
Sore hari.
Raka dan Almer saat itu tengah berbincang-bincang serius mengenai pekerjaan di ruang kerja Raka. 3 hari lagi mereka berdua harus melakukan perjalanan ke negeri tetangga yaitu, Malaysia.
Di Malaysia tentu saja mereka pergi bukanlah untuk berlibur. Akan tetapi, mereka ada urusan penting dengan partner bisnis.
“Kakek, apakah istri Raka bisa ikut?” tanya Raka penasaran.
“Kakek sebenarnya ingin sekali mengajak cucu menantu. Akan tetapi, sepertinya tidak bisa dalam waktu dekat ini,” jawab Almer.
Melinda mengetuk pintu ruang kerja suaminya untuk memberikan kopi kepada suami dan Kakek dari suaminya.
“Siapa?” tanya Raka.
“Saya, Mas Raka,” jawab Melinda dari luar pintu.
“Masuklah, istriku! Tidak di kunci,” seru Raka pada istrinya.
Tentu saja yang ucapkan oleh Raka tersebut, untuk membuat Kakeknya senang. Bagaimana jadinya bila Raka bersikap cuek dihadapan Kakeknya, sudah pasti Raka akan dimarahi habis-habisan oleh Sang Kakek.
Melinda masuk ke dalam ruang kerja dengan senyum terbaiknya. Dengan hati-hati, Melinda meletakkan dua cangkir kopi secara bergantian ke meja.
“Terima kasih, istriku,” tutur Raka kepada Melinda yang telah membuat kopi untuknya dan Sang Kakek.
“Terima kasih, cucu menantu. Seharusnya biar pelayan saja yang mengantarkan kopi itu kemari,” ucap Almer dan duduk di sofa.
“Kakek, Melinda bisa melakukan ini,” jawab Melinda.
“Iya, Kakek tahu. Ngomong-ngomong, Cucu menantu mau makan malam diluar?”
Melinda menatap Almer dengan tatapan terheran-heran.
“Maksud Kakek?” tanya Melinda tak mengerti.
“Kakek tahu bahwa Cucu menantu sangat jenuh di dalam rumah setiap hari. Barangkali ada tempat yang ingin Cucu menantu datangi?” tanya Almer penasaran.
Melinda dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Melinda sama sekali tidak jenuh tinggal dirumah, Kek. Lagipula, Melinda tidak tahu tempat yang bagus untuk di datangi. Semenjak lulus SMA, Melinda hanya di rumah dan tidak diizinkan oleh Ayah bekerja. Jadinya, Melinda tidak tahu tempat yang Melinda ingin datangi,” jawab Melinda apa adanya.
Almer maupun Raka melongo mendengar penjelasan dari Melinda.
“Benarkah? Jadi, selama ini Cucu menantu hanya di rumah saja? Tidak ada niat untuk melanjutkan pendidikan?” tanya Almer penasaran.
__ADS_1
“Tentu saja Melinda punya mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi, Ayah tidak mengizinkannya dan pada akhirnya Melinda di rumah saja,” pungkas Melinda dan tanpa sengaja menitikkan air mata.
Melinda cepat-cepat menghapus air matanya itu yang keluar begitu saja.
“Maafkan saya, saya permisi.” Melinda memutuskan untuk segera pergi dari ruang kerja itu karena tak ingin Suami maupun Kakek dari suaminya semakin banyak bertanya.
Melinda cukup sensitif jika mendapat pertanyaan mengenai keinginannya itu.
“Cucu menantu terlihat sangat sedih. Tidak seharusnya Kakek bertanya dan membuat istrimu menangis,” tutur Almer merasa bersalah.
“Kakek, Raka ingin membiayai pendidikan istri Raka,” tutur Raka yang tergerak hatinya untuk membantu istrinya melanjutkan pendidikan.
Almer tersenyum karena menyadari bahwa Cucu kandungnya mulai tertarik dengan cucu menantunya itu.
Sepertinya ini awal yang baik untuk hubungan Raka dan juga Cucu menantu. Sepertinya, aku tidak boleh banyak ikut campur dalam hubungan mereka berdua. (Batin Almer)
“Kakek, apakah perbincangan kita sudah selesai? Raka ingin ke kamar untuk membahas masalah istri Raka yang akan melanjutkan pendidikannya.”
“Kakek rasa perbincangan kita sudah selesai. Sekarang, kamu boleh pergi.”
