
3 hari kemudian.
Indri sudah tidak tahan lagi karena selama beberapa hari dirinya tidur di hotel. Wanita itu sudah tak sabar ingin kembali dan menguasai rumah keluarga Arafat.
“Baiklah, sudah saatnya aku pulang dan tinggal di rumah Almarhum suamiku,” ucap Indri sembari melenggang keluar dari kamar hotelnya.
Indri tersenyum lebar dan tak sabar ingin segera bertemu dengan Raka.
Disaat yang bersamaan, Almer baru mengetahui bahwa Indri telah berhasil kabur dari hukumannya. Saat itu juga, Almer tahu bahwa tujuannya Indri adalah kembali ke rumah mewah yang dibangun oleh Almer Arafat.
“Kakek, kenapa wajah Kakek nampak khawatir? Apa ada hal yang membuat pikiran Kakek terganggu?” tanya Raka ketika melihat wajah Kakeknya yang nampak khawatir.
“Raka, sebaiknya kamu pulang sekarang juga!” perintah Almer karena Cucu menantunya saat itu berada di rumah.
“Kakek, ini baru jam 10 pagi. Lagipula, masih ada beberapa pekerjaan yang belum Raka selesaikan. Bukankah Kakek ingin memberikan seluruh tanggung jawab ini kepada Raka?” tanya Raka terheran-heran.
“Raka, ada masalah yang lebih besar dari ini. Intinya, kamu harus pulang saat ini juga. Kakek tidak ingin bila cucu menantu kesayangan Kakek kenapa-kenapa,” pungkas Almer mendesak Raka untuk segera kembali ke rumah.
“Kakek, bukankah Kakek mengenal Raka? Raka akan pulang, bila Kakek memberitahukan alasan yang sebenarnya kepada Raka. Apa ini juga alasan dari kekhawatiran Kakek?” tanya Raka yang sangat penasaran dan berharap Sang Kakek mau memberitahukan dirinya.
“Indri ternyata sudah tidak berada di Singapura. Itu artinya, wanita tak tahu diri itu sudah berada di Indonesia. Kakek tidak perlu menjelaskannya secara detail, kamu tentunya tahu apa yang Kakek maksud,” terang Almer.
Raka mendadak panik dan berteriak keras memanggil asisten pribadinya. Reza yang terus berdiri di depan pintu, saat itu juga berlari masuk menghampiri Tuan Mudanya.
“Tuan Muda memanggil saya?” tanya Reza memastikan.
“Cepat, bawa aku pulang!” perintah Raka mendesak asisten pribadinya untuk segera mengantarkannya pulang ke rumah.
Reza mengangguk cepat dan membawa Tuan Mudanya pergi meninggalkan perusahaan tersebut.
🌷
Melinda pagi itu tengah duduk sembari membaca buku yang kemarin sore ia beli. Buku yang menceritakan tentang seorang guru yang mengajar murid yang bisa dikatakan kurang pintar, sampai akhirnya murid itu menjadi seseorang yang menginspirasi banyak orang.
__ADS_1
Senyum Melinda mengembang sempurna ketika membaca bagian yang berisi tentang candaan.
“Masya Allah, buku ini benar-benar membuatku jatuh cinta. Aku akan menyelesaikannya sampai tamat,” ucap Melinda memuji buku yang ia baca.
Matahari cerah di pagi perlahan tertutup oleh kabut tebal, Melinda yang tengah berada di taman depan rumah memutuskan untuk masuk ke dalam karena sepertinya hujan deras sebentar lagi mengguyur Ibukota Jakarta. Maklum saja, karena saat ini adalah musim penghujan.
“Mbak, tolong buatkan saya teh hangat ya dan tolong antar ke kamar,” pinta Melinda dengan suara selembut mungkin.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Melinda melanjutkan langkahnya untuk segera masuk ke dalam kamar. Ketika Melinda baru saja memasuki kamar, hujan deras turun membasahi bumi. Melinda hanya bisa tersenyum pahit ketika kenangan-kenangan bersama orang tuanya muncul begitu saja dipikirannya.
“Ayah, Ibu! Apakah sekarang kalian sedang melihat Melinda disini?” tanya Melinda sembari memperhatikan turunnya hujan yang cukup deras.
