Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 121


__ADS_3

Salah satu pelayan yang tak sengaja mendengar suara yang cukup keras dari kamar Indri, sangat terkejut dan dengan panik pelayan itu berlari menghampiri Tuan Besarnya yang saat itu sedang berada di ruang keluarga.


“Tuan Besar, Mbak Indri sepertinya merusak sesuatu di dalam kamar. Saya takut untuk masuk ke dalam kamar,” ucapnya.


Rahang Almer mengeras dan terlihat jelas bahwa Kakek tua itu sangat marah dengan kelakuan Indri yang semakin menjadi-jadi.


“Kalian, cepat bawa wanita itu kehadapan ku!” perintah Almer kepada para bodyguard untuk segera menyeret Indri ke hadapannya saat itu juga.


Indri yang masih menangis di dalam kamar, kaget seketika itu juga karena suara pintu yang diketuk dengan cukup keras.


“Buka!” Terdengar suara teriakan dari luar pintu kamar.


Indri menggelengkan kepalanya, ia cepat-cepat menutup telinganya dengan bantal. Indri sama sekali tidak ingin membuka pintu kamarnya, Indri tahu bahwa setelah ia membuka pintu kamarnya, dapat dipastikan bahwa ia akan mendapatkan masalah yang semakin besar.


Karena tak kunjung dibuka juga, para bodyguard terpaksa membuka pintu kamar tersebut secara paksa.


Suara pintu yang digedor membuat Indri semakin ketakutan, Indri pun memutuskan mengurung dirinya di kamar mandi dan akan tetap berada di kamar mandi sampai ia kehilangan nyawanya.


Pintu pun berhasil dibuka dan mereka tidak menemukan Indri. Perhatikan mereka tiba-tiba teralihkan ketika melihat meja hias yang kacanya sudah pecah berhamburan.


Salah satu bodyguard menyadari bahwa Indri ada di kamar mandi.


“Lihat, kamar mandi tertutup. Itu artinya dia ada di dalam, ayo kita buka paksa!” ajak salah satu dari mereka.


Beberapa saat kemudian.


Indri akhirnya berhasil dikeluarkan dari kamar mandi secara paksa, para bodyguard pun segera membawa Indri kepada Tuan besar mereka.


“Awww...” Indri meringis kesakitan karena pergelangan tangannya dipegang begitu kuat.


“Kalian pergilah, aku ingin berbicara empat mata dengan wanita ini,” tutur Almer dan saat itu juga para bodyguard serta pelayan bergegas meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Indri menangis dihadapan Kakek tua itu dengan derai air mata yang seakan-akan dirinya tengah tersiksa.


“Simpan air mata munafik itu!” teriak Almer dan membuat Indri terkejut.


Indri menutup mulutnya dan berhenti menangis.


Disaat yang bersamaan, Raka dan Melinda baru saja mengetahui apa yang terjadi. Keduanya pun memutuskan untuk menghampiri Indri dan Sang Kakek.


“Kakek, apakah selama ini Kakek tidak pernah menganggap aku ini sebagai Cucu menantu? Kakek kenapa tidak adil seperti ini? Aku juga istri dari cucu Kakek,” pungkas Indri yang mempertanyakan status serta keadilan yang menurutnya tidak pernah ia dapatkan.


“Apa kamu lupa apa yang kamu lakukan? Kamu dulu berpura-pura menjadi wanita yatim piatu dihadapan Rafa. Bahkan, kamu berpura-pura telah hamil dan keguguran kepada cucuku. Apakah kamu lupa?” tanya Almer yang berteriak keras di hadapan Indri.


“Ba-bagaimana Kakek tahu?” tanya Indri panik.


“Kamu tanya bagaimana saya tahu? Saya adalah orang berkuasa dan sangat mudah bagi saya mencari tahu identitas mu. Bodohnya, kenapa saya melakukannya setelah cucu kesayangan saya meninggal,” terang Almer menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya itu.


Raka dan Melinda pun datang menghampiri keduanya.


“Kakek, apakah yang Kakek katakan benar mengenai wanita gila tak tahu diri ini?” tanya Raka yang sangat syok mendengar keterangan dari Kakeknya.


Mata Raka memerah, sepertinya pria itu berusaha menahan tangisnya sekaligus amarah yang sedang membakar hatinya.


