
Di rumah duka.
Melinda datang bersama dengan suami, Kakek dari suami, sopir dan dua pelayan wanita.
“Kalian berdua, tolong bantu Nona Ratna!” perintah Almer.
Dua pelayan wanita itu mengiyakan dan masuk ke dalam rumah dengan membawa masing-masing kantong plastik berukuran cukup besar ditangan mereka.
Ratna masih menangisi kepergian Nenek satu-satunya. Kepergian Neneknya menjadi pukulan keras untuknya.
“Ratna.” Melinda perlahan memeluk Ratna yang sedang dalam masa berkabung.
“Melinda, sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi. Nenek pergi meninggalkan aku disini sendirian,” ucap Ratna mengadukan dirinya yang kini sudah hidup sebatang kara.
“Ratna, kamu masih punya aku. Allah lebih sayang Nenek dan Allah ingin Nenek berisitirahat di surga menyusul mendiang kedua orang tua mu,” terang Melinda. “Aku juga tidak punya siapa-siapa, sama sepertimu,” imbuh Melinda.
“Setidaknya kamu telah memiliki keluarga baru, Melinda,” balas Ratna dengan tatapan kosong.
“Ratna, aku juga keluargamu. Janganlah kamu berpikir bahwa kamu seorang diri. Ada aku yang akan selalu ada untukmu,” ujar Melinda.
“Terima kasih, Melinda. Terima kasih,” ucap Ratna berulang kali.
“Ratna, kamu turut berdukacita atas meninggalnya Nenekmu. Kamu tidak perlu khawatir, semua biaya akan kami urus termasuk pemakaman Almarhumah,” pungkas Almer.
“Terima kasih, Tuan Besar. Terima kasih banyak,” ucap Ratna sedikit lega karena pemakaman almarhumah Sang Nenek dibantu oleh keluarga baru sahabatnya, Melinda.
“Tukang gali kubur sudah ada?” tanya Almer.
“Alhamdulillah sudah, Tuan Besar. Saya ingin agar Nenek dikuburkan malam ini juga,” jawab Ratna yang tak ingin menunda-nunda pemakaman Almarhumah Nenek tercinta.
“Kamu yang tenang,” ujar Almer.
Almer merasa kasihan dengan sahabat dari cucu menantunya itu. Almer pun akhirnya mengambil keputusan agar Ratna sementara waktu tinggal dikediaman keluarga Arafat.
Melinda maupun Raka tak mempermasalahkan hal itu. Bagaimanapun, Ratna harus butuh lingkungan yang mendukung suasana hatinya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
Ratna memahami maksud kebaikan dari keluarga baru Melinda, akan tetapi Ratna menolak ajakan tersebut se-sopan mungkin.
Almer, Raka dan juga Melinda menghargai keputusan Ratna. Mereka tidak ingin memaksa Ratna untuk tinggal bersama mereka. Akan tetapi, bila kedepannya Ratna ingin tinggal, pintu rumah keluarga Arafat selalu terbuka untuk Ratna.
🌷
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya pemakaman telah selesai dan satu-persatu orang yang melayat pulang ke rumah mereka masing-masing.
“Cucu menantu, Kakek harus pulang. Apa cucu menantu ingin pulang juga?” tanya Almer.
“Iya, Melinda. Aku juga harus pulang,” sahut Raka karena ia harus mengumpulkan tenaga untuk kembali bekerja.
“Kakek, Mas Raka. Saya masih ingin disini menemani Ratna,” terang Melinda.
Almer dan Raka menyetujui keinginan Melinda yang masih ingin menemani Ratna.
__ADS_1
“Melinda sayang, aku pulang dulu bersama dengan Kakek. Kamu baik-baik saja ya disini,” tutur Raka dan memberi isyarat tangan agar Melinda lebih dekat dengannya.
Melinda mengangguk kecil dan mendekatkan wajahnya pada Sang suami. Saat itu juga, Raka mengecup mesra kening istrinya.
Kecupan mesra suaminya membuat Melinda merasa sangat beruntung. Melinda merasa bahagia ia telah menjadi wanita satu-satunya dalam hidup suaminya itu.
“Melinda sayang, aku dan Kakek pulang dulu,” ucap Raka dan mengucapkan salam sebelum meninggalkan Sang istri bersama dengan Ratna.
Dua pelayan wanita yang sebelumnya ikut, diperintahkan oleh Almer untuk tetap berada di rumah duka. Dua pelayan wanita itu yang nantinya akan membantu Ratna dan juga Melinda bila ada tetangga yang datang untuk mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Nenek dari Ratna.
“Melinda, kamu tidak apa-apa disini?” tanya Ratna.
“Memangnya aku kenapa? Aku ingin menemani mu disini,” jawab Melinda.
“Kalau kamu seperti ini, aku merasa bahwa aku sangat merepotkan untukmu,” ujar Ratna.
“Kamu ini seperti dengan siapa saja, santai lah denganku, aku merasa tenang bila aku berada di sampingmu.”
“Melinda, aku ke kamar mandi dulu ya. Aku ingin membasuh wajahku,” ucap Ratna.
Melinda menatap punggung sahabatnya dengan tatapan sedih. Kemudian, Melinda memperhatikan penampakan rumah tua yang kini akan ditempati oleh Ratna seorang diri.
Rumah tua itu terkesan seram, mungkin karena lampu penerangan yang seadanya. Belum lagi, dinding yang mulai keropos dimakan usia.
“Nona Muda, apakah Mbak Ratna akan tinggal di rumah seram seperti ini?” tanya salah satu pelayan dengan sangat lirih.
“Mbak, kita do'akan saja ya agar sahabat saya mau tinggal sementara waktu di rumah kita,” balas Melinda yang dimaksud adalah rumah mewah kediaman keluarga Arafat.
