
Indri akhirnya tiba tepat di depan gerbang kediaman keluarga Arafat. Wanita itu tersenyum sinis sembari berjalan masuk dengan menyeret koper miliknya.
“Minggir kalian!” perintah Indri pada para pengawal yang mencoba menghentikan langkahnya untuk melewati gerbang.
“Anda dilarang masuk,” tegas salah satu pengawal.
“Oh, begitu? Baiklah, kalau kalian memang ingin seperti ini apa boleh buat. Aku akan mati di depan kalian, lihatlah ini!”
Indri berteriak keras dengan mengangkat tinggi-tinggi sebuah senjata tajam yang terlihat sangat tajam.
“Kalian lihat ini 'kan? Aku akan mati disini kalau memang aku tidak boleh masuk. Lagipula, aku masih memiliki hak untuk tinggal disini,” tegas Indri yang mulai mendekati senjata tajam itu ke tangannya.
Para pengawal takut jika Indri kenapa-kenapa, saat itu juga mereka memberi jalan agar Indri bisa masuk ke dalam.
Indri tersenyum sinis sembari melenggang melewati gerbang rumah.
Dasar payah, ternyata para pengawal ini sangat mudah untuk ditipu. (Batin Indri)
Indri telah berhasil melewati pagar dan ketika ia ingin masuk ke dalam rumah, para pelayan dengan cepat menghalangi jalannya masuk.
“Hei, para pelayan tidak tahu diri! Cepat minggir atau kalian aku hukum satu-persatu,” ucap Indri mengancam para pelayan dan berharap mereka semua takut kepada sosok Indri.
Mereka sama sekali tak takut, justru mereka semakin berani untuk menghalangi Indri masuk ke dalam rumah.
Indri sudah tidak tahan lagi, ia menarik salah satu pelayan dan menyodorkan senjata tajam yang ada ditangannya ke leher pelayan wanita itu.
Sontak saja, apa yang Indri lakukan membuat mereka dilanda kepanikan.
“Panik? Sekarang kalian panik? Aku datang kemari tidak ingin mencari ribut, lebih baik kalian mundur dan biarkan aku masuk. Maka, aku akan melepaskan wanita ini, cepat minggir!” perintah Indri.
Saat itu juga para pelayan memberi jalan Indri yang ingin masuk ke dalam.
“Dasar sampah,” ucap Indri menghina para pelayan sembari mendorong kuat pelayan yang hampir saja Indri bunuh.
Indri meletakkan koper miliknya dan meminta salah satu pelayan untuk membawa kopernya ke dalam kamar. Sementara itu, Indri memilih untuk berkeliling seluruh ruangan rumah mewah tersebut.
“Oya, dimana adik ipar ku?” tanya Indri yang merindukan sosok raka Arafat.
__ADS_1
“Tuan Muda dan Nona Muda saat ini di kamar, sedang istirahat,” terang pelayan.
“Apa!!” Indri nampak tak terima, saat itu juga Indri berlari memasuki lift dan gak sabar ingin mengganggu keduanya.
Aku tidak akan membiarkan mereka berdua bahagia. Bagaimanapun, hanya aku yang boleh bahagia di rumah ini. (Batin Indri)
Disaat yang bersamaan, Raka dan Melinda tengah terlelap. Mereka terlelap dengan posisi saling berhadapan dan saling berpelukan satu sama lain.
Samar-samar Melinda mendengar suara Indri, ternyata tidak hany Indri saja, suaminya bahkan mendengarnya.
“Sayang, apakah kamu dengar suara itu?” tanya Raka pada istrinya.
“Iya, Sayang. Saya juga mendengarnya, seperti suara Mbak Indri,” jawab Melinda.
Raka terkejut dan meminta para pengawal untuk menangkap Indri serta mengurung Indri di sebuah kamar agar Indri tidak bisa kabur.
“Raka, keluarlah! Aku hanya Inge menemui dirimu dan juga istrimu. Raka!” Indri berusaha keras memanggil Raka. Akan tetapi, Raka sama sekali tak menggubrisnya.
Dasar benalu betina. (Batin Raka)
“Sayang, Mbak Indri apakah harus dikurung? Bagaimana, kalau perkataan Mbak Indri ada benarnya?” tanya Melinda.
