Menikahi Si Lumpuh

Menikahi Si Lumpuh
Bab 129


__ADS_3

Akhirnya waktu yang dinantikan oleh Kakek Almer tiba juga. Kakek tua itu nampak bahagia karena telah diperbolehkan untuk pulang, meskipun kedepannya ia tidak boleh lagi kecapean atau banyak pikiran seperti yang sebelum-sebelumnya.


“Bagaimana, Kakek senang?” tanya Melinda.


“Tentu saja, Kakek sangat senang. Bagaimana dengan Cucu menantu, apakah Cucu menantu senang?” tanya Almer.


“Bagi Melinda, asal Kakek sehat tentu saja Melinda bahagia sekaligus senang,” jawab Melinda.


Sopir pribadi Kakek Almer baru saja tiba dan membawa koper berisi pakaian Tuan Besar.


“Tuan Besar, akhirnya Tuan Besar sehat sekarang. Kami semua sangat mengkhawatirkan keadaan Tuan Besar,” ujar sopir pribadi Almer.


Almer tertawa mendengar penuturan dari sopir pribadinya itu.


“Kalian tidak perlu khawatir, selama ini ada cucu menantu yang menemani serta merawat ku selama di rumah sakit,” pungkas Almer.


Melinda dan Kakek Almer perlahan masuk ke dalam mobil. Kemudian, mobil itu melaju untuk kembali ke rumah.


Tak banyak yang Melinda maupun Kakek Almer perbincangkan di dalam mobil. Dikarenakan, Almer fokus memperhatikan jalan sekitar. Bisa dikatakan, Almer merindukan suasana ibukota Jakarta setelah cukup lama berada di rumah sakit.


Melinda menyandarkan kepalanya di badan kursi sembari memperhatikan ponselnya. Hampir seharian suami tercinta belum juga mengirim kabar padanya dan itu membuat Melinda cukup frustasi karena merindukan kabar dari suaminya yang jauh disana.


Mas Raka sedang sedang apa ya? Sepertinya Mas Raka sangat sibuk, sampai-sampai tidak mengirim kabar padaku. (Batin Melinda)


Almer merasa cukup mengantuk selama diperjalanan pulang, perlahan Kakek tua itu memejamkan matanya dan pada akhirnya ia terlelap.


Melinda menoleh ke arah Kakek Almer dan ternyata sudah terlelap. Dengan hati-hati, Melinda memperbaiki kepala kakeknya yang terlihat tak nyaman. Setelah itu, Melinda ikut terlelap karena beberapa hari ini ia kurang tidur.


Setibanya di rumah, para pelayan dan Bodyguard menyambut kedatangan Tuan Besar dan Nona Muda mereka.


Mereka tersenyum lebar manakala Kakek Almer dan Melinda turun dari mobil.


Dua pelayan dengan sigap mendekat pada Almer dan menuntun Kakek tua itu untuk masuk ke dalam kamar.


“Kakek istirahat dulu ya Cucu menantu. Cucu menantu juga harus istirahat, Kakek tahu kalau selama di rumah sakit cucu menantu kurang istirahat,” ucap Almer yang masih perhatian dengan Melinda.


“Baik, Kakek. Melinda akan segera naik ke atas untuk berisitirahat,” jawab Melinda.


Melinda saat itu tidak langsung pergi ke kamar, wanita muda itu malah menghampiri para pelayan dan meminta para pelayan untuk memperbanyak memasak sayur-mayur. Intinya, sayuran yang dipilih haruslah sayuran pilihan.


“Sama satu lagi, Mbak. Tolong yang goreng-gorengan dikurangi ya, Kakek masih belum sehat. Untuk itu tolong perhatikan lagi makanan yang akan dimakan oleh Kakek. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas dedikasi Mbak-mbak ini selama bekerja disini,” ucap Melinda dan setengah membungkuk, bukti bahwa Melinda sangat berterima atas kerja keras mereka selama menjadi pelayan di rumah itu.


Mereka menggelengkan kepala mereka ketika melihat Melinda yang dalam posisi setengah membungkuk.


“Nona Muda, tolong jangan seperti itu lagi. Kami merasa tidak enak sekaligus tidak nyaman,” ucap salah satu pelayan mewakili pelayan yang lain.


“Maaf kalau membuat para Mbak tidak nyaman, ucapan terima kasih saya benar-benar tulus dan tidak ada maksud apapun,” tandas Melinda.


“Iya, Nona Muda. Kami tahu,” balas mereka secara kompak.