“Maaf, Kakek. Kami tidak sengaja mendengar Kakek berbicara,” tutur Melinda mewakili suaminya yang nampak sangat syok.


“Karena kalian sudah mendengarnya, Kakek tidak bisa lagi membunyikan fakta tentang wanita munafik dan pembohong ini,” ujar Indri.


“Tidak, semuanya hanya salah paham saja. Memang benar aku berbohong mengenai orangtuaku yang telah meninggal dan juga keguguran yang pernah aku alami. Akan tetapi, cintaku untuk almarhum suaminya adalah tulus. Aku sangat mencintainya dari dulu, sekarang dan selamanya,” tegas Indri yang merasa bahwa kebohongannya bukanlah masalah besar, karena yang terpenting adalah ia mencintai suaminya dengan tulus.


“Apa? Kalau begitu, mana buktinya?” tanya Raka mempertanyakan bukti bahwa Indri memang begitu mencintai Kakak kandungnya dengan tulus.


“Bukti? Kamu mau bukti? Tidakkah kalian lihat, bahwa aku sudah memperlihatkan buktinya selama ini?” tanya Indri dan tersenyum sinis. Seakan-akan, ia adalah wanita yang begitu setia.

__ADS_1


“Mana?” tanya Raka sembari menggerakkan kedua tangannya isyarat meminta bukti dari Indri.


“Buktinya aku tetap setia dan tidak mencari pria lain. Apakah bukti yang aku katakan ini masih belum jelas?” tanya Indri.


Raka tertawa keras, begitu juga dengan Almer. Penjelasan dari Indri membuat Raka maupun Sang Kakek begitu geram dengan wanita yang tak tahu malu itu.


“Kakek, Raka tidak ingin melihat wanita ini lagi. Tolong, segera usir wanita ini Kek,” pinta Raka yang sangat muak dengan kelakuan jahat Indri serta kebohongan Indri yang sangat fatal.


Melinda bisa melihat ekspresi wajah suaminya yang sangat sedih sekaligus terpukul atas apa yang telah Indri lakukan.


“Kakek, tolong jangan lakukan itu terhadap aku. Aku adalah istri dari Cucu kandung Kakek. Suamiku pasti sangat sedih melihat istrinya diperlakukan tidak adil seperti ini,” ucap Indri yang masih menganggap dirinya adalah korban dari ketidakadilan.


Almer menutup telinganya rapat-rapat, mendengar ucapan Indri membuatnya semakin sakit kepala saja.


“Cucu menantu, tolong panggilkan para bodyguard untuk mengusir wanita ini dari rumah ini,” pinta Sang Kakek pada Melinda.


Melinda ingin sekali membantu Indri agar tidak diusir. Akan tetapi, Melinda tidak bisa karena kesalahan sudah benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi.


Melinda pun bergegas memanggil para bodyguard untuk segera mengusir Indri dari rumah mewah keluarga Arafat.


“Tidak. Tolong Kakek, jangan usir aku. Aku mohon Kakek, aku meminta belas kasih dari Kakek. Aku adalah seorang janda yang seharusnya dikasihani. Tolong maafkan aku, Kakek. Tolong maafkan aku.” Indri bersujud di hadapan Almer agar Kakek tua itu mau mengurungkan niatnya mengusir Indri.


Almer tersenyum sinis, ia tahu bahwa Indri berpura-pura menyesal.


“Kakek, tolong maafkan aku. Aku salah, aku banyak salah dan apa yang terjadi adalah kesalahanku. Tolong, maafkan aku Kakek,“ ucap Indri yang berulang kali meminta maaf kepada Sang Kakek.


Almer tidak bisa membiarkan Indri untuk terus tinggal di rumah itu. Terlebih lagi, Almer tahu bahwa Indri tak menyukai kehadiran Melinda.


Para bodyguard datang menghadap pada Almer.


“Kalian, cepat usir wanita ini dari hadapanku. Aku tidak ingin melihatnya berada di rumah ini,” perintah Almer yang sudah memutuskan untuk mengusir Indri.

__ADS_1


Indri menggelengkan kepalanya, ia menangis histeris karena tidak ingin diusir dari rumah mewah tersebut.


“Tidak. Selamanya, aku akan tinggal disini. Meskipun, aku sudah meninggal dunia,” tegas Indri yang bersikeras untuk tetap berada di rumah tersebut.


__ADS_2