berwarna merah muda dan menghias bibirnya dengan warna tersebut.


“Ternyata, aku tidak terlalu buruk bila berhias diri sendiri,” ujar Melinda bermonolog dan mengedipkan sebelah matanya ke cermin yang memantulkan wajah cantiknya.


Raka berulang kali menoleh ke arah lift untuk melihat apakah istrinya sudah turun atau belum. Akan tetapi, Melinda tak kunjung turun dan membuat Raka tak sabar menunggu istrinya.


Sekali lagi Raka menoleh ke arah lift dan kini Melinda muncul dari dalam lift. Melinda tersenyum sembari melambaikan tangannya ke arah sang suami, Raka pun membalas senyuman istrinya dan ikut melambaikan tangan ke arah istrinya.


Reza tercengang dengan pemandangan yang ia lihat. Tuan Mudanya tiba-tiba berubah drastis dan Reza sempat berpikir kalau dirinya sedang berhalusinasi. Akan tetapi, ketika ia mencubit pipinya sendiri, Reza pun sadar bahwa apa yang ia saksikan bukanlah halusinasi.

__ADS_1


“Jadi, ini fakta,” ucap Reza yang masih tercengang bukan main.


Melinda menghampiri suaminya dan meminta pendapat mengenai penampilannya sore itu.


“Mas Raka, bagaimana pendapat Mas Raka mengenai penampilan saya ini?” tanya Melinda yang terlihat tak percaya diri ketika berhadapan dengan suaminya.


“Kamu terlihat cantik dan warna putih ini tidak terlalu buruk,” jawab Raka memuji penampilan istrinya, Melinda Anandi.


Reza lagi-lagi dibuat syok sekaligus terheran-heran dengan sikap Tuan Mudanya. Disisi lain, Reza senang melihat Tuan Mudanya yang berbicara pada Nona Mudanya dengan nada yang sangat lembut.


“Alhamdulillah, saya kira Mas Raka akan mengatakan bahwa penampilan saya biasa saja seperti kemarin,” tutur Melinda dengan hati berbunga-bunga karena baru saja mendapat pujian dari suaminya.


“Ayo tunggu apalagi, kita harus pergi sekarang,” tutur Raka mengajak Melinda untuk segera pergi ke suatu tempat yang sebelumnya telah dipesan olehnya.


Melinda terlebih dulu masuk ke dalam mobil dan disusul oleh suaminya dengan dibantu oleh Asisten pribadi yaitu, Reza.


Sore itu, Almer kebetulan sedang tidak berada di rumah. Kakek tua itu sedang menikmati sorenya bersama para teman-temannya di taman yang kebetulan dekat dengan rumah keluarga Arafat.


Untuk pertama kalinya, Raka yang berinisiatif menggenggam erat jemari tangan istrinya. Melinda tersipu malu dan juga gugup ketika suaminya menggenggam erat jemari tangannya.


Saking gugupnya, Raka bahkan merasakan bahwa tangan istrinya gemetaran.


“Jangan terlalu gugup, anggaplah sesantai mungkin,” tutur Raka pada istrinya.


“Mas Raka, ini pertama kalinya ada pria yang menggenggam jemari tangan saya seperti ini,” ungkap Melinda pada suaminya dengan malu-malu.


Reza menguping pembicaraan sepasang suami istri dibelakangnya. Reza juga penasaran mendengar pernyataan Nona Mudanya yang cukup membuatnya penasaran. Karena yang Reza tahu, Nona Mudanya memiliki mantan kekasih dan sangat tak mungkin bila Nona Mudah dan mantan kekasih dari Nona Mudanya tidak melakukan kontak fisik seperti menggenggam tangan satu sama lain ataupun berpegangan tangan satu sama lain.


Raka tertawa lepas mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.


“Untuk kali ini aku tak percaya. Karena yang aku tahu, kamu memiliki mantan kekasih dan bahkan saat pernikahan kita pun kamu dan juga mantan pria gila itu saling berpelukan,” pungkas Raka sembari menahan cemburu yang mulai berapi-api di dalam dadanya.


Melinda tak mengelak dengan apa yang suaminya lihat. Bagaimanapun, apa yang Raka katakan adalah fakta bahwa ia dan Royan berpelukan ketika pesta pernikahannya bersama sang suami.


“Baiklah, kalau berpelukan itu memanglah fakta. Akan tetapi, sebelumnya kami tidak pernah berpegangan tangan bahkan bertemu pun sangat jarang. Tolong percayalah, Mas Raka,” ucap Melinda memohon agar suaminya percaya dengan apa yang ia katakan.


“Sudahlah, jangan dibahas lagi. Bagaimanapun, itu adalah masa lalu mu dan aku pun memiliki masa lalu,” pungkas Raka yang masih menggenggam erat jemari tangan Melinda dan tak longgar sedikitpun.


Melinda mengiyakan apa yang dikatakan suaminya dan bersandar di bahu suaminya itu.


“Apakah kamu ingin tidur?” tanya Raka karena biasanya Melinda bersandar di bahunya ketika istrinya itu tertidur.


“Tidak. Saya tidak mengantuk dan tidak ingin tidur,” jawab Melinda yang ingin menikmati momen kebersamaannya dengan Sang suami.


Raka tersenyum dan membiarkan Melinda bersandar di bahunya.


“Mas Raka, apakah perjalanan kita masih jauh untuk sampai ke tempat yang akan kita tuju?” tanya Melinda penasaran.


