Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 118


__ADS_3

Wajar saja bila Sang Kakek mengatakan hal seperti itu, kelakuan Indri memang sangat kelewatan. Meskipun begitu, Kakek tua itu tidak mengetahui sama sekali dan tidak ingin tahu kenapa Indri bisa tak sadarkan diri.


Melinda yang tahu mengenai Indri, memutuskan untuk merahasiakan apa yang ingin Indri lakukan pada Melinda. Hal itu semata-mata Melinda lakukan agar Suami maupun Sang Kakek tidak semakin membenci Indri.


Kali ini aku akan bungkam soal rencana Mbak Indri yang ingin mencelakakan aku. Akan tetapi, aku tidak akan diam jika dikemudian hari Mbak Indri tetap ingin menyakiti ku. (Batin Melinda)


“Kakek, Melinda pergi ke rumah sakit ya untuk menemani Mbak Indri,” ucap Melinda.


“Tidak perlu, Cucu menantu. Biarkan saja wanita itu bersama seorang pelayan di rumah sakit. Cucu menantu lebih baik di rumah menemani Cucu kandung Kakek,” balas Almer yang sengaja tidak ingin bila Melinda dekat-dekat dengan Indri.


Melinda mengiyakan dengan patuh dan memutuskan untuk pergi menemui Sang suami yang berada di kamar.


“Sayang, kemana saja? Dari tadi aku menunggumu dikamar kita ini.” Raka memperhatikan wajah Melinda yang nampak sedang tidak baik-baik saja.


Raka menggerakkan tangannya isyarat agar Melinda segera naik ke tempat tidur.


Perlahan, Melinda pun naik ke tempat tidur dan memeluk erat tubuh suaminya.


“Ada apa? Kenapa wajah istriku ini tidak bersemangat?” tanya Raka penasaran.


“Tidak ada apa-apa, sayang. Bolehkah kita tidur lebih awal?” tanya Melinda yang ingin segera beristirahat, mengistirahatkan seluruh tubuhnya serta pikirannya.


“Sudah ngantuk?” tanya Raka memastikan.


“Iya, Mas Raka sayang. Saya sudah sangat mengantuk dan ingin tidur,” jawab Melinda.


Melinda sengaja tak membahas masalah Indri. Bukan apa-apa, toh percuma saja bila Melinda memberitahukan suaminya. Sang suami pasti akan menghujat Indri dan semakin membenci Indri.


“Sayang, karena wanita itu masih disini. Kamu tetap harus waspada, rasanya ingin sekali aku mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Agar disana wanita itu tidak bisa apa-apa dan tidak bisa bertindak seenak jidatnya,” ucap Raka yang semakin membenci kehadiran Indri yang seperti benalu di rumah tersebut.


Melinda bernapas lega, setidaknya keputusan yang ia ambil sudah tepat. Kalau saja ia menceritakan bahwa Indri masuk rumah sakit, dapat dipastikan Sang suami akan sangat senang atas penderitaan Indri.


🌷


Rumah Sakit.


Indri telah sadarkan diri dan betapa terkejutnya Indri ketika tahu bahwa dirinya sudah berada di rumah sakit.


Indri takut sekali, ia berpikir bahwa dirinya telah dikirim ke rumah sakit jiwa.


“Kamu, cepat keluarkan aku dari sini!” Indri berteriak ketika melihat seorang pelayan rumah yang tengah berdiri dengan terus menatapnya.


“Mbak Indri tetap harus disini,” ucap pelayan itu.


“Apa? Mbak Indri? Sejak kapan seorang Nyonya rumah tiba-tiba berganti panggilan dengan panggilan Mbak?” tanya Indri yang protes dengan panggilan tersebut.

__ADS_1


Pelayan itu hanya bisa menatap dirinya, sementara Indri terus saja memberontak. Untungnya saja, ada seorang dokter yang langsung sigap menyuntikkan obat penenang kepada Indri.


“Dok, apakah Mbak Indri baik-baik saja?” tanya si pelayan.


“Mari, ikut saya ke ruangan saya. Saya akan menjelaskan secara detail mengenai kondisi kesehatan pasien,” balas dokter wanita itu dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Beberapa hari kemudian.


Raka maupun Sang Kakek, terlihat sangat bahagia. Mereka berdua tak peduli dengan kondisi Indri yang masih dirawat di rumah sakit. Mereka berdua sangat senang karena Indri tidak bisa mendekati Melinda Anandi.


“Mas Raka, Kakek! Melinda berangkat dulu, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Melinda dan menyalami suami dan Kakek tua itu secara bergantian, sebelum masuk ke dalam mobil.


Melinda masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya ke arah suami serta Kakek Almer.


“Istrimu benar-benar mengagumkan,” puji Kakek tua itu.


“Tentu saja, istriku begitu mengagumkan dan terima kasih karena telah menikahkan kamu berdua,” balas Raka.


Almer tertawa lepas mendengar ucapan terima kasih dari Cucu kandungnya.


“Ada yang salah dengan ucapan Raka?” tanya Raka terheran-heran.


“Sekarang kamu mengucapkan terima kasih karena Melinda telah menjadi istrimu. Kalau dulu, bagaimana?” tanya Almer penasaran.


“Baiklah, Kakek akan menunggu hari dimana kamu membuktikan ucapan mu kepada Kakek,” balas Almer kepada Sang Cucu.


