Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 40


__ADS_3

Almer akhirnya tiba di rumah dan tak sabar ingin memberitahukan apa yang ada dipikirannya kepada sepasang pengantin baru tersebut.


“Dimana Raka dan cucu menantuku?” tanya Almer pada salah satu pelayan yang sedang membersihkan debu.


“Tuan Muda dan Nona Muda ada dikamar, Tuan besar,” jawab pelayan tersebut.


Almer tersenyum bahagia dan melenggang masuk menuju lift agar bisa menemui keduanya secepat mungkin.


Raka dan Melinda saat itu tengah beristirahat setelah beberapa saat lalu berbincang-bincang sebentar.


Raka serta Melinda kompak membuka mata, manakala suara pintu kamar yang diketuk terdengar.


“Tidak bisakah aku beristirahat sebentar saja?” tanya Raka kesal.


Melihat reaksi Raka yang sangat kesal, Melinda cepat-cepat membukakan pintu tersebut.


“Kakek,” ucap Melinda terkejut ketika melihat Sang Kakek sudah berada dihadapannya.


Almer dengan semangat masuk ke dalam kamar dan membuat Melinda maupun Raka terkejut dengan apa yang Almer lakukan.


“Kakek kenapa nyelonong masuk begini?” tanya Raka yang tak habis pikir dengan pemikiran Kakeknya itu.


Almer tak sengaja menoleh ke arah sofa yang ternyata terdapat batal, guling serta selimut.


“Kenapa ada bantal, guling dan juga selimut di sofa ini?” tanya Almer yang sangat marah.


Melinda tidak ingin sampai suaminya mendapat masalah. Tanpa pikir panjang, Melinda pun memutuskan untuk berbohong demi kebaikan bersama.


“Kakek, sebenarnya Melinda yang memilih untuk beristirahat di sofa. Melinda tidak ingin Mas Raka tertular karena gatal-gatal ditubuh Melinda,” ujar Melinda.


Almer mempercayai perkataan Melinda begitu saja.


Wah, wanita ini memang sangat hebat dalam berbohong. (Batin Raka)


Almer menepuk dahinya karena baru ingat alasan mengapa dirinya datang ke kamar pengantin baru tersebut.


“Raka, kalian baru menikah berapa lama?” tanya Almer.


Raka mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Sang Kakek dan perlahan mencoba mengingat tanggal pernikahannya bersama dengan Melinda.


“Sekitar 1 bulan, Kakek. Ada apa Kakek menanyakan hal ini?” tanya Raka penasaran.


“Nah, karena dari itu Kakek ingin kalian honeymoon alias bulan madu,” ungkap Almer dengan sangat gembira.


“Apaaa!” Raka maupun Melinda sama-sama kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Almer.


“Kenapa respon kalian seperti itu? Apakah selama ini hubungan kalian belum juga membaik?” tanya Almer yang kecewa dengan respon keduanya.


“Bu-bukan begitu, Kakek. Akan tetapi, kenapa Kakek membicarakan hal yang sudah lewat?” tanya Raka tersenyum bodoh.


“Sudah lewat bagaimana? Pokoknya besok pagi kalian sudah meninggalkan rumah ini dan pergi berbulan madu. Ada beberapa tempat yang menurut Kakek sangat cocok, contohnya saja Bandung, Bali, Lombok atau kalian mau keluar negeri?”


Melinda menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


“Kakek, apakah kami harus pergi berbulan madu? Tidak bisakah kami dirumah saja?” tanya Raka yang keberatan dengan permintaan dari Kakeknya.


“Kakek ingin kalian berbulan madu agar segera memberikan Kakek cicit. Mau tidak mau kalian harus mau dan jangan membuat Kakekmu ini marah.”


Usai mengatakan kalimat tersebut, Almer pergi sembari bersenandung kecil.


“Apa kamu dengar apa yang Kakek ku katakan? Tidak bisakah kamu berbicara dan menolak permintaan gila Kakek?” tanya Raka pada Melinda.


“Maafkan saya, Mas Raka. Saya tidak berani menentang perkataan Kakek,” balas Melinda yang tidak ingin membuat masalah lagi dan lagi.


Raka menarik napas dalam-dalam dan menghembusnya dengan perlahan.

__ADS_1


“Bulan madu? Kita saja tidak pernah tidur seranjang dan Kakek malah ingin kita bulan madu,” ucap Raka mengomel.