“Bagaimana, apakah aku sudah terlihat baik-baik saja?” tanya Ratna memperlihatkan wajahnya yang masih basah karena air.
“Ratna, kalau kamu ingin menangis maka menangis lah. Yang terpenting, kamu harus kembali tersenyum.”
“Iya, Melinda,” balas Ratna.
*****
Melinda dan dua pelayan wanita akhirnya pamit karena sudah waktunya mereka untuk pulang. Siang itu, udara begitu panas dan membuat tenggorokan Melinda terasa sangat kering.
“Ratna, kalau ada apa-apa atau kamu membutuhkan aku, jangan sungkan-sungkan menghubungi ku ya,” ujar Melinda sebelum mereka berpisah.
“Melinda, aku sangat berterima kasih padamu. Aku sangat beruntung memiliki kamu,” pungkas Ratna.
Melinda pun berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil itu pun pergi meninggalkan Ratna.
Ratna, aku tahu kamu adalah wanita yang kuat. Tetaplah menjadi wanita yang kuat, yang aku kenal selama ini. (Batin Melinda)
Melinda teringat akan suaminya dan mencoba menghubungi Sang suami. Akan tetapi, nomor telepon suaminya itu tidak bisa dihubungi.
“Ada apa, Nona Muda?” tanya salah satu pelayan yang duduk tepat di samping Melinda.
“Tidak ada apa-apa, Mbak,” Jawa Melinda.
__ADS_1
Aneh, bukannya Mas Raka sendiri bilang kalau ada apa-apa hubungi Mas Raka. Aku menghubungi Mas Raka hanya untuk mengatakan bahwa aku sedang perjalanan pulang. (Batin Melinda)
Disaat yang bersamaan, Raka sedang berada di ruang kerjanya bersama dengan asisten pribadinya. Sepertinya mereka sedang membahas hal yang sangat penting.
“Tuan Muda, apakah Tuan Muda ingin memberitahukan yang sebenarnya kepada Nona Muda?” tanya Reza, asisten pribadi Raka.
“Aku sebenarnya ingin sekali mengatakan hal ini dalam waktu dekat. Akan tetapi, aku juga tidak ingin membuat istriku kecewa. Kamu tahu 'kan, apa maksud dari ucapan ku?” tanya Raka.
“Tuan Muda, apapun keputusan Tuan Muda saya harus menghargainya. Lagipula, Nona Muda pasti akan memahami maksud Tuan Muda,” pungkas Reza.
“Sekarang kamu boleh pergi,” ujar Raka sembari menggerakkan tangannya isyarat agar Reza segera meninggalkan dirinya di ruang kerja.
“Baik, Tuan Muda. Saya permisi,” tutur Reza undur diri dari hadapan Raka.
Raka menghela napasnya dan meraih ponselnya yang sebelumnya bergetar.
“Ternyata istriku,” ujar Raka bermonolog.
Raka mencoba menghubungi istrinya kembali. Akan tetapi, nomor yang Raka tuju tidak juga menjawab.
“Melinda sepertinya sedang sibuk. Nanti saja akan kucoba untuk menghubunginya kembali,” ucap Raka bermonolog dan meletakkan kembali ponselnya itu.
Beberapa jam kemudian.
Kondisi kesehatan Raka tiba-tiba menurun dan karena itu, Raka pun memutuskan untuk kembali ke rumah lebih awal.
Mendengar bahwa cucu kandungnya tiba-tiba sakit, Almer sebagai Kakek dari Raka mulai cemas dengan kondisi kesehatan Cucu kandungnya itu.
“Raka, kita ke rumah sakit ya?” tanya Almer membujuk cucu kandungnya pergi ke rumah sakit untuk mengetahui penyebab cucu kandungnya yang tiba-tiba sakit.
“Tidak usah, Kek. Raka baik-baik saja, mungkin Raka hanya butuh istirahat saja di rumah. Lagipula, ada Melinda di rumah yang akan merawat Raka dengan baik,” pungkas Raka.
“Baiklah, kalau itu mau kamu. Kabari Kakek bila sudah sampai rumah,” pinta Almer.
“Baik, Kek,” jawab Raka.
Reza pun membawa Tuan Mudanya bergegas meninggalkan area perusahaan.
“Tuan Muda, yakin baik-baik saja?” tanya Reza yang juga mengkhawatirkan kondisi Raka.
“Dadaku sangat sesak dan untuk mengambil napas saja rasanya sulit,” jawab Raka sembari menyentuh dadanya yang cukup sesak.
Tanpa persetujuan dari Tuan Mudanya, Reza mengambil keputusan untuk membawa Tuan Mudanya ke rumah sakit.
Raka masuk ke dalam mobil dengan dibantu oleh Asisten pribadinya dan ketika mobil mulai berjalan meninggalkan area perusahaan, Raka sama sekali tidak curiga. Akan tetapi, setelah melewati perempatan, Raka menyadari bahwa mereka melewati arah pulang.
“Reza, apa kamu buta? Arah rumah bukanlah lewat sini,” ujar Raka.
Reza tak menghiraukan ucapan Tuan Mudanya, ia tetap fokus dengan jalan didepannya. Bagi Reza, kesehatan Tuan Mudanya sangatlah penting dan sudah menjadi tugasnya untuk menjaga keselamatan Tuan Mudanya.
“Reza, kamu akan membawaku kemana? Cepat putar arah,” perintah Raka.
__ADS_1
Lagi-lagi Reza tak mengeluarkan sepatah katapun. Reza diam membisu dan membuat Raka semakin kesal dengan sikap tak patuh dari asisten pribadinya itu.