
Sore hari.
Melinda tersenyum manis ketika melihat mobil Sang suami yang berada di area parkir kampus. Dengan penuh semangat, Melinda berlari untuk segera masuk ke dalam mobil.
“Mas Raka,” ucap Melinda dan mencium punggung tangan suaminya.
“Bagaimana hari ini?” tanya Raka penasaran.
“Alhamdulillah semuanya lancar, Mas Raka. Saya bisa mengerjakannya dengan sangat mudah,” jawab Melinda.
“Wah, istriku memang pintar. Ayo kita cari makan, kamu mau makan apa?” tanya Raka.
“Apa ya? Belum tahu, bagaimanapun kalau kita berkeliling dulu?” tanya Melinda balik.
“Boleh,” sahut Raka dan memberi perintah kepada Asisten pribadinya untuk berkeliling sembari mencari makanan untuk mengisi perut mereka yang lapar.
Melinda sangat senang, ia bersandar di bahu suaminya sembari memeluk erat tangan suaminya.
“Mas Raka, Kakek sudah pulang atau masih di kantor?” tanya Melinda penasaran.
“Kakek masih di kantor, kemungkinan Kakek pulang malam,” jawab Raka dan mencium lembut kening Melinda hingga mengeluarkan suara.
Baiklah, lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. Aku akan berpura-pura tidak tahu apa yang kalian lakukan di belakang. (Batin Reza)
“Mas Raka, kita masih di mobil. Tidak enak dengan Mas Reza,” bisik Melinda.
Raka tertawa kecil dan hanya bisa mengangguk setuju dengan ucapan istri tercinta.
Beberapa jam kemudian.
Indri menangis histeris. Lagi-lagi ia dikurung di dalam kamar atas perintah dari Sang Kakek.
“Dasar pelayan tak tahu diri. Bisa-bisanya dia mengadu dan membuatku menderita seperti ini,” ucap Indri yang sangat marah karena lagi-lagi ia diperlakukan semena-mena.
__ADS_1
Melinda baru saja dari dapur dan ketika melintasi kamar Indri, Melinda mendengar suara tangis Indri.
“Cucu menantu!” panggil Almer ketika melihat cucu menantu kesayangannya berdiri tak jauh dari kamar Indri.
Mendengar namanya dipanggil, Melinda seketika itu menoleh dan berlari kecil menghampiri Kakek tua itu.
“Iya, Kakek! Kakek butuh sesuatu?” tanya Melinda.
“Tidak, Kakek tidak membutuhkan apapun. Cucu menantu, sebaiknya jauhi kamar itu bila perlu jauhi juga wanita itu. Salah satu pelayan di rumah ini hari ini berhenti karena tidak tahan dengan kelakuan wanita jahat penghuni kamar itu,” pungkas Almer sembari menunjuk pada kamar Indri.
“Apa, Kek? Berhenti? Apa yang telah Mbak Indri lakukan sampai-sampai salah satu Mbak berhenti dari pekerjaan?” tanya Melinda yang cukup miris atas apa yang telah dilakukan oleh Indri kepada pelayan.
Almer tak ingin menyimpan rahasia apapun kepada cucu menantunya. Almer pun menceritakan mengenai penjelasan dari pelayan yang sudah tidak bekerja di kediaman mewah keluarga Arafat.
Setelah mendengar penjelasan dari Sang Kakek, Melinda nampak sangat sedih. Sepertinya kebencian Indri terhadap dirinya semakin besar.
“Kakek, Melinda ke kamar ya,” ucap Melinda dan berlari kecil untuk segera masuk ke dalam lift.
Tanpa sadar, Melinda menangis sedih. Ia mengira bahwa setelah kejadian itu Indri bisa berubah menjadi wanita yang baik. Akan tetapi, Melinda salah besar. Wanita seperti Indri memang tidak bisa berubah, meskipun berulang kali diberi kesempatan dan juga dimaafkan.
Melinda menghapus air matanya sebelum masuk ke dalam kamar dan menggerakkan bibirnya sebelum masuk ke dalam kamar.
“Sayang,” ucap Melinda dengan tersenyum lebar ketika melihat Sang suami yang sedang berbaring di tempat tidur sembari membaca buku.
