
Akhirnya dokter kulit yang sebelumnya dihubungi oleh Raka beberapa saat lalu tiba di rumah.
Dokter wanita itu bergegas menuju kamar dengan diantarkan oleh salah satu pelayan wanita.
Almer tak sengaja menoleh ke arah lift yang baru saja dimasuki oleh pelayan dan juga wanita yang tak dikenal.
“Siapa wanita yang baru saja masuk ke dalam lift?” tanya Almer pada salah satu pelayan.
“Beliau adalah dokter yang dipanggil oleh Tuan Muda,” jawab si pelayan.
Almer mengernyitkan keningnya dan tanpa pikir panjang, Kakek tua itu bergegas ke lantai atas dengan menggunakan lift.
Dokter wanita itu pun akhirnya masuk ke dalam kamar dan terkejut ketika melihat kondisi kulit Melinda.
“Tuan Raka, sepertinya Nona harus dibawa ke rumah sakit,” ucap dokter tersebut ketika melihat kondisi kulit Melinda yang cukup parah.
Disaat yang bersamaan, Almer masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Astaghfirullahaladzim, istrimu ini kenapa Raka? Kenapa bisa begini?” tanya Almer yang sangat terkejut.
“Kakek, Raka juga tidak tahu. Sebaiknya, Kakek bantu Raka terlebih dahulu karena istri Raka harus segera dibawa ke rumah sakit,” pungkas Raka yang masih berada di tempat tidur.
Indri keluar dari kamarnya dengan perasaan Berbunga-bunga karena telah membuat Melinda harus mengalami gatal-gatal yang luar biasa.
Sekarang wanita kampungan ini sedang apa ya? Aku sangat penasaran dengan reaksi dari bubuk gatal tersebut. (Batin Indri)
Ketika Indri ingin menuju ke kamar Raka dan Melinda, Indri tercengang dengan pemandangan didepannya.
Indri nampak kesal karena Melinda begitu diperhatikan oleh Almer maupun Raka.
Apa-apaan ini? Hanya gatal begitu saja sudah panik setengah mati. Eittss, tetapi tak apa-apa. Lagipula, aku sudah memberi dia pelajaran. (Batin Indri)
Melinda tak sengaja melirik ke arah Indri yang tengah tersenyum licik. Saat itu juga, Melinda tahu penyebab dari gatal-gatal pada tubuhnya.
Melinda tak habis pikir dengan pemikiran Indri yang sangat licik dan juga sangat keterlaluan dengannya.
***
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
Melinda sangat bersyukur karena pihak rumah sakit menanganinya secepat mungkin. Kini, ia merasa jauh lebih baik dan rasa gatal di sekujur tubuhnya perlahan mulai hilang.
Sebelumnya, Melinda telah meminta kepada dokter untuk menyembunyikan fakta bahwa gatal-gatal ditubuhnya akibat dari bubuk gatal. Hal tersebut Melinda lakukan karena tak ingin membuat Indri disalahkan oleh Almer maupun Raka.
Melinda merasa bahwa hal tersebut tidak perlu diketahui oleh Almer dan juga Raka.
“Cucu menantu, bagaimana sekarang? Apakah masih gatal-gatal?” tanya Almer.
“Alhamdulillah, Kek. Melinda sudah baikan dan rasa gatalnya perlahan mulai hilang,” jawab Melinda apa adanya.
Raka masuk bersama dengan asisten pribadinya. Raka menatap sepasang mata Melinda dengan tatapan hangat. Tatapan yang membuat Melinda merasa sangat nyaman.
“Apakah istriku sudah baikan?” tanya Raka.
Almer memberi isyarat agar Reza ikut keluar bersamanya. Hal tersebut, Almer lakukan agar sepasang pengantin baru bisa berdua-duaan di ruangan tersebut.
“Karena kita hanya berdua saja disini. Sekarang, jawab pertanyaan ku dengan jujur. Apakah Indri yang melakukan ini terhadapmu?” tanya Raka penasaran.
Melinda terkejut manakala Raka mempertanyakan hal yang ingin sekali Melinda rahasiakan. Melinda tidak ingin membuat Indri semakin membencinya dengan menyebutnya sebagai wanita yang tak tahu diri.
