
Almer senang melihat cucu menantunya yang sangat antusias untuk mendengarkan bagaimana sosok cucu kandungnya itu.
“Baiklah, Kakek akan menceritakan sedikit mengenai Raka. Karena kedepannya, Kakek ingin Cucu menantu lah yang bertanya langsung kepada Raka,” tutur Almer sembari mengangguk kecil ketika melihat ekspresi wajah Melinda.
Melinda hanya mengiyakan perkataan Kakek tua itu dengan malu-malu.
“Sekarang Kakek akan ceritakan sedikit masa kecil suamimu itu,” ujar Almer sembari mengingat-ingat kembali masa kecil cucu bungsunya itu.
Melinda memiringkan posisi duduknya dan terlihat sangat serius untuk mendengarkan Almer bercerita mengenai Sang suami ketika masih kecil.
“Dilihat secara fisik, Rafa dan Raka adalah anak yang tampan. Akan tetapi, bila dibandingkan dengan Rafa, suamimu lah yang paling tampan sekaligus yang paling nakal,” ujar Almer sebagai permulaan untuk memulai cerita masa kecil kedua cucu kandungnya.
“Kakek, kalau boleh tahu memangnya nakal Mas Raka pada saat masih kecil seperti apa?” tanya Melinda penasaran.
Almer tertawa kecil ketika membayangkan betapa nakalnya Raka pada saat itu.
“Saat masih kecil, Raka begitu nakal. Ia sering berkelahi dengan anak-anak diatasnya hanya karena mereka memperhatikan Raka yang tengah berjalan. Gara-gara perkelahian itu, Kakek harus turun tangan dan mendengarkan keluh kesah para orang tua yang anaknya dipukuli oleh Raka,” terang Almer dan kembali tertawa.
“Haa? Mas Raka berkelahi dengan anak-anak diatasnya? Maksud Kakek adalah Mas Raka berkelahi dengan anak-anak yang usianya diatas Mas Raka? Kalau begitu, Mas Raka saat itu pasti bonyok gara-gara dipukuli oleh anak-anak itu?” tanya Melinda.
“Oh, tentu saja tidak. Cucu Kakek yang satu ini begitu sangat pemberani. Bahkan, almarhum kakaknya saja kalah jika berkelahi dengan Raka,” pungkas Almer.
Melinda tercengang setelah mendengarkan apa yang Almer katakan padanya.
“Itu artinya, Mas Raka dulu sering berkelahi?” tanya Melinda memastikan.
“Ya bisa dibilang begitu. Hampir setiap hari Kakek mendapatkan panggilan dari guru di sekolahnya atas laporan para wali murid yang tak terima dengan apa yang Raka lakukan pada anak-anak mereka,” jawab Almer.
Melinda melongo lebar mendengar perkataan Almer.
“Meskipun begitu, Raka adalah anak paling pintar di sekolah itu. Bahkan, guru-guru tidak berani mengeluarkan siswa berprestasi seperti Raka,” ungkap Almer.
Melinda bernapas lega, karena Sang suami adalah pria yang pintar.
__ADS_1
“Kenapa diam? Apakah Cucu menantu tidak ingin memuji cucu Kakek?” tanya Almer.
Melinda hanya tersenyum malu-malu ketika mendapat pertanyaan dari Almer.
🌷
Disaat yang bersamaan, Raka tiba di perusahaan dan bergegas menuju ruang kerjanya.
Baru saja Reza melangkah masuk ke dalam perusahaan dengan mendorong kursi roda Tuan Mudanya, tiba-tiba sosok wanita cantik nan seksi datang menghampiri Tuan Mudanya dan mendekap erat tubuh Tuan Mudanya saat itu juga.
“Kak Raka apa kabar? Aku sangat merindukan Kak Raka,” ucap wanita itu yang tak lain adalah Luna.
Para pekerja di perusahaan itu memusatkan perhatian mereka pada Raka yang tengah berpelukan dengan seorang wanita yang tentu saja hampir semua tahu bahwa wanita itu adalah model yang cukup terkenal karena kecantikan dan juga tubuhnya yang seksi.