Raka menggerakkan kursi rodanya keluar dari ruang kerjanya.
“Kau, cepat bawa aku ke kamar!” perintah Raka pada salah satu bodyguard yang tengah berdiri.
Bodyguard itu mengiyakan dengan lantang dan bergegas membawa Tuan Mudanya menuju kamar.
“Melinda, kenapa kamu sangat lemas seperti ini? Kamu tidak boleh cengeng,” ucap Melinda mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Melinda terkesiap manakala pintu terbuka dengan sendiri. Ketika ia menoleh, rupanya Sang suami bersama dengan bodyguard yang masuk ke dalam kamar.
“Mas Raka.” Melinda seketika itu beranjak dari sofa dan berjalan menghampiri suaminya.
“Kau boleh pergi,” ucap Raka pada Bodyguard.
Melinda mengunci pintu kamar dan mendorong kursi roda suaminya ke arah tempat tidur.
“Mas Raka sudah selesai membahas pekerjaan dengan Kakek? Sudah minum kopi yang saya buatkan?” tanya Melinda penasaran sembari merapikan tempat tidur suaminya.
“Aku belum sempat minum kopi buatan mu. Tolong ambilkan ponselku!” pinta Raka.
“Ponsel Mas Raka memangnya ditaruh dimana?” tanya Melinda yang tak melihat ponsel pintar milik suaminya.
“Aku taruh di bawah bantal,” jawab Raka.
__ADS_1
Melinda mengangkat bantal suaminya dan ternyata ponsel itu memang berada di bawah bantal.
Melinda tersenyum manis sembari memberikan ponsel tersebut.
Raka menerimanya dan meminta Melinda untuk membantunya naik ke tempat tidur.
“Duduklah di dekatku!” pinta Raka yang sudah berbaring di tempat tidur.
Melinda dengan patuh mengiyakan tanpa bertanya apapun kepada suaminya.
“Sekarang jawab pertanyaan ku dengan jujur. Kamu ingin melanjutkan pendidikan dimana dan mengambil jurusan apa?”
Melinda terkejut mendengar pertanyaan suaminya.
“Maksud Mas Raka?” tanya Melinda terheran-heran sekaligus penasaran.
“Jawab dan jangan memberi pertanyaan itu kepadaku.”
“Sebenarnya saya tidak tahu kampus mana yang ingin saya tunggu. Yang pasti, dulu saya sangat ingin mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar,” jawab Melinda.
“Selain itu?” tanya Raka penasaran.
“Tidak ada, Mas Raka. Meskipun Mas Raka tahu, tetap saja saya tidak bisa melanjutkan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.”
“Kenapa? Apakah kamu sudah tidak ingin?” tanya Raka semakin penasaran.
“Karena kita sudah menikah dan tugas saya sekarang adalah menjadi seorang istri yang baik untuk Mas Raka,” jawab Melinda sejujur-jujurnya.
“Kalau aku bilang ingin membiayai mu dan mendukung mu, apa keputusan mu?”
“Maksud Mas Raka....”
“Ya. Aku akan membiayai pendidikan mu dan juga mendukung mu. Akan tetapi, tentu saja tidak gratis. Aku ingin kamu bisa membagi waktu antara kuliah dan juga aku!”
Melinda menangis terharu dan mencium punggung tangan suaminya berulang.
“Terima kasih, Mas Raka. Saya tidak akan melupakan kebaikan Mas Raka untuk saya. Saya akan berusaha menjadi istri sekaligus mahasiswi yang baik,” pungkas Melinda.
“Sudah, jangan menangis. Aku akan menghubungi Reza dan besok kita akan pergi ke salah satu perguruan tinggi di kota ini,” ucap Raka.
“Sekali lagi terima kasih,as raka.” Melinda kembali mengucapkan terima kasih karena terlalu senang.
Raka memberi isyarat tangan agar Melinda diam karena dirinya saat itu sedang berusaha menghubungi asisten pribadinya.
__ADS_1
“Reza, aku ada tugas untukmu. Saat ini juga carilah informasi mengenai universitas untuk istriku yang gila ini.”
Melinda mendengar perbincangan suaminya dengan Reza dan sama sekali tidak mempermasalahkan jika disebut sebagai wanita gila. Toh, saat itu dirinya sangat bahagia karena kebaikan Raka padanya.