“Mbak, saya ke kamar dulu ya. Mau istirahat,” ucap Melinda.


Melinda dengan sopan melenggang pergi meninggalkan para pelayan yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Melinda sama sekali tidak sombong, bahkan Melinda tak pernah sekalipun memanfaatkan nama Nona Muda yang biasanya bertindak semena-mena kepada para pelayan.

__ADS_1


“Benar-benar mengagumkan sosok Nona Muda. Berbanding terbalik dengan sosok Nenek sihir yang suka memerintah dan main tangan,” ucap salah pelayan yang mulai bergosip.


“Hussstt, jangan lagi membahas mengenai Nenek sihir itu. Lagipula, kita sudah ada bidadari disini,” sahut pelayan yang lain.


Melinda meletakkan tas ransel miliknya di atas tempat tidur. Dan mengeluarkan pakaian kotor miliknya itu, lalu memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor. Setelah itu, Melinda mengambil handuk milik yang berada di gantungan dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sepertinya, ia harus membersihkan tubuhnya terlelap dahulu sebelum berisitirahat.


Sekitar 30 menit, Melinda akhirnya keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbalut sempurna oleh handuk.


Sebelum mengenakan pakaiannya, Melinda terlebih dulu memeriksa ponsel miliknya berharap ada notifikasi WhatsApp dari suaminya. Akan tetapi, tidak ada satupun dan cukup membuat Melinda kembali sedih.


“Belum ada kabar dari Mas Raka,” ucap Melinda dengan suara sedikit kecewa.


Melinda menghela napasnya dan mulai menggenakan pakaiannya. Setelah itu, Melinda mengeringkan pakaiannya menggunakan hair dryer agar cepat kering.


Baru saja mematikan mesin hairdryer, ponsel Melinda berbunyi dan yang dinanti-nanti oleh Melinda akhirnya menghubungi dirinya.


Dengan penuh semangat Melinda menggeser layar ponsel untuk segera menerima panggilan telepon dari Sang suami tercinta.


“Hallo, assalamu'alaikum suamiku sayang!” Melinda mengucapkan salah dengan penuh semangat.


“Wa’alaikumsalam, istriku sayang. Maaf, aku baru bisa menghubungimu,” tutur Raka.


“Mas Raka sayang, tumben tidak video call?” tanya Melinda.


“Maaf ya sayang, aku belum mandi. Kalau kita video call yang ada istriku malah ilfill melihat suaminya yang jelek ini,” jawab Raka.


Hampir 1 jam mereka berbincang-bincang melalui telepon, hingga akhirnya Raka harus mengakhiri perbincangan hangat mereka.


“Karena sudah berbincang-bincang dengan Mas Raka, sebaiknya aku tidur sejenak,” ujar Melinda bermonolog sembari memijat kepalanya yang agak mulai pusing.


Melinda merebahkan tubuhnya di kasur empuk dan perlahan memejamkan matanya untuk istirahat sejenak.


Sebaiknya aku tidur sebentar saja, aku butuh sekali tidur. (Batin Melinda)


Melinda tidur dengan posisi memeluk guling, biasanya ia tidur dengan memeluk tubuh suaminya. Akan tetapi, berhubung suaminya tidak ada Melinda akhirnya Melinda menjadi guling sebagai benda untuk membuat tidurnya pulas.


“Andai Mas Raka yang disini,” ujar Melinda lirih.


Beberapa saat kemudian.


Melinda terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara alarm ponsel miliknya. Ternyata, sebentar lagi waktunya bagi Kakek Almer untuk makan siang dan minum obat.


Melinda saat ini harus lebih giat lagi membagi waktunya, karena sekarang ada Sang Kakek yang harus Melinda jaga kesehatannya agar tidak kambuh lagi.


Wanita muda itu bergegas keluar dari kamarnya untuk segera menemui Kakek Almer di kamarnya. Setibanya di kamar, Melinda tak menemukan keberadaan Kakeknya dan ketika melihat hendak keluar dari kamar, Kakek Almer datang bersama dengan seorang pelayan.


“Kakek darimana? Sudah waktunya bagi Kakek makan siang,” ujar Melinda yang nampak begitu perhatian dengan Kakek Almer.


Almer tertawa kecil melihat ekspresi wajah Melinda yang begitu serius.


“Kakek, kenapa Kakek tertawa? Kakek mau makan apa? Biar Melinda buatkan,” ujar Melinda.


