Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 54


__ADS_3

Akhirnya mereka tiba di salah satu universitas yang cukup terkenal di kota Jakarta. Perasaan Melinda sangat bahagia sekaligus gugup. Dalam hidupnya, ia tidak pernah membayangkan akan melanjutkan pendidikan di universitas yang bisa dikatakan adalah universitas untuk orang-orang kaya.


Melinda menoleh ke arah suaminya dan menggenggam erat tangan suaminya. Melinda terlalu senang hingga menggenggam erat tangan suaminya.


“Ada apa?” tanya Raka tanpa ingin melepaskan tangan Melinda yang menggenggam erat tangannya.


“Mas Raka, apakah benar ini kampus yang akan menjadi tempat saya berkuliah?” tanya Melinda memastikan.


“Iya, memangnya kenapa? Kamu tidak suka? Baiklah, kita cari universitas yang lain saja,” balas Raka mengira bahwa Melinda tak menyukai universitas yang ia pilih.


“Saya sangat suka, Mas Raka. Akan tetapi, bukankah universitas ini sangat mahal?” tanya Melinda dengan tatapan polos.


“Kamu meremehkan aku?” tanya Raka pada Melinda yang terlihat sedang menantang dirinya.


“Mas Raka, kenapa harus marah-marah begini? Intinya, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” pungkas Melinda dan mempererat pegangannya.


“Cukup. Jangan lagi mengatakan kata terima kasih, lagipula aku melakukan semua ini hanya untuk memperbaiki reputasi ku. Bagaimana jadinya, bila orang lain tahu bahwa istriku hanya lulusan SMA?”


Reza mengingatkan Tuan Mudanya untuk segera turun dari mobil. Karena nanti siang, Tuan Mudanya harus berangkat ke perusahaan karena ada pekerjaan yang harus ditangani.


🌷🌷


Sekitar 1 jam Melinda dan Raka berada di ruang dosen untuk berbincang-bincang masalah Melinda yang akan kuliah di kampus tersebut.


Hingga akhirnya, Raka pamit karena harus mengejar waktu.


“Terima kasih untuk waktu dan penjelasannya. Kalau begitu, saya dan istri permisi,” ucap Raka pamit karena harus segera kembali ke rumah.


“Saya yang harusnya berterima kasih kepada Tuan Raka yang telah mempercayakan universitas kami,” sahut salah satu dosen yang nantinya akan menjadi dosen Melinda.


Melinda pamit dan mendorong kursi roda suaminya untuk segera meninggalkan area kampus tersebut.


Melihat Tuan Muda dan Nona Mudanya yang sedang berjalan ke arah mobil, Reza pun turun dari mobil bergegas mengambil alih untuk mendorong kursi roda Tuan Mudanya.


“Mas Raka, sekali lagi terima kasih. Akhirnya mimpi saya menjadi kenyataan,” tutur Melinda yang entah sudah berapa kali mengucapkan terima kasih kepada suaminya.

__ADS_1


“Sudah aku katakan berulang kali. Apa yang aku lakukan ini untuk diriku sendiri dan bukan untuk dirimu,” sahut Raka dan menghela napasnya.


“Tetap saja, saya harus berterima kasih,” balas Melinda dengan senyum manisnya.


Raka tertegun sejenak melihat senyum manis Melinda dan dengan cepat Raka mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Disaat yang bersamaan, Bambang beserta istri dan putrinya tengah sibuk menghitung uang yang diberikan oleh Raka. Total uang tersebut ternyata adalah 10 juta. Nominal yang cukup banyak untuk mereka bersenang-senang.


“Wah, uang sebanyak ini cukup untuk membeli alat make up dan baju baru,” ucap Katty dan menciumi uang tersebut berulang kali.


“Iya Katty sayang, belilah sepuas kamu,” sahut Dina.


“Uang ini sebaiknya kita gunakan dengan sebaik mungkin. Pria itu tidak selalu memberikan kita uang, terlebih lagi Melinda sama sekali tidak bisa diharapkan. Memiliki suami kaya saja tidak bisa dia manfaatkan,” ujar Bambang yang malah menjelek-jelekkan putri sulungnya.