“Rahasia. Kalau sudah sampai, kamu pun akan tahu sendiri,” jawab Raka.


Jawaban Raka membuat Melinda semakin penasaran dan ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuan.


Reza tersenyum mendengar percakapan keduanya yang terdengar semakin akrab satu sama lain.


🌷

__ADS_1


Mobil berhenti disebuah area parkir restoran yang terlihat sangat mahal. Melinda turun dari mobil dengan tatapan terkagum-kagum.


Bagaimana, apakah kamu suka dengan tempat ini?” tanya Raka pada istrinya yang terlihat terpukau terkagum-kagum dengan restoran yang mereka datangi.


“Mas Raka, restoran ini dari luar saja sudah terlihat sangat mahal. Pasti makanan di dalam adalah makanan kelas atas,” ucap Melinda.


“Hei, kamu sekarang bersamaku dan tidak perlu memikirkan makanan itu mahal atau tidak. Ayo masuk ke dalam, restoran ini sudah aku beli atas nama mu,” ungkap Raka sebagai hadiah permintaan maaf darinya kepada sang istri, Melinda Anandi.


Mulut Melinda menganga lebar mendengar bahwa restoran itu telah menjadi miliknya.


“Mas Raka, kalau bercanda jangan seperti ini,” ucap Melinda menganggap perkataan suaminya adalah lelucon semata.


“Apakah pria sepertiku ini tidak mungkin bisa membeli restoran ini? Apa perlu aku buktikan sekarang juga?” tanya Raka yang berusaha membuat Melinda percaya bahwa dirinya telah membeli restoran itu atas nama istrinya, Melinda Anandi.


Melinda menggerakkan tangannya memberi isyarat agar suaminya tidak melakukan hal seperti itu.


“Ba..baiklah saya percaya. Akan tetapi, untuk apa Mas Raka membeli restoran ini atas nama saya? Lagipula, saya tidak paham dengan kehidupan orang kaya,” terang Melinda yang terlihat sangat kebingungan dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya.


“Masuklah, nanti aku akan menjelaskannya,” balas Raka yang akan menjelaskannya di dalam.


Reza setia mendorong kursi roda Tuan Mudanya masuk ke dalam restoran tersebut.


“Mas Raka, kenapa tidak ada pengunjung satupun?” tanya Melinda mendapati restoran yang sangat sepi.


“Karena aku ingin hanya kita berdua saja yang menikmati makanan disini. Besok, restoran ini beraktivitas seperti biasanya,” terang Raka yang dengan sabar menjelaskan pertanyaan istrinya.


Raka menjentikkan jarinya dan saat itu juga pelayan datang dengan berbaris rapi mendatangi Raka dan Melinda. Mereka datang dengan membawa makanan yang sangat banyak, hingga Melinda bingung untuk menghabiskan makanan yang telah memenuhi meja makan tersebut.


Setelah itu, tiba-tiba musik romantis terdengar dan ada seorang pria yang bernyanyi dengan suara yang sangat merdu.


Melinda lagi-lagi tercengang melihat apa yang terjadi di restoran tersebut.


Reza memuji pesona Tuan Mudanya yang bertambah berkali-kali lipat karena menyiapkan konsep yang begitu sangat sempurna, hingga Reza sendiri tidak tahu bahwa Tuan Mudanya telah merancang itu semua.


“Melinda, maukah kamu memaafkan dan melupakan kejadian dimana aku selalu membuatmu marah, kesal hingga menangis?” tanya Raka yang tulus meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan kepada Melinda.


Melinda menangis terharu melihat pancaran sinar ketulusan dimata suaminya. Melinda mengangguk kecil yang artinya ia telah menerima maaf dari suaminya.


Raka tersenyum lega dan menghapus air mata istrinya dengan sangat hati-hati. Raka tidak ingin merusak riasan wajah istrinya yang sangat cantik itu.


“Terima kasih, aku sangat lega karena kamu mau memaafkan aku,” ujar Raka yang sangat lega.


“Mas Raka tidak perlu repot-repot menyiapkan semua ini. Bahkan, jika Mas Raka mengatakannya di rumah dan di dalam kamar sekalipun tentu saja saya akan memaafkan Mas Raka. Lagipula, saya sama sekali tidak marah apalagi tak menyukai Mas Raka. Hari ini saya sangat bahagia, terima kasih untuk semuanya, Mas Raka,” ungkap Melinda yang sangat terharu dengan pertunjukkan manis tersebut.


“Kamu adalah wanita baik sekaligus wanita kuat yang pernah saya temui,” pungkas Raka.


Reza menitikkan air matanya melihat adegan yang tak pernah ia duga sebelumnya.


“Siapa yang meletakkan bawang disini?” tanya Reza bermonolog dan buru-buru mengambil sapu tangan miliknya untuk segera menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir dengan cukup deras.


“Sudah jangan menangis, lagipula bukan aku yang menyiapkan semua ini. Aku hanya memberi perintah dan akhirnya jadilah seperti ini,” terang Raka.


Melinda menghela napasnya sembari dan berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir lagi membasahi wajahnya.


“Ayo makan, aku harap kamu menyukai menu makanan di restoran barumu.”

__ADS_1


Melinda masih tak percaya dengan apa yang terjadi saat itu. Semua yang terjadi seperti mimpi untuknya dan Melinda tidak ingin terbangun dari mimpi indahnya itu.


__ADS_2