Raka tiba-tiba teringat ketika dirinya dan Melinda pernah tidur seranjang. Begitu juga Melinda yang ingat betul bahwa dirinya pernah tidur seranjang dengan Raka, meskipun Raka tidak tahu itu.


Tunggu, bukankah aku dan wanita menjijikkan ini pernah tidur seranjang? Tidak-tidak, yang waktu itu benar-benar tidak sengaja. (Batin Raka)


Melinda menunduk malu ketika mengingat kejadian yang tanpa sengaja itu.


Kalau dipikir-pikir, aku dan Mas Raka pernah tidur seranjang. Ya, meskipun Mas Raka tidak mengetahuinya karena waktu itu aku buru-buru turun dari tempat tidur agar tak diketahui oleh Mas Raka. (Batin Melinda)


Raka menggelengkan kepalanya berulang kali begitu juga dengan Melinda.


“Kenapa kamu geleng-geleng kepala?” tanya Raka melihat Melinda yang juga geleng-geleng kepala.


“Mas Raka juga geleng-geleng kepala, apa kepala Mas Raka pusing?” tanya Melinda.


“Suami bertanya bukannya menjawab, malah balik bertanya,” balas Raka kesal.


Melinda tersenyum manis mendengar Raka menyebutkan dirinya sendiri sebagai suami.


“Ada apa lagi? Kenapa kamu malah tersenyum? Kamu sedang mengejekku?” tanya Raka dan melempar bantal miliknya ke arah Melinda.


Melinda dengan sigap menangkap bantal tersebut.


“Mas Raka tidak perlu sampai melemparkan saya sebuah bantal? Saya tertawa sendiri dan bukan karena mengejek Mas Raka,” terang Melinda.


“Dasar gila,” celetuk Raka dan kembali memejamkan matanya.


***


Almer, Melinda dan Raka saat ini tengah berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.


Almer menikmati makan malamnya dengan penuh semangat karena tak sabar ingin menimang bayi mungil dari cucu serta cucu menantunya.


Almer telah selesai dengan makanannya dan meminta Raka serta Melinda untuk menyusulnya ke ruang keluarga setelah makan malam selesai.


“Ingat! Kalian berdua harus langsung menemui Kakek di ruang keluarga,” ujar Almer mengingatkan kembali keduanya.


“Baik, Kakek,” sahut sepasang pengantin baru tersebut.


Rencana Raka sepertinya tidak akan berhasil. Raka pun memutuskan menyetujui permintaan Sang Kakek yang sama sekali tak masuk akal.


“Mas Raka, apakah kita benar-benar harus menolak permintaan Kakek?” tanya Melinda berbisik karena tidak ingin didengar oleh para pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka berdua.


“Sudahlah, lebih baik kita menyerah saja. Lihatlah ekspresi wajah Kakek tadi, apakah Kakek akan menyetujui penolakan kita?” tanya Raka lantang.


Melinda menghela napasnya yang terasa berat karena suaminya malah berucap dengan sangat lantang.


“Ada apa?” tanya Raka melihat ekspresi wajah Melinda yang terlihat sangat aneh.


“Tidak ada apa-apa, Mas Raka,” jawab Melinda yang bingung harus menjawab yang bagaimana lagi.


Setelah selesai makan, keduanya langsung menyusul Sang Kakek yang terlebih dulu berada di ruang keluarga.


“Kenapa pelan sekali?” tanya Raka ketika Melinda mendorong kursi roda dengan sangat pelan.


“Kalau boleh jujur, saya agak takut dan juga gugup, Mas Raka,” pungkas Melinda dengan jujur.


Raka tertawa mengejek mendengar kejujuran dari Melinda.


“Dasar wanita kampungan,” ucap Raka yang malah meledek Melinda.


Melinda hanya bisa diam mendengar ucapan Raka yang selalu saja mengejek serta menghina dirinya.


“Kalian sudah selesai makan? Berhubung kalian sudah disini, cepat beritahu Kakek! Kota mana yang ingin kalian jadikan sebagai tempat bulan madu kalian?” tanya Almer penasaran.

__ADS_1


Almer menatap keduanya secara antusias.


“Kenapa? Kenapa kalian berdua terlihat bingung? Atau begini saja, bagaimana kalau kalian bulan madu ke Turki? Cappadocia sepertinya tempat yang bagus untuk pasangan yang ingin bulan madu,” ucap Almer merekomendasikan Turki untuk tempat pasangan pengantin baru tersebut berbulan madu.


