Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 34


__ADS_3

Melinda duduk seorang diri di pinggir kolam renang karena bingung harus melakukan apa. Setiap hari, dirinya hanya berada di dalam rumah dan tak pernah keluar. Jikalau keluar, itupun bersama yang lain karena ada urusan bisnis.


Sudah jam 9 malam, wanita kampungan itu kenapa masih disitu? Lebih baik aku cari tahu sendiri saja. (Batin Indri)


Indri tersenyum licik dan tiba-tiba niat jahat muncul begitu saja di kepalanya. Indri berjalan dengan langkah pelan dan ketika Indri ingin mendorong Melinda, Melinda berbalik dan hal tak terduga pun terjadi.


Byurrrr! Bagaikan senjata makan tuan, Indri lah yang terjatuh dan bukannya Melinda.


“Mbak Indri!” Melinda panik ketika melihat Indri yang telah jatuh ke dalam air.


Indri yang pandai berenang, memilih untuk tenggelam karena dengan cara itu mereka pasti akan menyalahkan Melinda.


“Tolong!” Melinda berlari mencari bantuan agar Indri bisa segera diselamatkan.


Almer yang mendengar teriakkan cucu menantunya, bergegas keluar dari ruang kerjanya untuk menghampiri Melinda.


Para pelayan dan bodyguard berlari secepat mungkin ke arah Melinda yang terus meminta tolong.


“Ada apa, Nona Muda?” tanya mereka panik.


“Tolong selamatkan, Mbak Indri. Mbak Indri tenggelam di kolam renang,” terang Melinda.


Almer yang mendengar keterangan dari Melinda, berteriak kepada para pelayan serta bodyguard untuk tak membantu Indri.


Melinda terkejut dengan perintah Almer yang melarang mereka untuk tak membantu menyelamatkan Indri yang tengah tenggelam.


“Kakek, Mbak Indri tenggelam,” ucap Melinda panik karena bila Indri tak segera ditolong, hal buruk pun pasti akan terjadi.


“Kamu tenang saja, mari kita ke kolam renang dan lihat apa yang terjadi.” Almer merangkul lengan Melinda dan mengajaknya menuju kolam renang.


Mereka menyaksikan Indri yang tengah tenggelam dan hal tak terduga pun terjadi. Indri menggerakkan tangan serta kakinya dan naik ke tepi kolam renang dengan sangat mudah.


Indri terlanjur malu karena kebohongannya pada akhirnya terbongkar juga.


“Mbak Indri bisa berenang?” tanya Melinda dengan sangat polos dan membuat Indri semakin membenci sosok Melinda.


Indri yang terlanjur malu, memutuskan untuk pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


“Lihatlah, apa yang wanita itu lakukan hanya kepura-puraan saja. Sekarang, lebih baik cucu menantu tidur.”


Melinda mengiyakan perkataan Almer dan bergegas pergi menuju kamar.


Apakah tadi Mbak Indri hanya berpura-pura tenggelam? Kalau memang begitu, kenapa Mbak Indri berani melakukannya? Saat ini, pasti Mbak Indri sangat malu karena ketahuan berbohong. (Batin Melinda)


Almer geleng-geleng kepala dan memberi perintah kepada pelayan untuk mengepel lantai yang basah karena ulah Indri.

__ADS_1


Melinda masuk ke dalam kamar dan ternyata Raka masih terjaga dengan membaca buku dengan tulisan bahasa Inggris yang tak dimengerti oleh Melinda.


“Kamu darimana saja? Kenapa jam segini baru masuk ke dalam kamar?” tanya Raka yang terus berfokus pada buku ditangannya.


“Maaf, Mas Raka. Tadi saya sedang duduk-duduk di samping,” balas Melinda dengan terus berdiri sembari menundukkan kepalanya, seakan-akan tengah dimarahi oleh atasannya dan bersiap-siap memecatnya.


“Sekarang aku akan membuat peraturan dan kamu wajib mentaati peraturan tersebut,” ujar Raka yang telah menutup buku yang sebelumnya tengah ia baca.


“Peraturan? Peraturan apa, Mas Raka?” tanya Melinda tanpa berani mengangkat kepalanya.


“Apapun peraturannya, tentu saja kamu tidak boleh melanggarnya,” jawab Raka.


Melinda mengangkat kepalanya menoleh ke arah Raka yang tengah tersenyum aneh dan membuat Melinda penasaran dengan peraturan tersebut.


“Karena kamu sudah disini, sekarang pijat punggungku, pelayan!” perintah Raka yang selalu menyebut Melinda sebagai pelayan.


Karena tak ingin Raka yang terus-menerus memarahinya, Melinda pun berjalan mendekat untuk segera memijat punggung Raka.


Mula-mula, Melinda membantu Raka untuk tengkurap dan kemudian melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Raka. Setelah itu, Melinda perlahan mengoleskan krim yang biasanya digunakan oleh Raka.