Raka merespon ucapan Kakeknya dengan senyum penuh semangat.


“Ayo, sudah saatnya kita pergi ke perusahaan!” ajak Almer dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.


Reza yang tak lain ada asisten pribadi Raka Arafat, saat itu juga membantu Tuan Mudanya masuk ke dalam mobil.


“Reza, apakah semua keperluanku untuk bulan depan sudah kamu siapkan?” tanya Raka.


“Sudah, Tuan Muda. Semuanya sudah saya siapkan dan sama sekali tidak ada yang terlewatkan,” jawab Reza yang bersiap-siap mengemudikan mobil.


Sang Kakek menatap Cucu kandungnya dengan tatapan penuh tanya.


“Raka, kalian sedang membahas apa? Persiapan apa yang kalian maksud?” tanya Almer penasaran.


“Kakek akan tahu setelah Raka memberitahu Melinda,” jawab Raka.


“Oh, apakah masalah bulan madu yang kalian bahas itu?” tanya Almer.


Raka hanya tersenyum tipis mendapat pertanyaan dari Kakeknya. Sebenarnya, ia ingin sekali bulan madu bersama Sang istri. Akan tetapi, ada hal yang lebih penting lagi daripada bulan madu mereka.

__ADS_1


Ponsel Raka berbunyi nyaring dan membuat mereka bertiga yang berada di dalam mobil cukup terkejut.


“Raka, bagaimana bisa bunyi ponselmu begitu nyaring? Kakek hampir saja jantungan,” ucap Almer sembari mengelus dadanya berulang kali karena bunyi ponsel Cucu kandungnya.


“Maaf, Kek. Raka lupa mengubahnya dengan mode getar,” jawab Raka dan menerima sambungan telepon tersebut.


Raka mengernyitkan keningnya setelah mengetahui alasan dari si penelpon.


“Urus saja semuanya, saya tidak peduli,” ucap Raka dan mengakhiri sambungan telepon tersebut.


“Siapa?” tanya Almer.


“Bukan siapa-siapa, Kek. Hanya pelayan yang menemani wanita itu di rumah sakit,” jawab Raka yang jelas bahwa wanita yang dimaksud Raka ada Indri.


“Oh, kenapa memangnya?” tanya Almer.


“Siang ini wanita itu akan kembali ke rumah,” jawab Raka.


“Kalau begitu, Melinda tidak boleh pulang sendirian. Kakek tidak ingin bila nanti wanita itu membuat masalah,” ujar Sang Kakek.


“Kakek tenang saja, saat Melinda pulang biar Raka lah yang menjemput,” balas Raka.


“Bagus, itu baru Cucu kandung Kakek,” sahut Almer.


Disaat yang bersamaan, Indri nampak sangat sedih sekaligus kesal. Dikarenakan selama ia dirawat di rumah sakit, tak satupun dari orang rumah yang datang menjenguk dirinya. Bahkan, untuk menanyakan saja tidak ada. Hal itu, membuat Indri semakin membenci kehadiran Melinda dan berharap Melinda segera mati agar kehidupannya bisa kembali seperti dulu lagi.


“Kamu, cepat belikan aku sushi di depan rumah sakit. Cepat!” perintah Indri.


“Mbak Indri sedang sakit, kenapa permintaan Mbak Indri seperti orang sehat? Lagipula, sushi sangat mahal dan uang yang diberikan oleh Tuan Besar tidaklah cukup,” pungkasnya.


“Apa? Lalu aku harus bagaimana? Aku lapar dan aku butuh asupan makanan. Jangan-jangan kamu ingin bila aku mati kelaparan? Kamu ingin aku mati dan wanita kampungan itu menguasai rumah? Jangan harap kamu atau kalian semua bisa melakukan itu kepadaku. Lagipula, yang mati itu adalah wanita kampungan itu dan bukan aku!” Indri berteriak dan melemparnya sebuah botol berisi air ke wajah pelayan wanita itu dengan sangat kuat.


Pelayan itu jatuh setelah mendapatkan lemparan botol dengan sangat keras di wajahnya. Saat itu juga, pelayan wanita itu berlari keluar dari ruangan tersebut dengan menangis kesakitan.


Melihat hal tersebut, Indri sama sekali tak merasa bersalah. Justru, Indri sangat senang karena bisa membalas sakit hatinya dengan melempari botol ke wajah pelayan.


“Rasakan, siapapun yang berani macam-macam atau tidak patuh kepadaku, akan ku pastikan bahwa kalian akan menyesal selamanya,” ucap Indri dan kembali berbaring di ranjangnya dengan penuh kemenangan.


Pelayan itu berlari dengan air mata yang terus mengalir. Beberapa hari ini dia terus menjadi sasaran amukan dari Indri. Sebisa mungkin ia bertahan, akan tetapi Indri terlalu jahat dan membuatnya harus menyerah.


“Lebih baik aku berhenti dari pekerjaan ini. Wanita itu benar-benar sudah gila, aku hampir mati karenanya,” ucap pelayan tersebut.


Pelayan itu akhirnya memutuskan menghubungi Almer Arafat untuk memberitahukan apa yang telah terjadi, sekaligus ia memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya yang menurutnya begitu berbahaya.


“Akan aku ceritakan semuanya, wanita itu sangat menakutkan. Nona Muda juga harus berhati-hati,” ucapnya sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Tuan Besar, yaitu Almer Arafat.

__ADS_1


__ADS_2