“Cucu menantu jangan risau seperti itu. Alhamdulillah Kakek baru saja makan dan sekarang Kakek ingin beristirahat sebentar. Setelah itu, minum obat,” jelas Almer.

__ADS_1


“Benarkah? Kakek tidak membohongi Melinda, 'kan?” tanya Melinda memastikan.


“Kalau tidak percaya, tanyakan saja sama bibi,” ujar Almer sembari melirik ke arah pelayan wanita yang tengah menuntunnya.


Saat itu juga Melinda bertanya untuk memastikan apakah benar bahwa Kakeknya sudah makan ataukah belum.


Pelayan wanita itu mengiyakan yang artinya bahwa Sang Kakek telah makan siang.


Melinda menghela napasnya dan mengambil alih menuntun Kakek Almer berbaring di tempat tidur.


“Terima kasih, Kakek. Sudah makan tepat waktu,” ucap Melinda yang berusaha menahan air matanya untuk tidak menetes.


Akhir-akhir ini Melinda nampak sangat cengeng. Bisa dikatakan, Melinda sangat takut kehilangan orang disekitarnya. Cukup kedua orang tuanya saja yang meninggalkan dirinya. Jika sampai Kakek Almer pergi meninggalkan dunia, entah apa yang akan terjadi pada Melinda. Karena dari awal, Kakek Almer lah yang menyambutnya dengan sangat hangat seperti keluarganya sendiri.


“Kakek mu ini sudah tidak apa-apa, Cucu menantu. Oya, bagaimana kabar Raka? Apakah Raka disana baik-baik saja?” tanya Almer penasaran.


“Alhamdulillah, Mas Raka baik-baik saja, Kakek. Tadi Mas Raka sempat menghubungi Melinda,” jawab Melinda apa adanya.


“Syukurlah,” sahut Almer.


Melinda tetap berada di kamar Kakek Almer, Melinda akan pergi setelah melihat Kakeknya itu minum obat.


Beberapa menit kemudian.


Senyum Melinda mengembang sempurna manakala melihat Kakek Almer baru saja minum obat.


“Lihat, Kakek sudah minum obat,” ucap Almer dan membuka mulutnya lebar-lebar agar Melinda percaya bahwa obat telah ia telan.


“Iya Kakek, Melinda sudah melihatnya sendiri. Sekarang, Kakek istirahat lagi. Bukankah Kakek ingin sembuh?” tanya Melinda.


“Oh, tentu saja. Kakek harus sehat agar bisa melihat cicit Kakek yang lucu,” sahut Almer dan perlahan merebahkan tubuhnya. Kemungkinan, Kakek tua itu memejamkan mata.


Melihat Kakek Almer yang sudah memejamkan mata, Melinda memutuskan untuk keluar dari kamar.


Baru saja Melinda keluar dari kamar Kakek Almer, salah satu pelayan datang menghampiri Melinda dan memberitahukan Melinda bahwa makan siang sudah disajikan di atas meja ruang makan.


Melinda sebenarnya sedang tidak nafsu makan. Mulutnya terasa pahit dan pikirannya juga sedih tak tenang. Akan tetapi, Melinda tidak ingin membuat yang lainnya khawatir. Makanya, Melinda memutuskan untuk makan siang meskipun hanya beberapa suap saja.


“Baik, Mbak,” tutur Melinda dan berjalan menuju ruang makan.


Melinda menikmati makan siangnya seorang diri dan tiba-tiba kenangan-kenangan dulu muncul dipikirannya. Melinda ingat jelas, kenangan ketika mereka bertiga makan di meja makan. Ada dirinya, suami dan juga Kakek Almer.


Entah kapan kenangan hangat seperti itu terulang kembali. Aku pasti sangat merindukan saat-saat makan bersama dengan Kakek dan juga Mas Raka. (Batin Melinda)


Melinda mengunyah makanannya dengan sangat pelan, rasanya aneh bila makan seorang diri.


Sekitar 5 suap sendok makan yang masuk mulutnya, Melinda memutuskan untuk menyudahi makanannya. Mulutnya benar-benar pahit dan membuat Melinda kehilangan nafsu makannya.


Melinda memang sengaja mengambil nasi yang sangat sedikit, ia juga tidak mungkin membuang-buang nasi.


“Mbak, saya ke kamar,” ujar Melinda yang baru saja meletakkan bekas alat makannya ke wastafel dapur.


Melinda melangkah kakinya dengan langkah berat, semangatnya benar-benar berkurang.

__ADS_1


__ADS_2