“Sayang, wanita seperti itu tidak pantas untuk dipercayai. Lagipula, kesalahannya sudah sangat fatal. Lebih baik kita tidur, mumpung masih ada waktu untuk beristirahat,” ujar Raka mengajak Sang istri yang kembali tidur.
“Tapi, Sayang....”
“Sutsss... Tidak ada tapi diantara kita. Ayo, lebih baik kita tidur sekarang,” ucap Raka dan bergegas memejamkan matanya.
Melinda tak bisa berdebat dengan suaminya. Lagipula, apa yang suaminya katakan ada benarnya juga.
Disisi lain.
Indri menangis di kamarnya, rasanya ia ingin sekali membunuh Melinda dengan tangannya sendiri. Indri bahkan menyalahkan kehadiran Melinda yang tak diharapkan dalam pikirannya.
Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam seperti ini. Kedepannya, kamu yang akan kalah dan berlutut meminta maaf padaku, seperti yang kamu lakukan dulu ketika disekolah. (Batin Indri)
“Hei, siapapun diluar, cepat buka pintu ini untukku. Aku butuh makan dan juga minun!” Indri berteriak sembari memukul-mukul pintu kamarnya sendiri, tujuannya agar pintu kamar segera diperbaiki.
__ADS_1
“Nona, anda sebaiknya diam dan tolong janganlah berteriak. Suara anda begitu jelek dan tidak ingin kamu dengar,” balas pengawal.
Indri melongo kesal dan melemparkan sebuah vas bunga ke arah pintu hingga vas bunga itu hancur begitu saja.
“Sial, kenapa hidupku sangatlah berat seperti ini. Apakah saat ini aku terlihat sangat lemas?” Indri bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Malam hari.
Raka, Melinda dan Sang Kakek saat itu sedang makan malam bersama. Mereka makan dengan sangat lahap dan juga bersemangat.
“Kakek, apakah Mbak Indri tidak bisa makan bersama kita?” tanya Melinda.
“Cucu menantu, lebih baik kita tidak usah membahas masalah mengenai Indri. Wanita seperti itu tidak pantas untuk dikasihani,” pungkas Sang Kakek.
“Baik, Kek,” balas Melinda yang memilih untuk diam, daripada ia semakin membuat Sang Kakek merasa sedih.
Usai makan malam bersama, Sang Kakek meminta keduanya untuk masuk ke dalam kamar. Mau tak mau keduanya mengiyakan dan bergegas pergi ke kamar mereka.
“Mas Raka sayang, apakah Mbak Indri saat ini mendapatkan masalah yang besar?” tanya Melinda penasaran dengan terus mendorong kursi roda suaminya untuk masuk dalam.
“Istriku sayang, bukankah Kakek tadi sudah bilang? Lebih baik kita turuti saja apa yang dikatakan oleh Kakek bahwa kita tidak perlu mengawasi orang yang seperti itu,” ungkap Raka.
Melinda tersenyum kecil ketika melihat ekspresi wajah suaminya yang cukup tegang.
“Sayang, ada apa? Kenapa malah melamun?” tanya Raka yang melihat Istrinya malah melamun.
“Maaf, sayang. Ayo kita masuk ke kamar!” ajak Melinda dan membawa masuk suaminya ke dalam kamar mereka berdua.
“Sayang, kamu belum menjawab pertanyaan dariku. Apakah kamu memikirkan sesuatu hal yang sangat penting?” tanya Raka penasaran.
Melinda menggelengkan kepalanya berulang kali sembari tersenyum lebar untuk menghilangkan ekspresi wajah yang tidak boleh dilihat oleh orang lain.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita,” ucap Raka yang tidak ingin memaksa Melinda untuk bercerita mengenai Melinda yang sebelumnya melamun.
“Bukan begitu, sayang. Ya sudah, lebih baik kita lupakan saja, maaf saya permisi ke dalam kamar mandi,” tutur Melinda dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang terasa agak kering.
Sebaiknya aku menggunakan sabun wajah yang Mas Raka belikan untukku agar nampak cerah. (Batin Melinda)
__ADS_1