“Ayah, Melinda itu bodoh. Kalau Katty jadi Melinda, Katty akan setiap hari berbelanja ini dan itu,” sahut Katty yang tanpa ragu menyebut Melinda adalah sosok wanita bodoh.


Katty melirik sekilas ke arah Dina dan berpindah posisi duduk bersebelahan dengan Dina, Ibu kandungnya.


Mereka bertiga benar-benar telah dibutakan oleh uang. Tak ada satupun dari mereka yang memikirkan perasaan Melinda.


🌷


Melinda melambaikan tangan ke arah mobil yang perlahan melaju meninggalkan area rumah.


“Terima kasih, Ya Allah. Akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan,” ucap Melinda bermonolog.


Saat Melinda ingin masuk ke dalam, beberapa pelayan menghampiri Melinda dan menyambut kedatangan Melinda.


Melinda sebenarnya tak terbiasa dengan perlakuan para pelayan yang begitu tunduk padanya.


“Nona Muda mau makan apa?” tanya salah satu pelayan yang ingin melayani Melinda sebaik mungkin.


“Saya sedang tidak ingin makan apapun, Mbak. Kalau saya ingin, saya akan mencarinya sendiri,” jawab Melinda yang tidak nafsu makan.


Melinda berlari kecil masuk ke dalam lift untuk menghindari para pelayan yang terus-menerus membuntutinya.

__ADS_1


“Akhirnya,” ucap Melinda yang bisa bernapas lega karena berhasil kabur dari para pelayan.


Melinda bergegas masuk ke dalam kamar dan beristirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya. Tiba-tiba muncul kejadian tadi pagi ketika Ayahnya mengabaikan dirinya dan lebih memilih memunguti uang.


Ayah, apakah bagi Ayah Melinda ini sudah tiada? Melinda masih hidup dan sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Akan tetapi, Ayah sedikitpun tidak pernah menanyakan kabar apalagi mencemaskan keadaan Melinda disini. (Batin Melinda)


Selamanya diperjalanan menuju perusahaan, Raka tak mengeluarkan sepatah katapun. Raka teringat kejadian yang membuat hatinya jengkel.


Sepertinya Melinda memang sangat menderita. Apa itu artinya Melinda adalah wanita baik? Ah, aku tidak bisa langsung memutuskannya dia adalah wanita yang baik, aku belum mengenal sosok dirinya lebih dalam lagi. (Batin Raka)


Reza melirik sekilas ke arah kaca yang langsung menuju ke wajah Tuan Mudanya.


“Tuan Muda sedang memikirkan apa? Sepertinya sangat serius,” tutur Reza penasaran.


“Jangan bertanya apapun padaku. Kau fokus menyetir saja!” perintah Raka dingin.


“Maaf, Tuan Muda. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” jawab Reza dengan patuh.


“Baguslah,” balas Raka singkat.


Raka mengeluarkan ponselnya dan tak sengaja melihat artikel mengenai dirinya di sosial media.


Artikel tersebut mengenai dirinya bersama Melinda yang berada di salah satu universitas ternama di Indonesia.


“Baru beberapa jam saja, wajahku dan wajah Melinda sudah terpampang di berita. Apakah mereka tidak ada kerjaan selain memberitakan kehidupan pribadi seseorang?”


Reza ingin bertanya mengenai apa yang dibicarakan oleh Tuan Mudanya. Akan tetapi, ia memilih untuk diam daripada mendapatkan teguran keras dari pria yang duduk di kursi tengah.


“Kau tidak ingin bertanya?” tanya Raka pada asisten pribadinya yang diam tak bersuara.


“Iya, Tuan Muda. Saat ini saya sedang fokus menyetir,” jawab Reza sembari melirik sekilas ke arah kaca yang terhubung dengan Tuan Mudanya.


Raka mengangguk kecil dan membaca artikel tersebut.


Tanpa sadar Raka tersenyum ketika melihat wajah tegang Melinda yang berhasil tertangkap kamera.

__ADS_1


Melihat dari posisi kami, sepertinya pihak universitas yang membuat berita ini. (Batin Raka)


Raka tersenyum kecil dan kembali membaca artikel itu sampai tuntas.


__ADS_2