“Luna, lepaskan pelukanmu sekarang juga!” Raka berkata dengan lantang dan membuat Luna terkejut dengan sikap dingin Raka padanya.
Luna pun perlahan melepaskan pelukannya dengan mata berkaca-kaca.
“Berhentilah berakting seakan-akan kamu yang sedang teraniaya disini. Apa kamu benar-benar tidak memiliki harga diri? Bukankah kamu tahu bahwa aku telah menikah?” Raka menatap mantan kekasihnya dengan tatapan penuh kebencian.
“Maksud Kak Raka apa? Memangnya kenapa kalau Kak Raka telah menikah? Lagipula, Kak Raka dan wanita itu sebentar lagi akan bercerai,” jawab Luna yang sangat percaya diri dengan kecantikan wajahnya dan kemolekan tubuh yang ia miliki.
“Diam!” Raka berteriak keras setelah mendengar perkataan Luna yang mengatakan bahwa ia dan Melinda akan segera bercerai.
Luna terkejut dan hampir saja kehilangan keseimbangannya karena mengenakan high heels yang tingginya 7 cm.
“Hiks... Hiks... Kak Raka jahat. Dulu, Kak Raka tidak pernah seperti ini. Dulu Kak Raka begitu menyayangi ku dan juga mencintaiku,” ujar Luna sembari berlinang air mata yang cukup deras.
“Reza, cepat usir wanita ini dan jangan sampai ia masuk ke area perusahaan ini,” tegas Raka.
Raka memanggil salah satu staf dan meminta bawahannya itu untuk segera mengantarkannya ke ruang kerja.
Reza menarik paksa Luna dan mengusir Luna sejauh mungkin agar tidak lagi datang menemui Tuan Mudanya yang tentunya telah bahagia bersama dengan Nona Mudanya itu.
__ADS_1
Raka telah tiba di ruang kerjanya dan meminta pria yang mengantarkannya ke ruang kerjanya untuk mengambil air minum.
Setelah itu, pria itu pun pergi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Raka meneguk habis segelas air minum tersebut agar rasa kesal di hatinya segera menghilang.
Luna, apa kamu lupa apa yang telah kamu lakukan dulu kepadaku? Dasar wanita licik. (Batin Raka)
Beberapa menit kemudian, Reza masuk ke ruang kerja Tuan Mudanya dan memberitahukan bahwa Luna telah pergi.
Raka menghela napasnya dan tiba-tiba ia memikirkan keadaan istrinya di rumah.
“Tuan Muda, apakah Anda tidak lagi mencintai Nona Luna?” tanya Reza yang penasaran dengan perasaan Tuan Mudanya terhadap Luna, mantan kekasih dari Tuan Mudanya itu.
“Kenapa kamu bertanya begitu? Apakah kamu meragukan ucapan ku kepada wanita licik itu?” tanya Raka yang terlihat kesal dengan pertanyaan dari Asisten pribadinya.
“Tidak, Tuan Muda. Saya sama sekali tidak meragukan apa yang Tuan Muda katakan. Hanya saja....”
“Hanya saja apa?” tanya Raka memotong ucapan Reza yang terdengar sangat cerewet bagi Raka Arafat.
“Maafkan saya, Tuan Muda,” sahut Reza meminta maaf atas pertanyaannya yang kurang ajar.
“Sudahlah, jangan lagi membahas hal yang tidak penting. Lagipula, aku harus memikirkan cara agar hubungan ku dan Melinda semakin membaik,” tutur Raka yang mulai terbuka dengan perasaannya itu.
Reza tersenyum senang melihat ekspresi Tuan Mudanya yang terlihat sangat tulus. Reza pun akhirnya yakin bahwa Luna tidak akan membuat hubungan Tuan Mudanya maupun Nona Mudanya menjadi berantakan.
“Astaga,” ucap Raka yang tiba-tiba ingat bahwa hari itu adalah bulan Ramadhan dan ia malah minum segelas air.
“Ada apa, Tuan Muda?” tanya Reza panik.
Raka menepuk dahinya dan menunjuk ke arah gelas yang sudah tidak ada airnya.
“Haa??” Reza melongo lebar melihat gelas yang berada di atas meja kerja Tuan Mudanya.
__ADS_1