Melinda meletakkan buku yang sebelumnya ia baca dan tangisnya pecah karena tak kuasa menahan kerinduan untuk kedua orangtuanya yang telah kembali ke sisi-Nya.
“Ayah, Ibu! Melinda disini akan berusaha menjadi putri yang baik untuk kalian,” ucap Melinda yang sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi meringkuk memeluk lututnya sendiri.
Disisi lain.
“Reza, kamu bisa bawa mobil tidak? Kenapa begitu lambat?” tanya Raka yang semakin khawatir dengan Melinda yang saat itu berada di rumah.
“Tidak bisakah kamu menjawab iya atau tidak? Aku paling tidak suka bila kamu memintaku untuk bersabar,” tegas Raka.
“Maafkan saya, Tuan Muda. Maafkan saya yang kurang pintar dalam bercakap-cakap,” ucap Reza yang terus meminta maaf kepada Tuan Mudanya.
Raka tak merespon ucapan permintaan dari Asisten pribadinya. Di dalam pikirannya saat itu hanyalah bisa segera pulang untuk melindungi Sang istri dari marabahaya yang akan datang menyerang.
Beberapa saat kemudian.
Raka akhirnya tiba dan saat itu juga asisten pribadinya membawa Tuan Mudanya menuju kamar.
Disaat yang bersamaan, Melinda tengah terlelap setelah cukup lama meratapi kesedihannya.
“Mas Raka,” ucap Melinda terkejut ketika melihat suaminya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Raka nampak terkejut dan memberi isyarat kepada asisten pribadinya untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua.
“Sayang, kamu habis menangis? Siapa yang membuatmu seperti ini?” tanya Raka yang terus menatap Melinda denger tatapan penuh kesedihan.
“Mas Raka sayang! Tidak ada seorang pun yang membuat saya menangis, saya seperti ini karena merindukan kedua orang tua saya,” terang Melinda yang kini sudah mulai tenang.
“Benarkah? Bagaimana kalau besok kita pergi berziarah?” tanya Raka.
“Mas Raka yakin tidak apa-apa? Mas Raka mau menemani saya?” tanya Melinda memastikan.
“Tentu saja, istriku sayang. Lagipula, aku suamimu dan kesedihan istrinya tentu saja harus dirasakan juga oleh suaminya,” terang Raka pada Melinda.
“Mas Raka sayang, besok mampir juga ke tempat Ratna ya,” pinta Melinda yang juga ingin bertemu dengan sang sahabat tersayang.
“Apapun yang diinginkan istriku, aku pasti akan berusaha mengabulkannya,” sahut Raka.
Melinda tertawa kecil mendengar penuturan Raka yang cukup membuat telinganya merasa geli.
“Kamu semakin cantik bila tertawa manis seperti ini,” puji Raka dan membuat Melinda menjadi salah tingkah karena ucapan Raka.
“Mas Raka sayang benar-benar seperti vitamin bagi kehidupan saya. Terima kasih sudah hadir dan menerima banyak kekurangan saya ini,” tutur Melinda.
“Ssuuttss, biasanya kalau kamu berkata seperti ini, tidak butuh waktu lama kamu akan menangis dan aku sangat tidak ingin melihat kamu menangis. Lebih baik, bantu aku melepaskan pakaian dan bantu aku menggenakan pakaian yang sangat santai untuk hari ini,” pinta Raka.
Melinda mengangguk dengan penuh semangat. Kemudian, membantu suaminya mengganti pakaian yang lebih santai.
Aku tidak boleh lengah untuk terus berada di sisi istriku. Aku tidak akan membiarkan Indri berhasil menyakiti istriku ini. (Batin Raka)
Melinda melambaikan tangannya berulang kali kepada suaminya. Akan tetapi, Sang suami malah melamun.
“Mas Raka sayang,” ucap Melinda sembari menepuk pundak suaminya.
Raka tersadar dari lamunannya dan mengiyakan panggilan Melinda padanya.
__ADS_1
“Mas Raka sedang melamun?” tanya Melinda yang jelas-jelas menangkap basah suaminya yang tengah melamun.
Raka tentu saja mengelak dengan dalih bahwa sebenarnya ia mengantuk.