“Apakah kamu seharian tidak makan? Kenapa pijatan mu tak terasa sama sekali,” protes Raka.


“Maaf, Mas Raka. Saya akan berusaha lebih kuat lagi,” balas Melinda.


“Hei pelayan, apakah kamu ingin membunuhku? Apa kamu begitu dendam terhadapku?” tanya Raka karena pijatan Melinda sangat kuat serta sakit.


“Nah begitu, seperti itu,” ucap Raka ketika merasakan pijatan tangan Melinda yang menurutnya pas.


Melinda bernapas lega karena akhirnya Raka tidak lagi memarahi dirinya.


Ponsel milik Raka berbunyi membuat istirahat Raka terganggu.


Raka menoleh ke arah Melinda dan meminta Melinda untuk mengambil ponsel tersebut.


Melinda mengiyakan dan segera mengambil ponsel tersebut untuk diberikan kepada Raka.


“Sial, kenapa harus besok?” tanya Raka ketika melihat isi pesan yang diterimanya.


Melinda melirik ke arah suaminya dan kembali memijat punggung suaminya daripada dirinya kena omel terus-menerus.


“Hei pelayan,” panggil Raka tanpa menoleh ke arah Melinda.


“Iya, Mas,” jawab Melinda ketika dipanggil pelayan oleh suaminya sendiri.


“Besok, kamu harus ikut aku ke perusahaan,” ujar Raka yang sebenarnya malas jika harus membawa Melinda ke perusahaan.

__ADS_1


“Saya, Mas Raka?” tanya Melinda kebingungan.


“Kamu kira siapa? Apa didalam kamar ini ada pelayan lain selain kamu?” tanya Raka kesal.


“Maaf, Mas Raka.” Hanya kata maaf yang bisa Melinda ucapkan ketika Raka marah terhadapnya.


“Kamu ini ya, hanya bisa merepotkan saja. Sekarang pergilah menjauh dariku!” perintah Raka dingin.


Melinda bergegas turun dari tempat tidur karena tidak ingin Raka kembali memarahinya.


“Kamu mau kemana?” tanya Raka ketika Melinda berjalan menjauh. “Aku masih dalam posisi tengkurap, cepat bantu aku!” perintah Raka.


Ketika Melinda sedang membantu Raka berganti posisi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan membuat Raka semakin kesal akan hal itu.


“Apakah kamu tuli? Apa tidak dengar suara ketukan pintu?” tanya Raka yang telah berganti posisi.


Melinda mengangguk dan berlari kecil untuk membukakan pintu.


“Kakek.” Melinda terkejut ketika melihat Kakek dari suaminya sudah berada di depan pintu.


Almer mengernyitkan keningnya dan menerobos masuk ke dalam kamar.


“Kakek.” Raka terkejut melihat Sang Kakek masuk ke dalam kamar begitu saja.


“Kakek tahu kamu belum tidur. Kenapa pesan Kakek tidak kamu balas?” tanya Almer yang mengirim pesan tersebut.


Selagi Almer berbicara dengan Raka, Melinda cepat-cepat mengambil bantal, selimut serta guling yang berada di sofa.


“Kakek yang tenang, setelah menerima pesan Kakek, Raka saat itu juga memberitahukan istri Raka. Kalau Kakek tidak percaya, Kakek bisa tanyakan langsung kepada istri Raka,” balas Raka.


Almer seketika itu juga berbalik badan dan untungnya Melinda telah berhasil menyembunyikan apa yang tidak boleh dilihat oleh Almer, karena kalau sampai benda-benda tersebut terlihat, dapat dipastikan Almer akan marah besar terhadap Raka.


“Cucu menantu, apakah benar yang dikatakan suamimu?” tanya Almer dengan tatapan teduh.


“Benar, Kakek. Mas Raka tadi sudah memberitahukan Melinda,” jawab Melinda.


“Syukurlah, maafkan Kakek telah mengganggu tidurnya cucu menantu. Karena sudah diberitahu, Kakek mau kembali beristirahat,” pungkas Almer dan melenggang pergi.


Raka bernapas lega dan meminta Melinda untuk segera mengunci pintu kamar.


“Baguslah. Sebagai pelayan kamu memang harus tahu diri,” hardik Raka pada Melinda.


Melinda tersenyum tipis dan menganggap perkataan Raka adalah pujian untuknya.


Melinda berjalan ke tembok belakang sofa dan memunguti bantal, selimut serta guling yang sebelumnya Melinda sembunyikan agar tak ketahuan oleh Almer.

__ADS_1


Raka memperhatikan Melinda dengan tatapan penuh pertanyaan. Meskipun begitu, Raka tak pernah ingin menanyakan hal yang mengganggu pikirannya itu.


__ADS_2