Melinda tak paham dengan apa yang dikatakan oleh Almer. Turki? Cappadocia? Melinda sama sekali tak mengerti tentang tempat tersebut.


“Kakek, Raka ini memiliki waktu yang sangat padat di perusahaan. Berbulan madu sepertinya bukan hal yang menarik,” pungkas Raka.


“Baiklah, kalau memang itu keinginan kamu,” balas Almer sembari menganggukkan kepalanya.


Raka mengernyitkan keningnya ketika melihat senyum aneh Sang Kakek.


Sepertinya Kakek akan mengatakan kalimat yang sudah pasti tidak bisa aku tolak. (Batin Raka)


“Karena kamu tidak ingin berbulan madu, jangan harap harta warisan Kakek menjadi milik kamu,” tegas Almer dan tersenyum licik.


Melinda terkejut bukan main ketika mendengar kalimat tersebut.


Ternyata Kakek benar-benar mengancam Mas Raka. Kalau begini, sudah pasti Mas Raka akan setuju. (Batin Melinda)


“Jangan, Kakek. Kenapa Kakek harus seperti ini kepada Raka? Baiklah, Raka dan istri Raka akan pergi berbulan madu,” ucap Raka pasrah.


“Syukurlah, Kakek tak sabar ingin menimang buah hati kalian.”


Raka mengumpat dalam hati, bagaimanapun dirinya dan Melinda tidak akan pernah melakukan hubungan intim layaknya suami istri diluar sana.


“Karena kamu sudah setuju, katakanlah kota atau negara mana yang ingin menjadi tempat bulan madu kalian?” tanya Almer penasaran.


Raka sama sekali tak tertarik dengan yang namanya bulan madu, memikirkannya saja tidak pernah apalagi sampai mencari tempat yang bagus untuk berbulan madu.


“Masalah tempat, biar istri Raka yang memutuskan,” sahut Raka dan menoleh ke arah Melinda.


“Iya...” Melinda nampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


Kenapa harus aku yang menentukan tempatnya? Aku sendiri tidak tahu dengan tempat yang bagus untuk berbulan madu. (Batin Melinda)


“Istriku, kenapa melamun? Ayo katakan kepada Kakek lokasi mana yang bagus untuk kita berbulan madu,” ujar Raka.


Melinda bingung harus mengatakan apa, tiba-tiba saja dirinya mengucapkan kota hujan alias Bogor untuk menjadi tempat bulan madunya bersama suami.


“Cucu menantu yakin mau honey moon di puncak? Kenapa tidak ke Cappadocia atau Paris?” tanya Almer.


“Saya belum pernah kesana, Kakek,” jawab Melinda dengan sangat polos.


Almer tertawa lepas dan menghubungi salah satu bawahannya untuk mempersiapkan mobil serta meminta bawahannya untuk memesan villa yang akan menjadi tempat bulan madu cucu serta cucu menantu kesayangannya.


“Sekarang kalian beristirahatlah, besok pagi kalian harus sudah pergi meninggalkan rumah ini,” pungkas Almer dengan penuh semangat dan melenggang pergi menuju kamar.


Raka menatap kesal ke arah Melinda yang malah memilih puncak sebagai tempat bulan madu mereka.


“Maaf.” Hanya kata maaf yang bisa Melinda ucapkan kepada suaminya.


“Sudahlah, lagipula tempat itu cukup bagus. Daripada harus pergi keluar negeri,” ujar Raka dan meminta Melinda untuk segera membawanya pergi dari ruang keluarga.


Saat Raka dan Melinda akan masuk ke dalam lift, Almer tiba-tiba memanggil keduanya.


“Iya, Kakek,” sahut Melinda.


“Kakek lupa memberitahukan kepada kalian kalau bulan madu kalian 2 Minggu penuh. Kalian tidak boleh kembali ke rumah sebelum kalian menghabiskan waktu selama 2 Minggu di puncak,” ungkap Almer.


“Kakek, 2 Minggu apakah tidak terlalu lama? Raka juga banyak kerjaan di kantor,” ucap Raka kesal.


“Kakek tidak ingin mengulangi perkataan Kakek, sekarang kalian masuklah ke dalam lift!” perintah Almer dan melenggang pergi menjauh dari mereka.


Sialan, 2 Minggu? Apakah Kakek sudah gila? 2 Minggu itu terlalu lama. (Batin Raka)

__ADS_1


__ADS_2