“Mas Raka, tolong maafkan Mbak Indri.” Melinda memohon agar suaminya tak melakukan apapun kepada Indri.
“Haa? Apakah kamu sudah gila dan benar-benar gila? Wanita itu berbahaya dan kamu malah memintaku untuk memaafkannya?” Raka tak habis pikir dengan pemikiran Melinda yang begitu bodoh.
“Saya hanya tidak ingin Mbak Indri semakin membenci saya, Mas Raka. Tolong penuhi permintaan saya yang ini sekali saja.” Melinda memohon agar suaminya mau memenuhi permintaannya itu.
“Apakah kamu tidak ada keberanian untuk melawannya, pelayan? Apakah kamu bisa menjamin bahwa wanita sialan itu tidak akan lagi melakukan hal bodoh seperti ini lagi?” tanya Raka menantang Melinda.
“Mas Raka tolong percaya sama saya. Kalau sampai Mbak Indri macam-macam kepada saya, saya pasti akan membalasnya,” ucap Melinda yang keluar begitu saja dari mulutnya.
“Tidak. Hari ini juga, wanita itu akan aku usir dari rumah. Dan perlu kamu tahu, yang boleh melakukan hal buruk terhadapmu hanyalah aku, bukan wanita sialan itu,” tegas Raka.
Apakah Mas Raka sampai sekarang tidak memiliki perasaan kepadaku? Dasar aku, kenapa aku bisa-bisanya berharap seperti itu. Dari awal aku hanyalah pelayan bagi Mas Raka. (Batin Melinda)
“Hei tuli, aku bicara padamu dan kamu malah melamun. Dasar wanita menyebalkan,” ujar Raka dan menggerakkan kursi rodanya untuk keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Melinda memejamkan matanya dan tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja.
Aku yang terlalu banyak berharap dari hubungan ini. Sudah tahu bahwa pernikahan kami ini hanyalah sebuah kesalahan dan bodohnya aku malah mengira bahwa Mas Raka memiliki sedikit perasaan untukku. (Batin Melinda)
Raka menoleh ke arah kiri dan kanan. Akan tetapi, Raka tak melihat keberadaan Kakek serta asisten pribadinya.
“Kemana Kakek dan Reza?” tanya Raka bermonolog.
Raka hanya diam di kursi rodanya dengan hati yang sangat jengkel.
“Raka, kenapa kamu malah diluar dan tidak berada di dalam menemani cucu menantu Kakek?” tanya Almer.
“Kakek, Raka ingin Indri dikirim ke luar negeri secepat mungkin.”
“Maksud kamu?” tanya Almer penasaran.
Raka menatap Kakeknya dan mengungkapkan alasan dari gatal-gatal pada istrinya.
“Apaaa???” Almer terkejut sekaligus marah setelah mengetahui bahwa dalang dari gatal-gatal pada cucu menantunya adalah ulah dari Indri.
Tak ingin membuang waktu lagi, Almer memutuskan untuk segera kembali ke rumah.
“Kakek mau kemana?” tanya Raka ketika Sang Kakek melangkah menjauh.
“Kakek ingin pulang dan ingin mengusir wanita itu. Kakek tidak bisa menahan diri untuk tidak mengusirnya,” ungkap Almer dan kembali melangkah pergi.
Raka menoleh ke arah Reza dan meminta asisten pribadinya untuk mengantarkan Sang Kakek ke area parkir.
Raka menghela napasnya dan kembali masuk ke dalam ruang rawat Melinda.
“Mas Raka, bisakah saya pulang hari ini?” tanya Melinda.
“Kenapa memangnya?” tanya Raka dingin.
“Saya hanya tidak nyaman bila berlama-lama di rumah sakit, Mas Raka,” jawab Melinda.
“Baiklah, kalau itu memang mau kamu, pelayan. Lagipula, aku juga tidak ingin berada di ruangan seperti ini bersamamu,” balas Raka.
__ADS_1
Raka tersenyum mengejek ketika melihat Melinda yang tengah menatapnya.