Raka pun tersenyum dan menutup buku tersebut agar fokus terhadap istrinya.
“Sayang, sini ada yang mau aku beritahu padamu!” Raka mengerakkan tangannya isyarat agar Melinda segera naik ke tempat tidur.
“Ada apa, sayang? Sepertinya sangat penting,” tutur Melinda dan cepat-cepat naik ke tempat tidur untuk mendengarkan apa yang akan suaminya sampaikan.
Raka merentangkan tangan kirinya agar menjadi bantal untuk Sang istri.
“Begini, bulan depan aku akan melakukan perjalanan ke luar negeri dan entah sampai kapan suamimu ini bertahan disana,” ujar Raka.
__ADS_1
“Maksud Mas Raka apa? Apakah ada perjalanan bisnis dan pekerjaan penting disana? Tidak bisakah saya ikut menemani Mas Raka?” tanya Melinda yang mulai panik karena tidak ingin berjauhan dari Sang suami.
“Istriku sayang, perjalanan ini bisa dikatakan sangat penting dan kamu tetap diam disini. Bisakah kamu menunggu kedatanganku?” tanya Raka serius.
“Tolong beritahu negara mana yang akan Mas Raka tuju dan berapa lama Mas akan meninggalkan saya?” tanya Melinda yang sangat ingin tahu tujuan perginya Sang suami.
“Sayang, biarlah ini menjadi rahasia dan Aku juga tidak tahu berapa lama disana. Intinya, ada yang harus aku lakukan disana,” terang Raka yang semakin membuat Melinda penasaran serta bertanya-tanya.
Melinda menatap lekat mata suaminya dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. Ia bingung harus bagaimana, ingin rasanya Melinda mencegah kepergian suaminya. Ditambah, kondisi suaminya yang cacat.
“Suuttsss, istriku kenapa menangis?” tanya Raka.
“Mas Raka jahat, apakah Mas Raka pergi seorang diri?” tanya Melinda yang masih memeluk suaminya.
“Tentu saja tidak. Suamimu ini lumpuh, bagaimana cara aku bisa pergi sendiri? Tentu saja Reza harus ikut dan mengurusi semua kebutuhanku,” jawab Raka.
“Mas Raka sehat-sehat ya disana. Jangan lupa untuk terus berkirim kabar, saya pasti akan selalu menunggu kedatangan Mas Raka,” tutur Melinda.
“Sudah dong nangisnya, kalau istriku terus-menerus seperti ini yang ada malah cantiknya hilang,” pinta Raka mencoba menenangkan Melinda agar tidak lagi menangis.
Melinda akhirnya berhenti menangis dan hal tak disangka pun terjadi, Melinda tertidur dengan posisi yang terus memeluk erat tubuh suaminya.
Raka tertawa kecil dan perlahan melepaskan pelukan istrinya, agar istrinya itu bisa tidur dengan nyaman.
“Tidurlah yang nyenyak istriku sayang,” bisik Raka dan mengambil kesempatan mengecup bibir ranum Melinda.
Keesokan paginya.
Indri akhirnya terbebas dari hukuman atas apa yang telah ia katakan. Meskipun begitu, ia masih tidak bebas berkeliaran di rumah itu. Apalagi bila ada Melinda di rumah, hampir setiap saat Indri selalu diawasi untuk berjaga-jaga bila ia nekad menyerang Melinda.
“Kalian berdua, aku sedikit ingin menyendiri di taman ini. Bisakah kalian pergi meninggalkan aku?” tanya Indri yang tak habis pikir dengan dua pelayan yang terus membuntuti dirinya.
“Mbak Indri, kami sedang melaksanakannya tugas dari Tuan Besar. Untuk itu, kami harus terus berada dekat dengan Mbak Indri,” jawab salah satu pelayan dan diiyakan oleh pelayan yang lain.
__ADS_1
“Apakah kalian sudah gila? Ataukah kalian tidak punya otak? Aku hanya ingin menyendiri disini, kalau kalian terus berdiri disini, aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih,” pungkas Indri yang mengeluh dengan sikap kedua pelayan tersebut.